Married With My CEO

Married With My CEO
Bab 6. Sebuah Tawaran



Brian masih memperhatikan gadis cantik didepannya yang tidak berhenti menggerutu. Brian sadar jika kehadirannya sangat mengganggu kehidupan Alicia, tapi Brian memiliki sebuah misi disini yaitu membuat Alicia jatuh sejatuh - jatuhnya pada Brian sehingga gadis itu tak mampu berpaling darinya walau hanya sedikit. Dan untuk menjalankan misinya Brian memiliki trik jitu, yaitu selalu bersama dengan gadisnya. Karena kebersamaan akan menumbuhan rasa nyaman dalam hati Alicia.


"Berhentilah menggerutu, aku sangat ingin sekali mencium bibir mungilmu itu," ucap Brian ringan.


Alicia yang mendengar ucapan Brian langsung mendelikan matanya yang sipit. Well, jika kalian lupa. Alicia bukan sepenuhnya keturunan Amerika, dia perpaduan Asia dan Amerika.


"Bisakah anda tidak mengatakan hal - hal yang begitu memalukan ditempat umum Sir? Bagaimana jika ada karyawan lain yang melihat kita? Itu sangat - sangat berbahaya," papar Alicia.


"Aku tidak peduli dengan itu," acuh Brian.


"Tapi aku peduli, dan sangat peduli akan hal itu Sir. Jadi tolong, jangan menggangguku lagi Sir," mohon Alicia.


Brian hanya diam menatap bola mata berwarna hazel didepannya yang sangat mempesona itu.


"Ah, maaf Alicia. Sepertinya aku mengecewakanmu, aku tidak bisa melakukan hal itu," jawab Brian.


Alicia yang mendengar hal itu hanya memutar kedua bola matanya jengah.


"Terserah kau saja Sir," ujar Alicia sembari mengeluarkan beberapa lembar dollar di mejanya dan bangkit, sembari berlalu pergi tanpa menatap Brian sosok tampan yang amat sangat menyebalkan.


Brian tercengang melihat perlakuan Alicia, karena selama ini tidak ada yang mengacuhkannya seperti wanita itu.


"Ah, ini sangat menarik. Kau membuatku ingin segera mengikatmu Alicia," lirih Brian sembari menatap punggung wanita itu perlahan menghilang dari pandangannya.


Brian bangkit dan meninggalkan beberapa dollar disamping cangkir kopinya. Ia akan memikirkan sebuah cara untuk mengikat Alicia dalam genggamannya.


Brian mendekati mobil mewahnya. James dengan sigap membukakan pintu mobil, Brian masuk dengan gaya elegantnya. James segera memutar dan masuk untuk mengemudikan mobil mewah tersebut.


"Sir, tadi Mrs. Hamilton menelfon. Beliau mengatakan jika anda harus mengunjunginya hari ini, karena ada hal penting yang ingin beliau katakan," ucap James.


Salah satu alis Brian terangkat mendengar ucapan dari James. Tidak biasanya, batin Brian.


"Baiklah, lajukan mobil ke Mansion," titah Brian.


"Baik Sir,"


Dalam perjalanan menuju Mansion, Brian menebak apa yang akan terjadi karena tidak biasanya Ibunya memanggilnya ya walau Brian sadari sudah hampir 3 bulan lamanya ia tak mengunjungi wanita yang sudah melahirkannya itu.


45 Menit kemudian..


Mobil mewah Brian sudah memasuki pekarangan Mansion mewah milik keluarga Hamilton itu. Setelah sudah berada diteras mansion mewah itu James segera turun dan membukakan pintu untuk Brian. Brian keluar dengan wajah datar dan dingin andalannya.


Langkah kakinya menggema diseluruh penjuru mansion. Seorang gadis berusia 22 tahun datang berlari kearahnya dan memeluknya erat.


"Brian, aku sangat merindukanmu," ucap gadis itu disertai senyum yang mengembang.


Brian hanya menganggukan kepalanya membalas ucapan gadis itu. Tak lama muncullah wanita setengah baya mengampiri mereka.


"Ku kira kau sudah lupa jalan pulang ke Mansion ini Son," ucap wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu Brian.


"Mom, aku sibuk," jawab Brian.


"Ya, kau memang sangat sibuk. Hingga kau melupakanku disini," sindir wanita itu.


"Mom, lebih baik kita duduk dulu. Pasti Brian sangat lelah," ucap gadis itu.


"Kau selalu mengertiku Anna," balas Brian.


Mereka berjalan menuju sofa yang sangat empuk untuk diduduki itu. Tentu saja, sofa dengan kualitas nomor 1 didunia tertata apik diruang tamu mansion itu.


"Jadi?" tanya Brian.


"Kapan kau akan menikah? Ingat umurmu akan memasuki kepala 3. Mommy ingin segera menimang cucu, kau tau itu? Teman - teman Mommy sudah membicarakan anak mereka yang memberikan mereka cucu yang sangat lucu - lucu Brian. Mommy ingin cucu," jelas Jessica, Ibu Brian.


Brian hanya memutar kedua bola matanya jengah.


"Mommy, kau bisa meminta cucu pada Anna. Jangan padaku," ucap Brian.


Anna yang mendengar itu mendelik kepada Brian.


"Sialan kau, aku masih sangat muda. Aku masih ingin bebas Brian. Kau itu yang sudah tua," teriak Anna kesal.


Jessica yang melihat kedua anaknya hanya menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, jika kau tidak mau menikah. Mommy akan menjodohkanmu dengan anak teman Mommy," ucap Jessica.


Brian yang mendengar itu merasa kesal. Dijodohkan? Maaf itu tidak masuk dalam kamus kehidupannya.


"Baiklah, akhir pekan nanti aku akan memperkenalkan calon istriku," ucap enteng Brian.


Anna dan Jessica terkejut mendengar penuturan Brian.


"Kau, serius Brian? Kau tidak membodohiku bukan?" ujar Jessica dengan raut curiga memandang putranya.


"Tidak Mom, aku sudah memiliki kekasih. Dan aku berniat akan menikahinya,"


"Kenapa kau tidak pernah memperkenalkannya pada kami?" sekarang Anna yang bertanya dengan penasaran.


"Apakah itu penting?" tanya Brian.


"Tentu saja penting," jawab kompak Jessica dan Anna.


Brian hanya memutar kedua bola matanya. Selalu seperti itu, batin Brian.


\*\*\*\*\*


Keesokan harinya..


Brian memutuskan pandangannya dan masuk kedalam lift khusus tersebut. Didalam lift Brian bertanya - tanya ada hubungan apa Alicia dengan pria itu? Itu membuatnya marah.


"James, setelah ini panggil Alicia ke ruanganku," titah Brian.


"Baik Sir,"


Ting..


Pintu lift terbuka Brian segera memasuki ruangannya tanpa menghiraukan sapaan hangat dari sekretarisnya.


"Sial, ada hubungan apa diantara mereka? Ini tidak bisa dibiarkan, Alicia milikku. Hanya milikku," geram Brian.


Tak berapa lama pintu ruangan itu diketuk seseorang dari luar.


Brian menyembunyikan ekspresi marahnya.


"Masuk," perintah Brian.


Dengan perlahan pintu itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang sedari tadi membuatnya marah akan pikirannya sendiri.


Alicia melangkahkan kaki jenjangnya mendekat kearah meja kerja Brian.


"Ada apa anda memanggil saya Sir?" tanya Alicia penasaran. Pasalnya ia sama sekali tak ada urusan dengan atasan yang kelewatan menjengkelkan ini.


"Tentu saja aku merindukanmu sayang," ucap Brian sembari menekankan kata sayang.


"Maaf Sir? Apakah saya membuat masalah?" tanya Alicia risih.


Brian menatap tajam Alicia, ia memperlihatkan seringai misterius miliknya.


"Tentu sayang, kau membuat masalah hari ini. Apa kau tau kesalahanmu?" tanya Brian sembari berjalan mendekati Alicia.


Alicia berpikir keras, apa kesalahannya sehingga ia dipanggil ke ruangan CEO.


"Kau tidak tau, eh?" tanya Brian mengikis jarak diantara mereka.


Brian memeluk pinggang Alicia possesif seolah - olah Alicia akan lari dari pelukannya.


"Maaf Sir, saya tidak tau. Tolong lepaskan tangan anda," ujar Alicia risih seraya mencoba melepaskan tangan Brian yang melilit tubuhnya.


"Siapa pria itu?" geram Brian.


Alicia mematung bingung.


"Pria?" beonya.


"Ya, siapa pria yang mengobrol didepan lift karyawan tadi hah?" geram Brian sembari meneratkan pelukannya.


"Dia hanya teman dari Departemen pemasaran," jujur Alicia.


"Aku tidak suka kau mengobrol dengan pria lain. Kau hanya milikku Alicia Taylor," tegas Brian.


Alicia hanya mematung mendengar penuturan Brian.


"Sir, tolong lepaskan. Anda tidak memilik hak mengatakan seperti itu kepada saya, dan satu hal yang perlu anda dengar. Saya bukan milik anda," teriak Alicia.


Alicia memberontak dan berhasil meloloskan diri dari pelukan Brian. Ia melangkah mendekati pintu, sebelum ia memegang handle pintu ia membeku mendengar perkataan Brian.


"Kau akan ku pecat secara tidak terhormat jika kau melangkahkan kakimu selangkah saja. Apa kau tau apa konsekuensinya ketika kau dipecat dengan tidak hormat? Kau tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan sama sekali,"


Alicia membeku, tentu saja ia tau itu. Alicia tidak mau dipecat ia butuh pekerjaan, walau dia dipecat dia mau dipecat secara terhormat karena ia masih bisa mendapatkan pekerjaan berbeda dengan jika ia dipecat secara tidak terhormat. Itu akan sangat amat sulit mendapatkan pekerjaan.


"Kenapa? Kenapa kau tidak melanjutkan langkahmu?" tanya Brian.


Alicia berbalik menghadap Brian. Air mata gadis itu terlihat menggenang di matanya. Alicia hanya menggeleng menjawab pertanyaan Brian.


"Kau takut, eh?" tebak Brian senang.


Alicia menundukkan wajahnya, ya ia takut akan hidupnya kedepan. Brian mendekati gadis itu dan mengangkat dagunya, ia mengusap air mata yang jatuh dipipi mulus gadis itu.


"Jadilah tunanganku," titah Brian.


Gadis itu membulatkan matanya, Alicia bersiap membuka mulutnya untuk menolak Brian.


"Jika kau menolak, aku pastikan kau akan menjadi gembel sesegera mungkin. Jadi apa kau mau menjadi tunanganku? Aku tidak suka penolakan," tegas Brian.


"Apa itu sebuah tawaran?" lirih Alicia.


"Kau bisa menyebutnya Ya, dan kau bisa menyebutnya Tidak. Apa kau mau menjadi tunanganku?" tekan Brian.


Alicia memejamkan matanya, dan ia mengangguk lemah. Dia tidak bisa berbuat apapun lagi.


Brian berbangga hati sudah mendapatkan gadis incarannya.


..


...


....


Selamat berakhir pekan, hari ini saya menyempatkan diri untuk update. Semoga cerita ini bisa update 2 hari sekali untuk kedepannya. Saya minta dukungan bagi para Readers yang suka dengan karya saya jangan lupan untuk memberikan like dan comment yang bersifat mendukung. Terima kasih, happy reading~


/(>_<)/▪︎▪︎