
ibu leny tidak tahu mengapa tapi dia di lemparkan seperti kucing oleh risa dengan kejam, tubuhnya kesakitan tapi dia benar benar ketakutan saat melihat tatapan mata yang seperti pedang itu, tubuhnya menggigil dan dia berdoa di dalam hatinya bahwa gadis ini tidak akan benar benar membunuhnya. dia yakin jika risa ingin membunuhnya tidak akan ada yang bisa menahannya.
"Tuan Mario, apa anda mengenalnya?"
mata tuan Mario melotot ganas, dengan gemetar dia bergegas bangun dan ingin menerjang risa, giginya yang kuning menyeringai menakutkan seperti hewan keji dan matanya penuh dengan kemarahan.
mata risa menatap mereka dengan malas, lalu tanpa segan segan dia menendang tuan Mario membuat tubuhnya terhuyung huyung dan terjatuh di atas lantai, ibu leny menjerit seperti tikus dan menatap risa dengan gemetar, bahkan gadis ini berani melakukan hal seperti ini, dia benar benar tidak menyangka "apa yang kau lakukan?" Dia merangkak mendekati tuan Mario yang masih menjerit seperti landak yang di tusuk tusuk oleh besi.
"kenapa? ini tidak seberapa dari perbuatan kejam kalian" risa bergerak lalu dengan sengaja menginjak kaki tuan Mario yang terluka "kaki ini" risa menambah kekuatan kakinya saat dia ingat bayangan alisa tegelatak di lantai dingin dan pria busuk ini menginjaknya dengan keji, risa menatap ke bawah dengan pandangan puas saat melihat tuan Mario yang kesakitan.
Tuan Mario meraung seperti hewan sekarat di tengah kegelapan malam, dan ibu leny terus memohon agar risa berhenti, risa mendengus dingin, dia berjongkok di depan ibu leny, menatap wajah ibu leny sebentar lalu mengalihkan pandangannya untuk melihat tangannya yang memeluk tubuh tuan Mario. mereka benar benar pasangan yang serasi, yang satu penjahat gila, yang satu penjahat tidak tahu diri.
baiklah saatnya untuk memecah sekutu ini, dan membuat pasangan ini saling mencabik cabik. biarkan anjing dan kucing ini saling mencakar, biarkan mereka menjadi musuh yang bertarung sampai mati.
"ibu leny" risa menyeringai sinis di depan wajah ibu leny yang pucat dan lelah, tidak ada lagi wajah sombong penuh intimidasi di wajahnya seperti biasanya "apa ibu mengenal pria yang anda peluk ini?" risa bertanya dengan mata secerah bintang, memantulkan wajah ibu leny yang pucat penuh dengan kengerian.
ibu leny merunduk menatap tuan Mario sekejap, dia tidak mengerti dengan pertanyaan yang di ajukan risa dan dia tidak tahu harus menjawab apa. dia dan tuan Mario pada awalnya adalah atasan dan bawahan, lalu mereka terikat dalam kelompok mahendra, sering bersama sama, membuat mereka menjadi lebih peduli dan pada akhirnya berubah menjadi sepasang kekasih rahasia, meskipun tuan Mario sudah menikah dan memiliki sifat jahat ibu leny bersedia menjadi kekasihnya. dia perlu uang Mario untuk keluarganya dan juga untuk suaminya yang kini terbaring di ranjang rumah sakit. tangannya gemetar menantikan kata kata risa selanjutnya dan dia mencengkram lengan tuan Mario dengan lebih erat. mencari perlindungan.
"aku lupa memberitahu ibu, kecelakaan suami anda" risa menikmati mata ibu leny yang melebar karena kegelisahan dan ketakutan "pria yang anda peluk adalah dalangnya" risa tersenyum bengis di depan wajah ibu leny,
ibu leny seperti seseorang yang baru saja mengalami badai paling dahsyat dia menatap risa dan tuan mario bergantian dengan pikiran kosong "apa yang kau katakan?" suaranya sangat jauh,
risa memasang wajah cemberut "Tuan Mario, bagaimana anda bisa lolos, saat kebakaran di rumah sakit ini lima tahun lalu?" risa menatap tuan Mario yang juga sama tercengannya dengan ibu leny, risa bangun dan berdiri dengan dingin di depan mereka,
Tuan Mario dengan bibir bergetar ingin membuka suaranya tapi risa tidak akan membiarkannya, dia sudah malas mendengar kata kata munafiknya. dengan kejam dia menekan kembali lukanya, membuat tuan mario menjerit kesakitan dan tidak dapat berbicara sedikitpun, "anda dan teman teman anda memukulinya seperti dia adalah binatang yang tidak berharga, setelah itu anda dengan kejam melemparkannya ke dalam air dingin" ada sedikit senyuman kasihan di bibir risa, matanya bersinar dalam kegelapan malam.
risa membeberkan fakta yang di ketahuinya dengan sangat jelas, bajingan gila ini membunuh orang orang yang mengetahui tentang pembakaran rumah sakit ini lima tahun lalu, salah satu orang yang harus di bungkam, adalah suami ibu leny yang bertugas sebagai perawat di kamar jenazah. namun suami ibu leny tidak meninggal dia mengalami koma, keadaan yang sama sama tidak menguntungkan. baik mati ataupun koma dia tidak bisa bangun dan membalas dendam.
tubuh ibu leny seperti di setrum listrik dengan kekuatan yang penuh, matanya melebar seperti melihat anjing sakit, dia merasa jijik saat dia menatap tuan mario yang tertidur dalam pangkuannya "apa yang dia katakan?" Dia berkata dengan suara gemetar yang hebat,
Tuan Mario bergerak pelan "itu...itu suamimu kecelakaan" dia tidak berani menatap mata ibu leny, pikirannya penuh pertanyaan, tapi yang paling membekas di pikirannya adalah bagaimana gadis ini mengetahuinya, rahasia ini sudah tersimpan bertahun tahun lamanya. tapi kenapa gadis ini bisa menggalinya.
fakta apa ini, suaminya, suaminya suaminya, tubuhnya bergetar hebat dan ibu leny tidak bisa menahannya lagi
risa tersenyum miris melihat pemandangan di depannya "menurutmu, kenapa Mario mendekatimu? itu karena dia ingin mengawasi suamimu, selama suamimu tidak dapat bangun semua rahasianya aman" kata kata ini menjadi pukulan kembali bagi ibu leny yang masih mencoba mencerna keadaan gila di depannya.
"kau...apa yang....bagaimana bisa?"Dia bertanya dengan geraman seperti seekor singa betina yang sedang terluka, dia menatap tuan Mario dengan ngeri dan penuh penghinaan, "kau yang mencelakai suamiku?" Dia bangun seperti orang kesurupan dan bergegas menerjang tuan Mario seperti orang gila "kau....kau, aku membantumu, melindungimu dan mendukungmu agar semua usahamu lancar," dia memukuli dan mencakar tuan Mario tanpa di tahan tahan.
"berhenti...berhenti, berhenti, apa yang kau lakukan, suamimu terlalu banyak ikut campur" Tubuh tuan Mario berguling ke kiri dan ke kanan dengan lemah menghindari cakaran ibu leny yang ganas.
"apa yang telah aku lakukan? aku bahkan membantumu!!! untuk menangkap gadis gadis Malang itu" ibu leny meraung dengan jijik dia terdorong dengan keras dan hampir menabrak rak rak kecil, tubuhnya bergetar dengan hebat.
"leny, jangan sok suci" Tuan Mario mencibir dingin, tangannya mengelus rambutnya yang sakit akibat di jambak ibu leny "kau yang menyerahkan mereka padaku, kau juga selalu berkata bahwa suamimu tidak sehebat diriku...."
seperti api yang di siram bensin, kemarahan ibu leny meledak hebat, dia berlari seperti singa betina yang ingin balas dendam dengan kekuatan penuh "kau iblis mengerikan! harusnya aku tidak mempercayaimu, bajingan gila! kau harus mati, neraka tempat yang pantas untukmu!" setiap kata umpatan dan makian semakin lama semakin liar dan tidak terkendali, tuan Mario hanya bisa merintih dan menghindar dengan lemah dari pukulan dan cakaran ibu leny.
risa menatap mereka berdua dengan jijik perutnya terasa mual, dia mencibir pasangan yang bergulat di depannya "ibu leny, bagaimana perasaan anda, anda memberikan tubuh dan hidup anda untuk pria yang mencelakai suami anda sendiri?"
Kata kata ini seperti menampar ibu leny, dia berhenti lalu melangkah mundur dengan lemah, dia masih meraung mengenaskan tangannya mencengkram dadanya, kekuatannya hilang seperti terbawa angin, dia terduduk di lantai dan dia hanya bisa merintih dengan penuh air mata.
"Aku....aku...suamiku" hanya kata kata itu yang bisa dia ucapkan, suaminya yang malang, dia menatap tuan mario yang mengenaskan, bajingan gila ini, dia ingin mencekiknya, memukulinya lalu melemparkannya seperti yang di lakukannya kepada suaminya, ibu leny bangun dan siap menerjang kembali tuan mario.
risa menghentikannya, dia menekan ibu leny ke lantai dengan kekuatan penuh "kenapa kau harus memukulnya, aku punya cara yang lebih efektif untuk bajingan satu ini" risa berkata dengan sungguh sungguh.
ibu leny menatap risa dengan dingin, matanya menyala seperti kobaran api, "aku ingin membunuhnya" dia meraung seperti guntur, hatinya penuh api. semua kedekatan mereka menghilang seperti kertas yang terbakar api menjadi abu yang tidak berharga.
risa menatap ibu leny miris, benar benar pasangan yang palsu "kau bisa membunuhnya, tapi itu terlalu mudah baginya, dia harus menderita dulu. kenapa kau tidak memberikannya kepada pihak yang pantas?"
"aku tidak ingin dia masuk ke kepenjara dia masih bisa lolos" ibu leny mendengus dengan dingin, bajingan ini memiliki banyak akal busuk dan mahendra pasti akan membantunya.
serahkan saja bajingan satu ini kepada mahesa untuk di cabik cabik, bagaimanapun kecelakaan lima tahun lalu membunuh ibunya, mahesa lebih berhak untuk menghukum bajingan gila ini.
Tuan Mario dan ibu leny sama sama tercengan, mereka menatap risa dengan tidak percaya. mahesa darimana gadis ini memiliki ide gila seperti ini?
"Apa yang kau katakan?" Tuan Mario berteriak ketakutan, jika dia di serahkan pada mahesa dia sama sekali tidak akan bisa lolos, mahendra tidak akan menyelamatkannya
ibu leny tampak kembali hidup, dia menatap tuan mario yang menggeliat seperti cacing di lantai, matanya penuh kepuasan dan dia sama sekali tidak sabar untuk menginjak Nginjak tubuh tuan Mario, dia menggertakan giginya dengan marah saat bayangan suaminya yang tergeletak tidak berdaya "bagus tentu saja, ini lebih baik, mahesa, aku mendengar dia lebih kejam dari mahendra" dia berseru penuh semangat seperti menemukan pemburu saat melihat hewan buas.
risa mendengus pelan, lebih kejam dari mahendra, mahendra bukan tandingan mahesa, mahendra hanya anak ayam yang bersembunyi di sayap induknya, sedangkan mahesa jelas jelas singa muda yang buas, jika bukan karena nyonya bhaskara, mahendra tidak akan bisa melebarkan sayapnya "percayalah, mahesa tidak akan mengecewakan anda"
ibu leny menatap tuan mario yang mengenaskan dengan rambut berantakan, bekas cakaran memenuhi sekujur tubuhnya "aku ingin dia mendapatkan karma yang setimpal!" dia memggertakan giginya penuh dendam,
"dia tidak akan selamat" risa berkata dengan suram, mahesa pasti tidak akan melepaskan Mario, siapapun yang mengganggunya tidak akan berakhir baik, "Sekarang aku ingin ibu melakukan sesuatu untukku" risa memasang wajah serius
"Apa yang kau inginkan, aku akan melakukan apapun" ibu leny berjanji dengan wajah yang sama serius
benar benar penjilat risa tersenyum jijik, matanya sangat dingin saat menatap ibu leny yang tidak sadar "katakan semua yang kau ketahui pada mahesa, dan juga semau berkas yang aku serahkan waktu itu"
"itu...bukankah semua rahasiaku" ibu leny berkata ragu ragu,
risa meremas tangan ibu leny dengan sedikit kekuatan, tubuh ibu leny menyusut seperti burung "Semuanya berawal dari anda, rantainya tidak berawal dari puncak, rahasia yang anda tukar, bisa menyelamatkan nyawa anda" risa berkata tanpa beban
seperti orang disihir ibu leny mengangguk patuh, dia mengumpulkan berkas berkas yang di lemparkan risa lalu menyeret tuan Mario yang hampir pingsan.
mahesa duduk dengan wajah tenang, matanya bersinar seperti mutiara langka di malam hari, bibirnya tampak tertarik dengan lembut, membentuk senyuman yang indah. Dia tampak sangat menikmati, mendengarkan dan melihat pertunjukannya di depannya, tidak ada gurat kemarahan ataupun kekesalan. meskipun semua yang terjadi di depan matanya berhubungan dengan dirinya.
"apa yang akan kau lakukan?" Tuan andi berkata dengan ragu ragu, meskipun mahesa tampak tenang tapi sebagai orang yang sudah mengetahui luar dan dalamnya, tuan andi mengenal sifatnya dengan jelas.
mahesa mungkin tampak tenang dan santai, tapi percayalah otaknya sama sekali tidak santai, pikirannya di penuhi rencana rencana keji dan busuk untuk orang orang yang mengganggunya.
"menurutmu, apa aku harus mengurusnya?"
"tentu saja, kita datang kesini untuk melacak kasus ini" Tuan andi menjawab dengan cepat.
mahesa mencibir sambil menatap gadis mungil yang masih berdiri dalam kegelapan, sosoknya tampak rapuh dan lemah, tapi tindakannya benar benar tidak terduga, dia sudah melihat bagaiamana para gadis bersikap, dari yang mandiri, lemah lembut dan agresif, sikap sikap ini sangat banyak. hanya yang seperti ini yang baru di lihatnya, kejam, tenang dan akurat, seperti prediksinya, gadis ini adalah hewan buas yang bersembunyi dalam kegelapan dan bersiap menunggu mangsanya
"ada dua kemungkinan kenapa dia menyerahkannya padaku" mahesa berkata dengan tenang, tapi matanya sama sekali tidak lepas dari gadis itu, dia berharap masker itu segera lepas dari wajahnya agar dia bisa mengetahui siapa sosok gadis ini.
"dua" Tuan andi mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya dengan bingung, dia juga menatap ke arah risa dan memiliki harapan yang sama seperti mahesa ingin melihat rupa gadis itu.
mahesa menatap tuan andi malas, "pertama dia melemparkannya padaku, karena dia mengetahui rahasia kematian ibuku dan berpikir aku lebih pantas untuk menghukum mereka" dia menjelaskan dengan tenang dan santai, ada sedikit rasa pahit di hatinya
"Lalu yang kedua" Tuan andi masih menatap mahesa bingung.
wajah mahesa tampak hidup matanya bersinar jelas "yang kedua, dia melemparkan masalah ini padaku, karena dia tidak ingin orang orang mengetahui bahwa dialah yang sudah membuka kedok mereka, dan ingin kita membereskannya, dia datang kemari dengan rencananya sendiri" kata katanya ringan, seperti angin dari musim semi.
Tuan andi bergerak menatap gadis di depannya dengan takjub, dia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis ini melemparkan mario kepada mahesa dengan tujuan seperti ini "dia ingin cuci tangan." Tuan andi berkata sambil mundur tanpa sadar. pantatnya sudah mati rasa akibat terlalu lama duduk di lantai dingin
mereka sama sama bangun saat melihat tubuh risa yang menghilang dari dalam ruangan, perasaan mereka menjadi hampa dan ada rasa kosong di hati mereka masing-masing. merasa bahwa mereka masih ingin menikmati apa yang akan dilakukan gadis ini, mereka masih penasaran dan merasa ketagihan dengan sesuatu yang menarik ini, jarang sekali bagi mereka untuk menemukan sosok seseorang yang menarik seperti ini.
"aku akan mengurusnya" mahesa memutuskan dengan tenang setelah beberapa saat, matanya menatap kejauhan dengan dalam dalam
"tidakkah itu akan merugikan kita"
mereka tidak tahu seberapa parah dari rencana gadis ini, kini dia melemparkannya pada mereka untuk membereskannya, bahkan dia masih menggunakan tangan orang lain untuk berurusan dengan mahesa.