ME And I

ME And I
6



satu minggu yang lalu


risa mendorong troli dan bergegas menuju meja panjang yang ditempat dua perawat, hari ini adalah hari keduanya untuk bekerja di rumah sakit ini, dia mendapat tugas jaga malam sebagai pekerja lepas


"kamar anggrek sudah aku bersihkan, aku, akan membeli kopi ada yang ingin menitip?"


dua perawat yang berjaga dengannya menggeleng dengan pelan, wajah mereka yang kelelahan dan mengantuk tampak pucat, mereka terus melirik pada lorong yang sepi. dan beberapa kali berpandangan dengan cemas


"ada apa?" risa bertanya segera, saat menyadari ada yang tidak beres pada ekpresi mereka berdua


riri yang berkacamata menjawab pelan "alisa, di bawa ibu leny sejak tadi" dia menggigit bibibirnya dengan wajah cemas. suaranya sedikit gemetar


risa menatap lorong panjang di belakangnya "mereka mengecek pasien?" Dia bertanya dengan pelan,


mila yang duduk di depan komputer menggeleng pelan "semua pasien tidak ada yang bermasalah, aku dan riri yang bertugas keliling, alisa harusnya stand by di counter"


risa menepuk bahu riri, mencoba menenangkan wajahnya yang layu "aku, akan mencari mereka, kalian tunggu disini jangan kemana mana?" Dia memberikan perintah dan segera bergegas menyusuri lorong


riri dan mila mengangguk, faktanya bukan tanpa alasan mereka cemas dan ketakutan seperti domba yang akan di mangsa, beberapa minggu yang lalu seorang temannya pernah mengalami pelecehan seksual yang tidak di ketahui siapa pelakunya, dan setengah tahun yang lalu rekan kerja mereka mengalami kejadian yang sama. mereka takut alisa kini menjadi korban selanjutnya. mereka sudah beberapa kali lapor pada manajemen tapi entah kenapa tidak ada tindakan sama sekali dari pihak manajemen, dan hanya mengabaikannya, risa merasakan dingin di dalam hatinya pantas saja pihak rumah sakit ini mencari pekerja magang bahkan tanpa kualifikasi apapun, tempat ini begitu berbahaya.


risa berjalan dengan pelan pelan agar tidak ada yang terlewat dari pandangannya, dia melangkah dan terus mencari di sekitar rumah sakit, kakinya berhenti melangkah dan dia mendengar suara berisik dari arah sudut yang begitu gelap. Entah kenapa hatinya berdebar debar, dia melangkah dengan pelan pelan, matanya membulat dan dia mundur tanpa sadar saat melihat seorang gadis yang bersimbah darah terlentang di atas lantai yang dingin, gadis itu tampaknya tidak sadarkan diri, pakaian bawahnya sudah melorot menyisakan baju atas yang terbuka dengan menyedihkan.


risa menggerakan wajahnya dan menahan rasa terkejut saat melihat seorang pria bulat yang sedang menyeka keringat di lehernya, pria itu menendang nendang gadis di bawah dia bahkan tanpa ampun menginjak kaki gadis di bawahnya terdengar suara rengekan kecil seperti anak kucing yang sekarat dan pria bulat itu terkekeh pelan tampak puas, giginya menyeringai tampak seperti gigi binatang buas yang bersembunyi dalam kegelapan malam.


pria itu bergerak dan risa risa buru buru bersembunyi di belakang meja di depannya, dia menandai wajah pria itu dan berjanji akan menjauhinya, risa melirik gadis itu tangannya terkepal ingin menolongnya tapi dia tidak bisa menarik perhatian orang orang, satu satunya cara adalah ........risa menatap lemari kaca di pojok ruangan, dia memutar kepalanya mencari cari alat untuk melemparnya dan menghancurkannya sehingga petugas bisa datang dan menyelamatkan gadis Malang itu, dia menemukan sepatu gadis itu yang terlepas, risa mengambilnya dan langsung melempamparkannya membuat suara yang sangat kencang, risa bergegas pergi menyisakan ruangan yang hampa dan suara suara orang yang berdatangan dengan tergesa gesa.


dua hari berlalu sejak kejadian itu, gadis itu memang benar Asila, dia di temukan oleh satpam yang mendengar suara kaca pecah, dan mereka langsung melapor pada manajemen, setelah melakukan pencarian di sekitar rumah sakit tidak di temukan jejak apapun, dan juga di tempat kejadian tidak terdapat cctv yang membuat semuanya buntu tidak ada hasil apapun


riri dan mila terus menangis, apalagi kini alisa mengalami koma, membuat mereka ketakutan dan juga sedih melihat kondisi temannya, risa yang bertugas kembali malam ini datang dengan perasaan dingin, tapi mau bagaimanapun juga hidup harus tetap berjalan risa datang ke tempat ini dengan tujuan dan dia harus melakukan tujuannya, yaitu mengeluarkan ibu rendi dari rumah sakit ini,


seorang petugas pria di tambahkan malam ini, dia beberapa kali melirik risa dan bersedia membantunya tapi risa dengan sopan menolak dan memintanya untuk lebih memperhatikan riri dan mila yang masih memiliki suasana berkabung untuk alisa.


risa sudah menyelesaikan tiga kamar tinggal dua kamar lagi, dia berjalan dengan santai dan yakin malam ini akan aman, bajingan itu pasti sedang bersembunyi dan tidak akan mengeluarkan batang hidungnya, risa membuka pintu kamar dan melihat wanita yang tergeletak di ranjang, wajah wanita itu pucat dan rambutnya kasar. matanya terpejam lelah, selang selang terpasang rapi pada tangannya,


risa berjalan santai dan membuka tirai di sebelah wanita itu, tangannya bergerak ke arah jendela beberapa kali dan memastikan tidak ada yang melihat tindakannya, risa berjongkok dan mulai berkeja dia bergerak beberapa kali memastikan semua alat alat yang disiapkannya terpasang dengan sempurna,


tangannya berhenti bergerak saat mendengar percakapan ringan dari arah luar, risa menatap pintu yang tertutup rapat dan langsung mendorong tirai dia juga memasang sarung tangan dan berjongkok di bawah ranjang, membereskan alat alatnya,


risa mendengar suara pintu di buka dan langkah kaki masuk dan mendengar dua suara yang saling bersahutan,


"mahesa juga di rawat disini, jatuh dari tangga dan kakinya terkilir" suara sedikit asing terdengar,


risa menunduk dan mengorek ngorek alat di depannya dan memasukannya ke dalam plastik hitam di bawahnya, sedikit lagi padahal tapi sekarang dia harus mundur agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"di ruangan berapa?"


suara ini risa menegakan tubuhnya dan mengintip dengan pelan pelan, ternyata itu rendi dan mahendra. risa memasang maskernya dengan kencang dan buru buru berdiri, dua orang pria itu tampak terkejut dan menatap risa dengan bingung, mereka saling menatap beberapa saat sebelum yang memakai kemeja putih tersenyum dan berkata ramah "maafkan, kami pikir disini tidak ada orang" dia mengamati sosok risa dari atas sampai, dia terdiam beberapa saat saat melihat mata bintang milik gadis itu, begitu hidup dan jelas.


risa menatapnya sekilas dan mengangguk sopan "ruangan ini sudah tidak memiliki jam besuk" risa mengusir dua orang itu agar keluar dari ruangannya


dua orang ini saling menatap lalu berdehem pelan "Akh, ya maafkan kami" rendi menjawab dan bergegas keluar dari ruangan, risa menatap kepergian mereka dengan tenang, matanya kembali menatap kaki ranjang dan alat alat yang di pasangnya, matanya bercahaya dalam kegelapan malam.


Risa keluar dari ruangan dan terkejut saat mendapati rendi yang berdiri dengan santai di sebelah pintu yang tertutup tanpa menunggu satu detikpun rendi langsung memanggilnya "Risa" panggilnya dengan lembut, risa tersenyum kecil. dia pikir rendi tidak akan mengenalinya karena risa memasang poni palsu, dan mengenakan masker rapat.


"Ibumu baik baik saja" risa menjawab dan melepaskan sarung tangannya, dia mendorong troli di tangannya dan berjalan menyusuri lorong, rendi berjalan santai mengikutinya di belakang


"tapi dia tidak pernah bangun" desah rendi pelan, penuh penyesalan, lidahnya terasa pahit.


risa menatap rendi, matanya bersinar terang seperti bintang di langit malam, tatapan matanya yang begitu jelas membuat rendi menatapnya dengan kosong, sudah berapa lama dia tidak melihatnya tatapan bintang ini, rendi seperti melihat sosok di masa lalunya,


"Bagaimana firma? apa kau sudah berhasil menyingkirkan afdal?"


"Bagaimana kau tahu?" Dia bertanya ragu ragu,


risa menatap kanan kiri dan bergegas mendorong troli "terlalu berbahaya jika kita bertransaksi disini ikuti aku" dia berkata sambil berjalan tenang.


ruangan ini sangat sepi dan tenang, tapi bau obat tercium dengan kuat risa mendudukan pantatnya pada kursi empuk di dekat jendela, cahaya bulan menyinari sosoknya yang ramping, dengan perlahan dia membuka maskernya wajah yang seperti peri terlihat, bibirnya cerah tampak menggoda dan matanya terang seperti bintang. rendi bergegas duduk di sebrangnya dan menatap risa serius,


"tidak perlu menatapku seperti itu, afdal adalah sumber informasi adiguna, jika kau memutus hubungan di antara mereka aditama akan menjadi burung dalam sangkar"


bibir rendi mengerut tampak tidak menyukai pendapat risa, tapi matanya begitu dalam saat menatapnya dia harus mengakui risa benar benar sempurna, dia bahkan bisa menebak jalan pikirannya dengan jelas, penampilan dan pikiran gadis ini benar benar berbahaya, risa bisa menggoda dengan penampilannya dan dia bisa menipu dengan pikirannya "Ya, aku menyingkirkan afdal dan sekarang aditama sedang memanjakan bagus dan ingin menariknya ke sisinya sepenuhnya"


risa tersenyum dingin dan menatap jendela dengan hampa, separuh wajahnya tenggelam dalam kegelapan malam "dia pintar membaca orang" bibir risa mengerut penuh ketidaksukaan


"ya, dia tahu bagus orang serakah, itu sebabnya aditama mendekatinya" rendi menjawab tidak peduli


risa mengulurkan tangannya dan menarik sebuah buku di depannya, keningnya berkerut dan dia tanpa sadar mengedarkan pandangannya, dia berkata sambil lalu "aku punya sedikit informasi untukmu, lima tahun yang lalu bagus membeli tanah di Jawa timur dan hendra jatuh dari tebing lima hari sebelum kejadian itu"


kuping rendi menajam, dia menatap risa dengan mata terbelalak kaget "hendra, direktur operasional?" Dia berseru tidak percaya "bukankah dia di dorong oleh Martin karena kasus korupsi?"


risa menatap rendi, lalu mengangguk pelan, dia menatap buku di tangannya dan mengelus ngelus sampul di depannya "apa sejelas itu?" dia menghentikan kalimatnya lalu menatap rendi pelan "aku ingat saat itu hendra dan Martin bersengketa untuk proyek kerja sama dengan pemerintah di Jawa barat, mereka berdua saling menyerang dengan ganas, tapi tidak ada yang mengerti masalahnya. hanya masalah penyaluran sementara itu tidak di putuskan oleh firma" risa mendengus dingin "yang satu mati yang satu di penjara" risa berkata dengan suara dan menatap rendi intens, "menurutmu siapa yang paling di untungkan?"


"bagus" rendi menjawab dengan pelan,


risa menggeleng lalu mengetuk ngetik meja "bukan bagus, tapi aditama. dia yang menjebak Martin untuk menyingkirkan hendra dengan tangan bagus. Dana dari pemerintah itu masuk ke kantong mereka berdua"


risa ingat kejadian itu, karena kasus kematian hendra dan korupsi Martin, adiguna hampir turun dari jabatannya, dana dari pemerintah untuk kerjasama obat obatan malaria bagi penduduk Papua menghilang, uang bernilai puluhan miliar itu lenyap tanpa jejak, dan semua orang mencurigai pelakunya adalah hendra, direktur operasional, tapi hendra tidak lama kemudian meninggal dan pelaku utamanya adalah Martin apalagi sebelumnya Martin berdebat dengan hendra tentang penyaluran obat obatan, setelah di periksa terdapat koper koper kosong tempat uang di kamar Martin, dan Martin sudah bersumpah bahwa dia tidak mengambilnya, tapi apa yang bisa di percaya semua bukti mengarah padanya, hendra mati karena berdebat dengannya dan koper kosong menjadi bukti yang nyata,


wajah rendi berubah warna, dia tampak seperti kehilangan kerasioanalnya dab mendengus jijik, dia mencerna fakta di depannya seperti mengunyah air kotoran "itu sebabnya aditama dan bagus. mereka sejak dulu"


"bagus lebih licik dari afdal dan keluarganya masih memiliki sedikit kekuasaan, aditama tidak terlalu suka dekat dengan orang orang seperti itu. itu sebabnya aditama tidak menggunakannya, tapi sekarang afdal sudah pergi, hanya bagus pegangan aditama"


wajah rendi menjadi semakin kosong dia menatap risa sebentar "Lalu sekarang, bagaimana cara membuka kebusukan bagus. aku tidak akan membiarkan aditama mendapat bantuan lagi"


risa tertawa kecil, seolah olah baru menyadari sesuatu yang menarik "itu sangat gampang, tukar saja posisi bagus dan Martin, bukan Martin yang pantas berada di penjara"


rendi menatap risa dengan serius "risa, apa kau memiliki rencana?"


risa menggeleng menolak untuk membantu rendi, bibirnya tertarik dingin dan ada senyum meremehkan, "itu masalahmu, aku hanya memikirkan rencana untuk melepaskan ibumu. masalah aditama aku menyerahkan semuanya padamu"


"Apa kau yakin akan berhasil?" rendi bertanya ragu ragu, dia sudah memeriksa semuanya dan penjagaan aditama begitu ketat bahkan seekor lalatpun tidak bisa masuk ke dalam ruangan ibunya, bagaimana cara risa untuk mengeluarkan ibunya, dia benar benar skeptis.


"berapa persen keberhasilanmu untuk menyingkirkan aditama?" risa balik bertanya dengan santai, tapi tatapan matanya serius pada rendi.


wajah rendi mengkerut tampak penuh kekhawatiran, matanya bergerak ragu ragu menatap risa "aku tidak yakin"


risa tersenyum dingin, lalu memasang wajah malas "aku, juga tidak yakin akan mengeluarkan ibumu dari sini" dia mengulangi kata kata rendi dengan dingin, matanya jernih seperti terlepis aliran sungai


"kau sudah berjanji" rendi melotot garang pada risa, melihat wajahnya, sikapnya dan ketidakpedulian gadis di depannya rendi menjadi sakit dan marah, dia menahan tangannya yang bergetar dan buru buru memalingkan wajahnya.


risa tampak santai tidak peduli "bukankah ini sepadan?" Dia bertanya dengan dingin "apa yang kau berikan itulah yang akan kau dapatkan? aku mempertaruhkan nyawaku untuk ibumu dan kau pun harus mempertaruhkan nyawamu untuk menyingkirkan aditama" risa tersenyum bengis pada rendi


"ini adalah hal yang berbeda". suara rendi bergetar penuh kemarahan, dan kepedihan "risa, ibuku juga adalah korban, aditama adalah penjahatnya?"


wajah risa penuh cemoohan, hatinya terasa dingin, dia menatap rendi penuh makna "Lalu kau?" risa menjetikan jarinya , bibirnya menyeringai dingin "aku harus menyebutmu apa, korban atau pelaku?" suaranya penuh ejekan


rendi kehilangan kata katanya, hatinya menjadi panas dan perasaan bersalah langsung menyelimuti hatinya saat melihat tatapan bintang milik gadis itu, sesakit itukah hatimu, dulu aku masih muda dan tidak bisa bersikap, risa saat itu.....banyak kata kaya yang bersarang di tenggorokannya tapi rendi tidak bisa mengatakannya.


"tidak ada yang berbeda, ini adalah transaksi di antara kita. aku melepaskan ibumu dan kau singkirkan aditama" risa bangun lalu melangkah keluar meninggalkan rendi yang masih termenung, sebelum keluar dari ruangan risa menatap jendela yang tertutup gorden tebal angin dingin masuk dan membuat gorden bergerak ringan, dia mendengus dua kali lalu melangkah dengan santai.