
seperti menunggu ikan dari hasil pancinganya, risa masih menunggu langkah apa yang akan di ambil jasmine selanjutnya, melihat sikap jasmine dia tahu, jasmine tidak akan pernah melepaskannya, di kepalanya yang cantik tapi sombong itu pasti penuh dengan pikiran pikiran busuk untuk menyingkirkannya, itu bagus semakin gila rencana jasmine semakin besar bayaran yang akan di dapatkannya.
handphonenya berdering mengalihkan semua pikirannya, risa melihat pesan yang di kirim untuknya, dia membacanya dengan tenang.
matanya yang seperti bintang bercahaya, bibirnya tertarik sempurna membuat senyuman yang cantik, tapi senyum itu tidak memiliki kesan menyegarkan senyum itu penuh godaan dan tipuan, risa merunduk, menatap bunga bunga plastik di depannya, bunga itu berisi tiga buah bunga berbeda warna, yang pertama berwarna putih, tampak lembut dan polos, bunganya mekar dengan cantik tapi di tengahnya terdapat bintik bintik hitam, yang kedua berwarna kuning cerah tapi tangkainya kecil tampak rapuh dan mudah patah, yang terakhir yang paling atas berwarna biru, risa menatapanya dengan seksama, cantik tapi tidak menarik, tangannya yang lentik memilih milih bunga bunga cantik itu, memainkannya dengan tenang "satu di petik, satu di rontokan dan satu lagi apa yang harus kulakukan untukmu?" risa berbisik di depan bunga biru itu seolah olah merasa bahwa bunga biru itu bisa mendengarnya,
"kenapa kata katamu sangat mengerikan?"
giny yang sejak tadi duduk di sebrang risa menatapnya dengan ngeri, gadis di depannya, risa sejak dia datang hanya duduk diam, sesekali mengecek handphonenya, namun sekali dia membuka mulutnya, kata katanya hanya ingin menghancurkan bunga di depannya, giny tahu arti kata kata risa mengandung maksud lain, bunga bunga itu hanya perumpamaan saja,
risa berbalik dengan wajah cerah, matanya yang jernih tampak hidup, bibirnya kemerahan tampak manis dan segar, dengan dagu yang cantik, rambutnya yang hitam lebat, dia kuncir dengan tinggi, membuat dahinya terekpos, anak anak rambut yang terlepas dari kuncirannya menambah kesan manis pada wajahnya, penampilannya benar benar polos dan menggemaskan jika dilihat dalam sekali tatapan. tidak akan ada yang menyadari sikap kejam dan dinginnya sama sekali.
"apa rencana jasmine selanjutnya?" risa bertanya tiba tiba saja
kening giny mengerut mendengar pertanyaan risa yang tiba tiba, perasaannya menjadi bersemangat, apa risa akan mulai menyerang jasmine lagi, waw giny benar benar tidak sabar, akhirnya dia bisa melihat jasmine yang menderita lagi, giny benar benar menyukai cara risa dalam menangani jasmine, dan dia memberikan beribu cinta di hatinya untuk otak risa yang encer ini.
Giny menyukai, bagaimana cara risa membuka belang jasmine dengan rapi membuat orang orang kini mengetahui seperti apa busuknya gadis jahat itu, reputasinya yang sempurna tercoreng, dan orang orang di belakang menggunjing dan mencibirnya karena sikapnya yang begitu arogan dan semena mena "gadis itu tidak akan berhenti?" giny benar benar kagum, jasmine padahal dia benar benar terus menerima paku dari serangannya sendiri, tapi masih saja ingin bersikap jahat kepada risa gadis itu, dia tidak kapok sama sekali.
"dia tidak akan berhenti, sampai aku hancur" dan aku juga tidak akan berhenti sampai dia hancur. ini adalah permainan antara dirinya dan jasmine, saling bertahan, saling menyerang, tidak akan berhenti sampai pemenangnya keluar.
"aku tidak tahu sebenci apa jasmine padamu? kemarahannya pasti sudah mendidih sekarang" giny bergidik tanpa sadar, dia yang selalu bersembunyi dari jasmine saja masih menderita dengan brutal, apalagi ini risa yang dengan terang terangan memprovokasinya dan jasmine sama sekali tidak dapat membalasnya. kebencian jasmine pasti sudah menggunung, giny menelan ludahnya dengan susah payah lalu menatap risa yang masih asyik menatap bunga di tangannya, tampak asyik dengan dunianya, seperti tidak memikirkan dan memperdulikan masalah apapun, dari luar dia benar benar tampak begitu santai, damai, tenang.
sebenci itukah jasmine padanya, tapi risa tidak peduli karena dia lebih membenci jasmine, kemarahan risa lebih besar untuk gadis, ini belum seberapa, penderitaannya di masalalu bahkan lebih besar dari apa yang jasmine rasakan saat ini. bagaimana jasmine memfitnahnya, melecehkannya, menipunya, menghinanya, ini belum seberapa dari yang pernah di rasakannya karena jasmine "tidak masalah" mata risa terasa dingin tanpa sadar "justru itu bagus, semakin marah dia, semakin menyenangkan permainan ini" ganggu dia, usik dia, buat dia marah dan tidak terkontrol. maka akan semakin mudah menyerangnya "apa kau mengenal panji?" risa menatap giny dengan penuh arti, sudah saatnya bagi risa untuk melibatkan orang orang di sekitar jasmine, sama Seperti dulu, saat gadis itu membuatnya menderita dengan bantuan teman temannya, tenang saja semua yang berhubungan dengan jasmine akan mendapatkan gilirannya, risa berjanji tidak akan melepaskannya, mereka akan mendapatkan balasannya.
giny menelan ludahnya tanpa sadar, saat mendengar nama tidak asing itu, panji, kenapa risa juga mengenalnya. pria itu adalah partner jasmine. giny ingat jasmine pernah membawa pria itu saat akan menyingkirkan seorang gadis yang di bawa senopati, entah bagaimana nasib gadis itu, tidak ada kabar beritanya sama sekali, tapi giny mengetahui dengan pasti bahwa gadis itu pasti tidak selamat. giny sudah sering melihat bagaimana risa menyingkirkan orang orang di sekitar.
panji pria itu adalah seorang petugas resmi yang memiliki jabatan, dia memiliki jaringan luas dan sedikit kebal hukum, sesuatu yang di perlukan jasmine untuk kenyamanan hidupnya "aku ingat, bukankah dia petugas resmi yang memiliki jabatan?" Dia menatap risa ragu ragu
risa mengangguk dan menatap giny puas dengan pengetahuan gadis itu "betul, jasmine selalu mengandalkannya bukan?"
giny kembali menatap risa dengan takjub, dia mengangguk untuk menyetujui pertanyaan risa tentang panji. benar, biasanya setiap kali jasmine memiliki masalah serius panji akan datang menolongnya. begitulah cara dia bisa lolos dari semua hukuman yang harus di tanggungnya.
"jika aku memisahkan mereka, bagaimana menurutmu?"
bibir giny terasa kering, dia membasahinya beberapa kali, mendengar kata kata berani risa, dia akan melakukan apa? "kau tidak takut dengan panji?" Dia bertanya dengan hati berdebar debar, jujur saja giny sendiri sangat takut dengan manusia bernama panji ini. tapi risa dia malah ingin berurusan dengan pria ini, matanya menatap risa dengan kagum dan cemas secara bersamaan. seberapa besar mental gadis ini, bahkan manusia jahat dan keji seperti, jasmine, senopati, dan panji akan di lawannya.
takut, jasmine mengetahui kelemahan panji itu sebabnya dia berhasil menggunakannya selama ini, jadi sudah saatnya risa menggunakan kelemahan panji juga, panji bisa berdiri naik tinggi dan berdiri dengan sombong saat ini juga karena bantuan risa, risalah yang membantu dia untuk masuk ke dalam lembaga resmi itu, risa yang menunjukan semua jalannya pada waktu itu hingga dia bisa lolos dan mendapatkan nilai sempurna, jadi sekarang sudah saatnya dia mengambilnya kembali dan membiarkan panji kembali ke awal, karena sejak awal panji tidak pantas mendapatkan posisinya "apa yang dia punya?" risa mencibir dengan wajah jijik, lalu kembali menghina panji, wajahnya yang polos memerah dengan sinis "hanya jabatannya seperti itu sudah membuatnya lupa daratan"
"tapi tetap saja, aku pernah melihat panji secara langsung, dan risa dia benar benar menyeramkan?"
risa mengangkat bahunya dengan tidak peduli, dia tidak takut sama sekali dengan panji bahkan jika di depannya ada sepuluh panji, risa tetap akan menghadapinya, manusia rendah seperti itu yang hanya tahu uang dan kekuasaan tidak akan menyadari apapun, dia susah terlalu lama terlena kenikmatan kekuasaan "tidak apa apa, aku mengetahui cara untuk berurusan dengan panji," panji mari kita lihat bagaimana caramu untuk keluar dari situasi ini.
angin malam ini cukup tenang, dengan sinar bulan yang mengintip dari sela sela awan yang kelabu, jalanan malam yang lengang, benar benar memberikan kesan damai malam ini, tapi sedamainya permukaan keadaan berbalik justru di rasakan jasmine, Seperti seseorang yang di berikan cuka satu ember, jasmine hanya bisa menelan rasa asam dan busuk di hatinya sendiri, dia sudah tidak bisa berbicara dengan rendi, karena apapun yang di katakanya tidak akan di gubris oleh pria itu, bahkan jasmine merasa rendi semakin menjauhinya, membuatnya merasa tertekan dan sedih.
jasmine menatap rendi yang sedang berbicara dengan ayahnya, mereka sedang membahas tentang pembelian tanah di Jawa timur yang entah akan di gunakan untuk apa, mata jasmine terus mengawasi rendi, pria itu tampak lelah, wajahnya tidak sesantai biasanya, alisnya beberapa kali mengerut menandakan bahwa dia kurang setuju, sudah berhari hari mereka tidak banyak berbincang, rendi lebih suka bekerja, bekerja dan bekerja dan jarang bersantai membuat jasmine tidak bebas menemuinya.
jasmine sudah akan membuka mulutnya untuk memanggil rendi, tapi siapa sangka rendi mengabaikannya dan langsung pergi ke kamarnya, raut wajah jasmine langsung berubah, matanya menatap rendi marah dan kecewa dengan kelakuannya, semua ini gara gara gadis ular itu, jasmine benar benar ingin menghabisinya saat ini juga.
"ada apa?" ayahnya, aditama bertanya dengan tenang. pria berusia setengah abad masih tampak bugar, dengan tubuh tegap rambut sedikit memutih dan memakai kacamata baca yang indah.
jasmine berbalik dengan wajah merah, dan mata sedikit basah "ayah, apakah menurutmu ka rendi berubah?" jasmine bertanya dengan perasaan bingung dan gelisah.
Tuan aditama tidak langsung menjawab dia justru terus memperhatikan jamsine dan tampak merenung, tiba tiba saja pikirannya terasa aneh, ada sedikit penghinaan, keraguan dan kekecewaan saat melihat anaknya, "apa kau masih mencampuri urusan pribadinya?" Dia akhirnya bertanya
jasmine mengepalkan tangannya, lalu menatap ayahnya dengan mata memicing tidak suka, karena di tegur seperti ini "aku tidak akan mencampurinya, jika dia sadar diri" jasmine menjawab dengan jengkel, tuan aditama menarik napasnya berat lalu kembali membaca buku di tangannya, mengabaikan sikap jengkel putrinya "ayah, kau tahu? ka rendi bersama wanita kampung yang begitu rendah" jasmine memberitahukan dengan sengaja, berharap ayahnya akan menegur rendi agar dia menjadi sadar.
Tuan aditama menatap jasmine sekilas, melihat alisnya yang rapat dengan mata yang penuh kebencian, dia mendengus tanpa sadar "tidak perlu memikirkannya" Tuan aditama menjawab dengan tenang, dia menatap jasmine yang sedang serius menatapnya "kakakmu rendi, memiliki sikap lembut, tapi dia begitu ambisius, saat nanti dia menyadari bahwa gadis itu tidak sesuai dengannya, dia akan meninggalkannya" Tuan aditama menjelaksan, bibirnya tersenyum dalam tanpa sadar.
jasmine merenung sebentar, benarkah seperti itu? tapi kenapa perasaan jasmine berkata lain, risa tidak sesederhana itu, gadis itu tampaknya dapat melihat dengan jelas dan tahu apa yang harus di lakukannya untuk bertahan. dia seperti sudah bisa menebak langkah apa yang di lakukannya, bahkan jasmine merasa semua yang telah terjadi kali ini terasa aneh dan membingungkannya, seperti ada sesuatu yang mendorong semua hal hal ini kepadanya dengan jelas.
"ayah, aku ingin bertanya?" jamsine kini menatap ayahnya dengan wajah serius, pikiran tiba tiba saja menjadi liar dan dia tidak dapat menahan rasa penasaran di hatinya, tentang risa. ayahnya yang telah makan garam lebih banyak darinya pasti lebih mengerti.
Tuan aditama mengangguk menyetujui, tapi dia tidak menatap anaknya,
"apa tanggapan ayah tentang orang tenang?" jamsine bertanya dengan penasaran
Tuan aditama termenung tanpa sadar, saat mendengar pertanyaan dari anaknya, dia lalu menjawab dengan mata bercahaya yang dalam "jangan gunakan tanganmu, untuk berurusan dengan orang seperti itu"
pikiran jasmine terasa kosong, jawaban ayahnya terasa ambigu, apa maksud ayahnya, dia bertanya sekali lagi dengan ragu ragu "maksud ayah?"
"pernahkah kau mendengar kata kata, di perairan yang dalam dan tenang, serigala sedang menunggu" ○
jasmine termenung, mencoba mencerna kata kata ayahnya dengan sedikit demi sedikit, pikirannya melayang, pada kejadian di belakang belakangnya, entah kenapa tiba tiba saja tangan dan kakinya terasa dingin saat mengingat semuanya, jasmine menelan air ludahnya tanpa sadar, hatinya menjerit dan pikirannya menjadi liar, pantas saja, setiap kali dia akan melakukan tindakan pada gadis itu, pikirannya selalu memerintahkannya untuk segar mundur dan lari, ini seperti insting alami dari pikirannya yang memerintahkan saat melihat monster, tapi apa memang benar seperti itu, risa gadis itu hanya gadis rendahan dengan tampilan biasa biasa, lalu kenapa juga risa membuat skenario sampai seperti ini, apa ini untuk rendi? tapi kenapa bagi jasmine ini tidak hanya tentang rendi, ada sesuatu, ada sesuatu yang lain. sesuatu yang lebih besar yang ingin di raih gadis itu dan rendi adalah salah satu caranya "apa ini semacam jebakan?" Dia benar benar takut saat ini, jika ini adalah jebakan maka jasmine benar benar sudah terpancing dan masuk begitu dalam. di hatinya sekarang terdapat tanda tanya besar, apa yang di rencanakan oleh risa.
...----------------...
aku greget pengen komen, bego ya dia padahal yang di targetin dia sendiri tapi gak sadar sadar 😜😜😜😜
...----------------...
Tuan aditama mengangguk membenarkan, pikiran buruk jasmine "ini adalah pancingan untukmu, semakin kau melawannya semakin jauh permainan yang kalian berdua lakukan".
"ayah, bagaimana cara melawan orang seperti ini? bukankah ayah tadi bilang gunakan tangan orang lain, bisa ayah memberitahukan padaku" jasmine benar benar cemas saat ini, sudah berapa persen rencana risa berhasil jasmine harus menghentikannya dan membalasnya,
Tuan aditama menatap jasmine dengan mata yang dalam, "ada dua cara untuk menghindari masalah seperti ini, satu benar benar tidak mendekatinya, tidak tepancing olehnya, yang kedua gunakan tangan yang sama kuatnya dengannya dan pastikan dia tidak menyadarinya"