Married With My CEO

Married With My CEO
Bab. 10 Makan Siang



Alicia, gadis itu hanya duduk manis diruangan CEO dengan mata menjelajah seisi ruangan tersebut.


Mewah. Satu kata yang terlintas dalam benaknya.


Sedari tadi Alicia hanya memainkan ponselnya sesekali menarik nafas bosan. Sesekali ujung matanya melirik ke arah Brian dan James yang sedang membicarakan sesuatu.


"Ini gila, aku hanya bersantai dan dibayar?!" teriaknya dalam hati.


"Alicia," panggil Brian lembut.


Gadis itu menolehkan pandangannya menatap Brian yang tengah menatapnya dengan senyum diwajahnya. Tampan.


"Ya?" jawab Alicia.


"Kau ingin makan apa?"


"Aku? Aku terserah saja," balas Alicia sambil mengedip - ngedipkan matanya polos.


Brian hanyak mendengus mendengar jawaban Alicia. Kenapa wanita selalu menjawab terserah? Apa mereka tak memikirkan betapa bingungnya para pria dengan jawaban itu. gerutu Brian dalam hati.


Brian bangkit dari kursi nyamanya, berjalan mendekati Alicia yang sedari tadi duduk di sofa dengan ponsel yang berada digenggamannya. Pria itu memandang lekat wajah cantik gadis didepannya.


Bolehkah aku menikahinya sekarang? Batin Brian.


"Baiklah. Apa kau ingin makanan Jepang?" tanya Brian lembut.


"Baiklah,"


Brian tersenyum mendengar jawaban Alicia. Tangannya menggenggam tangan Alicia. Alicia memperhatikan tangan Brian yang menggenggamnya dengan hangat.


"Ayo, kita makan siang. Aku tak ingin calon istriku kelaparan," ucap Brian.


Alicia memutar kedua bola matanya malas. "Aku sekretaris pribadimu Sir. Bukan calon istrimu,"


Brian hanya tersenyum dan menggandeng tangan Alicia keluar ruangan. Di depan ruangan Brian, James berdiri tegak dengan wajah datar nan dingin andalanya.


"Reservasi restoran makanan Jepang James. Alicia ingin makan makanan Jepang," perintah Brian.


"Baik Sir," jawab James.


Brian berjalan dengan menggandeng tangan Alicia diikuti dengan James yang berada dibelakang keduanya.


20 menit kemudian


Restoran Jepang itu terlihat ramai. Tentu saja, ini waktu makan siang. Waktu yang pas untuk mengisi perut setelah setengah hari bekerja keras. Termasuk Brian dan Alicia yang sudah berada di privat room restoran tersebut.


Setelah memesan makanan yang mereka inginkan. Ruangan itu hanya diisi oleh keheningan. Tak ada yang bersuara diantara mereka berdua.


"Ekhem," dehem Brian. Alicia mengalihkan tatapannya ke arah Brian.


"Apa kau bisa memasak?" tanya Brian.


"Baguslah, aku ingin makan masakanmu nanti malam," ucap Brian antusias.


Alicia hanya diam memikirkan perkataan Brian. Sial, aku lupa jika aku harus memasak makan malam sebelum pulang kerja. Batin Alicia.


Tak lama setelah Brian mengatakan itu, para pelayan datang membawa beberapa hidangan yang mereka pesan. Setelah makanan ditata di meja panjang berwarna coklat tua itu para pelayanan itu pamit meninggalkan pelanggannya menikmati hidangan yang telah tersaji.


"Selamat makan," ucap Alicia semangat.


"Ya, selamat makan sayang," jawab Brian yang tidak digubris oleh Alicia. Gadis itu sudah sibuk dengan makanannya.


Brian tersenyum melihat Alicia makan dengan lahap. Alicia yang merasa diperhatikan itupun mendongakan wajahnya menatap manik mata Brian yang tengah menatapnya dengan senyum manis yang membuatnya semakin tampan. Sial.


"Berhentilah memandangiku Sir, makanlah makananmu selagi hangat," tegur Alicia.


"Aku merasa sudah kenyang hanya melihatmu makan dengan lahap," jawab Brian masih dengan senyum yang sialnya makin lebar.


Alicia memutar matanya, dasar perayu ulung.


"Makanlah Sir, bukanlah ini menjadi salah satu tugasku memastikan kau makan dengan baik?"


"Ah, kau sudah menjalankan tugas sebagai istri yang baik? Yang sedang mengingatkan suaminya agar makan?" goda Brian.


"Terserah anda Sir," balas Alicia melanjutkan makannannya.


Bria mengambil sumpitnya, dan mulai memakan makanan yang ia pesan. Ya, dia bahagia karena kali ini makan siangnya ditemani sang pujaan hati.


30 menit telah berlalu, mereka sudah menuju ke kantor menggunakan mobil mewah Brian. Dengan James yang menjadi sopir, tentunya.


Brian memandang Alicia yang sedang memandang kearah luar jendela mobil menampilkan beberapa toko - toko dan gedung - gedung perkantoran yang berjajar sepanjang jalan menuju kantor mereka.


"Apa pemandangan diluar lebih menarik dibandingkan denganku?" tanya Brian yang berhasil membuat Alicia menoleh padanya.


Gadis itu hanya mengangkat satu alisnya mendengar pertanyaan Brian.


"Aku serius,"


"Apa maksudmu Sir?" tanya Alicia.


"Aku serius ingin menikah denganmu. Bisakah? Bisakah kau menerimaku?" ucap Brian serius.


Alicia menatap wajah tampan Brian. Jantungnya berdetak cepat, mendengar pertanyaan Brian. Ia tau jika Brian sedang serius dengan ucapannya.


"Aku .."


Haihai maaf ya kalau pendek.


Hayoo kira - kira Alicia gimana? Nerima nggak nih ĺamaran Brian? Eh ini bisa disebut lamaran bukan ya? Hehehe..


Jangan lupa vote dan comment. Sampai jumpa besok 👋🏻