
pergerakan risa memang di ibaratkan seperti memukul rumput, mengejutkan ular, semua orang bereaksi cukup panas pada kasus panji, senopati dan jasmine selain melibatkan keluarga berpengaruh ada juga orang dengan jabatan resmi, ini menjadi buah bibir yang sedikit meledak, jika saja keluarga aditama dan senopati tidak menekannya ini akan menjadi rumor rumor di dalam lapisan masyarakat, tapi tetap saja ini menjadi bahan panas untuk di diskusikan bagi mereka yang mengetahuinya, hal ini pun menjadi diskusi Mahesa, tuan andi dan bagas yang bertemu secara tidak sengaja, diskusi ini bermula dari bagas yang mengunjungi mahesa,
Bagas menepuk nepuk pahanya dengan tidak sabar "aku masih merasa ini aneh. masalah ini sepertinya ada seseorang yang menyeretnya?" Dia berbalik menatap mahesa ingin meminta pendapatnya, tapi langsung dia urungkan saat melihat tatapan dingin mahesa, dia mencari cara baru untuk berdiskusi "ini" dia menarik pulpen di atas meja dengan asal "dan ini, ini" dia kembali mengambil pulpen yang lainnya lalu menjejerkannya di atas meja dengan rapi.
Tuan andi dan mehesa mengamati dengan cermat tindakan bagas yang di luar pikiran mereka.
"Anggap ini adalah jasmine" dia menunjukkan pulpen bertutup hitam kepada mahesa dan tuan andi, mengacungkannya agar mereka bisa melihat dengan jelas "dan ini senopati" dia menunjuk pulpen berwarna biru "lalu yang ini panji" kini dia menunjuk pulpen kecil yang memiliki motif garis garis
"Pulpen itu tidak ada bedanya, aku tidak tahu yang mana jasmine, yang mana panji, senopati" Tuan andi mengintrupsi dengan wajah datar saat melihat tingkah bagas
Bagas menarik napasnya, mencoba bersabar "baik kita ganti" dia memetik satu tangkai bunga palsu di depannya dengan kesal "ini jasmine, ini panji, dan ini senopati" dia menunjuk bunga, pulpen dan penggaris, menjejerkannya di atas meja dengan rapih "apa kau puas Sekarang?" dia menatap tuan andi jengkel.
"Mmm cocok, setidaknya wanita harus di lambangkan dengan bunga" Tuan andi melambaikan tangannya tidak peduli
Bagas menggeram, dia menarik napasnya, mencoba mengumpulkan kesabarannya kembali "nah si lambang bunga ini, dan penggaris tebal ini bekerja sama untuk menculik....." Kata katanya berhenti sebentar, dia menengok kanan dan kiri lalu mengambil sebuah pulpen lain yang lebih gemuk, dia kembali berbicara dengan suara lebih tinggi "menculik si anak mentri ini" dia mengacungkan pulpen gemuk itu di depan wajah tuan andi "Nah yang ini" dia menunjuk pulpen berwarna biru "tiba tiba saja datang, ingin mengambil ke untungan" tangannya mendorong pulpen gemuk dengan menggunakan pulpen bergaris garis
Mata tuan andi melotot pada bunga plastik di tangan bagas yang sedang beradu dengan penggaris, dia lalu melirik mahesa yang sedang duduk dengan tenang yang mengawasi bagas dengan serius, ingin melihat reaksinya, dia lalu bertanya dengan sedikit penasaran "tapi apa bunga itu, benar benar ingin menculik pulpen itu?" wanita itu apa dia benar benar bodoh atau memang terlalu berani hingga berani menculik anak seorang mentri, tuan andi benar benar merasa konyol dengan situasi aneh ini.
bagas yang mendengarnya menjadi kesal, wajahnya berubah warna, dia menjawab dengan jengkel "nah ini adalah masalahnya, kenapa aku bertanya kepada kalian?" Dia menjulukran lidahnya untuk membasahi bibirnya yang kering, tangannya mengadu ngadu pulpen di tangannya dengan kencang, dia berbicara lagi "senopati pernah bilang, bahwa gadis itu terus menganggu jasmine. Dan dia sedikit dekat dengan rendi" dia berbisik dengan hati hati
mendengar tarikan napas mahesa, tuan andi tahu bahwa ada sesuatu yang menarik pikirannya, dia lalu kembali bertanya dengan bingung "tapi tetap saja, apa dia sudah gila hingga melakukan hal nekat seperti ini?" Matanya melotot tidak terima pada bunga di atas meja "ini anak mentri" dia menyodok bunga di depannya dengan geram "apa dia tidak bisa melihat akibatnya?" Dia kembali berbicara dengan kata kata yang terdengar kejam
Mahesa mengelus dagunya sekilas "mungkin dia tidak tahu gadis itu anak mentri," dia memberitahukan dengan ekpresi tenang
"Tapi sebodoh bodohnya dia, apa tidak ada yang mengingatkannya" Tuan andi masih membantah dengan wajah frustasi.
"ini tampaknya bukan kejadian pertama" mahesa menatap bagas, matanya bercahaya dan bagas merasa seperti di lubangi "jasmine dan panji sering bekerja sama bukan?"
Bagas mengangguk dengan gemetaran "jasmine memang mengandalkan panji, itu juga yang membuat senopati segan padanya"
"Lalu, sekarang kenapa semua bisa terbongkar? Bukankah panji sendiri termasuk dalam petugas resmi!" Tuan andi mengomel dengan marah.
Mahesa sudah akan menjawab tapi langsung berhenti saat melihat bagas yang menyela dengan wajah jengkel, "betul, tapi dengarkan aku dulu" dia menatap tuan andi kesal "tiba tiba polisi datang, karena ada laporan anak mentri hilang" tangan bagas menggerakan buku kecil di atas meja menubruk bunga, pulpen dan penggaris membuatnya berceceran di atas meja "lalu setelah di cari, ternyata ada di dalam mobil panji" dia mengangkat wajahnya untuk melihat reaksi mahesa dan tuan andi "menurut pendapat kalian, apa memang seperti itu atau ada hal yang lainnya yang tidak bisa kita lihat"
"Tentu saja ada yang tidak terlihat?" Tuan andi langsung menjawab tegas, "ini seperti jebakan yang di potong lalu di lemparkan balik pada pembuatnya?" Dia berkata dengan yakin, dengan polisi datang di waktu yang tepat tampaknya gadis itu sudah mengetahui rencana jasmine,
"benar benar sial, senopati barnya hancur, padahal itu adalah sumber uangnya" Bagas mengakhiri ceritanya dan duduk di atas kursi dengan gelisah, tubuhnya bergerak ke kiri dan ke kanan tanpa sadar tangannya beberapa kali menepuk pahanya sendiri dengan ekpresi tidak puas. dia kembali melanjutkan kalimatnya masih dengan penuh semangat seperti prajurit yang akan menyerbu di babak kedua "orang orang kini juga mengetahui bahwa dia seorang mucikari, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan kepadanya" dia menggeleng kepalanya dan berkata dengan ekpresi suram
Tuan andi mengangguk dengan wajah lebih baik, "lalu sekarang kasusnya bagaimana? apa mereka bertiga akan di tahan?" Dia melanjutkan kembali masalah yang mereka bicarakan
bagas menggeleng, bibirnya menyatu dengan rapat "Sepertinya tidak, paling paling hanya panji yang di tahan. dia adalah yang paling....." bagas tidak melanjutkan kalimatnya, dia memberikan cengiran lebar kepada mahesa yang menatapnya serius, seluruh tubuh bagas bergetar seperti di tatap oleh seekor harimau.
"gadis itu telah menginjak sesuatu yang salah" mahesa berkata dengan wajah acuh tak acuh
Tuan andi membulatkan matanya, tampak terkejut dan menyadari sesuatu "menurutmu, siapa yang sudah di singgung jasmine? Apa benar anak mentri itu" Dia bertanya penuh semangat.
"Mungkin, seperti ini adalah dendam lama" mahesa menatap meja dengan intens.
bagas meneguk ludahnya tanpa sadar dia lalu menjawab dengan suara rendah "gadis ini jasmine sombong dan arogan dimana mana," bagas mendekatkan kepalanya ke arah tuan andi dan berbisik dengan mesra "dia beberapa kali terkena kasus penganiayaan tapi selalu berhasil keluar dengan bantuan panji"
Tuan andi melirik mahesa, lalu menatap bagas dia seperti mengerti tapi tidak mengerti "ini" dia berkata ragu ragu "apa mereka memperebutkan senopati?" Dia bertanya dengan hati hati, menoleh kanan kiri memastikan tidak ada yang mendengarnya
bagas menoleh dengan ekpresi jijik yang jelas "tidak mungkin" dia mendengus "dia begitu takut dengan jasmine, bagaimana dia berani bermain gila dengan gadis lain" bagas memberitahukan dengan ekpresi serius yang langka
Tuan andi menatap jengkel pada pulpen pulpen rapi, di depannya "lalu kenapa, apa motif mereka? lalu kenapa ini bisa terjadi? sebenarnya siapa yang menjebak dan siapa yang di jebak?" Dia bertanya dengan geram setengah mati
mahesa menggelengkan kepalanya jengah melihat tuan andi dan bagas yang berputar putar terus di tempat "bukankah aku sudah memberitahu kalian, bahwa gadis ini telah menyinggung seseorang. dan juga gadis itu dekat dengan rendi bukan senopati" mahesa membeberkan fakta.
"Siapa?"
"SIAPA?"
Tuan andi dan bagas bertanya bersamaan dengan ekresi penuh harapan menunggu jawaban mahesa yang masih tenang tidak terpengaruh seperti tuan andi dan bagas yang menggebu gebu untuk menyelesaikan masalah ini
"Seseorang sudah mengawasi jasmine, dia sudah menunggu jasmine untuk membuat keputusan dan dia menggunakannya untuk menjebak jasmine balik" mahesa tersenyum dingin tanpa peduli
Tuan andi menarik napasnnya kencang, dia berbalik dengan ekpresi lelah "lalu siapa itu? Apa benar anak mentri itu?" Dia bertanya dengan tubuh jatuh ke kursi, tenaganya sedikit terkuras
"Bukan" Mahesa menjawab dengan tegas dia berdecak tidak senang "tapi apa benar anak mentri ini dekat dengan rendi?" Dia bertanya dengan tenang
Tuan andi dan bagas saling menatap dengan wajah terkejut, tuan andi lalu berkata kepada bagas "katakan, bukankah kau lebih tahu informasinya?" Dia mendesak bagas
Bagas menarik napasnya lalu berkata dengan pelan "aku tidak tahu, rendi kehidupan pribadinya sangat tertutup. Tapi senopati pernah berkata seperti itu"
Mahesa mengangguk pelan, "apa jasmine sering mengganggu gadis yang dekat dengan rendi?' dia bertanya sekali lagi, wajahnya masih tetap acuh tak acuh
bagas menarik napasnya lalu menatap mahesa dengan terkejut "aku tidak mengerti, tapi jasmine sedikit posesif terhadap rendi"
mahesa mengangguk dengan mantap, matanya bercahaya seperti mutiara yang langka, bibirnya tertarik menjadi senyuman sinis membuat tampilannya begitu mempesona dan berbahaya "masalah ini, tidak akan berakhir sampai disini. orang yang menjebak jasmine tidak akan berhenti"