
Kami telah mempersiapkan banyak hal, tentu saja senjata dan beberapa benda yang akan berguna nantinya. Dengan tas pinggang kami yang memiliki kapasitas tanpa batas, aku bahkan membawa beberapa botol minumanku jika diperlukan, ya seharusnya memang ku perlukan.
Sekarang, kami hanya sedang menunggu momen yang pas untuk meninggalkan Akademi. Setelah aku menyelesaikan kelas terakhir, Chlea menghampiri mejaku dengan buku-buku ditangannya.
"Ku dengar sebentar lagi ada latih tanding di lapangan untuk para murid tahun kelima" ucapnya membantuku merapihkan barang-barangku.
"Latih tanding? Oh, maksudmu club skarfáloma?"
Chlea mengangguk, "Mereka akan bertanding skarfáloma, bukankah itu kesempatan untuk kita pergi?"
Dia benar, orang-orang akan berfokus dan menghadiri lapangan tanding. Dengan begitu, kepergian kami tak akan ada yang menyadarinya.
Setelah selesai dari kelas terakhirku, aku dan Chlea pergi ke asrama untuk mengantarnya. Sekalian menunggu yang lain. Namun, aku berhenti di jembatan, membuat Chlea menoleh melihatku.
"Aku tunggu di sini" ucapku dan membiarkan Chlea berlari masuk ke asrama.
Ketika menunggu, aku mendengar suara pengumuman dari lapangan tanding. Mereka sedang memperkenalkan anggota tim yang akan melakukan latih tanding skarfáloma. Pertandingan itu hanya pertandingan untuk memperebutkan sebuah bendera merah yang diletakkan di tengah lapangan. Kedua tim akan bertarung untuk memperebutkan bendera itu. Tim yang bertahan memegang bendera sampai waktu selesai, ialah pemenangnya.
Kemudian, Chlea dan yang lainnya kembali ke jembatan dan kami berjalan hendak ke lapangan di hutan, ke rumahku.
"Tidak mungkin kita meminta bantuan pada Fairy Clan untuk menciptakan replika kita di sini, saat ini mereka sedang..." ucap Edward lalu berakhir menatapiku. Aku mengerti maksudnya dengan jelas.
"Paling tidak, kita butuh serbuk ajaib mereka?" Ujar Chlea.
"Oh, maksudmu sparkling dust?" Aku membenarkan.
"Untuk melindungi kita dari keramaian dan para guru itu sendiri" tambahnya.
"Akan ku minta sekantung, mungkin mereka akan memberikannya" kata Selena kembali berbalik ke asrama.
"Semuanya sudah aman? Tidak ada yang tertinggal?" Tanyaku memastikan.
"Semua aman, Gara!" Sahut Jack dan Ardan serentak.
"Ah, aku tau bagaimana kita bisa pergi tanpa diketahui semua orang" pekik Dylan.
"Bagaimana?"
"Aku ini seorang Vampire. Seorang Vampire bisa menciptakan ilusi-ilusi pada targetnya untuk meraih keuntungan. Kebanyakan orang menggunakan kemampuan menciptakan ilusi itu dalam hal politik dan hukum."
Aku mengerti sekarang. Itulah kenapa banyak dari Vampire Clan mengambil posisi hukum di kementerian.
"Kau bisa melakukannya?" Tanyaku.
"Aku bisa, tapi tidak dengan durasinya. Mungkin sekitar 3 jam, bagaimana?" Tawar Dylan.
"Aku tidak mengerti cara kerjanya" tanya Jack.
"Intinya, mereka yang terkena ilusiku, tidak akan menyadari keberadaan kita. Mereka akan berpikir kalau kita ada, pada kenyataannya kita pergi meninggalkan lembah Akademi" begitu penjelasan dari Dylan.
"Baiklah, ayo bergegas" ucapku langsung kembali berjalan. Bertepatan dengan kembalinya Selena, ku lihat sekantung serbuk menyala-nyala di tangannya.
"Mereka memberikannya padamu?" Tanyaku sambil menerima kantung itu.
"Mereka tidak curiga sama sekali."
"Bagaimana bisa, alasan apa yang kau berikan, Selena?" Chlea bersuara.
"Aku hanya mengatakan, aku butuh untuk menangkap tikus tanah di kebun belakang" ucapnya.
"Memangnya ada tikus tanah di kebun?" Tanya Jack.
"Kurasa... Ada..."
Ardan terkekeh, "Dan mereka mempercayaimu?"
"Begitulah..."
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan memimpin barisan. Tapi ketika kami hendak memasuki hutan, beberapa orang datang. Mereka adalah Xavier, Iris, Luca, Castiel, dan Piers.
"Mereka datang..." Gumamku.
"Mau kemana?" Tanya Luca.
Tapi aku tidak mempedulikan mereka, aku juga tidak ingin memanjangkan masalah. Begitu saja aku langsung melangkah pergi meninggalkan yang lainnya.
Tapi aku mendengar Xavier meneriaki namaku, "Gara!" Saat itu barulah aku berhenti tanpa berbalik.
"Kalian mau kemana?" Castiel bertanya dengan nada rendah seperti biasa dia lakukan.
"Dylan, bisakah kau mempercepat ini? Kita akan membuang-buang waktu saja" gerutu Edward dengan menyenggol bahu Dylan.
"Apa itu berhasil?" Tanya Selena.
Ku pikir Dykan tidak bisa membuat ilusi kepada mereka, tapi aku salah. Dari tubuh kami keluar seperti cahaya yang transparan, berjalan mendekati mereka, seakan sedang berbicara.
Sampai Piers berkata, "Oh kalian mau ke sungai dan mencari mangsa?"
"Para Lycanthrope clan memang biasa berburu. Kalian akan memangsa apa?" Tanya Luca. Dan begitu saja mereka dengan ilusi kami pergi menjauh.
"Itu... berhasil... Sangat mengerikan sekali.." gumam Ardan.
"Kau yakin ilusi itu mengenai semua orang di sini?" Ku tatapi Dylan dengan serius.
"Seratus persen" katanya.
"Baiklah, ayo kita pergi."
Kami masuk ke dalam hutan. Dengan cara yang sama akhirnya kami sampai di perbatasan yang diciptakan para guru.
Ditengah-tengah membuka pakaian untuk bertransformasi, Chlea bersuara, "Kalau ini tidak berhasil, bagaimana?"
"Dinding pelindung ini tidak bisa dilewati oleh sesuatu yang sakit, terluka atau cacat. Hal itu juga berlaku pada binatang-"
"Jika kita tidak bisa melewatinya, apa itu berarti kita termasuk makhluk yang sakit, terluka atau cacat?" Tanya Jack.
"Asal kau tau saja, makhluk Supernatural tidak ada yang sempurna kecuali dalam bentuk fisiknya. Kita memang terlahir dengan keadaan cacat. Ku simpulkan, karna kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh para manusia" jelasku.
"Jadi itu kenapa kita tidak bisa melewatinya?" Ucap Ardan.
"Ya, begitulah. Jadi jika Light dengan wujud burungnya bisa menembus dinding itu, maka bagian cacatnya adalah wujud manusianya. Dan itu juga berlaku pada kita."
"Oh! Itu berarti wujud manusia kita adalah bagian cacatnya?!" Seru Selena.
"Lalu bagaimana denganku?" Dylan bersuara.
"Kau hanya perlu mendominasi sisi Vampiremu" kataku.
"Aku... kurang mengerti."
Sepertinya aku hanya akan menggunakan sisi Vampire ku, untuk mencontohkan Dylan. Ketika yang lain sudah bertransformasi, aku langsung mendominasikan sisi Vampire ku.
"Kalau dilihat sedekat ini, sisi Vampire mu sangat karismatik" kata Dylan.
"Aku tau itu."
Lalu aku menjulurkan tanganku, dan mendekatkan jari telunjukku pada dinding sihir itu. Seketika cahaya-cahaya itu semakin bergetar. Namun saat ujung jariku mengenainya, tembus di antaranya, cahaya itu berhenti disekitar jariku. Cukup terang bahkan bisa membutakan sepasang mata manusia.
Ku langkahkan kaki melewati dinding sihir itu dengan rasa puas, karena yang telah ku pikirkan matang-matang ternyata benar. Setelah bebas dari perbatasan kami, aku sungguh tidak bisa melihat apa-apa yang ada di dalamnya. Aku tidak bisa melihat teman-temanku ataupun Light. Begitulah cara kerjanya.
Dan yang tidak pernah berada di dalam itu, tidak akan pernah bisa masuk, kecuali yang menciptakannya atau orang-orang yang dituju.Ternyata aku tidak perlu takut lagi pada dinding ini. Yang lainnya tiba-tiba keluar dengan wujud serigala mereka, begitu pula dengan Dylan dan Light.
"Ini berhasil!" Pekik Jack dan Ardan serempak, mereka saling tos satu sama lain.
"Namun bagaimana dengan Selena? Sifatnya belum muncul!" Ucap Edward.
Lalu tiba-tiba, aku melihat tangan indah Selena yang muncul. Perlahan, ia melangkahi pembatas sihir itu hingga ia berhasil melewatinya dengan wujud manusianya. Aku begitu bingung, kenapa ia bisa melewatinya begitu saja.
"Bagaimana bisa?" Tanya Chlea sambil menarik tangan Selena untuk benar-benar keluar dari pelindung sihir itu.
"A-aku tidak tau, aku hanya melakukan seperti yang kalian lakukan" ucapnya. Namun aku terkejut karena menyadari sesuatu dari Selena.
"Selena, matamu..."
Semua ornag langsung memperhatikan mata Selena yang berubah menjadi kuning keemasan, selayaknya mata seorang Lycanthrope.
"Itu berarti sifat Lycanthrope Selena telah muncul!" Pekik Ardan kegirangan.
"Apa kau merasakan sesuatu?" Tanya Edward sambil memegang kedua tangannya.
Selena menggeleng, "Tidak.."
"Ah, itu berarti sifatmya muncul dengan sangat perlahan" Chlea menyimpulkan.
Aku mengangguk dan kembali fokus untuk perjalanan kami.
"Jalur ini akan membawa kita ke Angkara pack, kita tak perlu lagi melewati Kota Astbourne" kataku sambil kembali berjalan setelah bertransformasi menjadi Lycanthrope.
"Pakaianmu tidak hancur?" Heran Edward saat melihatku. Aku pun baru menyadarinya, tak ada satupun kain-kainku di tanah yang seharusnya hancur akibat transformasiku. Mungkin, ini kemampuan baruku.
Lalu, kami berlari dengan wujud serigala kami, menyusuri jalan setapak yang dilewati kak Allegro bersama Mr. Samuel malam itu.