ME And I

ME And I
13(2)



seluruh tubuh jasmine seperti di bakar api, panas dan membara dia menatap risa dengan wajah benar benar kaku, tangannya terkepal erat dan ada sedikit noda darah akibat tusukan tajam kukunya, gadis ini harus mati dia harus mati, jasmine harus membunuhnya, gadis ini tidak layak hidup dia harus pergi dari hidup rendi.......pikiran jasmine benar benar liar dan tidak terkendali......akh, benar jasmine ingat kata katanya,, 'tapi mungkin jika aku mati, tidak akan ada yang memberitahukan masalah ini, bagaimanapun aku pasti akan tetap hidup dan hidup bahagia dengan rendi' jika tidak ada risa maka tidak akan ada yang mengadu kepada rendi, jadi jalan terbaik bagi jasmine adalah menyingkirkannya saat ini juga, membuat dia menghilang agar dan tidak bisa membuka mulutnya sedikitpun.


jasmine berlari ke arah mobilnya, dia membuka pintunya dan membanting pintu dengan marah, dengan gemetaran dia memutar kunci mobilnya, dengan sekali gerakan dia memutar kemudi mobilnya menuju arah risa......ya gadis ini harus mati, jasmine harus menyingkirkan ancaman terbesarnya agar rendi tidak berbalik dan pergi darinya.


dia menginjak pedal gasnya dengan marah, matanya seperti anak panah yang menargetkan risa yang masih berjalan dengan tenang.....kau harus mati ......tapi tiba tiba saja risa berbalik, gadis itu seperti menyadari niat jasmine....namun anehnya dia tidak menghindari, dia hanya berdiri menunggu dengan tenang, mobil yang di Kendarai jasmine untuk datang kearahnya, pikiran jasmine langsung terasa kosong, jantungnya terasa berdebar debar dan bulu bulu di tubuhnya berdiri, ini persis seperti saat dia akan menampar risa malam itu, mata yang cerah namun haus darah seperti mata seekor serigala yang sedang menunggu mangsanya di tengah hutan datang kepadanya, ekornya bergoyang, kuku kukunya tajam menusuk tanah, seluruh tubuhnya bergetar dan dia sadar dia tidak bisa datang padanya, dia harus menghindar, agar tidak di terkam dan cabik cabik, tangannya tanpa sadar memutar membelokan kemudi, mobil berhenti dengan keras beberapa senti dari tubuh risa hampir menabrak tiang pilar di depannya, jamsine menunduk dan dirinya merasa ini semua hanya halusinasi, dia menarik napasnya secara pelan pelan mencoba mengumpulkan kesadarannya, dia lalu mengangkat kepalanya pelan pelan matanya beradu pendang dengan mata bintang jernih risa, matanya cerah dan jasmine bisa merasakan ejekan pada matanya yang cerah itu, seluruh tubuh jasmine semakin merinding. jasmine membuka pintu mobilnya dengan bergetar dan berdiri di depan risa, dia merasa sangat marah saat ini tapi dia merasa tidak berdaya, seolah olah orang di depannya lebih kuat, lebih buas, lebih berbahaya dan lebih berani. memaksa jasmine untuk berhenti agar tidak tercabik cabik.


"hah" ada tawa kecil dari mulut risa, begitu penuh penghinaan, penuh ejekan dan penuh kesinisan "kenapa kau berhenti?" Dia bertanya dengan kecewa, padahal dia sangat menantikannya kegilaan jasmine.


bibir jasmine bergetar, seluruh tubuhnya bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki, dia tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun.


"lihat dirimu, lihat bagaimana wajahmu, lihat bagaimana keberanianmu, lihat emosimu, kau hanya seorang pecundang"


gigi jasmine bergemalatukan dia mengangkat tangannya tanpa aba aba dan menampar wajah risa, telapak tangannya terasa panas, napasnya terasa sesak dan matanya melotot dengan ngeri saat melihat mata risa yang bersinar terang tidak tampak sakit, takut ataupun marah karena di tampar olehnya, pancaran matanya benar benar tenang.


"jasmine"


kepala jasmine berbalik, dia menatap rendi yang berlari ke arah mereka dengan cepat seperti peluru, seluruh tubuh jasmine terasa lemas dan dia mundur ke belakang tanpa sadar, sejak kapan rendi disana, apa dia melihat niat membunuh jasmine. kepala jasmine terasa mati rasa,


"aku sudah memperingatkanmu, jika kau menyentuh bahkan jika hanya sehelai rambutku rendi tidak akan pernah melepaskanmu" suara risa yang rendah berbisik di telinganya, jasmine menggerakan wajahnya menatap risa yang matanya bersinar bagai bintang. memantulkan bagaimana pucatnya wajah jassmine.


Rendi menarik risa dengan cepat melindungnya dengan tubuh tingginya. matanya melirik pipi risa yang sedikit memerah sebagian karena tertutup masker "jasmine" rendi berkata dengan rendah dan penuh peringatan. dia berbalik menatap jasmine dengan dingin


"ka, rendi" teriak jasmine dengan suara bergetar, marah, benci pada risa dan tidak terima kepada rendi, matanya menatap rendi dengan panas saat melihat perlindungan rendi kepada risa, "semua ini karena dia, dia yang memulainya dari awal" seluruh tubuh jasmine bergetar dan air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.


rendi menarik napasnya berat lalu menatap jasmine dengan tatapan tenang dan terkendali, dia tahu bahwa pasti risalah yang memancing emosi jasmine hingga dia nekat seperti ini "aku mengerti, kau bisa naik sekarang juga biarkan aku berbicara dengan risa sebentar" rendi berbicara kepada jasmine dengan tenang


kemarahan jasmine meledak tanpa sadar, "apa yang akan kalian bicarakan, kenapa kalian tidak berbicara langsung di depanku" dia berteriak tidak terima dengan keadaan di depannya


risa mengintip dari balik bahu rendi, dia tersenyum mengejek di balik maskernya. mata jasmine balas melotot garang pada gadis itu.


"karena ini urusanku dengan risa, jasmine tolong jangan ikut campur lagi" rendi berkata dengan menekan suaranya,


jasmine menelan ludahnya pahit, hatinya seperti di tusuk tusuk paku, "tidak katakan itu di depanku langsung" dia menarik ujung baju rendi dengan geram.


risa mendelikan matanya mendengar rengekan jasmine, dia mencibir di dalam hatinya gadis ini kenapa dia tidak sadar bahwa rendi sedang berjuang mengendalikan emosinya, harusnya dia kabur sekarang juga sebelum di Cabik cabik oleh rendi, dasar bodoh otaknya sepertinya sudah tidak berfungsi "kenapa nona jasmine sangat ingin mendengar urusan pembicaraan kami" risa mengejek jasmine sekali lagi, rendi berbalik dan menatap risa dengan peringatan.


"cukup" sela rendi dengan dingin, matanya yang merah menatap jasmine dingin.


"kenapa? ini benar, ka rendi kau harus membuka matamu lebar lebar. dia tidak sebaik yang kau pikirkan" jasmine semakin tidak memperdulikan apapun, kata katanya seperti air banjir yang datang dengan cepat dan deras, dia tidak akan menahan nahan sedikitpun kata katanya,, tangannya mencengkram lengan rendi dengan sekuat tenaga, memaksanya untuk tetap menatap ke arah jasmine "ka rendi, aku adikmu aku tahu yang terbaik untukmu, gadis kampung seperti dia tidak sepadan denganmu, dia tidak cocok untukmu ka rendi" jasmine melanjutkan kata katanya dengan tegas.


"jasmine, tinggalkan kami" rendi sekali lagi memanggil jasmine dengan suara rendah, tangannya terkepal erat di seluruh tubuhnya dengan kencang


"kakak, kau harus mendengerkanku, risa bukan gadis baik baik, dia gadis jahat yang ingin menjilat harta keluarga kita, rendi, kau harus tau itu" kata kata jasmine begitu cepat dan keras sengaja agar rendi terus mendengarkanya.


"bisa tinggalkan kami" pinta rendi dengan membelakangi jasmine dan kini sepenuhnya menatap pada risa yang terus menatap jasmine dengan ekpresi aneh, bagi risa jasmine benar benar konyol, dia tampak seperti seorang anak kecil yang ketakutan mainan kesayangannya akan di rebut dan di rusak.


"ka, rendi" jasmine menarik tubuh rendi agar berbalik menghadap kearahnya lagi, wajah rendi benar benar kaku saat ini "tidak, ka rendi dengarkan aku" mat jasmine melebar tapi tatapannya sedikit kosong, dia kembali berbicara dengan cepat "kau harus menuruti apa perkataanku, jangan dekat dekat dengannya, dia gadis jahat , kau harus mendengarkanku, kalian tidak akan bisa bersama" teriak jasmine dengan gelisah


"cukup" teriak rendi marah dan memelototi jasmine garang, napasnya terasa panas dan lehernya terasa kaku saat ini, jika dia bisa rendi ingin sekali memukul makhluk egois di depannya, agar dia sadar "kamu bisa pergi sekarang, ada yang ingin aku bicarakan dengan risa"


bibir jasmine lurus kaku, matanya menembak seperti laser pada risa yang menatap ke arahnya dengan alis menukik tajam "aku tidak akan pergi, kakak harus menjauh darinya" jasmine membentak rendi dengan kasar, sekujur tubuhnya bergetar seperti orang kerusakan.


rendi mengusap wajahnya kasar "aku bilang tinggalkan kami, apa kau tidak mengerti jasmine" suara rendi benar benar tidak terkendali dia membentak jasmine keras, hingga gadis itu terdiam seperti orang yang baru saja di tampar. dia menatap rendi dengan pelan pelan dan tampak menyadari sesuatu.


"ka, rendi" dia memanggil rendi dengan suara rendah, napasnya terasa panas. kenapa rendi menjadi seperti ini tidak mau mendengarkannya. wajahnya kini menatap risa dengan jahat, semua gara gara gadis sialan ini, jasmine bergegas ingin menerjang risa tapi langsung terhenti saat rendi menahan tubuhnya


"cukup jasmine. kami yang akan pergi" rendi berbalik dan meraih lengan risa


"jangan pergi" jasmine langsung menarik tangan rendi dengan panik "ka rendi tidak bisa meninggalakanku. kakak selamanya harus tetap denganku" jasmine terus menarik narik tangan rendi agar tidak pergi. tarikan gadis itu sangat kencang bahkan rendi sampai harus mengeluarkan kekuatannya


"jasmine, bisa lepaskan tangan rendi, kau menyakitinya" risa akhirnya angkat bicara, dia menatap jasmine dengan risih


"jangan ikut campur, ini semua gara gara dirimu, harusnya ****** sepertimu tidak pernah hadir dalam hidup kakakku"


rendi menarik napasnya, benar benar frustasi dia lalu menatap jasmine dengan pandangan kosong "jasmine berhenti" dia berkata dengan pelan, bibirnya bergetar dan ekpresi lelah benar benar terlihat di wajahnya


pegangan tangan jasmine terlepas dia menatap rendi dengan pandangan kosong dan pikiran tidak mengerti, sesuatu seperti menghantam hatinya "ka rendi aku" kata katanya tidak selesai


rendi menarik napasnya lalu menatap jasmine datar "aku pergi" dia berjalan melangkah di ikuti risa yang menatap jasmine mencibir, dia menggelengan kepalanya prihatin melihat kepanikan dan keputusasaan jasmine