
...※ ·❆· ※...
"Ini akan sia-sia, bahkan fertilisasinya tidak terjadi!" Kata Healer lain yang menjadi bawahan Rose.
"Mereka membawakan tujuh wanita Vampire tapi tidak ada satupun yang berhasil. Sel telur mereka melebur, tidak sanggup menerima sel dari Lycanthrope. Apa yang harus kita lakukan, Rose?" Tanya yang lainnya.
Rose yang frustrasi hanya bisa duduk dan melihat tujuh wanita yang terbaring di depannya. "Ini sudah berakhir... Mustahil untuk menciptakan sesuatu diluar kemampuan kita... Aku takut, kita sudah kelewat batas-"
"Rose... Fertilisasi pada wanita ini sepertinya berhasil..."
Rose terkejut, bergegas menghampiri wanita yang tertidur itu. Sebuah bintik cahaya muncul pada debu-debu bersinar berterbangan di atasnya, cahaya kecil yang tepat berada di atas perut sang wanita. Debu-debu bersinar itu merefleksikan sekujur tubuhnya, para Wizard menggunakannya untuk melihat kehidupan baru yang ada pada rahim wanita. Beberapa alasan lain, sebuah penyakit kronis juga dinyatakan hidup ketika bintik cahaya muncul pada gambaran itu.
Rose kembali mengangkat kepalanya, memastikan bahwa cahaya yang samar-samar itu nyata. Bahkan dia mencoba untuk mengusir cahaya itu, tapi kenyataannya cahaya itu masih tergantung di antara debu-debu yang bersinar.
"Bawa dia ke ruang perawatan" perintah Rose pada perawat laki-laki yang sedang membersihkan wanita-wanita lain. Mereka bergegas membawa wanita itu keluar dari ruangan untuk memindahkannya.
Rose masih berdiam diri, pikirannya yang kacau beralih menjadi sangat bingung. Tentu saja, siapa yang tidak akan percaya karna mengetahui percobaan itu berhasil setelah sekian lama dan banyaknya percobaan yang gagal. Rose mengayunkan tangannya, mengumpulkan debu-debu bercahaya itu lalu menebarkannya pada udara. Kemudian dia berbalik, dengan langkah cepat keluar dari ruangan, menuju ruangan dimana Adam dan dua rekan dekatnya berada.
Pintu dibuka, para Elder yang sedang rapat saat itu terkejut akan kedatangan Rose yang tampak tergesa-gesa.
"Hei, apa kau tidak melihat cahaya di pintu itu?" Tanya salah satu Elder seraya menunjuk kearah pojok atas pintu yang memiki sebuah kristal bercahaya merah cerah. Kristal bercahaya merah digunakan untuk menunjukkan bahwa rapat sedang berlangsung, namun ketika cahayanya bertukar menjadi hijau, maka siapa saja diizinkan masuk.
Rose membungkuk, "Maafkan aku, tapi aku ingin menyampaikan sesuatu."
Adam bangkit dari duduknya, "Apa itu?"
Manik mata Rose bertemu dengan mata Adam, tatapan meyakinkan itu membuat Adam menyadari sesuatu,
"Fertilisasinya berhasil."
...※ ·❆· ※...
Kami tak diperbolehkan membawa perbekalan, namun kami hanya boleh membawa satu benda yang paling beguna. Tentu saja aku membawanya deggerku sendiri, benda itu akan sangat berguna dalam situasi apapun.
"Kau bawa apa?" Tanya Jack pada Chlea.
"Aku membawa kain ini, jaga-jaga untuk. membuat tenda" jawab Chlea.
"Kau tau, aku bawa tali. Tidak tau untuk apa nantinya" Ardan menunjukkan segulung tali tebal yang tampak sangat kuat. Baguslah, kelompokku akan baik-baik saja dengan satu benda seperti ini. Sebab kami pernah melaluinya bersama-sama.
"Nama-nama yang ku sebutkan harap berdiri di samping. Aku akan mulai membacakan anggota kelompok 1" ucap Mr. Harold.
Tunggu, jadi kelompoknya benar-benar di acak? Dan benar saja, mereka membuat kelompok-kelompok yang berisikan 7 orang dari bangsa yang berbeda-beda. Itu berarti, tak mungkin aku berada dalam satu kelompok yang sama dengan clan ku sendiri. Sudah pasti aku akan di kelompoknya dengan orang-orang lain.
Setelah beberapa kelompok di bacakan, aku terus duduk dan berharap aku dapat orang-orang yang terbaik.
"Kelompok ke-5. Xavier, Castiel, Iris, Piers, Dylan, Luca dan..."
Dan aku pula berharap tak bersama mereka. Lagipula hubungan kami belum baik, dan hal itu akan mengacaukan kelompok itu sendiri.
"Dan.. Gara."
Aku bangun dari dudukku di tanah, meninggalkan Chlea dan yang lainnya, lalu ikut berdiri di samping orang-orang sekelompokku, di samping Dylan.
Kami terus berdiri hingga semua orang sudah dalam kelompok masing-masing.
Tiba-tiba saja Mr. Arthur kembali membuka Pentagram Demon di depan kami, "Kalian akan memulai ujian. Setelah masuk ke dalam pentagram, kalian akan tiba di hutan yang telah disisihkan untuk ujian kalian. Kalian tak akan menemukan orang lain kecuali para binatang, kalian akan ada di hutan Negeri Irrinshire wilayah Fysikossilian. Namun, kalian tak akan menemukan kelompok lain, sebab ujian kali ini menggunakan dimensi yang berbeda agar kalian bisa lebih fokus sendiri."
Kami akan bertahan hidup dalam hutan, aku bersama mereka? Aku yakin tak sekalipun dari kami akan berhasil. Lihat saja, mereka membuang wajah dan menjauhiku, seakan aku tak ada dalam kelompok ini, kecuali Dylan yang terus di sampingku. Kadang dia melirikku seakan mengatakan kalau tak perlu menghiraukan mereka.
"Ingat! Kerja sama tim adalah yang terpenting!" Ucap Mr. Michael.
Lalu, satu per satu kelompok masuk ke dalam Pentagram Demon itu. Hingga aku dan kelompokku mendapat giliran. Aku hanya diam, bersiap untuk merasakan rasa sakit seperti waktu itu saat berpindah dimensi ke dunia para iblis.
Dan benar saja, perasaan itu datang. Seakan mengenali kehadiranku, ruang gelap gulita yang memiliki corak merah berupa gambaran-gambaran penghuni neraka itu bermunculan, menyambutku seraya seluruh rasa sakit dalam tubuhku.
Hingga aku berlutut saat tiba di tempat yang berbeda. Aku terbatuk sampai mengeluarkan sedikit darah dari mulutku. Lambat laun, aku mulai bisa mengendalikan diri dan bangun perlahan-lahan.
Tunggu, ada yang aneh di sini. Dimana semua teman sekelompokku? Aku berbalik dan melihat sekeliling, tak ada tanda-tanda keberadaan mereka, bahkan Dylan juga tak ada di sini.
Aneh, ku ingat kata para guru, kami akan tiba bersama-sama. Namun kenapa hanya aku sendiri di dalam hutan yang....
"Wow.." Begitu saja aku terkagum saat melihat seisi hutan yang asing bagiku. Pepohonannya begitu tinggi menjulang, dedaunannya yang menumpuk di atas sana membuat hutan ini nyaris tak terjangkau oleh cahaya.
Aku menoleh ketika mendengar sesuatu. Tadinya aku berharap itu adalah teman-temanku, namun hanya sekumpulan kawanan rusa yang tanduknya dipenuhi oleh bintik-bintik bercahaya. Mereka berjalan bersama-sama melewati aliran sungai yang tampak tenang, jauh di depan sana.
Bintik-bintik cahaya itu tak hanya mengerumuni tanduk-tanduk kawanan rusa, ternyata bintik-bintik bercahaya itu juga mengitari akar-akar pepohonan, tanaman-tanaman liar, pada jamur-jamur yang menaburkan kilauan aneh, bahkan pada batang yang mati dan telah berlumutan sekalipun.
"Nya! Nya nya nyaa!!"
Suara kecil itu bisa ku dengar di sekitar telingaku. Aku mengayunkan tanganku dengan pelan, sampai aku sadar di atas kepalaku penuh dengan bintik-bintik bercahaya.
Salah satu dari ratusan di atas kepalaku terbang ke wajahku. Aku pula melihatnya dengan seksama, ternyata itu semacam peri yang amat kecil. Tubuh mereka bercahaya dengan sayap yang mengeluarkan debu-debu berterbangan.
Aku kebingungan, aku bukanlah Fairy clan yang bisa mengerti bahasa para peri.
"Apa yang kau bicarakan?" Tanyaku sambil membiarkan peri kecil ini mendarat di telunjukku.
"Nya!" Dengan tangannya yang kecil pula, ia menunjuk ke arah hutan lain.
"Ada apa di sana?"
"Nya nya!!" Dia terbang dan menarik telunjukku, seakan hendak membawaku ke arah yang ia inginkan. Namun, bukan ini tujuanku datang ke sini. Aku harus menemukan teman-temanku lebih dulu.
"Nya!!"
Tapi melihatnya bersusah payah mencoba menggerakkan tanganku, membuatku merasa iba.
"Baiklah."
Aku menuruti permintaannya. Segera aku berjalan ke arah semak-semak belukar di sana. Lalu, aku melihat seseorang yang terbaring di tanah. Setelah ku dekati, ternyata itu adalah Piers!
"Piers.. bangunlah!" Ku angkat kepalanya dan menggoyangkan tubuhnya agar ia terbangun. Dengan perlahan Piers mengerjapkan kedua manik matanya dan akhirnya menyadari keberadaan Gara.
"Gara! Syukurlah aku bertemu denganmu!"
Piers menangis dan langsung memelukku. Aku tak mengerti, bukankah dia menjauhi ku bahkan kami tak bicara selama ini. Tapi kenapa Piers tiba-tiba seperti ini? Dia tampak begitu ketakutan.
"Hei.. Kau kenapa?" Tanyaku mencoba menenangkan Piers.
"Sudah seharian aku mencari kalian, aku pikir... aku telah tersesat. Aku bertanya pada para peri dan pepohonan, tapi mereka tak melihat keberadaan kalian" jelasnya.
"Seharian? Tapi Piers, bukannya kita baru tiba di sini 5 menit sebelumnya?"
Pertanyaanku membuat Piers terdiam. Tunggu, ini sangat aneh. Kami baru saja masuk ke dalam portal untuk ujian kedua, namun kenapa Piers berkata dia telah seharian ada di hutan ini dan mencari keberadaan kami?
"Ada yang salah. Mungkin perpindahan kita mengalami kesalahan, jadi kita tiba di hutan ini dengan selang waktu yang berbeda" kataku.
"M-mungkin saja..."
Aku berdiri dan membantu Piers untuk bangun, "Kita harus mencari yang lainnya."
"Tunggu, bagaimana caramu menemukanku di sini?"
Aku menunjuk pada bintik yang ada di telunjuk, "Makhluk ini yang menuntunku."
"Peri kesuburan!" Pekik Piers.
"Peri kesuburan?"
Piers mengangguk, "Mereka adalah peri yang mengatur kesuburan tanaman. Mereka pelupa, terkadang saat ada binatang yang menarik perhatian mereka, mereka akan meninggalkan pekerjaan dan bermain-main bersama para binatang."
"Oh, begitu..."
Lalu tiba-tiba saja seekor anak rusa berlari melewati kami. Kemudian sekumpulan bintik-bintik bercaya di kepalaku berterbangan mengikuti anak rusa itu, begitu pula dengan salah satu peri yang membantuku menemukan Piers. Sekarang, hanya tinggal kami berdua. Apa yang harus aku lakukan?
"Ku pikir kau takut denganku? Kita tak bicara selama ini, dan kau selalu pergi saat bertemu denganku" ucapku sambil berjalan hendak meninggalkan Piers. Namun, rencanaku membuat dia mengikutiku berhasil. Seperti anak kucing yang kehilangan induknya, Piers mengikutiku di belakang.
"Aku... juga tak mengerti kenapa aku seperti itu.. Kau tau, kita tak bisa menghilangkan ketakutan alami kita, 'kan?" Ucapnya.
"Berarti benar, kau takut padaku?" Aku bertanya untuk mencari jawabab yang pasti.
"Sudah ku bilang, aku tak mengerti, Gara. Aku bukannya takut padamu, tapi... Ah! Pokoknya aku tak mengerti..." Piers berdecak kesal.
"Tak apa, katakan saja padaku" aku berhenti melangkah dan berbalik menatapinya.
Kedua manik mata Piers yang mengarah padaku benar-benar begitu cantik, sudah lama aku tak bertemu manik-manik mata itu, rasanya seakan dunia sedang baik-baik saja jika ia menatapiku. Begitu menenangkan.
"Kau tau, para bangsa Fairy memiliki insting hampir menyerupai binatang? Sejak di malam berita tentangmu ku dengar, aku terus merasa takut dengan dirimu. Bukan, tapi dengan apa yang ada di dalam dirimu. Sesuatu itu.. bersarang di sana... seperti sedang hibernasi, dia tampak tenang namun terkadang hembusan nafasnya membuat jantungku berdebar. Aku sungguh bisa merasakan sesuatu di dalam dirimu itu, Gara... Itulah sebabnya aku dan yang lain-"
"Menjauhiku atas sesuatu yang tak nyata?" Potongku.
"Itu nyata! Sesuatu itu nyata jauh di dalam dirimu!" Piers menempelkan jari telunjuknya di dadaku.
"Aku hanya tak tau dengan pasti apa sesuatu itu..."
Aku menggenggam tangan Piers dengan erat dan menatapinya serius, "Aku sudah tak waras jika sengaja menakuti mu dan semua orang di Akademi. Tak satupun di antara kita tau akan masa depan, namun akan aku pastikan aku tidak akan pernah membuatmu dan yang lainnya terluka. Tak akan sedikitpun. Jadi, ku mohon padamu. Beri aku kesempatan untuk membuktikannya. Aku tidak ingin pertemanan kita berakhir begitu saja."
Piers terdiam lalu menundukkan kepalanya, "Kau Alpha yang sangat kuat. Aku bahkan tak bisa terus menatapimu. Tak heran kenapa Chela terus saja memujimu."
"Maafkan aku telah meninggalkanmu di saat-saat tersulitmu. Seharusnya, sebagai seorang teman aku tak akan mudah mempercayai sejarah begitu saja" sambungnya memelukku. Aku pula membalas pelukannya.
Aneh, rasanya begitu lega.