Married With My CEO

Married With My CEO
Bab. 9 Sekretaris Pribadi



Alicia bangun dari tidurnya ia menguap dan melihat arah jam dinding yang menunjukkan pukul 05.30 am. Rasanya ia sangat malas untuk beranjak dari ranjang empuknya. Jika bisa memilih ia ingin bergelung didalam selimutnya, dan bermanja dengan ranjangnya. Namun semua itu harus pupus ketika ia mengingat jika hari ini adalah hari pertama baginya menjadi sekretaris pribadi CEO.


"Sial, aku harus bertemu dengannya setiap hari mulai sekarang," gerutunya lalu beranjak menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya.


30 menit berlalu Alicia keluar dengan menggunakan bathrobe sembari mengusak rambut panjangnya menuju lemari pakaian. Ia menjatuhkan pilihannya pada blouse peach dengan kancing serta rok span berwarna hitam. Ia berjalan kearah meja riasnya menggunakan hairdryer untuk mengeringkan rambut panjangnya. Setelah selesai dengan rambutnya ia mengganti pakaiannya lalu memoles makeup tipis kewajah cantiknya. Seulas senyum ia tampilkan ketika selesai memoles wajahnya.


"Sempurna," ucapnya sembari memakai parfume kesukanya.


Gadis itu melihat jam yang melingkar manis dipergelangan tangannya. Pukul 06.30 am. Ya waktu yang pas untuk ia berangkat ke kantornya. Hari ini ia harus berangkat lebih pagi dari biasanya supaya bisa menyabut CEO brengsek yang sialnya tampan dan Alicia mengakui itu.


"Baiklah, semangat Al. You can do it." Setelah menyemangati dirinya sendiri, gadis itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari apartement miliknya.


Alicia menggunakan taxi untuk pergi ke kantornya. Jika kau berfikir kenapa Alicia tidak menggunakan mobil karena Alicia tipikal orang yang menghemat uangnya. Namun akan habis seketika ketika melihat sesuatu yang sangat menarik baginya dan dia harus membelinya sekalipun ia harus merogoh uang banyak.


20 menit perjalanan menggunakan taxi. Alicia sampai diperusahaan yang sudah menaungi dan menyambung hidup Alicia 2 tahun belakangan ini. Kaki jenjangnya melangkah menuju lift dan masuk setelah pintu lift terbuka. Ia menekan nomor 75 pada sisi lift ke tempat CEO berada. Beberapa menit kemudia pintu lift terbuka dan menampakan view lantai 75 untuk kedua kali. Kaki jenjangnya melangkah keluar. Ia menarik nafas lalu menghembuskannya.


"Kenapa jantungku berdegub sangat kencang? Apa ini bertanda buruk? Ya Tuhan, apa aku memiliki penyakit jantung? Sial, gara - gara CEO berengsek itu aku harus menjadi sekretaris pribadinya. Cih, apa itu? Dia bahkan memiliki sekretaris juga memiliki tangan kanan yang siap sedia melakukan perintahnya. Kenapa harus aku yang melakukannya,"


"Apa aku melakukan hal kejam dimasa lalu? Sehingga aku mendapat hukuman yang begitu mengerikan? Apa ak-," runtuk Alicia berhenti dan tubuhnya menegang ketika suara deheman menyapa gendang telinganya.


"Ekhem, apakah kau belum selesai mengumpatiku Ms. Taylor?" tanya pria yang sudah berdiri dibelakang Alicia.


Dengan gerakan patah - patah Alicia memutar tubuhnya. Dia belum siap melihat bagaimana iblis yang lolos dari neraka ini. Dengan detak jantung yang begitu cepat membawa rasa tak nyaman pada tubuhnya.


Seketika Alicia tertegun melihat Brian yang sialnya tampan ini sudah memandangnya dengan seringai bertengger dibibir sexynya.


Sial, batin Alicia.


"Bagaimana? Apa kau masih ingin mengumpatiku dengan bibir sexymu sayang?" tanya Brian.


Alicia menatap Brian dan juga James yang menatapnya tajam seolah dia adalah kelinci yang siap ia santap.


"A-aku, ah maksudku ti-tidak seperti itu Mr. Hamilton," elak Alicia.


"Lalu seperti apa sayang? Bisa kau jelaskan?" goda Brian sembari melangkah maju menuju Alicia. Alicia melangkah mundur hingga tubuhnya sudah tersudut pada tembok.


Brian menunduk, tangan kirinya berada disebelah wajah Alicia. Pria tampan itu memperhatikan wajah cantik dengan bulu mata yang berkedip - kedip lucu. Ah gemasnya.


"Mulutmu ini sangat lancang sayang. Ini masih pagi, tidak baik untuk mengumpati seseorang. Kau butuh hukuman agar bisa lebih baik dalam membicarakan sesuatu," ucap Brian lalu dengan perlahan pria itu menunduk dan mendekatkan bibirnya pada bibir mungil yang sialnya sangat menggoda milik Alicia.


Bibir mereka saling bertautan hingga beberapa menit Alicia memukul dada bidang Brian sebagai tanda jika dia butuh bernafas. Brian dengan tidak rela melepaskan tautan bibir mereka. Benang saliva yang terjalin akibat ciuman panas itupun terputus. Bria tersenyum dan mengusap bibir sexy Alicia yang sedikit membengkak akibat ulahnya.


"Itu hukumanmu sayang. Lain kali lebih berhati - hati," bisik Brian. Lalu berjalan keruang kerjanya.


Alicia mematung mendapatkan ciuman tak terduka dari pria brengsek nan mesum itu. Alicia memukul kepalanya beberapa kali.


"Sial, kenapa aku diam saja saat dia menciumku? Alicia kau sudah gila, bagaimana ini," panik Alicia. Dia tidak sadar jika tingkah anehnya sedang ditatap oleh pria tanpa ekspresi yang menjadi tangan kanan sang CEO. James.


Alicia menghentikan sikap konyol nan anehnya ketika mendengar perkataan James. Sial masih ada kulkas berwujud tembok disini ternyata. Batin Alicia menjerit kesal. Ia kesal dan malu tentunya.


"Ekhem, ya Tuan. Saya akan segera keruangan Mr. Hamilton. Sebelumnya saya permisi," ucap Alicia sesopan mungkin dan melangkah menuju ruang CEO.


Tak lama ia sudah masuk kedalam ruangan itu setelah mengetuk pintu dan mendengar izin untuk ia masuk ke dalam.


Alicia berdiri didepan meja kerja Brian. Ia menunggu perintah Brian untuk pekerjaannya.


"Aku sudah menyiapkan tugas kerjamu, ambil dan lihatlah," ucap Brian sembari meletakan map berwarna biru didepan Alicia.


Dengan ragu - ragu Alicia mengambil map tersebut dan membaca list tugas untuknya.


Tugas Sekretaris Pribadi Mr. Hamilton


1. Membangunkan tepat pukul 06.00 am


2. Menyiapkan air untuk mandi


3. Menyiapkan pakaian kerja


4. Membuat sarapan dan menemani sarapan


5. Menamani kapanpun dan dimanapun Mr. Hamilton pergi


6. Membuat makan malam dan makan malam bersama


7. Memberikan pelukan setiap malam sebelum pulang kerja


8. Waktu bekerja dimulai dari jam 06.00 am hingga jam 07.00 pm


Alicia mengerutkan dahinya setelah melihat tugas kerjanya. Apa - apaan ini. Apa ini perbudakan?.


"Maaf Mr. tapi bukankah ini terlihat lebih seperti tugas istri dibanding tugas sekretaris pribadi?" tanya Alicia sembari memberikan senyum yang ia buat sebaik mungkin.


Rasanya aku ingin memukul pria sok tampan ini. Batin Alicia.


"Ya tentu saja mirip, karena aku sedang melatihmu untuk terbiasa melakukan itu sebelum kita menikah tentunya,"


"Apa maksudnya ini? Jadi maksud anda, anda sedang mendidik saya menjadi calon istri yang baik untuk anda dengan embel - embel sekretaris pribadi?" tanya Alicia heran.


"Ya, kau sangat pintar sayang. Jadi mulai sekarang kerjakan apa tugasmu," ucap Brian sembari tersenyum menang.


Jadi semua ini permainannya? Tugas istri dengan kedok tugas sekretaris pribadi. Dasar brengsek satu ini. Geram batin Alicia.


Haihai aku double up nih. Jangan lupa ya buat vote sama commentnya. Sampai jumpa besok 👋🏻