
kekayaan dan kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak di dunia ini, sejak jaman dulu dua hal ini yang memonopoli keadaan dunia, saat seseorang memiliki kekuasaan maka kekayaan bisa dia dapatkan dengan mudah, jika seseorang memiliki kekayaan maka dia bisa menggunakan kekuasaan sesuka hatinya. jika seseorang memiliki keduanya, maka dia akan menaklukkan dunia, menggenggam dunia dalam tangannya.
seorang pangeran tetap akan disebut pangeran bahkan hingga beribu ribu tahun lamanya, bahkan hingga kerajaan runtuh, dia akan tetap di sebut pangeran dalam catatan catatan sejarah, gelarnya tidak akan luntur dan tetap akan di kenang. karena dia menggengam kekuasaan dan kekayaan di tangannya.
di jaman sekarang, kekayaan dan kekuasaan tetap berpengaruh dalam kehidupan, dengan kekuasaan siapa yang tidak tunduk, dengan kekayaan apa yang tidak dapat di capainya, dan itu dapat di buktikan sendiri oleh jasmine dalam hidupnya, sejak lahir hidupnya lebih dari berkecukupan semua hal bisa dia capai dengan mudah. orang orang di sekitarnya mengikuti apapun kemauannya. setiap orang melihatnya begitu berharga.
ambil contoh saat dia kecil teman kelasnya memberikan dia pulpen sebagai hadiah, pulpen itu tidak cantik dan jelek, sangat tidak berguna bagi jasmine, tapi bagi teman teman yang lain hadiah itu berharga dan mereka terus mengucapkan kata terima kasih dan memujinya. jasmine berpikir jika dia membelikan pulpen yang lebih cantik bagi yang lain mereka akan memujanya juga, keesokan harinya dia membagikan pulpen yang lebih cantik, semua teman temannya memujinya dan mengucapkan terima kasih, salah satu dari mereka berkata bahwa pulpen yang di berikan jasmine lebih cantik dan lebih mahal mereka lebih puas daripada pulpen yang di berikan teman yang lainnya. perasaan jasmine sangat puas dan dia menatap teman yang kemarin memberikan pulpen menatapnya dengan mata mengerut tajam bibirnya lukus kaku, wajahnya yang bundar memerah seperti tomat. jamsine tersenyum kecil padanya, dan jasmine merasa perasaan puas, dia berpikir bahwa dirinya lebih baik darinya.
tapi selalu ada pengecualian, misalnya sepupunya yang selalu mendapatkan juara kelas, dia tidak terlalu peduli dengan pulpen yang di berikan jasmine dan hanya menaruhnya asal di atas meja, bahkan saat teman yang lain meminta dia memberikannya dengan sukarela, tapi jasmine bersedia mengalah karena dia tahu sepupunya memiliki beberapa kelebihan darinya, sepert menjadi juara kelas, menjadi juara umum sekolah, dan segudang prestasi lainnya, jasmine mengakui itu, tapi saat seseorang yang berada jauh di levelnya menantangnya, kenapa dia harus membiarkannya menginjak nginjaknya, ini benar benar melukai harga dirinya. jasmine hanya perlu memberikan uang yang berlebih untuk menunjukan bahwa dia memiliki kekuasaan untuk menyingkirkannya, jadi saat panji meminta nominal yang cukup banyak untuk menyingkirkannya risa, jasmine bersedia tanpa daya, uang bukan masalah besar baginya.
dia menyerahkan cek berisi nominal uang kepada panji yang duduk di sebelahnya, ekpresi wajahnya yang tamak membuat dia terlihat seperti bandit tua yang haus uang "ingat, rapih aku tidak ingin siapapun tahu" jasmine memperingatkan dengan serius, bibirnya benar benar kaku.
panji menarik cek di tangan jasmine dengan sedikit tenaga, bibirnya menyeringai saat melihat mata jasmine yang tajam namun tidak berdaya melihat cek yang berpindah tangan "tenang saja" dia berkata puas, bola matanya melotot bahagia saat melihat angka angka yang tertulis di atas kertas cek, "dia tidak akan pernah lagi hadir dalam hidupmu" panji berjanji dengan manis,
jasmine merasa lega dan hatinya sedikit puas saat melihat wajah bengis panji dia tersenyum dingin tanpa sadar, tidak apa apa dia mengeluarkan uang banyak bagi bajingan seperti ini, yang terpenting risa benar benar pergi dari hidupnya, jasmine sudah tidak bisa mentolelir lagi risa dalam hidupnya "aku pegang janjimu, kau harus datang saat aku mengabarimu" dia berkata lagi.
panji mengangguk mengerti "rendi benar benar menyukai gadis seperti itu?" Dia bertanya sedikit penasaran dengan sosok yang di benci jasmine, melihat perhatian ekstra jasmine pada gadis itu dan kebenciannya yang mendidih, tampaknya gadis itu bukan sosok yang sembarangan.
jamsine mengangguk dan menatap keluar mobil, dia berkata dengan ekpresi wajah jijik yang jelas "aku tidak tahu apa yang di lihat rendi darinya?" jasmine mendengus sebentar, sebelum dia berkata lagi "sangat buruk dan juga miskin bahkan dia menjadi pekerja rendahan seperti ini" wajahnya yang cantik mengerut tanpa sadar.
panji melirik jasmine sekilas, lalu berkata dengan jenaka, berniat memprovokasinya "berarti dia sangat cantik?" dia menatap meledek pada jasmine.
jasmin mengepalkan tangannya, "apa yang bisa di lihat, dia selalu menggunakan masker untuk menutupi wajahnya" dia menggeram dengan kasar dan marah, cantik? sudah banyak gadis cantik yang berhasil dia singkirkan dari hidup rendi.
panji menarik alisnya, lalu menatap jasmine bingung "Lalu dia punya apa? dia tidak kaya, dia juga tidak cantik, kau juga berkata dia memiliki sifat buruk, kenapa rendi bisa tergoda? dan juga kau begitu ingin menyingkirkannya"
wajah jasmine menjadi semakin buruk dia berkata dengan marah "aku juga tidak mengerti, apa sebenarnya yang di lihat rendi darinya?" jasmine berkata jengkel dan frustasi, tapi satu yang pasti kenapa dia seperti ini, karena dia membuatku takut, risa terasa seperti mimpi buruk bagi jasmine yang terus mengejarnya, membuat dia tidak tenang, memberikan perasaan gelisah dalam hidupnya "gadis seperti itu, bagaimana bisa dia masuk dalam keluarga aditama, aku tidak bisa menerimanya?"
panji menatap jasmine serius, lalu berkata dengan hati hati, "apa kau masih menyukai rendi?"
jasmine berbalik menatap panji, dia menarik napasnya dengan berat dan berkata geram "aku tidak bisa membiarkan mereka bersama" wajah jasmine penuh kebencian, bagaimana bisa gadis seperti itu yang lebih rendah darinya mencuri rendi terang terangan.
panji mengangkat alisnya melihat jasmine yang tampak kalut "apa senopati mengetahui masalah ini?" Dia bertanya lebih dalam
jasmine mendengus tidak peduli "masalah ini tidak ada hubungannya dengannya, bajingan itu sebaiknya tidak ikut campur. jika dia masih ingin mempertahankan pertunangannya denganku"
panji menggelengkan kepalanya tidak mengerti, jasmine dan senopati bertunangan, tapi jasmine malah mencintai kakaknya rendi, dan yang lebih aneh lagi jasmine dan senopati bertunangan atas dasar masing masing, seperti dua orang yang saling mencintai, "well, aku mengikuti rencanamu? asal bayarannya sesuai. perintahmu tidak akan gagal" panji akhirnya lebih memilih menyerah, dia tidak ingin terlibat terlalu dalam dalam drama percintaan kotor yang perlu di lakukannya saat ini adalah memanfaatkan kondisi untuk mengambil keuntungan sebanyak banyak,
jasmine mendengus dan menatap panji, tidak sia sia juga dia memelihara bajingan satu ini, meskipun uang yang dikeluarkan jasmine untuk mengurursnya banyak tapi dia selalu bersedia melakukan apapun untuk jasmine "aku akan memberikanmu bonus besar" dia berkata datar.
panji mengerling penuh kepuasan, "Aku suka cara berpkirmu" panji tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya
jasmine menatap panji datar, dia membuka pintu mobil meninggalkan panji yang masih di dalam mobil, tidak lama kemudian pintu kembali terbuka, seorang pria masuk dengan rokok menyala di tangannya, panji meliriknya sekilas lalu mendengus sebentar, saat menyadari ternyata salah satu pemeran drama "sejak kapan kau mengamati kami?" Dia berkata datar dan mengamankan amplopnya ke dalam saku.
senopati pri itu menatap panji, bola matanya yang hitam menatap pada luar mobil, bibirnya yang berwarna sedikit hitam menyedot rokoknya dengan kuat dan menghembuskan asapnya kuat kuat, dia lalu berkata dengan dingin "apalagi yang di rencanakannya?" Dia menatap punggung jasmine yang sedang berjalan dengan wajah jijik yang tidak di sembunyikan sedikitpun.
senopati terdiam, berpikir sebentar lalu berkata dengan wajah serius, rasa penasarannya bangkit. tampaknya dia telah melewatkan pertunjukan yang menarik akhir akhir ini "Siapa gadis itu?" Dia menatap, matanya menatap kepada kejauahan dengan rasa tertarik yang dalam. seperti seekor serigala dsaat melihat kelinci.
"kekasih rendi"
jamsine menghisap rokoknya, dalam dalam menikmati rasa dalam rokoknya, wajahnya cerah, matanya bersinar dan ada senyuman di bibirnya, membuat dia wajahnya mengeluaekan ekpresi nakal dan liar, seperti anak kecil yang akan mendapatkan boneka dan sudah bersiap siap menyiksanya.
...----------------...
risa berdiri dengan tenang, matanya yang seperti bintang bersinar dalam kegelapan malam, tubuhnya yang mungil terbalut pakaian berwarna hitam membuat sosoknnya menyatu dalam gelapnya malam, tubuhny berbalik saat mendengar langkah kaki ringan yang ditunggu tunggunya, tanpa sadar bibirnya tersenyum saat melihat sosok yang mendatanginya.
seorang pria berbadan kurus dan tinggi, mengenakan kaos kebesaran, rambutnya yang sedikit panjang terlihat acak acakan menutupi sebagian telinga dan dahinya, usianya masih remaja jika melihat dari jernihnya matanya, tapi ekpresi keras pada rahanganya membuat dia dewasa dengan terpaksa, dia berdiri di depan risa dan menatapnya dengan wajah tanpa ekpresi.
risa menatapnya sebentar, sebelum berkata "bagaiamana kabar ayahmu?"
pria itu bergerak sebentar lalu berkata dengan suara rendah yang hanya dapat di dengar risa "dia berjanji akan membantumu, asalkan kau benar benar mengeluarkannya" suara angin membawa terbang suaranya,
risa menganggukkan kepalanya, matanya yang seperti bintang bersinar rambutnya berkibar terbawa angin yang lembut "itu masalah gampang, ayahmu pasti akan keluar dia tidak pernah bersalah" risa berkata dengan wajah tenang "apa kau sudah memperhatikan panji?" risa berbalik menyamping, profil wajahnya tampak lembut dan halus,
pria itu mengangguk lalu memberikan foto foto yang tadi di ambilnya "jamsine" risa berkomentar dengan cepat saat melihat sosok dalam gambar foto "senopati" dia kembali berkomentar, ekpresi wajahnya berubah, dan matanya tiba tiba terasa keras seperti air hujan yang menjadi es "kapan mereka bertemu?" risa menatap pria di depannya dengan serius.
pria itu terdiam entah kenapa, dia merasa tiba tiba saja merasa kedinginan, dia memberitahukan dengan pelan "tadi siang"
risa terdiam sebentar, menarik napasnya berat dan berpikir dalam. dia kini menyadari sesuatu tampaknya masalah ini akan membesar, jasmine seperti dugaanya melibatkan panji, tapi kenapa senopati bisa bersama panji, apa jasmine terlalu mencolok hingga menimbulkan kecurigaan senopati, dia adalah pion terakhir yang ingin risa gunakan, jika dia terjun sekarang risa harus menyusun rencana baru.
"kita harus menyusun rencana baru? senopati orang ini bukan orang mudah, jika dia ikut campur masalah ini akan menjadi rumit"
mata pria itu bergerak menatap wajah risa yang serius, bola matanya bersinar jelas, seperti laser tajam yang sudah siap untuk menembak musuh "apa ini berpengaruh kepada ayahku?" Dia bertanya ragu ragu, bola mata nya bergerak gerak dan dia merasa gelisah.
risa menatap anak itu, dan menyadari kekhawatirannya "jika masalahnya melebar, pembebasan ayahmu akan terlambat," itu betul jika senopati masuk dalam pertikaian sekarang orang orang yang di hindarinya akan curiga, semua rencana diam diamnya akan terendus, orang orang itu pasti tidak akan membiarkannya. risa harus memotong masalah ini dari sekarang, jika di biarkan masalah ini pasti melebar kemana mana "kita harus mengeksekusinya Malam ini juga, panji dan senopati harus kita korbankan?" risa berkata dengan serius.
pria itu menatap risa tidak mengerti, rencana ini murni di susun oleh gadis di depannya, gadis mungil dengan mata secerah bintang, tapi pikiran dan kata katanya begitu tenang, pertama kali mereka bertemu saat dia menjenguk ayahnya, gadis ini mengajaknya berbicara, lalu menyerahkan berkas berkas tentang kasus ayahnya, awalnya dia ragu tapi saat dia memperlihatkan bukti bukti itu kepada ayahnya, dia langsung setuju dan berjanji akan mengikuti rencana gadis ini,
dia menatap sekali lagi, mata jernih dengan kerlingan polos, bibir merekah seperti buah matang dan pipi halus yang tampak seperti kapas, gadis ini benar benar terlihat seperti saudara cantik yang ceria tapi memiliki sifat jahil. usianya mungkin beberapa tahun di atasnya, tapi sikapnya benar benar membuatnya terkesan. begitu tenang, dan cara berpikirnya sangat tajam "apa yang akan kau lakukan?" Dia bertanya dengan bingung, melihat matanya yang cerah dan ekpresi serius di wajahnya, pasti tersimpan rencana yang licik
risa mendekati pria itu, lalu berbisik di telinganya....pria itu membulatkan matanya mendengar kata kata sederhana risa, sekujur tubuhnya terasa meremang, dan dia tanpa sadar menahan napasnya, dia benar benar tidak percaya dia merencanakan jebakan hanya dalam waktu lima menit,
"apa kau mengerti?" suaranya yang sejernih air, membuatnya semakin menarik
dia mengangguk dengan penuh semangat, "aku mengerti" dia berkata yakin,
risa tersenyum tanpa sadar, melihat matanya yang penuh semangat, dia benar benar puas "tenang saja, ayahmu aku menjamin dia akan bebas"
...----------------...