Metanoia; The Hybrid

Metanoia; The Hybrid
CHAPTER 46: SAVES LIGHT FROM THE BAR.



...※ ·❆· ※...


"Apa yang kau bilang barusan!?" Suara Samuel membuat beberapa orang melirik sekumpulan mantan Hunter yang sedang berjalan di halaman depan kerajaan itu.


Setelah cukup letih bertemu orang-orang penting atau beberapa kenalan jauh, mereka lekas keluar hendak pergi meninggalkan kerajaan.


"Anak-anak itu ke sini, Samuel. Anak-anak itu" Chairoz yang geram pun menekankan kata-kata dan kalimatnya. Ketika paham dengan situasi apa yang sedang mereka hadapi, Samuel melototkan matanya karena terkejut.


"Bagaimana bisa, Chairoz? Bukankah sihir itu tak mampu dilewati oleh siapapun? Bahkan binatang dan makhluk yang sedang sakit atau cacat sekalipun?" Tanya Michael sambil menatap Abraham, yang ikut bertanggung jawab atas dinding sihir sebagai perbatasan wilayah Akademi.


"Sudah tidak waras pula jika aku mengacaukan sihirnya, dan tak ada yang bisa mematahkannya jika bukan aku dan para staf Wizard lain di Akademi" jelas Abraham yang mencoba meyakinkan semua orang kalau sihir itu tak bisa dilewati begitu saja.


"Lebih baik kita tak berlama-lama di sini. Ayo segera kembali dan menyusuhi hutan. Jikapun ada kesalahan teknis, kita akan memperbaikinya" Harold menenangkan semua orang, mencoba agar tak terjadi perselisihan yang panjang. Lalu mereka mendengarkan nasihat baik Harold untuk berjalan dan menyusuri hutan arah kembali ke Akademi.


Dan benar saja, di perbatasan sihir yang dibuat Abraham pula mereka mendapati beberapa anak. Mereka tampak sedang khawatir, terduduk di atas tanah bersama-sama.


"Apa yang kalian sedang lakukan?" Tanya Michael dengan nada lembutnya, agar anak-anak itu tenang dalam kesalahan mereka.


"G-guru..!?" Kaget Ardan.


"Nanti saja penjelasannya, namun kenapa kalian masih di sini? Kenapa tak langsung kembali? Dan dimana yang lainnya?" Chairoz terdengar ikut khawatir karena melihat wajah mereka, terlebih Chlea.


"Gara, Edward dan Dylan..."


...※ ·❆· ※...


Di sisi lain, di gang sempit Angkara Pack atau kota Buxton, di sebuah bar yang ramai dengan orang-orangnya.


"Aku tak mau Light menjadi potongan daging" gumam Gara.


"Dan aku tak mau... Kita tertangkap di sini..."


Gara menoleh melihat Dylan, saat itu dia terkejut melihat jemarinya samar-samar mulai terlihat.


"Sial..."


Gara terdiam sesaat, lalu matamya bertemu dengan para pelayan yang sibuk menghidangkan pesanan-pesanan milik para tamu. Terbesit sebuah ide di dalam pikirannya.


"Light tak begitu mengenal kalian, jadi aku yang akan mengeluarkannya dari sana. Kalian hanya perlu mengalihkan perhatian semua orang, terlebih perhatian pria yang di depan itu."


"Bagaimana cara kami mengalihkan perhatian?" Tanya Edward.


Gara menunjuk pelayan yang membawa begitu banyak piring di dua tangannya, "Dia adalah mangsa yang begitu istimewa, bukankah begitu?"


Dylan tersenyum jahil menangkap ide yang dimaksud Gara, "Kau pernah menjadi anak-anak juga, Gara?"


"Aku ini masih terbilang anak-anak, Dylan."


Dylan dan Edward tersenyum, lalu membiarkan Gara mengendap-endap mendekati kurungan besar yang ada di belakang panggung. Di sana dia naik dan berhasil meraih kurungan itu. Di depan wajahnya kini Light bergetar ketakutan dengan kedua matanya yang melotot. Dia meringkuk di sudut, dengan suara merengeknya, dia benar-benar ketakutan


Gara memfokuskan dirinya untuk bisa melakukan Pack Link dengan Light. Meskipun tak pernah ada orang yang melakukannya dengan bangsa lain bahkan pada binatang, namun kemampuannya yang bisa berkomunikasi dengan Dylan membuatnya yakin.


Light tampak terkejut sebentar, lalu kepalanya bergerak-gerak mencari keberadaan Gara.


"Kau tak bisa melihatku, tapi percayalah aku akan membebaskanmu dari sini, kau hanya perlu mendengarkan perintahku baik-baik" ucap Gara meyakinkan Light.


"Suara Gara...! Suara Gara!!" Pekik Light dalam komunikasi itu. Dia begitu kebingungan karena mendengar suara Gara di dalam pikirannya.


Dengan sigap Gara bangun dan melihat kunci-kunci kurungan di gantung di atas dinding yang cukup tinggi. Dia berpikir, jika ia memaksakan dirinya meraih gantungan kunci-kunci itu, maka kunci-kunci itu akan jatuh dan menimbulkan suara yang cukup berisik, lalu semua orang akan menyadari ada penyusup di tempat itu.


Gara melirik ke arah depan sana, dia pun memberikan kode pada Edward dan Dylan untuk memulai rencana mereka.


Ketika pelayam yang mereka tandai itu kembali lagi dengan banyak piring di tangannya, Edward melangkah mendekati arah datangnya pelayan itu, beriringan dengan Gara yang mencoba meraih gantungan kunci di dinding.


Tepat saat gantungan kunci-kunci itu terlepas di dinding dan hendak jatuh ke lantai, Edward berhasil menyenggol langkah kaki pelayan itu hingga seluruh piring yang ada di tangannya terbang semua. Dengan sigap pula, Dylan menggunakan kekuatannya membuat beberapa piring itu melayang ke kepala para tamu dan pria yang melelang di depan sana.


Keributan dan kekacauan itu berhasil meloloskan Gara untuk membuka pintu kurungan. Saat pimtu itu terbuka, beberapa manusia keluaeo dari dalam sana dan melarikan diri.


"Light, bertransformasilah!"


Mendengar perintah dari Gara, Light pun berubah menjadi wujud burung gagaknya. Dengan gerakan yang begitu cepat, ia terbang dari kurungan dan keluar dari bar. Gara, Edward dan Dylan pun dengan sigap berlari keluar sebelum keributan itu mereda. Mereka berlari dalam ketakutan saat tubuh mereka mulai terlihat.


Hingga ketika mereka semua berada di dalam hutan, seluruh tubuhnya kembali menjadi normal.


"Sihir itu menghilang!" Kejut Dylan melihat tubuhnya yang terlihat kembali.


Gara melihat ke atas saat mendengar suara Light yang terdengar senang. Dia mendarat dan mengubah wujudnya.


"Gara!" Pekiknya lalu melompat ke pelukan Gara, sampai dua makhluk yang berbeda bangsa itu nyaris terjatuh ke tanah.


"Bagaimana bisa kau ada di sana?" Tanya Gara mencoba menenangkan burung gagak setengah manusia itu.


"Light...! Orang... tembak...!"


Light memperlihatkan bekas tembakan yang ada di lehernya.


"Oh.. semacam bius..."


"Pantas saja-"


"Pantas saja apa?"


Mendengar yang familiar di belakang mereka, merekapun dengan cepat berbalik dan menemukan Chairoz yang menatap dengan tatapan marahnya.


"G-guru!" Kaget mereka bertiga secara serempak, kecuali Light yang terkejut langsung mengubah dirinya kembali menjadi burung gagak.


"Kalian berutang penjelasan padaku."


Dylan bersusah payah menelan air liurnya, mengingat bahwa ini semua adalah rencana konyolnya. Mereka bertiga beserta Light akhirnya kembali ke perbatasan dan bertemu dengan Chlea, Selena, Jack dan Ardan.


Mereka semua pula kembali ke Akademi dengan selamat.