
Alicia sedang mengetikan jari - jarinya dengan lincahnya diatas keyboard komputernya dengan mata yang fokus pada layar monitor didepannya. Hari ini Alicia merasa sangat semangat karena ia yakin hari ini tidak ada gangguan dari si Mesum itu.
Dari arah pintu ruang departemen keuangnan itu berlari seorang pria dengan keringat yang membasahi dahi dan pelipisnya mendekat kearah Alicia yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Al huh," ucap pria itu sembari mengatur nafasnya yang memburu.
Alicia mengalihkan fokusnya pada pria yang berdiri didepan meja kerjanya.
Alicia tak memungkiri jika pria yang ada didepannya ini adalah pria yang dapat dikategorikan sebagai pria tampan? Tentu saja, kepala departemennya tampan. Andre Thomas pria berusia 28 tahun. Selain tampan dia juga sangat ulet dan telaten, ah jangan lupa sikapnya yang supel sehingga ia memiliki banyak teman. Tapi ada satu sifat yang banyak dari anggota departemennya yang kurang suka dengan itu. Ya, Andre Thomas adalah seorang pria bucin. Kalian tau bukan Budak Cinta? Ya, Andre akan melakukan segala cara untuk membuat wanita yang dicintainya nyaman dan selalu tersenyum walau dengan cara yang sedikit memuakkan. Ah, Andre juga sudah bertunangan.
"Andre sangat tampan, tetapi tetap Brian yang paling tampan. Ah apa itu? Apa aku baru mengagumi si Mesum itu?" batin Alicia berteriak. Gadis menggelengkan kepalanya.
"Apa kau mendengar apa yang aku katakan Al?" ucap Andre.
"Ah, apa? Maafkan aku, aku tadi tidak mendengar kau berbicara," ucap Alicia jujur dan menampilkan cengiran bodohnya.
Andre mengusap wajahnya kasar, ia merasa gemas dengan gadis didepannya ini.
"Bawa laporan bulanan itu, berikan informasi sedetail mungkin. Dan pergilah ke ruangan CEO sekarang," ucap Andre malas.
"A-apa? Bukannya kau tadi pergi untuk rapat dan memberikan informasi mengenai laporan bulanan? Kenapa jadi aku?" tanya Alicia bingung.
"Tuan Brian ingin kau yang memberikan informasi mengenai laporan bulanannya. Kenapa?" tanya Andre.
Alarm berbahaya ditubuh Alicia berdengung.
"Apa kau salah mungkin? Mana mungkin karyawan biasa sepertiku disuruh melakukannya," elak Alicia. "Aku hanya tidak ingin bertemu si Mesum itu Tuhan," batin Alicia menjerit.
"Kau tak punya pilihan. Dia sudah memilihmu, apa kau pikir aku bercanda? Tentu saja tidak Al. Ayolah pergi kesana untuk menyelamatkan kami semua," ucap Andre memohon.
Alicia memandang seluruh rekan satu departemennya yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dengan menghela napas kasar Alicia mengangguk dan bangkit dari duduknya. Ia mengambil map yang dipegang Andre.
"Terima kasih cantik, kau tau radar kecantikanmu bertambah hingga 80% bukankah itu sangat mempesona? Aku mungkin akan jatuh cinta padamu," ucap Andre dengan wajah berseri - serinya.
Alicia memutar kedua bola matanya, bosan.
"Dan aku akan mengatakan kepada Maria jika kau menyatakan cinta padaku," ucap Alicia.
Wajah Andre menjadi pucat mendengar kata yang dilontarkan Alicia.
"Kau gila? Aku tidak sungguh - sungguh mengatakan itu. Bagaimanapun Maria tetap yang aku cintai dan tak akan tergantikan oleh siapapun. Dia akan menjadi wanitaku dan menjadi ibu dari anak - anakku. Kau mengerti Al?" tanya Andre was - was.
Alicia mengangkat bahunya dan berlalu meninggalkan Andre yang masih kesal dengannya.
"Dasar pria mesum, kenapa kau merusak hari indahku yang damai ini huh. Rasanya aku ingin mencekikmu dan membuangmu ke dasar jurang agar kau dimakan oleh binatang buas, dan aku akan tertawa bahagia," gerutu Alicia.
Alicia sudah berdiri didepan ruangan CEO yang menurutnya angka kewarasannya berada diantara 48 hingga 50% saja. Alicia mengetuk pintu kayu yang berdiri kokoh didepannya itu.
"Come in," ucap Brian dari dalam.
Dengan menghembuskan napas beratnya Alicia memutar knop pintu dan melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut.
"Kau bisa keluar James," ujar Brian sembari mengamati tampilan Alicia hari ini.
"Baik Sir," jawab James dan menundukkan kepalanya hormat lalu pergi keluar dari ruangan Brian.
Alicia merasa terintimidasi oleh tatapan Brian yang seolah menelanjanginya padahal ia masih berpakaian lengkap. Alicia melangkah mendekati Brian yang duduk dikursi singgah sananya. Alicia memberikan dokumen mengenai laporan bulanan departemen keuangan dengan rasa was - was.
"Keuangan perusahaan pusat dan keuangan beberapa perusahan cabang mengalami peningkatan Sir, itu karena departemen marketing melakukan kerja yang memuaskan sehingga keuangan perusahaan semakin meningkat," jelas Alicia.
"Aku ingin sekali ******* bibir sexymu itu nona," ujar Brian.
Alicia menaikan sebelah alisnya mendengar kalimat laknat itu meluncur dengan lancarnya dari bibir Brian.
"Maaf Sir? Apa maksud anda?" tanya Alicia.
Brian berdiri dari kursi empuknya memutari meja kerjanya dan berdiri didepan Alicia yang sedikit menegang.
"Aku ingin ******* bibirmu," ucap Brian sembari menjilat bibirnya sendiri.
Alarm bahaya berdering didalam diri Alicia menandakan jika ia dalam bahaya tingkat waspada. Alicia memundurkan langkahnya sedangkan Brian tetap maju kearah Alicia. Punggung Alicia menyentuh tembok dan itu bertanda ia sudah tidak bisa melarikan diri sekarang.
"Ingin lari sayang?" bisik Brian sembari menjilat cuping Alicia.
"Hmmm," desah Alicia.
"Kau nakal, membuatku ingin memakanmu sekarang," ucap Brian dengan nada sensual.
Alicia berdiri menegang, harusnya ia tidak mendesah tadi. Sialan.
Brian memajukan wajahnya ke wajah Alicia dan menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu dan memulai aksinya untuk ******* bibir mungil itu. Alicia hanya diam mematung ketika Brian ******* bibirnya dengan napsu sesekali ia mencengkram bahu Brian dan mendesah tertahan. Cukup lama Brian ******* bibir Alicia hingga Alicia memukul dada Brian. Brian melepaskan ciuman panasnya dan memperhatikan wajah cantik Alicia yang memerah, napas tersengal, bibir bengkak dan lipstik yang berantakan. Brian sangat menyukai keadaan Alicia saat ini.
Alicia menatap tajam Brian, Brian hanya menaikkan satu alisnya.
"Kau!" geram Alicia sambil menunjuk Brian.
Brian hanya menyeringai melihat ekspresi Alicia yang sangat menggemaskan menurut Brian.
"Dasar Mesum. Berhenti menciumku seenaknya. Kau bukan suami ku jadi berhentilah untuk menciumku sembarangan, sialan," marah Alicia.
"Sayang, tidak baik seorang gadis mengumpat seperti itu. Dan untuk masalah menciummu, aku tidak bisa menahannya. Bahkan aku ingin melakukan lebih. Ah, sepertinya idemu sangat bagus sayang. Bagaimana jika kita menikah? Kita bisa melakukannya bahkan lebih dari sebuah ciuman bukan?" jawab Brian.
Alicia menyadari kebodohannya. Lalu mendorong Brian menjauh dari tubuhnya.
"Aku tidak mau menikah dengan pria mesum sepertimu, kau harus ingat itu Sir."
"Tapi rasanya kita akan menikah sebentar lagi. Dan mendapatkan Brian junior disini," ucap Brian sembari mengelus perut datar Alicia.
Alicia menghempaskan tangan Brian kasar.
"Dalam mimpimu Sir, saya permisi," ucap Alicia sembari pergi dari ruangan Brian.
Brian menyeringai mendengar kata - kata Alicia.
"Kita tunggu saja sayang, ku yakin kau akan menikah denganku. Dan mengandung anakku," ucap Brian dengan seringai kebanggaannya.
.
.
.
.
.
Berhubung aku lama up, jadi aku up 2 bab sekaligus. Jangan lupa untuk like dan comment. Untuk mendukung cerita ini update tiap hari. Terima kasih