
...AUTHOR POV...
Perjalanan yang panjang membuat Gara dan yang lainnya kelelahan. Mereka berhenti sejenak saat tiba di Angkara Pack, sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Angkara.
Mereka langsung berubah dan mengenakan jubah saat hendak keluar dari hutan. Terlebih Gara yang mendominasikan sisi Lycanthrope nya untuk menghilangkan aura Hybrid miliknya. Mereka menyusuri jalanan kota dan berusaha menghindari kerumunan.
"Mereka semua hendak ke kerajaan" gumam Gara sambil melihat orang-orang yang berpakaian rapi, hingga beberapa dari mereka yang menaiki kuda dan pergi begitu saja. Semua orang tentu ingin ke kerajaan, untuk menyaksikan kenaikan tahta Pangeran yang mereka idam-idamkan.
"Bagaimana agar kita sampai ke sana dengan cepat? Kita hampir kehabisan tenaga karena terus berlari" ucap Chlea memegang lengan Gara agar langkahnya berhenti.
"Kita-"
Tiba-tiba saja seorang pria tak sengaja menyenggol Gara, pria itu berbalik, "Maafkan aku nak, aku sangat buru-buru."
Gara menundukkan wajahnya dan memegangi jubah yang melindungi kepalanya, "Tidak apa, Tuan."
"Kalian tampak sedang berpergian, kalian mau kemana?" Tanya orang itu sambil melihat wajah Edward.
"Kami mau ke kerajaan Angkara, kami mau melihat upacara kenaikan tahta" ucap Edward terang-terangan, sebab ia tau apa yang ia rencanakan dengan mengatakan hal itu.
"Oh! Kalau begitu ikutlah denganku, aku ke sana menggunakan gerobak kudaku" kata oria tadi sambil menunjuk sebuah gerobak yang penuh dengan ilalang di dalamnya.
"Terimakasih atas bantuanmu, Tuan!" Ucap Jack dan Ardan seirama. Mereka pun mengikuti pria itu, menaiki gerobak kudanya, dan melanjutkan perjalanan.
...════════ ◖◍◗ ════════...
Di sisi lain, Allegro yang terus memperhatikan dirinya di pantulan cermin tak henti-henti berdecak kesal, lantaran pakaian resmi kerajaan Angkara yang menurutnya begitu tak serasi dengan dirinya.
Berulang kali Allegro berputar atau mencoba untuk berpose, tapi tetap saja, ia tak menyukai hasil itu semua.
"Pangeran..." keluh salah satu pelayan dengan irama pelan saat Allegro kembali bergerak untuk meyakinkan dirinya memakai pakaian itu.
"Apa?" Tanya Allegro yang mendengar suara lelah pelayan itu.
"Saya harus menata rambut Pangeran..." Ucapnya, meminta agar Allegro berhenti bergerak dan duduk di kursi depan meja rias.
Allegro pun menuruti keinginan pelayan itu, karena ia juga tak tega membuatnya menunggu, dia hanya duduk dan memperhatikan pantulannya di cermin dengan raut tidak suka.
"Allegro! Apa kau sudah selesai?" Tanya ibu dari laki-laki itu yang datang menghampiri kamar kebesaran Allegro dan Gara. Para pelayan seketika menunduk hormat, kemudian melanjutkan aktivitas mereka.
Annelise menemukan putra pertamanya yang terlihat membenci penampilannya sendiri. Dia datang dan berdiri di samping Allegro, melihat pakaian resmi yang anak itu gunakan.
"Wah! Bukankah kau begitu tampan?" Puji Annelise, berharap putranya merubah pemikirannya.
"Aku merasa aneh, ibu. Aku lebih suka corak merah di pakianku sendiri!" Ucap Allegro.
"Tapi emas serasi dengan rambutmu, bukankah begitu?" Annelise memberi kode kepala para pelayan.
"Benar sekali Pangeran! Pangeran terlihat tampan menawan dengan corak emas! Serasi sekali dengan rambut Pangeran!" Ujar pelayan yang sedang menata rambut Allegro.
"Iya benar, Pangeran!" Tambah yang lainnya.
Hal itu membuat Allegro mulai tersenyum malu saat mendengar orang-orang memuji penampilan barunya, wajah kesal tadipun menghilang sudah.
"Kau putra ibu yang tampan!" Ucap Annelise sambil mengecup kening Allegro.
"Setelah selesai, datanglah pada ibu di ruang tengah, mengerti? Setelah menyambut, kita akan melakukan pawai" aambungnya.
"Baiklah ibu!" Lalu Annelise pergi meninggalkan Allegro di kamarnya.
Setelah ia selesai dengan rambutnya, ia kembali berdiri di depan cermin untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Allegro melihat bando mutiara yang melingkar di kepalanya, untuk menahan rambutnya agar tak mengganggu wajahnya.
"Kau yakin orang-orang tak akan memandangku aneh?" Tanya Allegro pada para pelayan.
"Tidak mungkin, Pangeran. Anda terlihat gagah dengan pakaian itu!"
Allegro tersenyum melihat para pelayan, "Terimakasih atas bantuannya."
"Fyuu- Apa kilauan itu!?"
Mendengar suara seseorang, Allegro menoleh ke arah jendela besar di kamarnya. Di sana ia menemukan Lucier baru saja muncul, mengintip ke jendela.
Lucier tertawa, "Aku sedang mencarimu! Ayo ke ruang tengah, ku lihat ada teman-temanmu di sana!"
Allegro menaikkan satu alisnya, "Kau kenal dengan teman-temanku?"
"Teman-temanmu adalah teman-temanku juga!"
Allegro hanya mengangguk malas dengan tingkah Lucier dan keluar dari kamarnya. Ia menyusuri lorong yang dipenuhi dengan orang-orang sibuk, hingga ia tiba di ruang tengah, tempat tahta itu berada. Dia menemukan ibunya yang sedang bersama dengan Ratu-ratu kerajaan lain.
"Ibu, aku telah siap" ucapnya saat tiba di depan ibunya.
"Wah! Pangeran Allegro, kau begitu tampan!" Puji salah satu Ratu yang sedang mengandung.
"Terimakasih, Yang Mulia Ratu" Allegro menunduk sekali untuk menghormati Ratu tersebut.
"Kak Allegro, ayo berkumpul dengan yang lainnya!" Pinta Lucier saat tiba di kumpulan para Ratu.
"Ini Lucier, Putra kembarku itu" ucap ibu Lucier memperkenalkan putranya kepada Ratu-ratu lain.
"Tapi segera kau tak hanya memiliki 2 Putra! Lihat kandunganmu itu, sudah berapa bulan, Miranda?" Tanya Annelise sambil mengelus perut dari Ratu Demon clan itu.
"Sekitar 5 bulan..."
"Eh.. Tapi sudah sebesar ini?!" Pekik Ratu yang lain.
"Hahaha! Mungkin aku akan mendapatkan anak kembar lagi!"
...════════ ◖◍◗ ════════...
Setelah perjalanan, akhirnya mereka tiba di halaman depan kerajaan Angkara. Gara dan yang lainnya langsung turun dari gerobak, dan berlari ke sisi lain dari pintu gerbang.
"Kita tak akan masuk lewat pintu gerbang, di sana ada pasukan INTI yang ikut dalam penjagaan" bantin Gara menggunakan Pack Link untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.
"Tapi mereka tak akan menyadari kita!" Bantah Edward.
"Mereka adalah pasukan yang datang ke Akademi, mereka sudah mengenal aroma kalian" jelas Gara sambil melihat pada para pasukan yang menunduk hormat ketika kereta-kereta kuda bangsawan memasuki halaman kerajaan.
"Kita lewat belakang saja. Ada pintu di bagian taman belakang kerajaan yang digunakan para pelayan untuk keluar" Gara langsung memimpin jalan memutar untuk ke bagian belakang kerajaan.
Setelah sampai, mereka langsung merapat ke tempok yang dipenuhi semak-semak ketika beberapa pelayan keluar dari gerbang besi itu. Mereka tampak hendak turun ke Pack dengan keranjang-keranjang mereka.
Setelah merasa aman, Gara mengintip ke dalam halaman belakang. Dia melihat banyak sekali Epic prajurit yang berjaga di sana.
"Kita tak bisa masuk jika para Epic prajurit melihat kita" batin Gara kepada teman-temannya.
"Aku tau!" Pekik Selena dengan bangga. Semua orang langsung menoleh ke arahnya, dan melihat sekantung serbuk yang berkilauan di dalam sana.
"Sparkle dust! Kau pintar sekalai Selena!" Puji Chlea sambil mengambil kantung itu dari tangan Selena. Setelahnya, dia langsung mengambil sedikit demi sedikit serbuk berkilau itu dan menaburkannya ke kepala mereka. Ajaibnya, mereka mulai menghilang, tembus pandang.
"Aku tak bisa melihat kalian!" Ucap Jack ketakutan.
"Hahaha, fokuskan penglihatanmu!"
Jackpun mengikuti yang di sarankan Ardan, lalu ia mulai melihat kembali teman-temannya. Dia bernafas lega karena tadinya mengira ia akan sendirian.
Lalu, Gara kembali memimpin untuk masuk secara perlahan-lahan ke dalam halaman belakang kerajaan. Mereka melalui taman, hingga barisan para Epic prajurit saat memasuki lorong kerajaan.
"Aku tak pernah sedekat ini dengan Epic prajurit...." gumam Edward.
"Sebab mereka hanya menjaga wilayah kerajaan saja! Apa kau tak tau soal itu?!" Protes Ardan.
Tiba-tiba, salah satu Epic prajurit mengendus udara. Hal itu membuat Edward menjauh darinya. Mereka membeku kaget seketika.
"Apa ada pelayan baru?" Tanya Epic prajurit itu sambil terus menghirup udara di sekitarnya.
"Hentikan obsesimu itu bung" jawab rekannya.
"Hmm... Aneh sekali..."
Dia kembali tegak ke posisi semulanya. Mereka semua kini bisa bernafas lega lagi. Gara melanjutkan langkah kakinya hingga masuk lebih dalam ke bagian kerajaan, sampai ia berada di balkon ruang tengah atau tahta, tempat semua Raja dan Ratu tengah berkumpul untuk menjadi saksi dan menyaksikan penurunan tahta.