
Malam ini hujan turun sedari pagi. Rintik hujan membasahi tanah tanpa henti. Menciptakan lumpur pada lubang lubang jalan. Bau dedauanan terbawa angin dingin di samarkan oleh wangi hujan dan tanah yang basah.
Pada salah satu jalan. Langkah kaki tercipta membelah Malam dingin berkabut. Langkah kakinya mantap dan cepat. Seperti peluru yang di lepaskan. kaki itu berhenti di atas jalan basah, di depan sebuah bangunan tua dia mendongkak untuk melihat tulisan di depan gedung tetesan hujan menutupi sebagai tulisannya. Matanya jernih bersinar seperti bintang saat terkena sinar lampu jalan yang remang remang.
Kafe hers,
Tidak ada pengunjung di dalam Cafe di cuaca yang buruk seperti ini. Saat dia melangkah mendorong pintu. Penjaga di counter langsung bersemangat, karena ada pelanggan.Tapi saat dia bertatap muka dengan pengunjung yang baru saja masuk itu, matanya melebar. Wajahnya langsung pucat dan kata katanya kembali masuk ke dalam perutnya. Rasa mual mendadak muncul di perutnya. Pelayan itu tidak bisa mengangkat tubuhnya dan merasa lemas.
"Ruangan 208"
pengunjung memberitahukan maksudnya. Dia seorang gadis muda dengan suara jernih dan memakai pakaian berwarna hitam dia mengenakan mantel yang memakan semua tubuhnya dan kepalanya tertutup tudung besar. Rambutnya terurai menyembunyikan wajahnya. Hanya terlihat sepasang mata yang bersinar seperti bintang dalam nuansa gelap di tubuhnya.
Pelayan itu masih terduduk. Kesadarannya belum kembali. Dia kembali menatap pengunjung di depannya. Tangannya sedikit gemetar saat menunjuk ruangan di lantai dua. Belum pernah dia melihat yang seperti ini dalam hidupnya.
Bentuk mukanya hancur. Mungkin karena terbakar. Dia hanya bisa melihat sepasang mata dan alis yang lebat yang masih tersisa dari keutuhan dari wajah gadis itu. Sangat di sayangkan sepertinya gadis ini dulu cantik.
Rambutnya halus dan matanya besar, begitu menonjol bersinar terang seperti bintang. Tapi pelayan itu tetap bergidik ngeri saat melihat bekas luka yang memenuhi wajah gadis itu. yah apa gunanya mata terang itu jika dia cacat seperti itu. matanya di penuhi rasa kasihan, jijik saat menatap punggung gadis itu ketika berjalan di tangga.
Gadis itu melangkah dengan tenang. Tidak memperdulikan bagaimana jijiknya wajah pelayan itu saat menatap wajahnya. Dia sudah terbiasa dan hal ini, bukan masalah baginya.
Di lantai dua begitu sepi. Dindingnya berwarna coklat tua dan muda yang di atur indah. bersih dan terawat. Lorong panjang menyambut gadis itu. Matanya mengedar mencari ruangan yang di tujunya.
Bibirnya yang telah rusak setengahnya membaca kembali tulisan di depannya. Kamar 208. Harusnya dia disini. Saat dia mendorong pintu. Ruangan hangat menyambutnya. Rasa dingin di luar ruangan hilang sepenuhnya, Ada kursi tunggal dengan meja lebar dan telepon tergantung di atasnya. Dia melirik sebelah kiri ada kasur berukuran sedang yang masih rapi. Dia melangkah lebih dekat matanya bersinar seperti bintang saat melihat jendela di depannya. Sofa minimalis dan meja berwarna putih menghadap jendela. di atas meja terdapat teko antik yang mengeluarkan uap panas dan dua cangkir teh yang terisi penuh air panas.
Berdiri di dalam ruangan begitu kontras. Sosok pria tinggi kurus yang sedang menatap hujan dari balik jendela. jendela yang di penuhi bulir bulir air. berlatarkan keadaan yang gelap. tampak sedikit aneh untuk latar pria di depannya, pria ini tampak sangat hangat dan tenang dengan pakaian berwarna biru lembut dan celana hitam panjang.
Pria itu berbalik dan menatap gadis itu. Mata pria itu jernih seperti mutiara hitam dan bersinar lembut saat tekena sinar lampu ruangan, alisnya halus sedikit tebal tapi memiliki ujung yang tajam. Hidungnya memiliki tulang tinggi membuatnya tampak menonjol pada wajah kurusnya. Bibir pria itu penuh karisma tapi ujungnya mengerut dingin. dia memiliki senyum hangat tapi saat orang melihatnya mereka akan merasakan dua perasan antara terpesona pada kehangatannya dan ketakutan akan maksudnya.
"Nona risa" suaranya tenang dan mengalir. Dia melangkah dan duduk di kursi. Matanya sekali lagi melirik gadis di depannya. Pikirannya bertanya tanya tapi dia hanya menyimpannya di dalam pikirannya?
Pandangannya acuh tak acuh tampak tidak jelas. Tapi itu yang membuat gadis di depannya waspada. Sikap acuh tak acuh miliknya hanya kamuflase di permukaan. Seperti singa yang tenang yang sedang mengintai mangsanya dari jauh.
Risa berjalan mengambil tempat di sebrang pria itu dan membuka tudung di kepalanya. Jejak terbakar memenuhi mukanya. Membuatnya tidak bisa terlihat jelas dan normal. Tapi bekas hidung tinggi dan dagu lancip itu masih ada. Sepertinya dulu gadis ini memiliki wajah yang bagus. Pria itu meringis di dalam hati melihat wajah cacat itu. Tapi rasa penasaran lebih mendominasi, dia penasaran dengan maksud gadis ini mencarinya.
"Tuan mahesa"
Pria itu tersenyum kecil saat mendengar suara gadis itu. Ini adalah suara yang menarik dan tenang. Seperti air jernih yang mengalir tanpa hambatan. Tangannya menggosok dagunya dengan pelan. Sedikit percikan api hadir pada matanya yang jernih
"Hal menarik apa, yang membuat nona risa, datang mencariku?" Pria itu bertanya dengan lembut. Matanya menatap gadis itu tenang. Sikapnya begitu tenang, dia seperti berasal dari keluarga yang mengetahui tata krama. Dia Tidak tampak jijik ataupun enggan seperti pelayan di bawah tadi saat melihat wajah cacat gadis itu. Baginya itu adalah pemandangan yang normal atau mungkin dia pandai menyembunyikan ekpresi wajahnya?
"Aku ingin meminta tolong" risa membuka mulutnya dan menatap langsung pada mahesa
Mahesa yang sedang duduk dengan nyaman, melirik risa dengan sekilas ada ekpresi malas pada wajahnya, apakah dia memiliki wajah penuh belas kasih hingga orang tidak di kenalnya berani meminta tolong padanya? dia berbicara dengan dingin "apa yang dapat saya bantu?" Mahesa mengambil cangkir di depannya dan menegak tehnya dengan elegan.
Risa menatap mahesa dengan tenang. Tapi hatinya sedikit gelisah, kata kata mahesa sopan tapi nadanya dingin, membuatnya tidak bisa mengerti apakah mahesa bersedia membantunya atau tidak. Dia menekan perasaannya dan melanjutkan kata kata yang sudah di rencanakannya "hanya hal kecil" risa menjawab tenang, "Tuan mahesa tidak perlu takut, aku tidak meminta tolong dengan tangan kosong" dia buru buru berkata. Matanya menatap mahesa lalu menatap cangkir di atas meja. Permukaan airnya tenang seperti ekpresi mahesa.
Mahesa menatap risa mencoba mencari tahu maksud kata kata gadis itu "hal kecil apa yang perlu bantuanku, dan apa yang ingin nona berikan padaku?" Dia bertanya sambil meneguk kembali tehnya. rasa hangat mengalir di tenggorokannya
Risa mengambil cangkir di meja dengan tenang dan menyeruput tehnya. Bibirnya yang rusak dan kering tersenyum dingin di atas permukaan cangkir yang sedikit hangat. Dia kemudian menatap mahesa dan berkata rendah "aku ingin melakukan operasi plastik untuk wajahku" dia meletakan cangkir tehnya. suaranya mantap tapi matanya bergerak ragu ragu.
Mata mahesa sedikit kabur sebelum perlahan lahan menjadi lebih jernih, dia menatap risa dari dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tubuh gadis ini begitu kurus dan matanya begitu menonjol di antara wajahnya yang rusak. Tampak sangat menyedihkan seperti kucing kecil yang penyakitan dan butuh pertolongan "itu hal yang mudah" mahesa berkata ringan dia merasa ini masalah sepele, tapi bagi mahesa transaksi adalah sebuah keuntungan jika pihak lain tidak bisa memberikan manfaat dia tidak akan memandangnya "tapi apa yang nona risa berikan padaku adalah jawaban dari transaksi kita hari ini" dia memberikan kesempatan.
Punggung risa terasa panas saat melihat tatapan mahesa. di dalam Matanya tersimpan kobaran api, panas dan siap membakar. Risa mencengkram ujung pakaiannya lalu tersenyum kecil dan mengatakan fakta yang telah di ketahuinya "Nyonya Bhaskara adalah anggota black king"
Mahesa merasakan lonjakan di hatinya saat mendengar informasi yang di berikan gadis itu. Dia menatap gadis itu beberapa saat seperti mencari sesuatu, hatinya menjadi bingung, darimana gadis ini mengetahui informasi seperti ini? Insting waspadanya langsung bangun "informasi ini, kenapa nona risa memberitahukannya kepadaku" dia terus menatap risa tanpa berkedip.
Risa melirik mahesa dan melihat sikap waspada pihak lawan. Jika dia menjadi mahesa, dia juga pasti akan waspada. Rahasia yang dia ungkapan sangat rahasia dan telah terkubur begitu lama. Bahkan anjing pelacakpun tidak akan bisa menciumnya. Risa menyadari bahwa mahesa bukanlah orang yang mudah menelan kata kata seperti angin kosong. Dia adalah orang jenius yang dapat mendengar satu kata dan menangkap sepuluh jenis maksudnya.
Pria ini mungkin dari luar terlihat seperti pria yang hidup sesuka hatinya dan selalu mengandalkan kekuasaan keluarganya untuk mendukungnya. tapi bagi orang orang yang mengenalnya mereka tahu mahesa seperti apa, dia adalah pria yang tanpa ampun. Mahesa adalah tipe singa gunung yang menjaga zona teriotalnya dengan jelas, tapi saat ada yang mengusiknya dia akan langsung menjadi ganas dan buas.
Membuat tindakan atau memberikan informasi yang mencurigakan di depan mahesa sama seperti membangunkan singa yang sedang tertidur. Risa merasakan bibirnya kering dia kembali menatap mahesa dan mengeraskan hatinya saat melihat wajah tampan pihak lawan.
dia tidak punya pilihan lain. ini adalah satu satunya jalan agar dia bisa memperbaiki wajahnya dan menyusun rencana untuk orang orang yang telah membuatnya menderita "aku mendengar dari tuan tenggara, bahwa tuan sedang menyelidiki nyonya bhaskara. Aku kebetulan mengenal salah satu temannya dan secara tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tentang black king" saat mengucapkan kata katanya, risa terus berdoa di dalam hati agar mahesa mempercayai kata katanya. Meskipun dia tahu bahwa kemungkinannya sangat kecil. Dia melirik cangkir di depannya dan berharap pikiran mahesa setenang air di dalam cangkir.
Mata mahesa masih jernih saat melihat risa. Tidak ada jejak ekpresi apapun di wajahnya tapi risa merasa tercekik. rasanya di balik ketenangan mahesa terdapat badai mengerikan. Risa terus meremas tangannya dan masih melanjutkan berdoa di dalam hatinya.
Risa melirik mahesa sebentar dan merasa kedinginan saat melihatnya senyuman mahesa dia meremas bajunya sebelum mengangguk "betul tuan gara dari capital group" dia menunduk tidak berani menatap mahesa.
mahesa menarik napasnya. Bahkan gadis ini mengetahui nama panggilan Tenggara. kemungkinan besar yang di katakan gadis ini benar. perutnya terasa panas saat memikirkan kata kata risa tadi "Darimana kau mengenalnya?"
Risa menarik napasnya, "ayah saya dulu adalah satpam di capital . Tuan gara pernah melihat saya dan merasakan kasihan, jadi dia sering membantu saya" dia memberikan alasan dengan lugas.
Risa mencoba menghilangkan rasa bersalahnya untuk gara karena berbohong dan menyeret namanya. tapi saat ini hanya cara ini yang terpikirkan olehnya. dia harus mengarang cerita yang sedikit memberikan fakta agar mahesa percaya. mahesa dan gara adalah teman. jadi pasti mahesa pernah membicarakan masalahnya kepada gara.
"Lalu, orang yang berbicara dengan nyonya bhaskara?" Mahesa mengangkat alisnya saat mendengarkan penjelasan risa.
"Ibu saya dulu bekerja dirumahnya" risa menjawab cepat, kepalanya menunduk tidak ingin mahesa melihat wajahnya "sebagai pembantu" dia menambahkan buru buru.
Tangan mahesa terkepal disisi tubuhnya dia menatap risa yang masih menunduk dan merasa sedikit simpati. Dia mungkin orang yang keras dan tidak membiarkan siapapun menggertaknya. Tapi dia juga bukan orang berhati batu yang menutup mata pada penderitaan orang orang lemah.
"Apa kau akan memberi tahu siapa orang yang kau bicarakan tadi?"
Risa mengumpati pria di depannya di dalam hati. Mahesa benar benar teliti dia bahkan tidak membiarkan hal hal apapun yang lewat di depan matanya lolos begitu saja. risa tidak bisa berpura pura terus mahesa bisa curiga. lebih baik sekarang membuat kesepakatan.
Risa mencoba menahan agar matanya tidak berputar dan menatap mahesa dengan lemah dan berkata takut takut "saya akan memberitahukan, jika tuan setuju dengan permintaan saya" dia memberikan penawaran dengan hati hati.
Mahesa tertawa dingin melihat keberanian yang datang pada risa dia berkata dengan rendah "nona, yang kau minta itu mungkin saja akan membuatku bangkrut. Aku tidak mungkin membiarkan informasi yang kutukar dengan mahal lewat begitu saja" mahesa menekan kata katanya untuk memperingatkan risa.
Risa mencibir di dalam hatinya, bangkrut?hanya saat tuhan ingin mahesa bangkrut maka itu akan terjadi. Bahkan jika mahesa ingin membeli setengah dunia dia bisa mendapatkannya tanpa perlu memikirkan hari esoknya "jika tuan benar benar setuju. Aku akan mengatakannya" risa berbicara dengan penuh semangat matanya menunjukan keteguhan yang jelas.
Pandangan mahesa menjadi dingin dia menatap mata risa yang penuh keteguhan seperti gunung batu, dia mengerutkan bibirnya dan merasa agak merepotkan jika terus dalam keadaan seperti ini "Katakan dan aku akan setuju" dia berbicara dengan setengah hati.
Bibir risa yang rusak tertarik puas "Tuan bisakah anda memberikan uang Cash kepada saya?" dia bertanya sekali lagi dan menatap penuh harap pada mahesa. dia bersikap seperti gadis kecil yang meminta permen pada pamanya.
Mahesa mengerutkan keningnya dan berkata dengan tidak senang "nona muda, kenapa kau banyak sekali permintaan? aku hanya memintanu menyebutkan sebuah nama, bukan untuk membawa orang itu ke ke depan mataku?" Gadis kurus ini kenapa jadi kurang ajar seperti ini. Jika dia bukan wanita mahesa pasti sudah memukulinya.
Risa menelan ludahnya dan menahan rasa jengkel di hatinya "setelah melakukan operasi saya benar benar ingin mengubur masa lalu saya dan semua riwayat hidup saya. Jika tuan mengirim lewat bank dan suatu hari tidak puas dengan saya. Saya takut tuan akan mencari tahu tentang saya" risa memberikan alasan yang aneh, tapi itu terdengar masuk akal.
Mahesa merasa tidak yakin dengan pendengarannya dia menatap risa dan melihat pandangan penuh harap gadis itu padanya. mata gadis itu cerah dan sedikit berair tampak seperti mata anak kecil yang berharap di belikan perman. perasaan mahesa menjadi tidak enak. kenapa dia merasa bahwa dia adalah penjahatnya? bukankah dia yang sedang di peras. hatinya menjadi jengkel saat memikirkannya. Ini terlihat seperti dia sedang menindas orang lemah. "Baik, tuan andi berikan dia uang" mahesa meraung marah.
Seorang pria sepantaran mahesa datang dan membawa koper hitam. Koper ini mahal dan bagus. Mata risa menatap penuh harap pada koper yang di taruh di atas meja dan sudah tidak sabar membawanya ke pelukannya. Dia tidak peduli bagaiamana wajah rupawan tuan andi ataupun wajah seksi mahesa. Baginya uang lebih rupawan dan menggoda. daripada dua pria panas di depannya.
"Tuan...."
"Jika kau mengajukan permintaan lagi. Uang ini akan berkurang setengahnya" mahesa langsung mengancam risa. Dia sudah hampir kehilangan kesebarannya.
Risa menggeram marah di dalam hatinya saat melihat kesabaran mahesa yang bagai benang tipis. "Aku ingin memberitahukan nama itu" dia berkata jujur
Mahesa mengangguk dan menahan perasaan dongkol di hatinya "baik, sekarang sebutkan nama bajingan yang berharga miliaran itu" kesabaran mahesa sudah di ujung kuku.
Risa menatap mahesa beberapa saat, berpikir haruskah dia memberikan jawaban yang salah. informasi ini sedikit berharga dan mungkin dia bisa menjualnya suatu hari kepada pihak lain. tanganya menatap koper yang berisi uang, dia tahu uang bukan masalah untuk mahesa tapi jika mahesa tidak senang dengan idenya mahesa pasti tidak akan melepaskannya. ini sama saja seperti membiarkan dirinya menjadi kelinci yang harus di buru oleh anjing. tangan risa bergetar ketakutan "Tuan handika, dari legas" risa berkata jujur dan yakin. dia melihat kanan kiri, takut tiba tiba ada polisi yang datang dan menangkapnya karena dia sudah mengungkapkan nama nama terlarang.
suara hujan di luar teredam. tapi malam semak mencekam. udara dingin berhembus dengan kencang. suasana di dalam ruangan seperti berada di luar ruangan begitu dingin dan mencekam. mahesa menatap risa dengan serius. Dia seperti ingin berbicara tapi tidak melakukannya. matanya bergerak melirik tuan andi yang berdiri di depannya. Wajah tuan andi tanpa ekpresi tapi matanya menjadi dingin. Pikiran mereka berdua sama. Sama sama ingin menghabisi rubah tua itu.
Risa merasakannya dan menatap dua orang di depannya hati hati. wajah mereka menjadi merah pekat dan aura pembunuh menguar terus menerus. di masa depan risa berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan dua orang ini. berurusan dengan mahesa dan tuan andi sama saja menciptakan lubang tanpa dasar. mahesa sombong dengan kekuatannya dan tuan andi licik dengan pikirannya. mereka kelompok yang sempurna untuk menyapu lawan lawan mereka. ini seperti singa dan serigala yang sedang berburu bersama. kekuatan dan kekejaman tanpa batas. semakin lama melihat ekpresi lawan perasaan mahesa menjadi semakin tidak tenang. dia ingin segera angkat kaki dari wilayah singa ini.
Mahesa menarik sudut bibirnya dan hatinya menjadi dingin dia benar benar tidak sabar untuk membuat rencana yang menyenangkan untuk orang orang itu. Apakah dia harus memberikan racun atau membunuhnya dengan pistolnya. Atau mahesa bisa membuatnya bangkrut dan membuatnya menderita sebelum memberikan pembalasan terakhir.
"Tuan"
suara risa datang dan membuyarkan semua rencana di kepalanya. Mahesa menatap risa dingin dan sudah siap menerjangnya untuk memukulinya jika saja dia tidak melihat mata bintangnya yang polos.
tuan andi yang melihat itu mengangkat alisnya. dia memandang risa dengan ekpresi aneh. apakah gadis ini bodoh? atau dia tidak peka? daritadi dia terus menerus memprovokasi kesabaran mahesa. apa gadis ini tidak tahu bahwa orang yang di ganggu nya adalah macan tutul?
Risa menelan ludahnya melihat tatapan membunuh mahesa dia berkata dengan ragu "bisakah aku mengambil uangnya dan pergi dari sini?" matanya terpancang pada koper di atas meja dengan serius.
Mahesa masih menatap dingin sebelum berkata kepada tuan andi dengan marah "bawa dia keluar" mahesa melambaikan tangannya dan segera memerintahkan mereka pergi dari harapannya.