
Pagi itu seorang gadis cantik berjalan dengan tergesa memasuki sebuah perusahaan terbesar di Benua Amerika. Kaki jenjangnya berjalan dengan cepat sesekali matanya meneliti beberapa berkas yang berada digenggaman tangannya. Ya, hari ini ada meeting mengenai laporan bulanan.
Tanpa gadis itu sadari dari arah berlawanan terdapat pria tampan, bahkan banyak karyawan wanita melihatnya dengan tatapan memujanya. Seolah pria itu adalah salah satu Dewa Yunani yang ketampanannya sungguh abadi. Pria itu tak sendiri, ia ditemani seorang pria yang umurnya sekitar 10 tahun lebih tua darinya, dan beberapa pengawal dibelakangnya.
Jarak mereka semakin dekatdan insiden itupun tak terelakan. Gadis itu jatuh tersungkur dengan beberapa lembar kertas yang berserakan didepannya. Sedangkan si Pria masih dengan gagahnya berdiri didepan si Gadis.
"Sial, aku menabrak apa? Batu? Sial sekali huh," umpat gadis itu.
Si Pria hanya menaikan satu alisanya mendengar umpatan kasar dari wanita yang masih dengan posisi duduk dilantai sembari mengumpulkan beberapa lembar kertas.
Seketika si gadis menghentikan aksinya mengumpulkan kertas - kertas itu, ia merasa aneh kenapa tidak ada orang berlalu lalang dan kenapa sangat sunyi.
"Ini aneh," batin gadis itu.
Dengan perlahan, gadis itu mendongakakn kepalanya, seketika matanya melebar dan mulutnya menganga tanpa ia sadari. Sungguh gadis itu sangat terpesona dengan pria yang ada didepannya sekarang, bagaimana tidak? Pria tampan itu memiliki mata tajam, bibir tipis, hidung mancung dan rambut berwarna kecoklatanan yang disisir rapi itu. Dengan gerakan spontan gadis itu bangun dan menunduk memberi salam.
Ya, walau sudah terlambat tidak apa bukan? Gadis itu tau jika pria didepannya ini adalah seorang Pemilik perusahaan dimana ia bekerja sekarang. Brian Felix Hamilton.
Pria itu dan berhenti dengan jarak satu langkah dari si gadis. Tatapannya masih tajam, dia mengamati gadis didepannya sembari memerikan penilaian.
"Tidak buruk," pikirnya.
Gadis itu masih menunduk takut, tangannya menggenggam kertas itu erat.
Pria itu hanya dia tanpa merespon, membuat si gadis mendongak menatap wajah si pria. Gadis itu menengguk air liurnya susah payah, dan kembali menunduk ketika melihat sorot tajam dari mata pria itu.
"Jam istirahat nanti, pergi ke ruangan saya," ucap dingin pria itu. Dan berlalu begitu saja tanpa menunggu respon dari si gadis yang kaget bukan kepalang.
Si gadis melirik sekitarnya betapa malunya dia, ketika semua mata yang berada dilobi menatapnya dengan tatapan kasihan.
Ya, si gadis sudah mempersiapkan hatinya dengan apa yang akan terjadi nanti. Entahlah, bagaimanapun ia harus menerima segala konsekuensinya dari yang teringan hingga yang terburuk yaitu dipecat.
Dengan langkah gontai gadis itu kembali melanjutkan langkahnya dan karyawan lainpun kembali melangkahkan kakinya.
Gadis itu sampai diruang kerjanya, ia mendudukan pantatnya dibangku yang empuk dan nyaman. Sesekali ia menghela napas.
"Harusnya kau lebih berhati - hati Alicia," makinya pada diri sendiri.
"Bagaimana jika kau dipecat? Tidak Alicia, itu sangat buruk. Bukankah kau membutuhkan uang untuk makanmu?," ucapnya pada diri sendiri.
"Aku bisa gila jika memikirkan ini terus. Ah, tapi bagaimana nasibku selanjutnya? Dia tampak begitu marah? Ya Tuhan, lindungi aku," ujarnya lirih.
Alicia kembali memfokuskan pikirannya dengan menyiapkan benerapa dokumen untuk laporan bulanannya.
Don't forget for like and comment. Thank you~