
Mungkin sudah berminggu-minggu aku tinggal menyendiri di rumah pohonku, menatapi asrama setiap malam, atau mendengarkan orang-orang di dalam sana bercengkrama.
Ku pikir pembicaraan singkatku dengan Castiel di kelas waktu itu akan mengubah dirinya, namun tak sekalipun setelahnya dia mau berdekatan denganku lagi. Dia sedang berpikir keras atas ucapan terakhirnya hari itu.
Saat ini aku baru saja menyelesaikan kelas perhitungan, dan sebentar lagi akan ada ujian kedua. Aku harap tak ada lagi monster aneh yang ikut serta.
Aku turun lewat tangga, berpapasan dengan beberapa murid setingkatku yang langsung menjauhkan diri mereka. Hingga sampai aku di lantai 3, ketika beberapa para murid tahun ke4 dan 5 menghadang langkahku ke arah tangga.
"Hey, Pangeran. Apakah kau ingin lewat?" Tanya salah satu dari mereka yang mendekatiku. Akhirnya, ada juga yang berpikir dengan waras.
"Haruskah kami menggelar karpet merah untukmu?"
"HAHAHA!"
Oh.. Aku baru mengerti sekarang.
"Bukankah para pasukan Jenderal Barbarian mencari keberadaanmu? Aku tak menyangka kau dilindungi di sini. Bagaimana jika aku menjadi saksi atas keberadaanmu di Akademi?" Laki-laki di depanku menyenggol bahuku dengan telunjuknya.
"Kau akan dikeluarkan dari Akademi, dan kami akan hidup dengan tenang tanpa harus waspada akan dirimu."
"Benar! Kenapa kau tak sadar diri juga, wahai Pangeran Sagara."
"Hahaha! Kau tak bisa memerintah prajuritmu untuk menangkap kami. Di sini kau hanya murid tahun pertama!"
"Hahaha!"
Aku hanya mengacuhkan perkataan mereka dan berbalik hendak menuju tangga yang lain, namun beberapa dari mereka kembali mencegat langkahku hingga aku tak bisa kemana-mana.
"Ah kau mau lari kemana? Urusan kita belumlah selesai."
Aku pun mengangkat kepalaku lebih tinggi, "Dan urusanku tak hanya menghiraukanmu."
"Heh sombong sekali!" Laki-laki di depanku mencengkram kerah bajuku hingga aku nyaris tak menyentuh permukaan lantai 3. Tapi aku tak khawatir dengan apa yang ia lakukan, aku bahkan khawatir tentang apa yang akan terjadi padanya jika aku kelepasan kendali.
"Turunkan aku dan aku akan pastikan kau baik-baik saja" ucapku sekali.
"Hah! Kau sungguh aneh!" Laki-laki itu mengepalkan tangannya dan memukul pipiku sampai aku terjatuh ke lantai.
Semua orang bersorak, menepuk tangan karena dia berhasil menjatuhkanku.
"Ku dengar kau itu kuat, ayo bangun dan tunjukkan padaku."
Aku pun bangun. Jika aku menghiraukan permintaannya, aku akan terlambat ke lapangan hutan. Guru akan marah padaku, atau ujian itu dibatalkan sepenuhnya.
"Bagaimana jika Pangeran Allegro melihatmu seperti ini? Dia pasti akan sangat malu, hahahaha! Dia bahkan sudah malu lebih dulu!"
Saat mendengar ucapannya aku melempar buku tebal di tanganku ke wajahnya hingga dia kehilangan keseimbangannya.
"Aku tak ingin membuang-buang waktu dengan berurusan denganmu. Rendah sekali dirimu untuk membayangkan bagaimana kakakku melihat diriku" ucapku lalu mengambil bukuku yang terlempar sedikit jauh, dan berjalan kembali.
"Sialan!"
Laki-laki itu berlari ke arahku, dan aku bisa tau dengan mudah kalau ia melayangkan kepalan tangannya ke arah kepalaku. Aku langsung menghindar sampai ia tersungkur di depanku.
Namun, harapanku bahwa dia menyelesaikan tindakan konyolnya adalah angan-angan saja. Laki-laki itu bangun menyerangku dengan beberapa pukulan. Refleks aku mengangkisnya dan ikut dalam perkelahian kecil itu.
Lagipula, seharusnya aku tak benar-benar membiarkannya memukulku. Tapi aku tau, jika aku membiarkan dia mendaratkan kepalan tangannya di wajahku, aku tak yakin ingin mengendalikan diriku lebih lama.
Kali ini aku membalasnya dengan sungguh-sungguh. Aku meninju wajahnya, seperti yang ia lakukan padaku. Aksi kami dipertontonkan oleh banyak orang. Namun anehnya, dua orang lain mencampuri urusan kami. Laki-laki itu mendapatkan bantuan yang tak sebanding dengan diriku.
Aku terkena beberapa pukulan oleh mereka, sampai beberapa kali aku harus terjatuh. Meskipun aku tak bersuara tapi sakitnya begitu nyata, sebab kepalaku harus beberapa kali terbentur oleh permukaan lantai bahkan sampai menyeluarkan darah.
Aku masih manahan diri, aku tak mau terlihat buruk di mata orang-orang. Jika aku benar-benar membalas perlakuan mereka, yang lain akan menganggap bahwa aku benar-benar berbahaya.
Sayangnya, pikiran dan hatiku berkata sebaliknya. Rendah sekali diriku mau begitu saja di perlakukan. Aku bukanlah anak kecil yang akan membiasakan diri terkena pukulan-pukulan itu. Warasnya aku ingin membalas mereka, dan akupun mendengarkan pikiranku begitu saja.
Aku berjalan dan berdiri tepat di depan wajah laki-laki itu, berjongkok sebentar untuk mengambil bukuku, "Aku Hybrid yang punya perasaan, camkan itu. Jika kau menantangku lagi, aku akan mendengarkanmu saat kau benar-benar siap untuk menjatuhkan kepalaku, bukan bokongku."
Lalu aku bangun hendak pergi, sayangnya aku tak berpikir kalau laki-laki itu akan diam saja. Dia memegang salah satu kakiku, kemudian dengan gerakan cepat ia berdiri dan mengangkat kakiku itu agar aku terjatuh seperti yang ia harapkan.
Tapi aku tak akan membiarkan keinginannya terkabul. Aku sengaja menjatuhkan diriku, namun sebelum sampai ke permukaan lantainya, aku menendang dagu laki-laki itu sampai ia terjatuh ke belakang.
"Kaget sekali" gumamku melihat laki-laki itu itu kesakitan.
"Lain kali berpikir jernihlah sebelum mengganggu orang" ucapku lalu berbalik dan begitu saja mereka yang menghadang jalanku membukanya dengan sukarela. Aku melangkahkan kakiku menuruni tangga.
Sesampainya aku di lantai pertama, aku bergegas berjalan hendak ke lapangan di hutan. Namun, tiba saja aku berpapasan dengan Declan di depan ruang penyimpanan senjata. Ia tapak sehabis berlatih dengan teman-temannya.
Saat mata kami bertemu, teman-temannya langsung pergi meninggalkan lorong, sedangkan Declan terkejut atas kehadiranku.
"Oh! Gara.. Kau mau ke lapangan hutan ya?" Tanyanya mencoba untuk tenang.
"Iya, akan ada ujian kedua" jawabku seadanya.
"Begitu, tapi apa yang terjadi dengan kepalamu dan... ujung bibirmu itu?"
Pertanyaannya membuatku menggerakkan tangan menyentuh kepala bagian kananku, ku lihat ada bercak darah yang cukup banyak di sana.
"Sebagai seorang ketua asrama, bisakah aku meminta satu hal sederhana darimu, Declan?" Tanyaku.
Declan mengangguk, "Katakanlah."
"Bilang pada murid tahun ke4 dan 5, jangan mengusikku lagi atau aku tak akan segan-segan melawan mereka. Bukannya merendahkan, namun melawan kakak kelas bukanlah hobiku" ucapku dengan tegas.
Dia sedikit kaget, "Jadi ini ulah mereka? Aku bisa mengadukan hal ini-"
"Aku tak mau memperpanjang masalah, dan dengan mengadukan hal ini akan semakin memperburuk keadaan. Sampaikan pesanku pada mereka, aku yakin mereka akan mendengarkan perintah darimu" lalu aku berjalan meninggalkan Declan di lorong.
Sesampainya aku di lapangan hutan, aku menjadi orang terakhir yang absen. Ku berikan bukuku pada Light, dan dia terbang ke rumah untuk meletakkannya. Segera aku menghadap Mr. Chairoz untuk meminta maaf atas keterlambatanku.
"Maafkan atas keterlambatanku Mr. Chairoz" ucapku sambil menunduk sekali.
"Apa yang terjadi pada wajahmu?" Tanya Mr. Abraham saat sadar dengan kondisiku.
"Jika aku mengatakannya, kau akan berpikir itu hanya sebuah alasan" kataku terang-terangan.
"Tak akan, katakanlah, apa yang telah terjadi?" Mr. Abraham kembali bertanya.
"Ada yang mencegatku untuk datang kemari, tapi ini bukan masalah" kataku.
Mr. Abraham lalu menyentil jidatku sekali, "Kepalamu itu berdarah, bagaimana pula ini bukan masalah?" Dengan gerakan tangannya yang memutar sekali kepalaku, ia membalutkan kepalaku dengan perban yang telah dipalisi oleh sesuatu. Lalu kepalaku benar-benar terbalut sudah.
Kemudian aku mengambil barisan paling belakang, tepat di samping Chlea. Aku sungguh tak siap untuk ditanyai olehnya. Dia dan kekhawatirannya yang menggemaskan itu.
"Siapa yang mencegatmu sampai kau seperti itu?"
Aku tersenyum sebentar meliriknya, "Tak perlu cemas, Chlea."
Chlea terus menatapiku menunggu jawaban yang ia inginkan, dan akhinya aku menyerah. Lagipula aku tidak mau membuat Beta ku itu khawatir berlama-lama, dan begitu saja aku menceritakannya secara singkat.
"Hari ini kalian akan melaksanakan ujian kedua, setelah kemarin ujian pertama kalian bersama Psychofágos. Namun kali ini akan berbeda" ucap Mr. Arthur.
"Tak akan ada yang mengganggu kalian, namun ujian kali ini lebih sulit dari sebelumnya. Kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompoknya. Sama seperti ujian lalu, penilaian yang diberikan menurut kerjasama masing-masing kelompok. Jika ada kelompok yang gagal, kalian akan menghadapi ujian tulis keesokan harinya" jelas Mr. Joseph.
"Kalian tak butuh peralatan khusus, atau persediaan untuk ujian ini, namun untuk berjaga-jaga, masing-masing dari kalian diperbolehkan membawa 1 benda yang menurut kalian akan sangat berguna. Sebab ujian kali ini adalah bertahan hidup. Dalam bertahan hidup pula, seburuk atau sebaik apapun keadaan, ada hukum yang berbunyi 'Makan atau dimakan' yang kalian harus ingat. Dalam waktu 5 hari kalian harus bisa bertahan, jika kurang dari 5 hari kalian sudah menyerah, maka di anggap gagal" sambungnya menjelaskan lebih lanjut.
Makan atau di makan...
Kedengarannya begitu menarik.