Married With My CEO

Married With My CEO
Bab 2. Ciuman Pertama



Alicia keluar dari ruangan Brian dengan wajah yang pucat. Ia tau, jika ia sekarang dalam masalah besar.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa dia sangat mesum?" batin Alicia menggerutu.


Jari - jari lentiknya memegang bibir yang terasa sedikit membengkak karena ciuman Brian tadi.


"Ah, bahkan sekarang bibirku sudah tidak prawan lagi. Dasar sialan," umpat Alicia dengan nada geram.


Alicia tidak mengetahui jika sedari tadi ada seorang pria yang memperhatikannya dan mendengar umpatan yang diarahkan kepada atasannya itu.


"Maaf Ms. Taylor, seharusnya anda tidak boleh mengumpat seperti itu kepada Mr. Hamilton. Bukankah anda harus bersikap sopan kepada atasan anda?" ucap James dengan nada dingin.


Alicia mematung ditempat tangannya gemetar, mendengar suara itu. Siapa lagi jika bukan si James tangan kanan Bos mesumnya itu.


Alicia segera membalikan badannya, ia menghadap pria dengan nama James itu takut.


"Ah, bukan maksud saya bertindak tidak sopan. Saya rasa anda salah mendengar ucapan saya," sela Alicia.


"Saya harus pergi untuk makan siang, selamat siang tuan," Alicia membungkuk hormat dan berbalik badan dengan cepat. Ya, Alicia ingin pergi dari sana sesegera mungkin.


James menaikkan satu alisnya melihat tingkah laku gadis yang baru saja melarikan diri dari hadapannya.


"Gadis yang aneh," gumam James sembari menggelengkan kepalanya.


James berbalik arah dan masuk ke ruangan CEO. Ia melangkahkan kakinya mendekati Brian yang sedang duduk menghadap ke jendela kaca yang menampilkan seluruh pemandangan kota New York itu.


"James, beri aku semua informasi mengenai gadis tadi. Aku ingin kau memberikan informasi itu padaku sesegera mungkin," titah Brian.


"Baik Sir, saya mengerti," jawab James.


"Ah, apakah jadwalku hari ini sangat padat?" tanya Brian.


"Iya Sir, anda memiliki beberapa pertemuan dan makan malam dengan beberapa kolega dari beberapa perusahaan yang akan menjalin kerja sama dengan anda Sir," jelas James.


Brian memutar kursinya menghadap kearah James, lalu pria itu menganggukan kepalanya.


"Aku ingin makan makanan China," tutur Brian.


"Baik Sir, kami akan melakukan reservasi untuk anda sekarang," tutur James.


"Bagus,"


"Mari Sir,"


Brian berdiri dari kursinya merapikan jas kerja mahalnya dengan gerakan santainya. Langkah kakinya terdengar sangat berwibawah. James membuka pintu mobil dengan kepala menunduk hormat, dan Brian masuk kedalam mobil. James menutupnya dan bergegas menuju kursi pengemudi. Tak berapa lama mobil mahal keluaran terbaru itu mulai meninggalkan area perusahaan raksasa Hamilton Corp.


Dilain sisi, seorang gadis dengan nanar menatap makanan didepannya tanpa minat. Temannya hanya memperhatikan tingkahnya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau tak memakan makananmu Al?" tanya Bella. Ya, Bella adalah gadis manis yang baik hati, ia berteman dengan Alicia sudah hampir 2 tahun sejak Alicia bekerja di Hamilton Corp.


"Aku tidak nafsu makam Bel," lirih Alicia.


"Ada apa? Kau bisa menceritakan masalahmu denganku bukan? Tenang saja, ini akan sangat aman," ucap Bella dengan penuh keyakinan.


"A-aku,"


"Aku kenapa Al? Jangan membuatku penasaran," dengus Bella yang sudah penasaran.


"APA? BAGAIMANA BISA??" teriak Bella kaget.


Beberapa pasang mata memandang kearah Bella dan Alicia dengan tatapan, jangan berisik jika Alicia terjemahkan dari tatapan mereka.


Alicia langsung memukul tangan Bella, ya terkadang Alicia sangat menyayangkan sikap bar - bar gadis yang satu ini.


"Bisakah kau jangan berteriak? Beberapa orang memberikan tatapan membunuh pada kita," geram Alicia.


Bella tersadar dan melihat sekitarnya yang melihat dirinya dengan tatapan membunuh. Bella hanya tersenyum kaku, mengangguk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tentu saja dia malu.


"Maafkan aku, aku sangat terkejut mendengar ucapanmu tadi," jawab Bella dengan cengirannya.


Alicia memandang bosan dan membuang napasnya berat.


"Kenapa kalian bisa berciuman?" tanya Bella penasaran.


Alicia membenarkan posisi duduknya dan mulai menceritakan dari awal mula insiden pagi ini yang sangat mengerikan hingga ia kehilangan bibir perawannya.


"Jadi begitu ceritanya Bel, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanya Alicia.


"Dari apa yang kau ceritakan tadi, si Bos tertarik padamu. Menurutku kau cukup menarik, wajah cantik yang sempurna tanpa sentuhan pisau bedah, hidung mancung, rambut lurus yang cantik, mata coklat yang jernih, alis yang rapi, mata yang sexy, bibir tipis yang menghoda, dada yang membusung indah, tinggi semampai, kaki jenjang tanpa lecet, dan bokong yang berisis. Kau perfect," terang Bella sembari menilai Alicia.


Alicia risih dengan tatapan dan perkataan yang dilontarkan sahabatnya yang bar - bar ini.


"Bella, bisakah kau jangan melihat dadaku seperti itu? Aku sangat risih," ucap Alicia kesal.


"Jika kau pikir aku menyukai wanita, maaf kau harus kecewa. Nyatanya aku masih menyukai pisang yang besar," ujar Bella jujur.


Alicia memutar matanya jengah. Ya, Alicia akui jika Bella seorang gadis jujur dan kelewat jujur.


"Aku hanya bertanya - tanya, apakah dadamu itu asli? Tanpa tambahan implan atau semacamnya?" tanya Bella penasaran.


"Tentu saja ini asli bodoh," geram Alicia. Ia tak terima jika anggota tubuhnya dikatakan pernah melakukan operasi.


"Ah pasti sangat kenyal dan memuaskan, aku ingin memiliki dada seperti dirimu. Aku takut Devan bosan dengan dadaku yang kecil," ucap Bella sedih.


Alicia lagi - lagi memutar bola matanya ia benar - benar jengah dengan gadis didepannya ini.


"Lupakan dadaku, Devan dan lainnya. Apa maksudmu dengan Mr. Hamilton tertarik padaku?" ucap Alicia penasaran.


"Aku tidak tau jika kau sebodoh itu. Tentu saja dia tertarik padamu, kau gadis yang sempurna. Tapi sayang, kau tidak sepintar aku," dengan senyum bangga yang terpampang diwajah cantik Bella.


Alicia mendengus mendengar kalimat terakhir Bella. Ya, dia aku jika dia tidak sepintar Bella.


"Baiklah, aku akui kau sangat pintar Ms. Wilton. Apa kau sudah selesai dengan makananmu? Jika sudah, ayo kembali ke kantor. Ada beberapa laporan yang harus aku selesaikan secepatnya," ucap Alicia.


Bella menganggukan kepalanya, dan meminum jus alpukat yang tinggal setenggah itu hingga tandas.


"Aku siap Ms. Taylor. Let's go," jawab Bella sembari berdiri dan bersiap pergi.


Alicia hanya menggelengkan kepalanya dan mengambil tas slempangnya. Ia berdiri dan melangkahkan kakinga keluar dari restaurant yang jaraknya hanya dua blok dari perusahaan tempat ia bekerja.


Jangan lupa untuk klik 👍 dan comment untuk mendukung cerita ini agar bisa update tiap hari.


Terima kasih^^