
Orang-orang mulai menyudahi acara besar yang terjadi pagi itu. Satu persatu dari mereka pergi meninggalkan kerajaan, untuk menyusuri jalanan yang dilewati Raja dan Ratu baru mereka, atau mengurusi urusan masing-masing. Kecuali para petinggi pemerintah yang nyaman dengan tempat berdiri mereka.
Gara berbalik dan melihat Adam di bawah sana. Senyumnya menghilang saat terpikirkan kejadian malam itu, ketika Adam menyiarkan berita tentang dirinya. Terbesit di pikirannya untuk mengetahui lebih dalam jati diri pria berambut putih itu.
"Haruskah kita kembali? Acaranya sudah selesai" tanya Chlea ikut menghampiri Gara. Beta itu sebenarnya tau kalau Gara ingin lebih lama di sana, namun dia juga harus melihat kondisi para guru yang tengah bersiap-siap untuk kembali ke Akademi.
"Chlea, aku-"
"Gara, ayo kembali. Para guru sedang bersiap-siap!" Chlea dengan sengaja memotong kalimat Gara, dan memegangi tangannya agar Gara tak pergi menjalankan niatnya untuk ke bawah sana.
"Wajah ini lagi? Terakhir aku melihatnya saat aku hendak terluka waktu itu" Gara memperhatikan wajah cemas Chlea dengan seksama. Dia pun tau, kalau Beta nya itu tidak main-main dengan permintaan sederhananya untuk kembali ke Akademi.
"Aku punya perasaan buruk, dan terakhir kali rasa ini datang, kau terluka" ucap Chlea.
Gara menghela nafasnya, "Kita akan kembali."
Lalu ia memimpin jalan untuk menuju jalan yang sama saat mereka tiba. Setelah turun ke lantai utama, Gara berhenti di ujung tangga ketika mendengar pembicaraan Adam dengan para guru yang hendak beranjak dari sana.
"Jadi, bagaimana caramu menyembunyikan anak itu, Chairoz?" Tanya Adam pada Chairoz ketika mata mereka bertemu.
"Anak apa, Elder?" Chairoz pura-pura tidak mengerti.
"Pangeran Sagara, siapa lain? Mereka menyebutnya dengan pangeran yang hilang akhir-akhir ini. Tak ada satupun berita atau saksi, namun bukankah kau berinteraksi dengan keluarga Northcliff tak lama ini?" Adam menyudutkan Chairoz hingga orang-orang di sekitar menatap mantan Hunter itu.
"Aku tidak ikut andil dalam urusan ini, Elder. Hilangnya pangeran sama sekali hal yang tak pernah ku duga. Namun, seakan kau mencurigai Mr. Neanderthald dan para staf Akademi Negeri Danveurn dengan mengirim pasukanmu?" Balas Chairoz dengan tatapan tajamnya.
"Gara, ayo kita pergi..." tegur Chlea saat Gara semakin terlarut dalam kuping-mengupinya.
"Sebentar, Chlea."
"Kau pria yang sangat perfeksionis abad ini, Elder. Aku yakin kau telah mencaritau hal yang sama pada Raja Charles?" Chairoz memancingnya agar memberitau perbincangan antara Adam dan Raja bangsa Vampire itu.
"Raja Charles mengirim pangeran ke tempat yang jauh, begitu penjelasannya. Pangeran akan diserahkan ke INTI jika usinya 14 tahun sesuai perjanjian. Namun, kepergiannya yang tak diketahui semua orang ini membuatku cemas" jelasnya.
"Apa yang kau cemaskan, Elder? Raja Charles bukan sembarang orang yang bisa menghianati perjanjiannya."
Adam tertawa, "Bukan seperti itu pemikiran seorang yang ingin mendamaikan dunia, Chairoz. Namun, tidakkah kau takut akan abad kegelapan yang telah membesarkanmu?"
Perkataannya seakan sebuah mimpi buruk yang selalu mendatangi Chairoz, seketika wajah Chairoz berubah menjadi serius, "Mungkin seharusnya aku bersyukur karna aku terlahir di masa itu, Elder? Jika ketakutanmu atas terulang kembalinya sejarah membuatmu buta, percayalah bahwa kau telah membuat kesalahan, Elder. Kau sedang menyudutkan dua anak yang tak bersalah, namun anak ini tak semalang anak sebelumnya. Anak ini jauh lebih mengerti situasi, anak ini jauh lebih mengenal dunia. Aku hanya memberimu sedikit pencerahan karena aku mantan pasukanmu."
Adam tertawa lagi, "Kau lebih terdengar ketakutan saat ini, Chairoz? Padahal kau yang membawanya padaku, tidakkah kau ingat tugasmu?"
"Itu saat kau membawaku ke INTI, sesungguhnya tak ada satupun orang waras yang keluar dari sana. Aku pula penasaran apa yang telah kau perbuat pada diriku ini, Elder?" Chairoz mulai mengingat masa-masanya yang seperti serpihan kaca. Dia ingat bagaimana rasanya diserahkan pada INTI, itulah kenapa kali ini ia tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu ketika ia menyerahkan Hybrid pertama.
Adam tersenyum, "Aku seperti yang dikatakan para rakyat, Chairoz. Aku pembawa kedamaian. Apa yang aku lakukan hanya demi mencapai cita-cita negeri ini."
Chairoz pun terkekeh dan hal itu membuat Adam bingung, "Baiklah kalau begitu, Elder. Aku juga akan berusaha untuk membuat kedamaian itu menjadi nyata dan abadi. Aku bersumpah tak akan tidur nyenyak sebelum kau melihat sendiri kedamaian itu" lalu kedua manik matanya mengarah pada Gara. Ia mengedipkan satu matanya pada dan kembali menatap Adam.
Gara yang terkejut karena Chairoz melakukan itu pun berbalik dan pergi dari tempat itu. Dengan cepat ia membawa teman-temannya keluar dari kerajaan, keluar dari halaman belakang.
"Mr. Chairoz tau kalau kita di sini" kata Gara sambil memelankan laju jalannya.
"Hah! Bagaimana kau tau itu?!" Jack histeris sekaligus mulai merasa takut.
"Tadi, mataku dan mata Mr. Chairoz bertemu."
Mereka berjalan kembali ke kota Buxton atau yang sering disebut dengan Angkara Pack. Dengan jalan yang sama mereka kembali ke hutan. Namun, tiba-tiba Gara mengingat sesuatu dan berhenti melangkah.
"Dimana Light?!"
"Light hilang!" Pekik Jack dan Ardan bersamaan lewat Pack Link.
"Kita harus menemukannya, dia adalah burung mutan, dia bisa saja dijual!" Kata Dylan.
Gara mengangguk, "Yang lain kembalilah lebih dulu, aku dan Dylan akan pergi-"
"Aku ikut" sahut Edward dengan cepat.
Gara diam sebentar menatapinya, namun akhirnya ia setuju Edward ikut dalam pencarian Light.
"Pergilah, kami akan menunggu. Kami tak akan kembali ke Akademi sebelum kalian kembali juga" ucap Selena sambil memegang tangan Edward, seakan mempercayakan laki-laki itu untuk kembali secepatnya.
Lalu mereka bertiga pun keluar hutan dan menyusuri jalanan Kota Buxton yang rami dengan orang-orang. Gara menghirup udara jalanan, berharap ia bisa menemukan dimana keberadaan Light, hingga mereka terus berjalan dan aroma Light seketika tercium samar-samar.
Gara melirik ke sebuah gang sempit yang dipenuhi dengan tong-tong makanan.
"Kau menemukannya?" Tanya Edward ikut melirik gang tersebut.
"Tipis sekali aromanya, dan itu mengarah ke sana. Aku harap anak itu tak kenapa-kenapa" Gara kembali berjalan, diikuti oleh Dylan dan Edward dari belakang.
Mereka berjalan di gang sempit yang aromanya tidak sedap, lalu setelah tiba di perempatannya, Gara menemukan sebuah tempat yang seharusnya tidak ada. Gang itu bukan gang belakang yang biasa digunakan karyawan toko untuk keluar atau mengurusi stok barang-barang mereka. Gang itu lebih tepatnya disebut dengan pertemuan gelap orang-orang menjijikkan, sebab di sana berhambur para pemabuk, penjual obat-obatan dan racun , judi, bahkan satu pintu yang membuat Gara terus melirik adalah mereka yang melakukan pelelangan ilegal.
"Light... Ada di sana" Gara menunjuk pintu itu, dia semakin yakin kalau Light ada di dalam sana. Dia bisa menghirup aroma burung itu dengan sangat jelas.
"Tempat apa ini.. Aku tak pernah melihat tempat kotor ini di Buxton selama aku hidup di sini" gumam Edward.
"Ini tempat-tempat biasa para orang dewasa bermain dalam dunia mereka. Judi, ekspor-impor barang ilegal, obat-obatan terlarang dan racun, bahkan lebih parah adalah lelang ilegal. Di Alystra juga ada tempat yang seperti ini, mereka melelang para manusia sebagai minuman abadi, sebab para pembeli akan menjadikan mereka budak untuk diambil darahnya saja. Mereka akan dibiarkan hidup, tinggi dirumah dan dapat makanan, namun semua itu ada imbalannya. Biasanya manusia-manusia yang dibawa adalah mereka yang tak punya tujuan hidup, para gelandangan, atau yatim-piatu di panti asuhan" jelas Dylan.
"Mengerikan sekali bangsamu itu" desis Edward yang begitu syok mendengar penjelasan Dylan.
"Itu sama sekali tidak semengerikan bangsamu, Ed. Kalau kau ingin tau, lihat saja sendiri ke bar itu, bar yang melakukan lelang ilegal, dan kau akan tau apa bedanya penjelasanku tadi dengan cara bangsamu bekerja" ucap Dylan yang membuat Edward semakin penasaran.
Gara menghela nafas panjang karena mereka berdua, kaku ia berjalan menghampiri bar yang ia yakini. Saat masuk, mereka semua terkejut menemukan banyak orang-orang dewasa memenuhi meja disana. Pria dan wanita, tak ada bedanya, mereka terlihat seperti para konglomerat.
Mata Edward mengarah ke depan sana, melihat banyak orang-orang yang diyakininya sebagai manusia. Dewasa maupun anak-anak ada di sana, di kurung seperti binatang.
"Terus lihat" ucap Dylan pada Edward.
Saat pelelangan berlangsung dan manusia yang dipilih mendapat pembelinya, seketika orang yang menawarkan itu langsung melakukan sesuatu. Dia melibas sekali pedangnya, dan manusia itu terpotong menjadi beberapa bagian hingga bercecer di lantai.
"Aku mau muntah rasanya" ucap Dylan berpaling dari bagian depan.
"Ku rasa ini tidak ada masalahnya, mereka manusia hanyalah mangsa bangsa kami" kata Edward dengan santai.
"Itulah yang ku maksud. Kita itu berbeda pandangan terhadap manusia. Bagiku darah mereka patut kami ambil, dan bagimu daging mereka patut kalian ambil" balas Dylan.
"Oh! Benar juga, bangsamu tak memakan daging manusia. Aku paham sekarang" sahut Edward.
"Daripada membicarakan nasib manusia, lebih baik kita bicarakan nasib Light di sana" perkataan Gara membuat Edward dan Dylan menghadap ke depan. Dia melihat Light yang berbentuk setelah manusia di sana.
"Aku tak mau Light menjadi potongan daging" gumam Gara.
"Dan aku tak mau... Kita tertangkap di sini..."
Gara menoleh melihat Dylan, saat itu dia terkejut melihat jemarinya samar-samar mulai terlihat.
"Sial..."