ME And I

ME And I
17 (1)



kenapa menjadi seperti ini?


itu karena risa sudah siap dan sudah tahu rencana apa yang akan di ambil jasmine, apalagi risa yang sudah sering mengalami jebakan dari jasmine, ini seperti dia di paksa memasuki gua yang pernah dia jelajahi, dia tahu,bahwa gua itu gelap dan penuh lumpur, dalam sekali langkah saja risa sudah dapat mencium baunya, risa juga tidak membutuhkan cahaya untuk menerangi langkahnya, karena dia tidak takut tersandung dan terjatuh, dia akan membiarkan dirinya masuk dan bergelung dalam lumpur yang mereka ciptakan, lalu merangkan mencari jalan keluar.


risa menarik napasnya dengan berat, dia membuka matanya dan melihat langit biru tak berujung di atas kepalanya, dia menarik napasnya beberapa kali, menikmati udara segar dan bebas yang memenuhi paru parunya, wajahnya terasa hangat tertimpa sinar matahari yang hangat, risa berbalik dan menemukan seorang pria tengah duduk menatapnya tanpa berkedip, wajahnya sangat serius, rambutnya yang halus terbawa angin kecil melambai lambai ringan di depan risa, alisnya kaku terkunci dengan rapat. membuat kesan wajah seorang pemarah.


"aku baik baik saja, rendi" risa berbicara dengan tenang, ekpresi wajah pemuda itu berangsur angsur tenang, alisnya yang terkunci mulai mengurai.


Rendi menatap risa dengan serius dan merasa bahwa kejadian tadi benar benar menakutkan, saat dia menemukan risa yang bergelung seperti anak kucing di dalam bagasi mobil, rendi benar benar tidak percaya, seluruh tubuhnya seperti di siram air es, membuatnya menggigil dan kedinginan, dia mencoba membangunkannya, tapi risa tetap tidak membuka matanya, membuat rendi merasakan lemas kekuatannya seperti menghilang.


melihat risa yang membuka matanya saat ini, meskipun masih sayu, bibirnya yang pucat berbicara dengan bergetar, rendi benar benar lega, seperti sebuah batu telah di angkat dari dasar hatinya, dia berbalik membelakangi risa, menarik napasnya beberapa kali, menenangkan emosinya yang sepertinya akan pecah. seluruh tubuhnya saat ini bergetar hebat.


risa mencoba bangun, tapi tulang punggungnya terasa seperti jeli, begitu lembek tidak bisa menopang tubuhnya, dia kembali terjatuh seperti anak kucing yang baru lahir yang tidak bisa melakukan apapun, hanya bisa berbaring dan merengek.


rendi yang mendengar itu berbalik dan menemukan risa yang sedang berbaring dengan lelah, wajahnya benar benar pucat tidak ada rona sedikitpun "aku tidak tahu harus berbicara apa tentang ini?" Dia berkomentar dengan tajam, tangannya membantu menarik risa agar bisa duduk. tapi siapa sangka gadis itu menolaknya dan lebih memilih menjatuhkannya tubuhnya kembali di atas rumput. rendi mendengus tidak percaya dengan sikap risa.


risa tersenyum kecil mendengar kata kata rendi yang penuh sarkasme, "tidak ada yang perlu di bicarakan, aku hanya ingin mendengar hasilnya" dia mencoba mencari posisi nyaman untuk tubuhnya. berniat mengumpulkan kesadaran dan kekuatannya.


rendi melotot kecil pada risa, dia benar benar khawatir tapi gadis liar ini.....siapa yang bisa menghentikannya. rendi menarik napasnya dengan pasrah, lalu dia berkata, nada suaranya tinggi "hasil apa? bukankah ini rencanamu sendiri?"


risa memiringkan kepalanya menolak menatap rendi, kedua bola matanya terpejam. dia lalu berbicara dengan tidak peduli, "rencana apa?" cahaya matahari membungkus seluruh tubuhnya, wajahnya sedikit memerah "ini adalah sesuatu yang di rencanakan jasmine" dia kembali berbicara dengan ekpresi tenang yang puas, risa bergerak meregangkan tubuhnya, seperti seekor anak burung yang mencoba merentangkan sayapnya di bawah sinar matahari.


rendi menggelengkan kepalanya, tidak setuju, dia berbicara dengan ekpresi malas "jangan berkilah risa" rendi menggeram kasar.


"Siapa yang berkilah" risa membantah dengan wajah mencibir "apa aku yang merencakan penculikan ini, apa aku yang ingin menjual gadis itu, semuanya bermula dari jasmine" dia membuka matanya lalu menatap tajam pada rendi yang menatapanya dengan ekpresi marah,


"akh benar" rendi menggeram "apa menurutmu jamsine sebodoh itu? apa menurutmu dia sudah tidak waras hingga berani menculik anak mentri?" rendi membentak risa dengan sarkas


risa menarik napasnya, dia memiringkan tubuhnya membelakangi rendi "aku tidak tahu, kenapa tidak beritanya langsung saja padanya, apa otaknya masih berfungsi dengan baik?" risa memejamkan matanya.


'"semua hal pasti ada konsekuensinya" risa menjawab dengan enteng,


rendi menarik napasnya, menghembuskannya dengan keras, terus dia ulangi beberapa kali hingga perasaannya menjadi lebih tenang, dia berkata dengan dingin "bagaiamana caramu menculik gadis itu?" Dia bertanya serius.


risa tidak langsung menjawab, dia sedang memikirkan jawaban yang pas "anak martin yang menculiknya?" Dia memberitahukan lalu berguling guling di atas rumput hijau, rona wajahnya sudah mulail kembali muncul lagi.


rendi menatap risa yang sedang berguling guling di atas rumput seperti seekor anak kucing yang sedang bermain "apa kau bekerja sama dengannya?" matanya mengawasi risa dengan intens.


risa melirik rendi sekilas, tanganya kini mencabuti rumput rumput kecil yang menggelitik lengannya, "mmmmm" dia mengguman dengan tenang "aku memberikan bukti bukti tentang hendra dan martin kepadanya" risa menjawab.


rendi menggelengkan kepalanya tidak percaya, "lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" dia bertanya


risa berguling lagi, dia menatap rendi yang sedang menatap kearahnya dengan serius, matanya yang kecoklatan bersinar terkena pantulan cahaya matahari. Sangat mempesona, risa menarik napasnya dengan ekpresi sayu "aku ingin tidur?" risa menjawab dengan suara setengah sadar.


rendi menatap risa tajam, dia bertanya apa tapi dia menjawab apa "jawab dengan serius apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" rendi masih mengintrogasi risa,


"tidak ada, aku hanya ingin membebaskan martin, aku berhutang banyak padanya" itu benar jika tidak ada melvin bagaimana bisa mereka menculik anak seorang pejabat untuk menjebak panji, jamsine dan senopati. dan juga kasus martin yang dulu risalah yang menuntun bagus hingga dia bisa menjebloskannya ke dalam penjara.


rendi meraih lengan risa dengan keras, "katakan dengan jujur risa" suara dan mata rendi berubah menjadi serius "apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


risa bergerak bangun lalu duduk di sebelah rendi, kepalanya miring satu sisi, bibirnya tertarik dengan pada satu sisi, memberikan kesan sinis yang dalam, matanya cerah dan hidup "apalagi, hanya melihat dan menunggu. semuanya sudah selesai"


rendi berdiri tangannya mengepal dengan kuat, dia membelakangi risa dan menarik napasnya berat "selesai, ini baru permulaan risa? kau pikir mereka orang orang bodoh yang bisa kau tipu?"


"memang kenapa, apa yang bisa mereka lakukan padaku? aku sudah hancur rendi tidak ada yang bisa di hancurkan lagi padaku" risa tersenyum dingin


endi menelan ludahnya getir, melihat sikap kerasa kepala risa yang tidak ada duanya, gadis ini menjebak panji, jasmine dan senopati sekaligus, tidak mungkin tidak ada yang menyadarinya, pergerakan Risa kali ini di ibaratkan seperti memukul rumput, mengejutkan ular.