
Iris dan Piers kami tinggal di tempat tadi. Sebab Iris masih terlihat sangat trauma, jadi aku memutuskan untuknya berdiam dan beristirahat saja. Namun Piers kuberikan sebuah tugas untuk mengumpulkan kayu, air, dan dedaunan yang bisa digunakan sebagai alas. Karena hutan ini termasuk wilayahnya.
Aku dan Xavier berjalan semakin masuk ke hutan. Memberi beberapa tanda pada tanahnya dengan bebatuan, agar tidak tersesat. Aku sendiri tidak tau banyak soal berburu, hanya pernah melihat paman Alexander memburu rusa dan semacamnya. Yang kutau, buatlah makhluk itu mati, dan isi perut akan terpenuhi.
Aku selalu lupa ketika sedang memangsa sesuatu, jadi aku sama sekali tidak ingat bagaimana aku berburu dengan kedua tanganku sendiri. Tak mungkin aku lakukan hal yang sama di saat seperti ini, aku tak ingin membuat mereka menjaga jarak lagi denganku.
"Shh, kupikir aku mendengar sesuatu" Xavier berbisik, membuat ancang-ancang.
"Seekor anak rusa" bisikku, saat seekor anak rusa muncul dari sisi kanan kami.
"Apa yang harus kita lakukan Gara?" Tanya Xavier.
"Aku bisa saja menerkamnya, kau tau 'kan Lycanthrope ahli dalam berburu secara alami?"
Xavier terkekeh, "Yang ku tau adalah kau tak akan membiarkan anak rusa itu melarikan diri."
Aku mengambil posisi, untuk menerbangkan deggerku. Aku menggerak-gerakkan deggerku sebagai ancang-ancang, meyakinkan diriku sendiri untuk dapat mengenai perut anak rusa itu. Setelahnya, aku mengumpulkan tenaga, dan melempar pisau itu dengan kecepatan tinggi. Untung saja sasaranku tepat. Anak rusa itu memekik kesakitan saat deggerku tertancap sempurna di bagian perut bawahnya. Bagian itu pula mengeluarkan banyak darah.
Anak rusa itu kemudian berlari ke sisi lain hutan dengan bercak darah yang menghiasi tananhnya. Dengan begitu, kami akan dengan mudah menemukan anak rusa itu.
"Apa kau pernah memakan jantung Demon?" Tanya Xavier tiba-tiba.
"Tidak?"
"Oh, kupikir kau pernah. Ibuku pernah bercerita, jika ada orang yang memakannya, sekalipun anak kecil, ia memiliki kekuatan seperti seorang Demon."
"Kau bercanda? Aku ini Hybrid."
Xavier tertawa, "Hahaha kau benar!"
Aku tau, anak rusa itu hanya berlari beberapa jarak dari kami. Kami menyusulnya, dan memperhatikan bercak-bercak darah yang bertumpahan di tanah. Tepat di depan kami, anak rusa itu berjalan sangat lamban. Sesekali berteriak, dan terjatuh. Perlahan, dia melemas, terbaring di depan sana. Darah yang keluar dari perutnya sangatlah banyak. Dia akan mati karna kehilangan banyak darah.
Dan selang beberapa menit, dia tidak bergerak lagi.
"Kau sadis" kata Xavier.
"Aku sadis, atau perutmu sudah lapar?" Tanyaku.
"Hehe, perutku sudah lapar" jawabnya.
"Mari kita bersihkan ini, dan membawanya ketempat tadi-"
Perkataanku terpotong, karna mendengar suara teriakan dari sisi yang berbeda.
"Iris?" Tebak Xavier.
"Bukan, suara dan arahnya berbeda, lebih masuk ke dalam hutan" Aku diam lagi, memastikan bahwa itu suara seseorang.
"Tolong!"
Itu suara Dylan! Aku kenal sekali dengan suaranya, pasti itu Dylan.
"Bisakah kau bereskan ini? Aku akan ke arah suara itu" ucapku.
Ku tarik deggerku dari perut anak rusa itu, lalu berlari ke sisi lain hutan. Semakin dekat, dan akhirnya aku menemukan Dylan dan Luca di sebuah pohon besar yang tumbang. Namun, mataku berakhir ke dasar tanah, di antara permukaannya dan batang pohon, di sana Castiel harus terbaring dengan kaki kanannya yang tertimpa. Dia menangis, wajahnya memerah, tidak tau seberapa lama dia menahan sakitnya.
"Astaga" ucapku menghampiri mereka.
Sadar atas kedatanganku, Dylan menoleh dan tampak sangat senang, "Gara!"
Dengan cepat aku membantu Luca untuk mengangkat batang pohon ini agar Castiel bisa terlepas, namun batang ini sangatlah berat untuk anak-anak usia 8 tahun seperti kami.
"Ini tak berhasil!" Ucap Dylan.
"Luca, bagaimana sihirmu?" Tanyaku, berharap Luca dengan sihirnya bisa mengangkat batang pohon ini.
Namun dia menggeleng, "Aku sudah tak punya tenaga."
Sial, apa yang harus aku lakukan. Oh! Benar saja. Aku langsung mentrasformasikan diriku ke wujud serigala, dan begitu saja aku mengangkat batang pohon itu dengan punggungku. Dengan cepat, Dylan menarik kedua tangan Castiel sampai kakinya terlepas dari sana.
Sekembalinya aku ke bentuk semula, Castiel langsung befhambur ke pelukanku. Kami berdua terjatuh di atas tanah. Nafasnya sangat kencang, matanya dipenuhi air mata. Tubuhnya bergetar, tentu saja karena sakit yang dirasakan.
"Terimakasih Gara!" Pekik Castiel dengan nada amat sangat pelan dan masih saja menangis.
Aku mengangguk seraya menepuk punggungnya berirama agar ia tenang, "Terus bernafas."
"Kakinya tergores, dan lebamnya juga parah. Dia pasti tidak bisa berjalan untuk sementara waktu" Luca terlihat khawatir. Tidak hanya lebamnya, tapi goresan lukanya mengeluarkan darah.
"Kita harus menutupi lukanya" aku mengambil deggerku, membuka pelindungnya, dan bersiap merobek baju lengan kiriku yang panjang.
"Apa yang akan kau lakukan?" Dylan memberhentikanku.
"Mencoba untuk menutup lukanya?"
"Dengan pakaianmu?"
"Iya" aku langsung merobeknya, dan memberikan kain itu pada Luca. Dia langsung membalut pergelangan kaki Castiel dengan pelan, meski Castiel kesakitan karna disentuh, tapi mau bagaimanapun, luka itu harus tertutup.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Luca.
"Yang lainnya ada di pinggir sungai, syukur aku telah menemukan kalian. Ayo kita ke sana dan bermalam, kalian pasti lapar" ucapku.
"Ayo, aku tidak suka hutan di sini, sinar mataharinya saja bahkan tak tembus" kata Luca.
"Baiklah, Castiel biar aku gendong dari belakang" ucapku lalu menggendong Castiel setelah ia naik di punggungku.
Kami berjalan bersama, mengikuti garis-garis yang kubuat di tanah, sebagai petunjuk arah. Cukup lama untuk menuju ke tempat Xavier dan anak rusa itu berada, sampai akhirnya kami tiba.
"Kau lama sekali Gara- Kalian!!" Kaget Xavier, berlari dari duduknya di tanah, menghampiri kami.
"Kaki Castiel tertimpa batang pohon yang besar, dia tidak dapat berjalan untuk sementara waktu. Ayo kita kembali ke pinggir sungai, kau sudah membersihkan anak rusa itu?" Tanyaku.
"Sudah, hanya tinggal menyucinya saja di sungai" Xavier menunjukkan anak rusa itu yang sudah digantung pada sebatang ranting kayu.
Xavier mengangkat sisi belakang kayu, dibantu Dylan untuk mengangkat rusa dewasa yang organ dalamnya tidak ada lagi. Terlihat sangat berat, tapi berkat tangan tambahan dari Luca, anak rusa itu berhasil diangkat. Mereka berempat menggotong anak rusa itu.
"Siapa... yang membunuh anak rusa itu?" Castiel bertanya di belakangku.
"Kami membunuhnya bersama, anak rusa itu untuk makan malam nanti, kau lapar bukan?"
Kami jalan menuju tempat semula, ketika sampai, aku melihat banyak kayu yang bisa di gunakan untuk membakar, banyak tumpukan daun yang menjadi alas diatas tanah, dan juga dua buah kelapa.
"Ah! Kalian! Syukurlah!" Pekik Piers menghampiri kami.
"Bantu aku membaringkannya" aku berjalan keatas alas daun, dan di bantu yang lainnya untuk menurunkan Castiel. Iris yang kebingungan hanya diam, duduk di depan kami.
"Iris, pinjam pangkuanmu" tanpa persetujuan Iris, Xavier langsung meletakkan kepala Castiel di pangkuannya.
"Kau bodoh sekali, Iris sampai terkejut seperti itu" Dylan menggeleng-gelengkan kepala melihat Xavier.
"Tidak apa kan Iris?" Tanyaku.
"Iya, kenapa kakinya terluka?" Iris terlihat penasaran.
"Dia tertimpa batang pohon besar."
"Kalian tersesat sudah berapa hari?" Piers bertanya.
"6 hari lalu. Kami bertemu secara bersamaan, dan bertahan hidup dengan apa yang ada" ucap Luca memberikan kesan wajah ngeri, membayangkan sesuatu.
"Apa yang kalian makan, selama 6 hari?" Dylan bertanya.
"Karna aku seoeang Wizard, aku tidak terlalu membutuhkan makanan. Hanya dengan menyerap energi sekitar, sudah membuatku cukup, beda hal jika kugunakan untuk orang lain, masing-masing mereka hanya mendapat 20% energi, karna aku tidak cukup kuat untuk menariknya. Aku masih kecil" jelas Luca.
"Aku penasaran, bagaimana rasanya memakan energi" Iris menaikkan satu alisnya.
"Hahaha, energi bukan sesuatu yang bisa di kunyah dan di telan. Kau hanya merasa tidak lapar dan haus, itu saja" tambah Luca.
"Malam sudah hampir tiba, ayo kita bersiap" aku bangkit, dan memberi yang lain tugas masing-masing.
Sementara Iris dan Castiel berdiam diri di sana, kami melakukan pekerjaan kami. Aku sendiri mencoba untuk membelah dua kelapa, yang tempurungnya akan kami gunakan untuk memanaskan air. Dylan dan Xavier membersihkan sisa-sisa kotoran rusa dipinggir sungai. Terakhir, Luca mempersiapkan api dengan kekuatannya, dan Piers yang menangkap beberapa ikan untuk makanan tambahan.
Tentu, karna suatu alasan, kami bertanya soal itu pada Iris. Iris sama sekali tidak keberatan, selama dia tidak memakan ikan, dia menyetujui rencana itu.
"Api! Aku berhasil" Luca terlihat senang.
"Lihat, aku menangkap dua ikan besar dengan tanganku sendiri!" Teriak Piers.
Dan aku berhasil membelah kedua kelapa
di tanganku, dengan deggerku. Aku membawa ke empat tempurungnya, yang dua diantaranya terdapat air kelapa.
"Semuanya, ayo minum ini" aku memberikan dua tempurung berisi air kelapa itu pada Iris untuk memegangnya. Lebih dahulu, Castiel meminumnya, dibantu Iris. Sementara aku dan Luca membantu mengangkat daging rusa dari bawah sungai, sial sekali tanahnya harus lebih tinggi. Setelahnya membantu Dylan untuk dinaikan ke atas.
"Air kelapa" gumam Castiel.
Mereka berbagi-bagi air kelapa itu, dari mulut ke mulut. Aku hanya menunggu giliran, jika memang masih ada sisa. Untung saja Piers membawa beberapa ranting kayu, aku menggunakannya sebagai penyangga untuk daging rusa. Aku juga membantu Dylan dan Xavier untuk meletakkan daging rusa. Berat, tapi kami bisa mengangkatnya hingga daging rusa itu benar-benar berada di atas api.
"Gara" panggil Castiel, lalu aku menoleh. Mereka semua tampak duduk di atas alas daun itu, melihatku dengan tersenyum. Di tangan Piers, ada salah satu tempurung kelapa. Aku bangkit, menghampiri mereka, ikut duduk disamping Iris.
Ketika aku mengambilnya, di dalamnya masih ada air kelapa yang cukup untukku. Ternyata, masih ada sisa dari 6 orang yang meminumnya. Dan aku menjadi orang terakhir yang menghabiskannya
"Hah" air itu telah menghilang.
"Bagaimana kakimu Castiel?" Tanyaku sambil membuka balutan kain pada pergelangan kaki kanan Castiel.
"Kurasa baik, untuk saat ini" ucapnya ragu. Tentu saja, jika kakinya disentuh dengan kuat, rasa sakit itu pasti akan datang.
"Darahnya berhasil berhenti, jangan banyak bergerak, bisa saja lukamu terbuka lagi" peringatku.
"Gara" panggil Castiel sambil menahan tanganku saat dari kakinya.
"Maafkan aku. Meski aku telah menjauhimu, kau masih peduli denganku. Kau mau membantuku-"
"Aku membantumu bukan untuk mengharapkan maaf darimu, aku membantumu karena kau itu adalah temanku. Aku tak memikirkan hal lain kecuali perasaan dan rasa sakit yang kau rasakan" potongku.
"Namun, aku telah menyadari sesuatu akan itu. Aku salah menilaimu. Di hari kita di kelas yang sama, saat itu aku masih meragukan dirimu. Aku sungguh menyesal, maafkan aku..." Sambungnya lagi.
"Aku juga ingin minta maaf. Aku telah berlebihan terhadapmu, Gara. Seharusnya aku tak mengacuhkanmu. Aku merasa malu saat bertemu denganmu dalam kesesatan hutan dan putus asa tadi, sebab aku langsung meminta bantuan darimu meskipun aku tak mengatakannya" sahut Iris.
"Begitu juga denganku. Reaksiku malam itu sangat berlebihan, dan aku menyesal telah memberlakukanmu selayaknya orang asing. Kita ini adalah teman, hal itu pula yang aku cari di sini, namun aku telah melakukan kesalahan dengan menjauhimu. Aku menyesal, Gara. Tolong maafkan aku, tolong maafkan kami" kali ini Luca lah yang bersuara.
Sebenarnya, aku tak tau harus berkata apa melihat teman-temnaku berkumpul bersama seperti ini. Seakan mimpi indah yang selalu ku idam-idamkan. Tanpa sadar pula aku tersenyum dalam diamku, dan hal itu membuat semua orang ikut tersenyum sambil tertawa.
"Gara itu sulit untuk tersenyum. Kalau dia tersenyum, itu adalah pertanda yang baik" ucap Dylan lalu bersandar pada bahuku.
"Aku juga ingin minta maaf. Seharusnya aku menceritakan masalahku pada kalian, sebab kalian adalah temanku. Aku harusnya lebih bisa mengendalikan diriku malam itu agar kalian tak takut padaku" kataku.
"Cassa benar. Kau tau, Gara? Cassa selalu mengatakan untuk berbaikan denganmu. Meskipun dia mengacuhkanmu, itu semua ia lakukan karena aku. Seharusnya aku mendengarkannya. Dan benar saja yang dikatakan Cassa, kalau kami semua berbaikan padamu, kau tak akan membiarkan kami berpaling dengan sengaja" cerita Castiel.
"Ah, benar saja. Gadis itu jadi cerewet akhir-akhir ini karena permasalahan kita" Luca geleng-geleng kepala.
"Asal kau tau saja, Gara. Setiap kami berkumpul di asrama, Cassa akan selalu datang untuk menceramahi kami. Dia itu peduli sekali padamu" sahut Luca.
Dylan pun sampai menagngguk-angguk setuju dengan perkataan Castiel dan Luca.
"Dia memang seorang malaikat, bukan? Lihat bagaimana tatapan indahnya itu!" Ucap Castiel tiba-tiba, membuat kami semua terkejut.
"Kau menyukainya, ya?" Dylan curiga, sambil menatapi Castiel dengan mata tajamnya yang ingin mencari tau lebih dalam.
"T-tidak! Lihat, daginganya sudah matang!"
Mendengar kata-kata Castiel kami semua menoleh ke belakang. Aku bangkit, menghampiri perapian yang kami gunakan untuk mematangkan makanan, hasil berburu dan tangkapan tadi. Ada sebuah ranting, yang tidak terpakai untuk memanggang ikan, kugunakan ranting itu untuk menusuk daging-dagingnya, memastikan bahwa benar sudah matang.
"Iya, sudah matang. Ayo siapkan" kataku.
Semuanya langsung berdiri, tentu saja, kecuali Castiel yang memang tidak boleh menggunakan kakinya saat ini. Luca membantuku mengangkat daging anak rusa ke tempat duduk kami, yang sudah diberi sebuah alas berupa daun besar oleh Piers. Yang lainnya mengangkat ikan dan empat air yang sudah dimasak dalam tempurung kelapa. Aku turun ke sungai, dengan tiga daun yang memiliki bentuk hampir serupa dengan mangkuk di tanganku, tidak tau darimana Piers bisa mendapatkannya. Daun-daun itu kugunakan untuk menampung air untuk mencuci tangan kami. Setelahnya, aku di bantu Xavier untuk naik.
Kami semua kembali duduk, mencuci tangan, dan dengan deggerku yang sudah bersih, kugunakan untuk memotong-motong daging-daging itu, agar mudah untuk dimakan.
"Selamat makan."
Selamat makan, kami semua menikmatinya dengan sedikit canda tawa yang dilontarkan beberapa orang. Aku tidak terlalu ikut dalam perbincangan. Sedari tadi, aku melihat sisi lain hutan di depanku.
Alasanku memang untuk mengasingkan diri, tapi aku juga dalam kebingungan. Rasanya tidak enak sekali jika diasingkan oleh teman-temanku sendiri. Hal itu membuatku berubah pikiran. Aku datang ke Akademi bukan untuk mengasingkan diri, namun untuk mencari jati diriku dengan hidup dalam kehangatan teman-temanku.