Metanoia; The Hybrid

Metanoia; The Hybrid
CHAPTER 39: A STRONG BONDS CREATE WARMTH.



Pagi mengawali hariku. Aku bangun dan menikmati angin sepoi-sepoi sehabis hujan yang sejuk di balkon, sambil melihat orang-orang yang keluar dari asrama.


Setelah mandi, mengganti pakian dan bersiap-siap, aku turun dan mendarat di lapangan hutan. Ternyata mereka tengah berkumpul, bersama dengan para guru.


Ketibaanku membuat mereka semua menoleh ke belakang, menatapiku dengan tatapan yang sama. Aku langsung ikut berbaris dengan jarak yang jauh dari mereka.


"Selamat pagi semuanya" ucap Mr. Chairoz.


"Selamat pagi!" Serentak kami semua.


Tunggu, pakaian Mr. Chairoz... sepertinya dia akan berpergian. Dia memakai jubah Hunter nya dan pakaian tambahan. Dia terlihat sangat rapi sekali. Kemudian guru-guru lain berdatangan dengan pakaian yang sama.


"Selagi kami pergi, kalian bebas melakukan apa saja saat latihan pagi. Tapi jangan keluar dari batas lembah Astbourne yang sudah dibatasi" ucapnya.


Castiel mengangkat tangan, "Guru akan kemana?"


"Kami akan pergi ke kerajaan Angkara" jawaban Mr. Samuel membuat beberapa dari mereka melirikku.


"Untuk apa guru?" Sambung Piers.


"Hari ini adalah hari kenaikan tahta Pangeran Damian. Jadi kami diundang untuk berpartisipasi dalam pengesahan beliau."


Saat aku mendengar itu, aku membelalakkan mata terkejut. Ternyata hari ini adalah hari kenaikan tahta ayah.


"Kami akan kembali besok, jadilah anak baik dan dengarkan perkataan para guru lain."


"Baik!"


"Bubar."


Semua orang langsung bubar, pergi meninggalkanku sendiri. Aku memikirkan kenaikan tahta ayah bersamaan dengan berita siaran langsung tadi malam itu. Apakah akan berjalan lancar?


Aku berlari mendekati Mr. Chairoz yang berjalan ke tengah-tengah lapangan.


"Guru! Aku ingin bicara" panggilku sambil ku raih tangannya.


Dia melihatku dengan serius, "Tidak."


"Aku belum mengatakan apa-apa."


"Aku tau apa yang akan kau katakan."


Seketika aku terdiam menatapinya, "Guru, aku khawatir."


"Aku lebih mengkhawatirkan kondisimu."


"Tapi aku baik-baik saja."


Tiba-tiba Mr. Chairoz mengusap kepalaku, "Kau masih sangat sensitif, kita tidak tau apakah kau bisa mengendalikan diri jika terjadi sesuatu di sana nanti. Sudah jelas pasukan INTI akan ikut hadir, begitu juga dengan para Elder dan Council. Aku katakan untuk kau tetap di sini."


Aku mengangguk dan membiarkannya berkumpul dengan guru-guru lain. Kemudian Mr. Arthur menggunakan kemampuan Pentagram Demonnya. Cukup lama sampai cahaya dari kekuatan itu menyilaukan mataku. Lalu mereka menghilang dari hadapanku.


Aku ingin sekali pergi mengunjungi Angkara, tapi yang dikatakan guru benar. Sifatku baru saja muncul, dan aku belum bisa mengendalikan diriku seperti kejadian tadi malam. Dengan datang ke sana, sama saka membuatku ingin ditangkap hidup-hidup.


Aku menghabiskan waktu melakukan aktivitas pagi biasa. Mencuci pakaian di rumah, sebab saluran air Akademi telah selesai diperbaiki. Setelahnya kami sibuk dengan kegiatan masing-masing sampai waktu sarapan pagi tiba.


Aku benar-benar terasingkan di pondok makan ini, mungkin seharusnya aku tak datang ke sini.


"Gara, apa kau haus? Aku akan menyiapkan minumanmu" begitu ucap staf konsumsi yang telah diperintahkan oleh Mr. Neanderthald untuk menyediakanku darah segar.


"Tidak apa Mrs. Sarah. Aku bisa mengambilnya sendiri" jelasku.


Mrs. Sarah tersenyum melihatku lalu melenggang pergi dari mejaku. Selang beberapa menit, aku selesai makan. Aku berjalan ke depan dan meletakkan piringku, lalu mengambil gelas yang berisikan cairan darah yang dihidangkan seperti biasa dan kembali ke mejaku. Tapi saat aku hendak duduk, aku dikejutkan oleh Dylan.


Dylan melirik ke tanganku, "Wow.. sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi?"


Aku tersenyum simpul dan menggeleng, lalu mendudukkan diriku, "Rasanya seperti makhluk yang normal, minum di depan banyak orang."


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu, ini soal kenaikan tahta paman Damian" Dylan mengedipkan satu matanya. Lalu ia mulai memakan makanannya.


"Kau telat datang?"


Dylan mengangguk, "Tadi aku mengumpulkan tugasku yang belum selesai, jadi aku datang ke pondok terlambat."


Aku mengangguk dan kembali meminum darahku, dipertontonkan banyak orang. Wajah terkejut mereka membuatku senang.


"Dia benar-benar seorang Hybrid" mereka berbisik-bisik.


Tapi aku tidak mempedulikan. Terakhir aku melirik teman-teman bangsawanku yang juga melihatku. Mereka tidak melakukan apa-apa seperti yang aku harapkan. Kupikir mereka akan mendekatiku dan keadaan menjadi normal seperti biasa. Aku salah.


"Aku merencanakan sesuatu yang keren!" Pekiknya.


"Tidak mengajakku?" Tiba-tiba Edward muncul di antara kami, seperti roh penasaran yang menagih janji-janjinya.


"Mengajakmu? Untuk apa kami harus mengajakmu?" Dylan mendorong Edward saat ia hendak duduk di sampingnya sambil tertawa.


"Oh, jadi kau begitu sekarang?"Edward balik mendorong Dylan.


"Hahaha, tapi ini hanya rencana konyolku saja. Mari kita bicarakan dirumah baru Gara!"


Kami duduk bersama di sini, sambil menunggu Dylan selesai makan, Edward membicarakan tentang suasana asrama yang tak henti-hentinya membicarakanku. Sebenarnya aku sudah tau, tapi aku tak mengatakan apa-apa dan kembali mendengarkan hal yang sama. Setelahnya, kami bertiga berjalan hendak ke lapangan di hutan, hendak ke rumahku.


Mereka berdua lari meninggalkanku menuju rumah pohonku saat tiba. Senang rasanya mereka tidak mengacuhkanku.


"Gara!" Panggil seseorang di belakangku. Ketika aku menoleh, ternyata itu adalah Chlea, Ardan, Jack, dan Selena.


"Kalian?"


"Apa kami boleh ikut?" Tanya Ardan penuh semangat.


"Boleh ya?!" Sambung Jack.


"Ku pikir kalian akan menjauhiku juga?"


Selena menggeleng, "Kami tidak punya niat seperti itu sama sekali."


"Benar. Lagipula kau tidak melakukan kesalahan apapun" tambah Chlea.


"Tapi aku melukai kalian tadi malam dengan aura Hybrid ku."


"Aku tau kau tidak bermaksud seperti itu. Kau hanya ingin mereka mengetahuinya dengan jelas."


Aku terdiam sebentar, lalu kembali bertanya, "Kalian tidak takut?"


"Entahlah, aku memang merasakannya saat melihat tatapan matamu menatapi kami malam itu. Tapi setelah ku pikirkan lagi, aku lebih takut jika kau sendirian" jelas Jack menatapiku penuh makna.


"Kenapa seperti itu?" Tanyaku.


"Aku juga bingung, tapi membiarkanmu sendiri bersama..."


Aku menaikkan satu alis, menunggu lanjutan dari kata-kata Jack.


"...bersama dirimu sendiri, seakan kau bukan Gara yang ku kenal. Kau lebih berpotensi untuk melakukan hal-hal buruk. Makanya aku tidak takut mendekatimu."


Kalimat Jack membuat aku tertegun. Jadi seperti itu aku jika dilihat oleh mereka. Kuberi mereka senyumanku, "Mau lihat-lihat rumahku?"


Wajah mereka berubah, terlihat sangat senang dan bersemangat. Mereka mengangguk cepat.


"Gara!" Panggil Dylan.


Aku mengisyaratkan mereka untuk ikut bersamaku ke rumah pohonku. Jack dan Ardan berseru sambil berlari duluan, sementara aku, Chlea dan Selena memilih untuk jalan.


Tidak apa, ini pilihan mereka. Lagipula aku senang. Setidaknya aku tidak benar-benar dijauhkan. Pengasingan di dalam pengasinhan, ah, seperti mimpi buruk saja.


Satu per satu naik menggunakan tangga, sampai aku akhirnya naik ke atas. Light terbang dan hinggap di bahuku setelah aku datang.


"Luar biasa, kau di buatkan rumah yang keren!" Pekik Ardan sambil melihat-lihat.


"Duduklah. Kalian mau minum apa?" Tanyaku basa-basi, selayaknya orang yang memiliki rumah dan dikunjungi beberapa tamu.


"Ah! Tidak perlu repot-repot, teh hangat saja" ucap Jack.


Aku menggeleng, "Tidak ada teh."


"Bagaimana kalau syrup!" Selena bersuara.


"Haha, tidak ada."


"Susu, susu aja" kata Chlea.


"Sungguh, tidak ada. Hanya itu yang ada" jelasku lalu menunjuk botol minumanku diatas meja. Semua orang langsung meliriknya.


"Untuk aku saja!" Seru Dylan.


"Bagaimana ya, aku akan pelit kalau soal itu."


"Hahahah!!"