
Dan dengan itu risa berhasil menjebaknya dan menyuruhnya untuk membantu rencana risa unruk membawa pergi wanita di kamar mawar,
"apa anda masih punya hati nurani?" risa bertanya denga tenang saat melihat ibu leny yang tampak bingung dan ketakutan saat melihat kertas di depannya
ibu leny menelan ludahnya lalu menatap risa dengan getir dia berkata dengan hati yang pahit "menurutmu aku bisa bertahan jika aku tidak bergabung dengan kelompok mereka?"
risa menatap ibu leny, lalu mencibir melihat wajahnya yang menyedihkan "jangan mencari pembenaran, awalnya mahendra adalah anak anjing yang tidak bisa berburu, tapi kalian yang membuatnya menjadi serigala jahat"
ibu leny meremas kertas di tangannya, kenyataannya memang seperti itu,
mahendra pada awal masuk dalam manajemen rumah sakit ini tidak mengerti apapun, dia baru berusia 20 tahun dan masih sangat muda, penuh rasa ambisius dan suka membuktikan dirinya.
Lalu suatu hari seseorang datang dengan rencana busuk dan meminta bantuannya dia menjanjikan kekayaan yang fantastis, dalam hidup ini seseorang selalu punya pilihan, dan godaan yang besar bisa membutakan mata orang orang yang tidak ambisius dan butuh pembuktian diri, dengan dukungan orang orang disisinya dia menyetujui dan menikmati hasilnya, seperti orang yang ketagihan berjudi semakin banyak dan besar tawaran yang datang semakin besar resiko yang di ambilnya, namun semakin banyak pula keuntungan yang di raihnya, mahendra menjadi semakin tidak terkendali dan penuh ambisi, setiap orang yang tidak sejalan dengannya akan menghilang dalam sekejap mata. membuat dia berdiri dalam puncak Rantai orang orang di bawahnya menjilat dan melakukan apapun untuknya,
"tapi apa kami bisa melawannya?"
risa menatap ibu leny yang tampak kuyu dan ketakutan dia mendengus dingin, lupakan saja masalah ini, masih ada mahesa yang akan mengurusnya, dia yakin pria itu datang untuk mengurus mahendra. ngomong ngomong bagaimana keadaan bajingan satu itu? Risa yakin dia pasti selamat, karena orang jahat selalu hidup lebih lama, lupakan mahesa dia harus segera membawa ibu rendi sebelum kejadian yang tidak terduga terjadi padanya.
"pindahkan dia" risa menyuruh dengan santai dia mendorong kursi roda sementara ibu leny mulai melepaskan semua alat alat di tubuh pasien, mereka berdua mengangkat wanita itu dengan mudah dan memindahkannya ke kursi roda
risa menatap ibu rendi dengan tenang, "bawa dia ke tempat yang kau janjikan dan pastikan tidak ada yang curiga" di bawah tatapan dingin dan mengancam risa ibu leny mengangguk dengan patuh. dia mendorong kursi roda dan meninggalkan risa yang masih berdiri dengan tenang,
risa menarik mendorong gorden dia lalu berjongkok dan terlihat beberapa alat kabel yang telah terpasang dengan rapi berjejer menuju sebuah alat kecil, alat itu berupa bom yang terpasang di bawah kasur, risa menarik sebuah koper di bawahnya dan membukanya, bau busuk memenuhi ruangan tapi risa tidak peduli, dia lalu mengeluarkan sebuah tubuh yang telah rusak, dengan hati hati risa meletakannya di atas kasur, risa menatap tubuh yang sudah kaku itu, ini adalah mayat yang di belinya,
risa menata sekali lagi mayat tanpa nama ini, dia berdoa di dalam hatinya berharap bahwa roh pemilik tubuh ini akan tenang, dia segera memasang maskernya dan membetulkan bajunya dengan langkah yang ringan seperti bunga yang terbawa angin risa menutup pintunya, dia berjalan menuju tempat ibu leny dan ibu rendi
langkah risa terhenti dan dia menatap ibu leny yang berdiri di dekat mobil sedan kecil dengan wajah yang kaku, perasaannya menjadi tidak enak,
"semua sudah di atur?"
risa berkata kepada ibu leny yang berdiri dengan posisi kaku, wajah wanita ini terlihat tegang dan matanya sedikit tidak fokus
alis risa terangkat merasakan ada sesuatu yang salah, dia berdiri diam memperhatikan dengan seksama ibu leny .
wajah ibu leny pucat, penuh dengan keringat, dia meremas tangannya beberapa kali, dia melirik risa sebentar sebentar "apa kau tidak akan pergi?" Dia membuka suaranya
jantung ibu leny berdetak, dia menatao risa hati hati "kau harus cepat pergi, sebelum mereka menyadarinya,"
mata risa bersinar dan ada senyum dingin di bibirnya "tidak akan ada yang menyadarinya kecuali ibu leny yang membongkar rahasia ini?"
"tidak tidak tidak" ibu leny membantah dengan cepat "aku sama sekali tidak memberitahukan kepada siapapun" dia memberitahukan dengan sungguh sungguh,
risa mencibir dengan malas "bagus jika ibu leny mengerti, percayalah jika setetes saja rahasia ini bocor, semua yang telah ibu perbuat akan ada meja polisi dalam hitungan detik dan pemberitaan ini aku jamin akan membuat kepala ibu meledak"
"aku mengerti, kau harus cepat pergi?"
"kenapa ibu ingin aku cepat pergi?" risa memasang wajah malas
"aku mengkhawatirkanmu, jika rencanamu gagal semua usahamu ini akan sia sia ..." Sebelum kata katanya selesai ada suara dering telepon yang menganggu, wajah ibu leny menjadi semakin pucat seperti orang yang di tagih hutang.
"angkat" risa berkata dengan dingin dan tegas,
ibu leny menelan ludahnya dan tangannya bergetar dia ingin menekan tanda merah tapi di tahan dengan cepat oleh tangan risa, matanya menatap wajah risa dengan terbelalak dan bibirnya bergetar hebat "itu bukan apa apa?" ibu leny mencicit seperti tikus kecil
risa tidak memperdulikannya dan mengangkat telepon di genggamanya dengan kekuatan yang cukup, matanya melirik ibu leny dingin
"dimana kau, mana gadis yang kau janjikan?"
risa menyeringai dengan bengis lalu menatap ibu leny yang terhuyung huyung seperti di sambar petir.
kepala ibu leny seperti mati rasa dia menatap risa dengan mata terbelalak dan penuh ketakutan, ibu leny tidak butuh kata kata dia hanya perlu melihat tatapan gadis ini, tatapannya benar benar dingin dan aura membunuh terlihat dengan jelas
"kau sudah datang" risa melirik seorang pria muda yang datang,
pria itu mengenakan topi dan wajahnya terlihat samar samar di bawah cahaya bulan yang menyinari, pria itu mengangguk dan menatap risa dengan lembut
"dia ada di dalam, bawa pergi, aku masih memiliki urusan" risa melemparkan kunci mobil sementara tangan satu lagi menarik ibu leny dan menariknya dengan paksa.