ME And I

ME And I
15 (2)



mahesa yang sedang menikmati suasana pagi, tiba tiba saja terganggu dengan kedatangan tuan andi dengan wajah serius, matanya yang kecoklatan bersinar terang, bibirnya beberapa kali merapat, rambutnya sedikit acak acakan dan ada sedikit keringat di dahinya.


"ada apa?" mahesa melirik Tuan andi yang mengambil tempat di sebelahnya dengan napas sedikit cepat.


"penawaran dengan pihak Perancis sudah selesai, kita bisa membuka cabang baru disana bulan depan" Tuan andi berbicara dengan suara terkesan rendah,


kening mahesa mengerut, jika informasi yang di bawa Tuan andi adalah kabar baik, kenapa ekpresi wajahnya begitu berbeda sangat serius, seperti orang yang baru saja mendengar sebuah berita besar yang akan menggambarkan, "itu bagus, atur seseorang untuk mengawasinya" dia menjawab dengan datar, matanya kembali menatap halaman di depan rumahnya, sangat sepi dan lengang, udara pagi begitu segar dan cahaya matahari yang hangat memenuhi teras rumahnya, mahesa sangat menikmati keadaan ini, tenang dan damai, "apa mahendra sudah bisa lolos?" Dia kembali bertanya dengan pikiran yang berputar kearah masalah lain. mahendra adik tirinya, bagaimana kabarnya saat ini? mahesa benar benar rindu padanya,


kasus terakhir yang melibatkan anak buah mahendra cukup fatal, dia harus berurusan dengan pihak berwajib dan mengeluarkan dana banyak untuk menutupi beritanya, belum lagi ini adalah ladang basah bagi sely dan mahendra, lalu sekarang ladang basahnya hancur begitu saja, bagaimana bisa selly dan mahendra tidak murka, mereka benar benar menjadi sangat sensitif dan suka membuat keributan, mahesa saja sampai angkat tangan dan pergi menjauh. karena setiap kali melihat mahesa selly akan langsung mengeluarkan taring dan cakarnya.


"dia berkontak dengan panji" Tuan andi kembali berbicara,


"panji?" mahesa bertanya dengan sedikit penasaran, panji satu lagi pecundang di lingkaran mereka, pria lintah darat yang begitu mencintai kekuasaan, mengandalkan orang orang berkuasa untuk menyokongnya dengan menjadi penjilat


Tuan andi menatap mahesa sebelum menarik napasnya sebentar, dan berkata dengan wajah bingung "apa kau tahu bahwa kasus hendra dan martin di buka lagi?"


kening mahesa mengerut, apa hubungan antara kasus hendra dan martin dengan masalah mahendra, kasus itu sudah lama di tutup dan kasus mahendra tidak bersinggungan dengan masalah firma "kapan kejadiannya?" mahesa bertanya basa basi


"hari ini, beritanya meledak dengan hebat, ku dengar anaknya martin menemukan data dan berkas bahwa martin bukanlah pelaku penggelapan kasusnya" Tuan andi menjelaskan dengan serius,


wajah mahesa tidak menunjukan ekpresi apapun, perasaannya merasakan ini sedikit aneh, tapi dia tidak terlalu peduli karena kasus ini tidak berhubungan dengannya, dia hanya mendengar beberapa kali kasus ini, dan berita terakhir yang di dengar dari gadis licik itu cukup membuatnya sedikit penasaran apa memang benar seperti yang di katakanya, "Sepertinya informasinya tidak pernah salah" mahesa berguman, tanpa sadar, jujur saja dia sedikit puas dengan sosok gadis itu, "tapi apa hubungan masalah ini dengan mahendra, dan panji?" mahesa menatap dingin Tuan andi yang terlihat kusut, kasus martin, hendra, dan panji apakah ada sesuatu yang berkaitan. hingga mahesa harus mendengarkan dengan serius.


"kasus hendra dan martin, panjilah yang awalnya menyelidikinya, dia di anggap jenius karena bisa mencium kasus dengan cepat dan berkontribusi banyak hingga kasusnya selesai dengan cepat, pada akhirnya dia di tempatkan di posisi yang bagus dan naik pangkat karena kepintarannya" Tuan andi berbicara dengan ekpresi antara percaya dan tidak percaya, panji begitu muda waktu itu dan saat itu adalah awal awal dia bergabung dengan pihak resmi, tapi dia bisa memecahkan kasus dengan rapi dan benar, bukankah ini jelas ada yang membimbingnya.


mahesa merenung sebentar mencoba menganalisanya, dia tiba tiba saja merasa angin sejuk berhembus di dalam hatinya membawa kesegaran "jadi, mahendra mengandalkan panji, tapi panji sendiri sekarang sedang mengalami masalah" dia menyimpulkan dengan senyum puas dan memikat, membuat wajahnya yang tampan sangat mempesona apalagi dalam suasana pagi yang hangat ini. membuat ketampanannya berlipat.


Tuan andi mengangguk setuju dengan perkataan mahesa "betul, apa kau ingin memanfaatkan keadaan ini? jika panji tidak bisa lolos mahendra akan semakin lama terjerat dengan kasusnya"


mahesa menjilati bibirnya, dia mempertimbangkan dengan serius, sebenarnya dia tidak merasa bahwa kasus ini terlalu menguntungkan untuknya, paling paling jika panji tidak bisa lolos mahendra akan mencari yang lainnya untuk bisa keluar, tapi melihat sely menjadi pemarah dan terus tertekan, bagaimana mungkin mahesa ingin melewatkannya, ini adalah kesenangan bagi jiwanya "minta Adrian menyelidikinya, jika memang menguntungkan kita bisa turun"


...----------------...


kata kata ayahnya, begitu membekas dalam pikiran jasmine, menjadi alarm tersendiri baginya untuk menjauhi risa, meskipun memang tidak semudah itu karena ada beberapa kali di waktu waktu jasmine tidak tahan untuk menyerang risa dan menghancurkannya. bagaimanapun juga dia selama ini tidak pernah kalah dan tidak pernah ada yang berani melawannya, apalagi kini dia serang oleh gadis rendah dan busuk seperti itu, itu benar benar melukai harga dirinya,


nasihat ayahnya pasti akan di lakukannya, gunakan tangan orang lain, benar untuk berurusan dengan orang rendah seperti ini jasmine tidak perlu repot repot mengotori tanganya, dia hanya perlu mencari seseorang yang bersedia dan akan selalu ada yang bersedia. jasmine harus mencari orang luar agar risa tidak sadar,


"Nona jasmine, tuan panji mencari anda?"


jasmine memijat kepalanya, merasa kekesalan yang Tiba tiba saja datang, panji datang kemari itu pasti untuk membuat masalah, "biarkan dia masuk" jasmine menjawab dengan ekpresi sedikit tidak bahagia.


pintu tertutup lalu tidak lama terbuka kembali, seorang pria dengan kemeja coklat dan celana hitam masuk, matanya yang hitam dalam menunjukan ekpresi keras yang luar biasa, alisnya menukik tajam membuat tampilan matanya lebih tajam, hidungnya tinggi seperti paruh burung, dengan bibir kecoklatan, tubuhnya tegap dengan langkah lebar yang terkesan buru buru, jamskne memperhatikannya dengan tenang "ada apa kau mencariku?" jasmine bertanya dengan tenang, hatinya menatap pria di depannya dengan dingin, bajingan ini suka datang sesuka hatinya saja, jika saja jasmine tidak membutuhkannya dia tidak akan sudi bersikap murah hati seperti ini.


jasmine berbalik dengan kaku, mendengar serangan tidak terduga panji "fakta terbaru apa? bukankah kasus ini sudah lama di tutup?" jasmine berbicara tanpa peduli


fakta baru, jasmine mencoba mengingatnya lagi, dia sendiri tidak terlalu paham sebenarnya dengan kasus waktu itu, dia hanya membantu panji dengan data data yang di curinya dari seorang gadis Malang yang menjijikan.


"apa kau tidak membaca berita, anak martin membuat pengaduan baru dan dia menuntut semua tim kami karena memberikan informasi yang salah"


"aku memberikan data yang sesuai, bagaimana bisa itu ada data baru?" jasmine menatap panji tidak senang, manusia tidak tahu diri jasmine padahal sudah membantunya tapi dia malah menurutnya,


panji menatap tajam wajah jasmine yang dingin "apa kau benar benar memberikan data yang benar padaku?' dia bertanya serius,


jasmine menampakkan raut wajah marah, dia menjawab dengan kasar "aku benar benar, memberikan data yang sesuai, bukankah kasusnya juga selesai?"


panji mendengus dingin, "Lalu kenapa ada data baru? kami sudah mengeceknya dan itu lebih akurat"


"aku tidak mengerti, mungkin memang ada kesalahan data dan anaknya martin tidak terima"


"mungkin?" panji meraung hampir seperti guntur "apa kau tahu bahwa itu akan memengaruhi karirku, aku bisa saja kehilangan jabatanku'


jasmine berkedip beberapa kali lalu menatap panji kesal "Lalu bagaimana, aku juga tidak mengerti apapun, semua bukti sudah kuserahkan padamu. kenapa kau tidak menyingkirkan saja anak martin" dia berbicara dengan kesal


"aku tidak bisa menyentuh anak itu, jika dia terluka yang akan di curigai pertama kali adalah kami"


dia tidak bisa membiarkannya apalagi masalah hendra dan martin melibatkan orang orang penting jika kasus ini dibuka maka mereka pasti akan menjadikannya kambing hitam untuk menutupi kasus kasus ini. orang orang tinggi seperti ini tidak pernah tahu arti kesetiaan.


"Lalu apa yang akan kau lakukan?" jasmine mencibir dengan sembunyi sembunyi


panji menarik napasnya dengan berat "aku harus mencari uang yang banyak, agar bisa menyuap bajingan bajingan itu, mereka tidak bisa menjadikanku kambing hitam"


jasmine memandang panji dengan marah, tangannya terkepal dengan geram "hah, apa kau pikir aku ini adalah sumber uangmu, setiap kau butuh uang kau lari padaku" dia menatap panji penuh penghinaan


panji menarik sudut bibirnya, tersenyum santai seakan tidak peduli "jangan lupa, aku juga sudah banyak membantu, bukankah itu wajar"


membantu, apa yang dia bantu? setiap kali bertransaksi jasmine selalu mengeluarkan uang yang banyak untuk panji, bahkan menurutnya panji lebih banyak memanfaatkannya, jasmine menatap panji yang duduk dengan santai, semakin dia menatapnya semakin marah hatinya, kenapa akhir akhir ini orang orang rendah seperti ini semakin berani, pertama gadis busuk itu, sekarang bajingan tidak tahu diri ini. kenapa jasmine harus membiarkannya apa mereka dia anak ayam, sehingga harus selalu di buru, dia harus memberinya pelajaran, mata jasmine memandang panji dengan dingin


"baik, aku akan memberikanmu uang, tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku?" jasmine berkata dengan ekpresi dingin


panji berbalik, matanya yang dalam menatap jasmine dengan intens seperti mata elang yang mengawasi mangsa dari atas pohon "apa yang kau inginkan, temanku?" panji bertanya dengan tenang


hati jasmine semakin dingin, dia menatap panji lalu berkata dengan tenang "singkirkan seorang gadis untukku"