
...AUTHOR POV...
"Kita harus menemukan anak itu" kata salah satu Elder yang memegang pengaruh besar pada INTI, Adam. Dirinya dan kedua Elder lain sedang berjalan disebuah lorong yang menjadi jalan menuju ruang pribadi para Elder.
"Tapi kabarnya masih belum ditemukan oleh pasukan kita" ucap Charles yang berjalan di sisi kiri Adam.
"Andai percobaan terakhir ini gagal, kita harus melaksanakan rencana terakhir kita" sambung Adam ketika sampai di depan sebuah pintu besar di ujung lorong itu. Mereka berhenti sejenak ketika mendengar suara tangisan bayi dari dalam.
"Kita sudah melakukan percobaan yang sama jutaan kali, dari abad ke abad, sampai kita dimakan usia. Sudah banyak bayi yang terbuang karna kegagalan, dengan persentase yang sangat kecil untuk mereka berhasil hidup. Kita membutuhkan satu persen lagi untuk mereka. Sesuatu yang masih menjadi tanda tanya" ungkap David, Elder lainnya yang berdiri di sisi kanan Adam.
Kemudian mereka membuka pintu lebar-lebar, masuk kedalam ruangan yang besar. Di sana tidak banyak Elder yang hadir, karna mereka sibuk melakukan urusan lain dan untuk hal seperti ini mereka memang menyerahkannya pada yang lebih ahli dalam ilmu Healer. Ruangan ini sulit untuk dijelaskan dalam kata-kata, sebagian Elder yang baru pertama kali menginjakkan kaki kedalamnya bahkan tidak bisa mendeskripsikannya dengan kalimat tentang ruangan ini.
Orang-orang yang dipaksa mati karna melahirkan di dalam itu menyebutnya ruang kematian. Sedangkan anak-anak yang hanya hidup sampai usia 1 tahun menyebutnya ruang siksa. Namun dari sudut pandang para Elder, hanya menyangka tempat ini adalah tempat untuk melakukan uji coba pada makhluk hidup.
Suara tangisan bayi itu kian lama meredup, lalu menghilang seperti yang biasa mereka dengar. Adam hanya mengusap wajahnya kasar, melihat bayi berdarah di tangan Rose, satu-satunya Healer wanita yang ada di INTI. Bayi itu mati dalam kondisi yang sama buruknya. Dia memuntahkan banyak darah, dan perutnya yang memiliki sayatan besar. Serta dadanya yang tepat pada jantung itu terluka parah, seperti ditusuk.
"Kondisi yang sama dengan bayi minggu lalu" ucap Rose sambil meletakkan bayi itu di atas ranjang bayi.
"Wanita itu... Mati juga?" Tanya Charles sambil menunjuk ibu dari sang bayi yang terbaring lemas.
Rose mengambil sebuah kain dan menutup tubuhnya, "Tentu, mati seperti yang lain juga."
Adam mendekati wanita yang sudah terbalut kain itu, "Kita sudah mencoba segala cara. Tapi kenapa tidak ada yang membuatnya berhasil?"
Rose duduk di sebuah kursi sambil membersihkan tangannya, "Ini sudah berakhir. Kalian tidak boleh terlalu gila untuk menundukkan satu Hybrid yang bahkan tidak tau tujuan utama kalian."
"Satu Hybrid di masa lalu sudah cukup membuat INTI nyaris hancur. Bayi-bayi yang kita ciptakan mati antara mereka membunuh diri mereka sendiri di dalam kandungan, atau kandungan itu tidak cukup kuat untuk mereka. Jika wanita Lycanthrope tidak cukup kuat, maka lakukan hal itu pada wanita Vampire!" Bentak Adam emosional.
Rose bangun dan memukul meja di depan Adam, "Ini sama sekali tidak menusiawi, sudah banyak orang dan anak tidak bersalah yang mati sia-sia. Dan sekarang kau ingin melakukan hal ini pada wanita Vampire?"
David yang marah hanya menggenggam tangan Rose kasar, "Mereka tidak mati sia-sia, setidaknya demi INTI."
Rose menepis tangan David, "Demi INTI katamu? Huh, demi kematian satu Hybrid."
"Kau juga ingin dia mati 'kan? Ingat kejadian ratusan tahun lalu, kematian anakmu?" Ucap Adam.
Pandangan Rose mulai kosong, melihat ubin di bawahnya yang terbuat dari batu-batu indah. Memori itu mulai terputar kembali. Seperti sebuah mimpi, dirinya yang masih berusia dua 25 tahun memangku anak laki-lakinya, tidak bernyawa, dengan leher yang hampir putus dan perut kecilnya yang hancur. Saat itu adalah mimpi terburuk bagi Rose disepanjang hidupnya. Tentu, kematian Hybrid adalah tujuan utama Rose ikut serta di dalam INTI .
Tapi sesuatu selalu membuat pikirannya berubah. "Mereka adalah makhluk yang berbeda. Hybrid yang sedang kau bicarakan hanyalah anak kecil berusia 8 tahun! Dia tidak tau apa-apa tentang dunia ini!"
"Anak kecil berusia 8 tahun, sebelum sifat Hybridnya muncul dan memangsa orang-orang!" Charles ikut membesarkan suara.
Rose tampak frustasi, dan memikirkan hal yang sama. "Baiklah. Kita lakukan sesuai kata-katamu. Bawakan wanita Vampire, namun jika itu tetap gagal, kalian harus menyerah untuk hal ini."
...════════ ◖◍◗ ════════...
Di area latihan, murid-murid berbaris rapih sesuai clan masing-masing dengan pedang kayu yang ringan di tangan. Beberapa orang dari mereka sangat bersemangat untuk berlatih pedang. Bagaimanapun, pedang adalah satu satu senjata yang banyak digunakan. Di depan mereka juga masing-masing guru memegang pedang kayu untuk mengajari para murid.
Meskipun mereka sudah memperlajarinya, namun belum semua tentang pedang mereka ketahui. Latihan pagi itu disepakati oleh Neanderthald si kepala sekolah, ia setuju dengan digabungnya clan untuk latihan pagi akan membuat pengetahuan mereka serentak sama.
"Hal pertama yang harus kalian ketahui adalah bagian-bagian pedang secara umum. Yang pertama ada bilah pedang, bisa dibilang bagian utama dari pedang, karena bagian inilah yang langsung bersinggungan dengan lawan atau senjatanya dalam gerakan-gerakan menyerang ataupun bertahan" jelas Arthur sambil menunjukkan bagian bilah pedang miliknya kepada semua murid di depannya. Tentu, para murid sangat terkesan dengan pedang yang dimiliki Arthur. Bagaimanapun, dengan pedang itu ia melaksanakan misi-misi penting dari dulu hingga sekarang.
Pedang Arthur terlihat memiliki aura berwarna hitam kemerahan disekitar dua mata pedangnya, bentukannya mirip seperti api-api kecil, aura itu keluar ketika ia melepaskan pedangnya dari sarung.
"Sementara itu, gagang pedang merupakan sarana utama bagi interaksi antara pedang dan penggunanya. Biasanya bagian ini terdiri dari inti baja yang merupakan terusan atau sambungan dari bilah pedang, atau balutan yang terbuat dari kayu, kain, bahkan kulit sekaligus. Contohnya pedang milikku, gagang pedangnya dilapisi oleh kulit naga agar tahan dari panas."
Arthur tertawa, "Pedangku salah satu pedang legendaris, dia sangat panas. Aku juga tidak ingin terluka olehnya."
Murid-murid terkagum-kagum ketika mendengar keistimewaan pedang Arthur, di sisi lain guru-guru lain hanya menatap Arthur dengan tatapan menggelikkan.
"Crossguard, atau batang silang. Tidak hanya melindungi tangan penggunanya agar tidak meleset atau menggelincir dan tersayat mata pedang secara tak sengaja, tetapi juga berguna sebagai alat untuk menangkap dan menggiring pedang lawan" sambung Arthur.
Murid-murid tampak menyentuh crossguard pada pedang kayu mereka masing-masing.
"Pangkal pedang. Pada pangkal pedang wilayah daratan barat biasanya dilengkapi dengan sebuah pommel atau kenop yang berguna untuk mengatur keseimbangan pedang. Beberapa teknik juga menggunakan bagian kenop ini untuk menghantam lawan, biasanya di bagian-bagian rawan seperti wajah dan pelipis" Arthur memperlihatkan kenop pada pedangnya.
"Pada pedang bermata dua, mata depan atau mata sejati, true edge, merupakan mata yang sejajar dengan punggung buku-buku jari. Mata yang satunya lagi disebut mata belakang atau mata palsu, false edge" Arthur memperlihatkan kedua mata pedang miliknya pada murid-murid.
"Terakhir, ada juga ujung pedang, point. Ketiga bagian ini memiliki peranan masing-masing dalam berbagai teknik yang berbeda-beda."
"Selain itu, pedang juga dapat dibagi menjadi bagian kuat, Stark, dari pangkal hingga kurang lebih pertengahan bilahnya. Serta bagian lemah, Schwach, dari pertengahan bilah hingga ke ujung."
Gara terlihat sedang membagikan dua bagian itu pada pedangnya sendiri, diikuti oleh teman-temannya yang lain.
"Stark lebih dekat dengan tangan yang memegang pedang, sehingga bagian ini bersifat lebih kokoh saat menghadang serangan lawan ataupun memindahkan bahkan menggiring pedang lawan. Sebaliknya, schwach lebih mudah digiring atau dipindahkan sehingga cenderung lebih lemah untuk bertahan."
"Hahh?!" Serentak semua anak murid kebingungan.
"Kenapa, ada yang salah?" Tanya Arthur juga ikut bingung.
"Tapi schwach digunakan untuk menyerang lawan, bagian itulah yang paling kuat!" Seru Iris.
"Hahaha, memang. Schwach merupakan bagian utama yang digunakan untuk menyerang, karena bagian ini dapat mencapai laju gerakan yang lebih tinggi sehingga dapat menyalurkan momen gaya yang lebih besar pula. Namun sebagai pertahanan untuk menghadang lawan saat hendak menyerang kita, stark lah menjadi bintang utamanya. Dibantu oleh crossguard untuk menghentikan gerakan pedang lawan."
"OHHH!" Serentak mereka lagi.
"Anak-anak ini lucu" bisik Joseph pada Chairoz.
"Tentu saja pembagian ini tidak semua wilayah berlaku, ada pula gerakan bertahan yang mengandalkan bagian ujung pedang seperti Ablauffen dalam tradisi daratan tengah, atau Colpo di Villano dalam ajaran Fiore de'i Liberi" Arthur kembali memasukkan pedang miliknya pada sarung.
Murid-murid terlihat sudah mengerti akan bagian-bagian pedang. Sementara itu Joseph berbisik lagi pada Chairoz, "Aku yakin Arthur menghafal kata-kata gurunya untuk mengajari anak-anak ini. Hahaha." Chairoz pun ikut tertawa.
"Aku bisa dengar itu, Joseph!"
"Nah, sekarang, bagaimana jika kita mulai dengan cara memegang dan mengayunkan pedang?" Ucap Chairoz mengalihkan perhatian.
Suasana area latihan tidak pernah berubah. Mereka melanjutkan latihan bersama.
Anak-anak terlihat sangat bersemangat, terlebih Gara. Dia sendiri langsung mempraktikkan kemampuan dasar yang sudah diajarkan, langsung pada Chairoz membantunya. Dia terlihat sudah sangat mengerti tentang bagaimana untuk memblokade serangan ataupun menyerang dengan mengambil kesempatan yang ada. Meski beberapa kali pedang kayunya harus terlempar, dia satu-satunya yang melakukan hal itu.
Bentuk apresiasi dilakukan oleh teman-temannya yang menonton Gara dan Chairoz, mereka bertepuk tangan sesekali, atau bersorak semangat untuk Gara. Beberapa diantaranya bahkan mempelajari gerakan-gerakan yang Gara lakukan.
"Bagus sekali, kau sudah paham dengan yang diajarkan. Bagaimana dengan yang lain?" Tanya Chairoz.
"PAHAM!!" Serentak semuanya.
"Hm... baiklah. Bagaimana jika sekarang aku menantang kalian?" Sambungnya.