
"Satu-satunya cara agar kita bisa melewati dinding pelindung itu adalah-"
"APA!?" Serentak mereka semua sambil. melihat Chlea dengan mata berbintang-bintang.
"Uh.. dengan meminta bantuan Fairy Clan atau Wizard Clan."
"Kenapa begitu?" Tanya Jack.
"Ya karna mereka punya kemampuan untuk teleportasi, seperti membuka gerbang dimensi" tambah Chlea.
"Bukannya itu sama saja dengan kita melewati dinding pelindung itu? Lagipula guru-guru membuatkannya untuk kita, pasti sihir itu bisa mendeteksi kita meski dengan cara gerbang dimensi atau semacamnya" bantah Ardan.
Mereka kembali tidak bersemangat. Rasanya aku ingin tertawa saja. Aku bangun dan mereka menyadarinya, "Daripada berdebat, lebih baik kita cari tau sendiri. Apa yang bisa kita gunakan untuk melewatinya."
"Kita akan ke sana?" Tanya Selena dan aku mengangguk sebagai jawaban seraya meraih tangannya untuk ikut berdiri.
"Tapi.. Jika kita tidak bisa melihat dinding pelindung itu dan tanpa sengaja mengenainya, kita akan tamat" khawatir Jack.
"Tenang saja. Kita akan mengetahui dinding itu saat kita berada dalam jarak terdekat. Kita akan baik-baik saja" jelasku.
Kami turun ke bawah dan berjalan tanpa arah di area latihan.
"Kita akan mengambil jalan yang mana? Sebelah kiri area latihan, sebalah kanan, atau lurus ?" Tanya Edward.
"Sebelah kanan kita hanya akan bertemu sungai, lurus jalannya anik menanjak, mungkin kita akan mengambil jalan sebelah kiri?" Aku menanyai pendapat.
"Ide bagus" ucap Edward.
"Iya, dan juga kita pernah melewatinya saat ujia bersama Psychofágos hari itu, jadi kita tau jalannya" sambung Chlea.
Aku mangangguk setuju. Ku dengar suara Light yang terbang di atas kami. Dia ikut ternyata, tentu saja. Kami mengambil jalur sebelah kiri dari area latihan, tanpa diketahui oleh para guru lain, atau anak-anak yang tampak sedang sibuk dengan urusan mereka.
Cuaca hari ini sungguh bagus, tidak terlalu dingin atau panas. Hutan Astbourne semakin diperindah oleh alam itu sendiri.
"Apakah dinding pelindung itu jauh?" Ardan bersuara.
"Sepertinya begitu" jawabku.
"Kita tidak bertransformasi? Biar kita cepat sampai!" Kata Jack.
"Dan merusak pakaianmu lalu dicurigai oleh orang-orang?" Sahut Dylan cepat.
"Ah... iya juga.."
"Tapi aku penasaran, apakah ada seorang Lycanthrope yang pada saat bertransformasi pakaiannya tidak hancur?" Tanya Dylan.
"Ada, aku melihat Mr. Chairoz melakukannya. Meski aku tidak melihat awal mula transformasi serigalanya, tapi saat tadi malam, kembali dari hutan untuk mencariku, saat ia hendak berubah ke bentuk manusianya, aku melihat pakaian guru yang keluar dari bulu-bulunya. Seperti tergantikan. Aku tidak tau kenapa itu bisa terjadi" jelasku.
"Bahkan prajurit-prajurit yang bertransformasi, pakaian besi mereka tidak terlepas atau hancur, melainkan seperti masuk diantara kulit atau bulu serigala mereka" tambah Edward.
Chlea tampak bingung, "Mungkin itu kemampuan lain yang belum kita ketahui."
Edward mengangguk, "Mungkin saja, atau kau akan mencobanya sekarang? Siapa yang tau kemampuan itu akan muncul tiba-tiba?" Dia menyenggolku, seperti isyarat untuk aku melakukannya.
"Dan kalau tidak terjadi, kau mau bertanggung jawab saat orang lain menanyakan pakaian hancurku untuk kedua kalinya?" Tantangku.
"T-tidak..."
"Tapi dengan begini kita akan lama sampainya!" Rengek Jack seperti anak kecil.
"Aku bisa saja lari dan meninggalkan kalian, tapi aku tau diri dan tidak enak hati atas kalian, hahahaha" ledek Dylan.
Sementara aku melihat Light yang masih terbang dengan kecepatan rendah di atas kami. Aku tau sekali dia bisa sangat cepat menembus udara. Tapi membuatnya sebagai alat kendaraan untuk kami naiki, sangat tidak punya perasaan. Dia tidak akan sanggup. Dia hanya bisa membawa benda-benda kecil.
Tunggu, itu dia! Light bisa membawa benda-benda kecil seperti deggerku.
Aku berhenti berjalan dan langsung ku ambil deggerku dalam tas pinggangku. Yang lainnya ikut berhenti sampai Chlea bertanya, "Untuk apa deggermu Gara?"
Ku gelengkan kepala dan memanggil Light untuk turun. Dia hinggap dibahuku. "Aku memikirkan bagaimana kita bisa cepat sampai di perbatasan itu. Ku tau Light tidak mungkin membawa kita semua. Jadi aku berpikir untuk menyuruhnya membawakan deggerku sampai ke tempat tujuan kita-"
"Dan fungsi dia membawa deggermu adalah?" Potong Edward.
Aku melirik Edward dengan tatapan tidak suka, "Jangan menyelaku kalau kau hanya menanyakan hal yang ingin aku katakan."
Edward mengangguk acuh. Aku pun kembali menjelaskan, "Dengan kemampuan teleportasiku, kita semua akan berteleportasi ke tempat itu dalam satu detik."
Selena, Jack dan Ardan tampak sangat bersemangat. Sementara Chlea melihatku dengan tatapan khawatirnya yang berbekas dalam ingatanku, "Aku tidak yakin. Kau bisa saja terluka seperti waktu itu."
Aku tersenyum melihatnya, "Kau salah mengartikan kejadian itu. Aku tidak terluka karena kemampuanku, aku hanya kehabisan tenaga dan tidak bisa menggunakan kemampuanku di detik-detik terakhir. Tapi saat ini aku sedang prima."
"Kau yakin?"
Sungguh, dia adalah Betaku yang penuh kekhawatiran, "Iya. Lagipula aku ingin mencoba berteleportasi dengan banyak orang dan menghitung tenagaku setelahnya."
"Hah, aku sungguh tidak bisa menghentikan Alphaku sendiri" ucap Chlea menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah.
"Bagaimana kita akan tau Light sudah tiba di sana atau belum?" Tanya Selena.
"Aku bisa melihatnya, dan merasakan deggerku secara bersamaan. Dia burung gagak yang pintar" jawabku.
Ada setengah jam lamanya hingga Light menjatuhkan deggerku ke tanah dan tertancap di atasnya. Light terbang dengan sangat cepat seperti halnya cahaya, jika setengah jam dia baru tiba di tempat, itu berarti tempat itu sangat-sangat jauh.
"Berpegangan, kita akan teleportasi" ucapku menghentikan langkah kaki mereka.
"Aku tidak sabar!" Semangat Jack.
Kami saling berpegangan tangan, seperti lingkaran. Aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak, kita harus mencobanya. Kemudian aku menfokuskan diri untuk berteleportasi.
Aku terus gagal membuka pintu dimensi, rasanya sangat berat. Seakan aku ditimpa dan didesakkan dengan 10 gajah raksasa.
"Gara.. Mulutmu mengeluarkan darah.."
Suara Selena membuatku terus berusaha hingga akhinya portal dimensi itu terbuka. Kami akhirnya terjatuh kedalamnya. Sebuah tempat tanpa cahaya. Aku menguatkan pegangan pada yang lain dan memberitau mereka jangan sampai terlepas. Aku tidak akan tega membiarkan mereka terjebak selamanya dalam dimensi ruang dan waktu ini.
Tidak ada di antara mereka yang membuka mata. Karna saat ini mereka tidak merasakan apa-apa. Seperti sepersekian detik mati.
Kami tiba di tempat yang berbeda.
"Buka mata kalian, kita sampai" ucapku sambil melepaskan genggaman tanganku.
"Kita sampai- huekkk!" Tanpa kuduga Ardan memuntahkan sedikit isi perutnya. Tiba-tiba yang lain terduduk dengan tangan menutup mulut dan memegang kepala.
Aku mengambil deggerku dan membiarkan Light hinggap di bahuku, "Kalian kenapa?"
"Apa itu tadi?! Apa yang terjadi?!" Pekik Jack.
"Kita melewati ruang dan waktu, melayang diantara ruang hampa" jawabku.
"Aku seperti ditimpa oleh pegunungan!" Histeris Edward.
"Ughh- rasanya seperti berputar di antara angin tornado" ucap Dylan.
Aku membantu mereka berdiri, "Lebih parah lagi kalau kalian langsung duduk. Ini 'kan kali pertama kalian, setelahnya tidak akan terasa apa-apa."
"Iya... berdiri lebih baik" komentar Ardan.
"Jadi... ini perbatasannya?"
Aku mengangguk, "Lihat." Ku dekatkan tanganku pada dinding sihir yang tak terlihat, lalu tiba-tiba cahaya-cahaya itu keluar di dekat tanganku. Membentuk sebuah dinding.
"Wow..." Kagum mereka secara bersamaan.
"Sekarang pikirkan bagaimana kita akan melewatinya."
Kami terdiam seketika, hal itu membuatku nyaris tertawa.
"Bagaimana..."
Lalu kami semua melihat sebuah rusa yang berlarian di kejauhan. Rusa itu sepertinya akan masuk ke bagian sini.
"Oh tidak.." ucap Selena.
Tapi tidak seperti yang kami tunggu-tunggu, setelah melintasi dinding sihir, rusa itu baik-baik saja. Kami serentak bernapas lega.
"Rusa itu baik-baik saja," ucap Jack. "Apa itu berarti Light juga akan baik-baik saja kalau dia melewatinya?"
"Aku tidak yakin. Binatang yang terluka atau cacat, tidak bisa melewatinya. Kalau tidak mati, mereka akan bermutasi" peringatku.
"Ya tapi dia sedang dalam wujud gagaknya, pasti akan baik-baik saja 'kan?" Perkataan Dylan membuat itu masuk akal.
"Entahlah. Light, kau mau mencobanya?" Tanyaku. Light bersuara lalu terbang ke atas tanah, tepat di dekat dinding sihir itu berada.
Kemudian, Light mendekati dinding sihir itu dengan perlahan. Satu sayapnya hendak menyentuhnya. Cahaya-cahaya itu menyala ketika bulu Light mendekatinya.
"Oh tidak..."
Saat bulunya mengenai dinding sihir itu, tidak ada yang terjadi. Kami semua lega karna Light baik-baik saja.
"Aman... Berarti kita bisa melewatinya!!" Pekik Chlea.
"Bagaimana?" Tanya Edward.
"Dengan bertransformasi!"
"Benar juga!" Yang lainnya setuju.
"Yasudah, kita kembali untuk berisap-siap" kataku.