
"Gara, apa kau baik-baik saja?" Tanya Chairoz sambil menjauhkan pedang kayu Gara dari arah perutnya.
"Aku... Lapar dan Haus..." gumamnya masih menatap Chairoz tanpa henti.
"Ah..." Chairoz mengerti akan ucapan Gara. Bagaimanapun dia tau, sudah beberapa jam lamanya Gara tidak mengkonsumsi darah. Chairoz melirik Samuel yang paham akan situasinya.
"Ikutilah bersama Mr. Samuel, kau bisa minum ke dalam kantornya. Tapi pertama-tama, kau harus mencoba untuk menenangkan dirimu. Kau terlihat seperti Vampire dengan mata itu."
Chairoz mengusap kepala Gara dengan lembut. Anak laki-laki itupun terkejut sesaat, merasakan aura Vampirenya yang kuat, hampir menghilangkan sisi Lycanthrope nya. Gara menundukkan kepalanya, berjalan pelan bersama Samuel ke arah Akademi.
"Dia kelelahan..." gumam Cassandra saat Gara melewati mereka begitu saja.
"Tentu saja, melawan mantan Hunter yang sangat berpengalaman. Siapa saja akan kelelahan seperti itu" ucap Castiel khawatir.
"Gara mau kemana, kenapa dia berjalan bersama Mr. Samuel?" Tanya Dylan.
"Mungkin dia akan diobati?" Sahut yang lain.
"Oh... begitu..."
...════════ ◖◍◗ ════════...
...SAGARA POV...
Tadinya aku bertanya-tanya, kenapa sisi Vampireku lebih dominan?
"Duduk dan minumlah, apa yang ingin kau makan? Aku akan menyiapkannya untuk kau makan di sini" ucap Mr. Samuel dengan memberikanku segelas darah segar.
Ku teguk segelas darah yang ia berikan padaku, dan membenarkan pikirannya, "Aku makan... Makhluk yang hidup, Mr. Samuel."
Mr. Samuel sedikit terkejut, "Oh! Begitu... Namun kenapa hanya kau yang pergi memangsa setelah sifat Lycanthrope muncul?"
"Anak-anak lain tidak memangsa?"
Ia menggelengkan kepala, "Mereka makan apa yang disajikan koki Akademi, sesuatu yang sudah diolah, bukan makhluk yang hidup."
"Lalu... Apa yang ingin kau mangsa?" Tanya Mr. Samuel sambil mendudukkan diri di sampingku.
"Aku masih tidak tau, aku tidak memikirkannya sama sekali. Hanya ketika aku menemukan mangsaku" ku teguk darah terakhir itu dari gelas kaca yang indah. Setelahnya, aku bangkit dari duduk sambil bertanya, "Mr. Samuel, bagaimana mataku?"
"Matamu... Kembali seperti semula" jawabnya.
"Terimakasih Mr. Samuel, aku ingin jalan-jalan di hutan sebentar."
Kemudian, aku menyusuri hutan sendirian. Sinar matahari menghiasi celah-celah hutan. Suara binatang-binatang kecil mengisi ketenanganku.
Aku mendengar suara Light di atas, dia sedang terbang bersama kawanannya. Aku tidak pernah melihat ia punya perkumpulan juga. Dia seperti, ingin menunjukkan sesuatu padaku.
Ku ikuti arahnya terbang, lalu kutemukan kawasan hutan yang terbuka. Light dan kawanannya terbang mengitari seekor anak rusa. Ah.. Dia berniat memberitaukanku.
Aku tidak merubah diriku menjadi serigala, hanya berjalan pelan mendekati anak rusa yang sedang kebingungan. Mungkin dia tersesat. Anak rusa itu berbalik ketika sadar akan kedatanganku.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanyaku sambil ku ulurkan tangan hendak mengusap kepalanya.
"Apa menurutmu, aku kejam? Kau seharusnya tau kau akan mati. Tidak, kau tau itu. Hanya saja kau berpura-pura tidak tau."
Aku menghabiskan siang memangsa anak rusa itu, nyaris tanpa sisa. Setelahnya, aku kembali ke asrama. Light tidak ikut, dia membersihkan daerah itu bersama kawanannya.
Banyak yang mengkhawatirkanku. Tentu saja aku harus membuat mereka tidak curiga dengan kondisiku.
Siang ku habiskan dengan kelas-kelas tambahan, hingga selesai makan malam, aku datang ke kantor Mr. Chairoz dan yang lainnya tengah berkumpul juga.
"Kau sangat hebat tadi, caramu memainkan pedang sungguh luar biasa" puji Mr. Abraham.
"Benar, pasti Pangeran Damian telah mengajarkanmu" sahut Mr. Samuel.
"Tidak, ayah bahkan melarangku menyentuh pedang" ucapku.
"Hahaha, tentu saja. Kau masih sangat kecil" Mr. Harold tertawa, diikuti oleh yang lainnya.
"Aku sering memperhatikan kakak saat belajar pedang, jadi aku mengerti satu-dua hal" jujurku.
"Ah... anak yang pintar" Mr. Michael mengusap kepalaku.
"Bicara tentang pedang, jadi apa hal yang kau inginkan dariku, Gara?" Tanya Mr. Chairoz.
Aku terdiam menatapinya di depanku. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan sederhana itu, sementara ada banyak hal yang aku inginkan darinya. Aku yakin guru akan mengabulinya, tapi tentu saja, aku bingung.
"Aku tidak bisa memberitaumu sekarang guru" jawabku.
"Kenapa begitu? Apa karna kau sulit memilih satu permintaan yang paling kau butuhkan sekarang?"
Aku menatapi gelas kacaku yang kosong, "Saat ini aku tidak membutuhkan apa-apa."
Mr. Chairoz tersenyum dan mengusap kepalaku, "Baiklah, simpan itu untuk kemudian hari."
"Kau terlihat seperti seorang ayah, hahaha" ketawa guru Joseph sambil memukul punggung guru Chairoz.
"Hahaha, aku memang seorang ayah!"
"Hahaha."
Setelahnya aku pamit, kembali ke asrama untuk istirahat. Aku menghabiskan waktu bebas di ruang beekumpul bersama yang lain. Kami hanya bersantai di pojok ruangab, tempat kami oara murid tahun pertama berkumpul, sementara beberapa dari yang lain kembali dari pondok membawakan cemilan.
"Aku menemukan radio usang di gudang asrama, sepertinya ini milik murid terdahulu" suara Piers membuatku menoleh melihat ke arah kedatangannya. Dia datang dengan sebuah radio di kedua tangannya. Ia meletakkan radio itu di meja.
"Apa bisa digunakan?" Tanyaku penasaran.
Piers menarik sebuah besi panjang keatas, lalu ia menyalakan radio itu. Suaranya sangat tidak jelas, itu membuat pendengaranku terganggu.
"Sepertinya ini sudah rusak" Xavier datang dan memukuli radio itu beberapa kali.
"Jangan tambah kau pukuli! Radionya akan semakin-"
Tiba-tiba suara bising tadi menghilang, kini kami mendengarkan suara seseorang yang berbicara. Itu pasti dari penyiar Radio.
"Wah, dipukul semakin membaik" ucap Dylan.
"Claverdon, Alystra, Urcmoonth. Masyarakat manusia panik karna menghilangnya remaja-remaja pada saat malam secara misterius, beberapa dari mereka ditemukan sudah tidak bernyawa di dalam kawasan hutan. Detektif menyimpulkan adanya aksi pembunuhan dengan motif mencuri perhiasan dan barang-barang penting."
"Walikota Claverdon Pack langsung menindak tegas aktivitas rakyat dalam memangsa, untuk mencegah terjadinya bentrokan kehidupan."
"Wow, sepertinya rakyatku terlalu terang-terangan memangsa" sahut Dylan sambil menggeleng-geleng kepala, "Kenapa juga mayat mereka harus ditelantarkan begitu saja?"
"Mungkin itu aksi rakyat kasta bawah, akhir-akhir ini ku dengar harga pasokan darah sedang naik. Jadi dari pada membelinya, mereka memangsa sendiri tapi dengan cara yang sungguh salah" begitu komentar dari Castiel.
"Dan membuat tindakan itu benar-benar terbuka, menelantarkan mayat, sungguh pemikiran yang rendah. Kecuali mayat-mayat dari toko porduksi itu sendiri, mereka mengirimkannya ke wilayahku sebagai pasokan makanan untuk binatang tempur di sana" jelas Piers.
"Bahkan mayat punya harga jual yang tinggi, itulah kenapa toko produksi bisa membersihkan tindakan mereka" sambung Dylan.
"Ku pikir toko produksi minuman bangsa kalian tidak sepenuhnya dari darah manusia, ternyata aku salah?" Kaget Iris.
"Ku dengar ada yang mencampurkannya dengan darah binatang" Luca juga ikut bersuara.
"Itu tindakan yang ilegal. Sama saja dengan penipuan. Vampire Clan hanya meminum darah manusia sebagai sumber energi dan mineral. Jika kami meminum darah binatang, itu seperti kau meminum air seni. Tidak ada gunanya. Kecuali untuk Lycanthrope Clan, mereka bisa sekalian meminum darah binatang sebagai penghilang rasa haus saja" jelas Dylan. Aku mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan Dylan. Karna aku melakukannya.
Luca menekan salah satu tombol di radio, membuat siaran tadi berganti.
"Saat ini saya sedang bersama Elder Adam. Tuan, bagaimana tanggapan Tuan ketika menyadari anak Hybrid ini menghilang, apalagi dalam pengawasan dihari pertama?"
"Semua orang ingin yang terbaik, mencapai kehidupan dimana tidak ada lagi bencana besar. Sudah disepakati bersama para Elder dan Council serta anggota kerajaan dari dua belah pihak. Kerajaan Angkara dan kerajaan Claverdon. Bahwa anak Hybrid itu akan dibawa ke INTI pada usia empat 14, sesuai permintaan Pangeran Damian sendiri."
Saat nama kerajaan dan nama ayahku disebut olehnya. Aku membeku sambil melirik teman-temanku yang ikut menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sayangnya, kejadian ini terdengar seperti pengingkaran janji. Kami sungguh kecewa terhadap Pangeran Damian sendiri. Tindakannya mengasingkan anak Hybrid itu seakan-akan menunjukkan, bahwa beliau ingin... anak itu hidup bebas diluar sana. Berkeliaran dengan sifatnya yang kita tidak tau kapan munculnya. Tidak ada pengawasan. Hanya karna anak Hybrid itu adalah... anaknya sendiri."
Aku sungguh akan membenci orang yang bernama Adam Sorcestia.
"Menurut Tuan sendiri, pangeran Damian, patutkah disebut penghianat atau hanya seorang ayah yang ingin melindungi anaknya?"
Bagaimana bisa, hal ini sampai dipublikasikan? Bukankah ini sesuatu yang harusnya ditutup rapat-rapat? Kenapa dia melakukan ini?
"Aku tidak ingin bicara terlalu banyak, aku tidak ingin terlihat sedang memojokkan Pangeran Damian atau anaknya yang mungkin sekarang sedang mendengarkan berita siaran langsung ini. Biarkan masyarakat yang bersuara, karna makhluk hidup punya cara pandang mereka sendiri-sendiri."
Tiba-tiba Luca mematikan radio itu. Heningnya membuat suasana ruang berkumpul ini langsung berubah. Ternyata, bukan hanua kumpulan kami, tapi semua orang yang ada, semua murid, mendengarkan radio usang itu.
"Jadi kau adalah Hybrid yang dibicarakan itu?" Tanya Luca.
"Apa maksudmu?" Aku mencoba untuk mengalihkan Luca.
"Sudah jelas, yang dikatakan Elder Adam sudah jelas kau. Di antara Pangeran Allegro dan kau, kau lah yang pergi mengasingkan diri" sambung Castiel.
"Elder Adam menyebutkan nama kerajaanmu, bahkan nama ayahmu. Tentu saja, Hybrid yang dimaksud beliau dan semua orang adalah kau" Xavier ikut bersuara.
"Hey, kalian mempercayainya? Kenapa kalian tidak berpikir kalau dia sedang mencoba menjatuhkan reputasi ayahku? Kalian tau ayahku akan naik tahta. Bukan kah itu strategi yang tepat untuk menjatuhkannya?" Aku masih mencoba untuk mengalihkan mereka.
"Kau bahkan tidak menyangkal kalau kau adalah Hybrid itu, Gara. Kau terus memikirkan perkataan Adam di lain pandangan."
Kalimat Piers membuatku semakin kehilangan kata-kata. Mereka tidak boleh tau. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
"Kalian terus berbicara, bagaimana bisa aku menyangkalnya?" Kataku.
Suara ribut kami membuat semua orang di sini memperhatikan kami, termasuk aku. Ini tidak boleh terjadi.
"Sekarang kami akan diam" ucap Iris.
Mereka benar-benar diam, yang lain juga begitu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku diajarkan untuk tidak menyangkal jati diri sendiri. Itu adalah perbuatan yang salah. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku bukan seorang Hybrid.
Dylan bangun dan bersuara.
"Hey, kalian berlebihan-"
"Kau sedang mencoba membantu saudaramu, 'kan?" Sahut Xavier dengan cepat.
"Kalian memojokkannya."
"Kami hanya ingin kebenaran! Lagipula, kenapa dari awal saat kita tau Gara mengaku seorang Lycanthrope sedangkan kakaknya adalah Vampire, kita tidak langsung menyadarinya?" Kata Luca.
"Dan bagaimana bisa, kalian saling bersaudara? Bukannya itu sangat mustahil, kecuali Gara memang punya darah Vampire yang ada dalam dirinya" sambung Iris.
"Sejak kedatangan Vale Barbarian, yang ingin menemukan keberadaanmu, aku sudah curiga. Ternyata benar, kau adalah Hybrid yang dibicarakan banyak orang. Pantas saja, kau terkenal dengan rambut dan manik mata hitam itu."
Suara Piers membuat semua orang terkejut. Mereka mulai berbisik-bisik. Kemudian Edward menghampiriku, menatapku dengan tatapan terkejutnya.
"Bagaimana bisa mereka tau?" Edward melakukan Pack Link.
"Dari siaran langsung di radio. Elder bernama Adam Sorcestia membocorkannya ke publik."
"Lihat, Gara tidak menyangkalnya. Dia benar si Hybrid" ucap Xavier.
"Jangan menyimpulkan seenaknya" tegur Edward.
"Tunggu, jangan-jangan kau juga ikut membantu Gara. Mungkin kau sudah tau tentang jati diri Gara sejak awal? Lagipula kalian sesama berdarah Lycanthrope" sahut Iris.
"Kita tinggal menunggu Gara memperlihatkan sifat Vampirenya. Kau tidak perlu menyembunyikannya lagi, Gara" sambung Luca.
Mereka tau sudah, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi, aku yak bisa menyangkalnya. Semuanya sudah jelas di mata mereka.
"Ternyata kita sedekat ini dengan kematian-"
"Aku tidak seperti yang kalian pikirkan!" Bentakku sambil memukul meja. Sangking kuatnya, ujung meja yang mengenai tanganku retak, nyaris terbelah.
"Aku tidak seperti itu."
Mereka menatapku terkejut. Tidak tau kenapa, Castiel mulai memundurkan langkah kakinya. Lalu mereka yang lain ikut menjauh dariku.
Aku tidak melakukan apa-apa. Lalu kenapa mereka menjauh?
Aku merasakan sesuatu yang keluar dari diriku. Sesuatu yang tidak pernah kurasakan. Ini bukan aura Lycanthrope ku atau bahkan Vampire ku. Sesuatu yang sangat kuat, sesuatu yang membuatku tidak bisa membedakan antara langit dan tanahnya. Semua benda yang bergerak dapat kulihat dengan seksama, dari kejauhan langit dan kegelapan bawah tanah, semuanya terlihat dengan jelas.
Aku bisa melihat aliran darah atau titik-titik nadi orang-orang disekitarku. Aku bisa melihat sebuah titik cahaya dalam diri mereka, sebuah kehidupan. Aku bisa mengontrol pikiran dan hati mereka. Aku bisa mengelabui mereka dengan ilusi-ilusi yang ku ciptakan. Kenapa aku merasakan semua kemampuan itu.
Beberapa dari mereka terlihat seakan kehabisan oksigen. Mereka mencengkram kuat-kuat dada mereka. Menangis sambil mencoba bernapas. Aku tidak tau apa yang sedang terjadi. Rasanya aku ingin menyentuh tubuh mereka dengan kuku-kukuku, rasanya aku ingin menghabisi mereka agar mereka tidak bersuara tentang jati diriku.
Tapi bagaimana mungkin aku melakukannya? Aku tidak ingin mereka semakin salah paham tentangku.
Aku mendengar suara yang berdenging dalam kepalaku, sampai aku melirik melihat Edward yang sepertinya sedang berbicara padaku. Namun aku tidak mendengar apa-apa.
Suara dengingan itu cukup membuatku terlarut dalam imajinasi nyataku.
"...ra..."
"...Gara..."
"Gara!"
Aku tersadar. Lalu mereka semua kembali menghirup napas dengan bebas. Beberapa di antaranya terbatuk-batuk parah. Bahkan Edward dan Dylan ikut merasakannya.
Apa yang telah aku lakukan? Jangan katakan... bahwa sifat Hybrid ku muncul.
"Apa itu tadi- uhukk! Kau mencoba membunuh kami?!" Pekik salah satu kakak kelas yang ada di tengah ruangan. .
"Lihat manik matanya! Dia benar seorang Hybrid!" Tambah yang lainnya.
Mataku.. apa yang salah dengan mataku?
"Dia terlihat seperti monster!"
"Gara adalah anak Hybrid!"
"Kita harus memberitau guru!"
"Jangan biarkan dia ada di asrama!"
"Jangan dekati dia!"
Aku hanya diam, lalu berjalan hendka keluar dari asrama. Sampai aku mengenai sesuatu sata berjalan di jembatan. Itu adalah Mr. Neanderthald. Guru-guru lain datang dengan napas yang terburu-buru. Apakah mereka merasakan auraku juga? Mereka terlihat terkejut melihatku.
Segera aku berlari sambil bertransformasi menjadi bentuk serigalaku. Aku berlari keluar Akademi, dan masuk ke dalam hutan. Tapi aku bisa mendengar seseorang mengatakan,
"Dia adalah kematian!"