
Maaf ya, baru bisa update sekarang..
Nggak usah lama – lama intro deh..
Happy Reading~
.
Setelah makan siang yang berakhir canggung itu, kini Alicia dan Brian sudah berada di ruang kerja sang CEO muda itu. Ya, seperti yang kalian ketahui. Setelah Brian mengatakan hal tesebut dan Alicia merasa tidak nyaman dan menggantungkan jawabannya. Brian tahu jika Alicia belum siap Ketika ia mengatakan ingin benar – benar serius dengan wanita itu.
Alicia merasa tidak enak dengan Brian, mata indahnya sesekali melirik Brian yang kini tengah sibuk dengan beberapa berkas penting yang berada didepannya. Ya, Alicia tak menampik Brian adalah seorang pria yang sempurna. Muda, kaya, baik, dan memiliki wajah serta tubuh yang dipahat dengan apik. Mungkin Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan lelaki ini.
Alicia berjalan mendekat ke arah meja kerja Brian, Brian tak menyadari jika sekarang Alicia sudah berada didepan meja kerjanya.
“Ekhem,” Alicia berdehem sejenak untuk memberi kode kepada Brian. Dan Biran mengalihkan tatapannya kearah wanita cantik didepannya dengan salah satu alisnya terangkat.
“A-apakah ada yang bisa saya kerjakan Sir?” tanya Alicia.
Bria diam sejenak, pria itu berfikir.
“Apa kau bisa membuatkanku secangkir kopi? Tidak terlalu manis,” jawab Brian.
Mendengar jawaban Brian, Alicia mengganggukkan kepalanya. “Baik Sir, tunggu sebentar,”
Gadis cantik itu berjalan kearah pantry yang berada diujung ruang CEO tersebut, jika kalian bertanya seberapa luas ruangan ini. Alicia akan menjawab sangat luas, ruangan ini lebih mirip dengan apartement daripada ruang kerja.
Alicia mengambil cangkir dan mulai menyeduh kopi dengan telaten, jari jemari lentiknya mulai mengaduk kopi hitam yang tercium sangat wangi itu. Walau rasanya tak mungkin seenak wanginya karena ia hanya memberikan gula dengan jumlah sedikit, seperti permintaan calon suaminya, eh?
Alicia berjalan dengan nampan yang berisikan kopi hitam itu menuju Brian, tangan Alicia memindahkan kopi itu ke meja kerja Brian. Brian yang melihat itu mendongakkan wajahnya dan memberikan senyum manisnya. Yang membuat detak jantung Alicia semakin cepat.
Setelah ini aku harus benar – benar memeriksa Kesehatan jantungku, batin Alicia.
“Terima kasih Al,” ucap Brian lembut. Alicia menganggukkan kepalanya dengan kaku. Ia masih belum serratus persen tersadar dari senyum manis pria tampan didepannya ini.
“Ah, apa ada yang perlu saya kerjakan lagi Sir?” tanya Alicia untuk mengalihkan detak jantungnya yang semakin menggila.
Bria menggelengkan kepalanya, ia menggenggam tangan kanan Alicia. Alicia melihat tangannya yang digenggam Brian memasang wajah shock nya. Demi tuhan tolong Alicia sekarang.
“Aku memintamu melakukan tugasmu, tugas sebagai sekretaris pribadiku. Aku tak ingin melihat calon istriku ini kelelahan akibat bekerja terlalu keras,” jelas Brian. Alicia menukikkan alisnya.
“Tapi Sir, saya disini bekerja. Apa kata karyawan lain jika aku hanya duduk bersantai dan aku mendapatkan uang? Bukankah itu bekerja dengan gaji buta? Aku tidak ingin seperti itu, aku tak ingin dipandang orang lain seperti itu,”
“Siapa yang berani melawanku? Kau harus ingat sayang, aku ini bos disini. Kau tak perlu khawatirkan apapun, asal kau menuruti semua perkataanku. Aku tak ingin kau kelelahan sayang, percayalah padauk,” ucap Brian sembari meremat jari Alicia.
Alicia memutarkan matanya, ternyata bos nya ini mengidap penyakit narsistik yang sungguh menyebalkan.
“Jadi sekarang, apa yang harus aku lakukan Sir?” tanya Alicia.
“ Kau hanya perlu duduk di sofa itu, jika kau merasa mengantuk tidurlah di kamar diujung sana,” Brian menunjukkan pintu berwarna coklat yang berada disudut ruangan.
“ Itu kamar pribadiku, jika aku ingin istirahat. Kau bisa memakainya,” jelasnnya lagi.
“Aku akan duduk saja di Sofa, terima kasih untuk tawarannya Sir,” Alicia melepaskan tautan tangan mereka dan berlalu kearah pantry untuk meletakkan nampan yang sedari tadi ia bawa. Setelah meletakkan nampan itu, kaki jenjangnya melangkah kearah sofa putih yang pastinya empuk dan mahal. Gadis itu melihat jam yang melingkar di tangan kurusnya.
Masih pukul 02.00pm apa yang harus aku lakukan? Batin Alicia.
Akhirnya gadis itu memutuskan untuk bermain ponselnya, mengecek semua aplikasi sosial medianya. Tak berapa lama matanya kini mulai memberat, ia menyamankan posisi duduknya bersandar pada sandaran sofa yang terasa nyaman itu. Dengan perlahan matanya tertutup dan mulai terjun ke dunia mimpinya.
.
.
.
.
Brian, pria itu melirik jam tangan mahal rolex keluaran terbarunya. Dahinya mulai berkerut, pukul 05.30pm ya benar Brian salah satu pria yang gila kerja sehingga tak kenal waktu jika sudah berkencan dengan lembaran – lembaran kertas yang bernilai fantastic itu. Mata elangnya menatap gadis yang kini terlelap dengan posisi yang kurang nyaman menurut Brian. Pria itu bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju sekretaris pribadinya sekaligus gadis pujaan hatinya. Dengan Gerakan pelan, ia mendudukkan dirinya di sebelah Alicia.
Tangan kekarnya terulur untuk merapikan helaian rambut yang menutupi paras ayunya. Pria itu mengamati wajah Alicia, bulumata lentik, hidung bangir, pipi yang tirus serta bibir pinknya yang sedikit terbuka. Brian sangat gemas melihat Alicia tertidur, menurut pria itu Alicia yang cantik,dan menggemaskan disaat bersamaan.
“So beautiful,” bisiknya dengan senyum yang tersungging di wajah tampannya.
“Kau sangat cantik, tapi kenapa sangat sulit mendapatkanmu? Sedangkan wanita diluar sana sangat ingin dekat denganku?” ucap Brian lirih.
Dengan ragu – ragu, pria itu menepuk pelan pipi Alicia, bagaimanapun ini sudah sore dan waktunya untuk pulang. Alicia yang merasa tidurnya terganggu denga perlahan ia membuka kelopak matanya memperlihatkan warna bola mata yang jernih dan menjerat itu.
“Sudah sore, sudah waktunya kita pulang,” ucap Brian sembari tersenyum kecil melihat Alicia mengerjapkan matanya lucu.
Ya, Tuhan kenapa gadis ini sangat menggemaskan. Rasanya ingin menikahinya sekarang juga dan akan aku simpan sendiri, batin Brian.
“A-ah maafkan saya Sir, seharusnya aku tidak tertidur saat bekerja, s-saya minta maaf,” ujar Alicia panik ketika ia telah menyadari situasi sekarang.
Aku sudah gila, bagaimana bisa aku tertidur ketika ada CEO yang tengah bekerja keras dimeja kerjanya, batin Alicia.
Brian hanya terssenyum dan mengganggukan kepalanya. “Berhenti minta maaf, kau tak salah. Aku tau kau bosan. Apa tidurmu nyenyak?”
Alicia mengangkat salah satu alisnya.
“Ah, punggungku baik – baik saja Sir,” jawab Alicia.
“Baiklah, ayo pergi ke apartementku, kau harus memasak makan malam bukan?”
Alicia terdiam sejenak untuk mengerti makasud Brian. Tak lama gadis itu menganggukan kepalanya.
Mereka berdua akhirnya berjalan keluar diikuti dengan James yang berada di belakang Alicia. Kantor sudah lumayan sepi karena memang sudah memasuki jam pulang pulang kerja 30 menit lalu. James berjalan menuju basemant kantor sedangkan Brian dan Alicia berada di lobby kantor. Ketika James datang dengan mengendarai mobil mahal milik Brian, Brian berjalan medekat kerah mobil. Ia membukakan pintu mobil untuk Alicia.
Sejujurnya Alicia merasa sangat canggung, apalagi ini masih area kantor dan Brian memperlakukan hal yang menurut beberapa wanita itu special pada dirinya. Dengan kaki yang diseret dengan paksa, Alicia masuk ke mobil mewah tersebut disusul Brian.
Apakah Alicia harus merasa sangat bersyukur? Bukankah ini merupakan salah satu keajaiban? Sseorang Brian Hamilton membukakan pintu mobil untuknya. Apa dia harus mentraktir Irene dan Bella?
Dalam perjalanan menuju apartemen Brian, tak ada salah seorang pun berbicara. Suasana mobil mewah itu hanya hening dan terdengar deru mesin mobil yang begitu halus di gendang telingan. Setelah menempu perjalanan yang memakan waktu 15 menit dari kantor dengan mobil yang berisikan kecanggungan itu akhirnya berhenti di lobby apartemen elit kota New York itu. Dengan Langkah pasti, Alicia mengikuti Brian yang mulai berjalan menuju lift khusus. Alicia sesekali melirik area lobby ini. Luas dan mewah itu yang berada di otak Alicia sekarang.
Berapa harga sewa unit apartemen ini? Aku rasa gajiku selama setahunpun tak cukup untuk menyewa bahkan membeli satu unit apartemen ini, batin Alicia.
Setelah memasuki lift khusus, dan Brian menekan tombol 100. Alicia menganga, bukankah itu lantai tertinggi di apartemen ini? Brian tinggal di Penthouse?
Rasanya Alicia ingin menjerit dan bertanya seberapa kaya pria yang berada didepannya ini.
Tak berapa lama pintu lift terbuka menampilkan pemandangan yang sangat menyejukkan mata. Langit yang mulai tenggelam dengan lampu – lampu kota yang mulai menyala. Indah, sangat indah.
“Kodenya 000115,” ucap Brian. Alicia mengerutkan dahinya, untuk apa pria ini mengatakan kode apartemennya, dia ingin Alicia membobol rumahnya?
“Kau besok harus datang untuk membangunkanku dan menyiapkan segala kebutuhanku, jika kau lupa. Aku mengingatkanmu sekarang,” ucap Brian dengan senyum menggoda.
Alicia mendengus mendengar ucapan pria yang kini memasuki penthousenya.
Alicia mulai memasuki penthouse milik Brian, ia mengganti high heelsnya dengan sandal rumahan yang nyaman di kakinya. Dengan perlahan Alicia mulai melangkahkan kaki jenjangnya lebih dalam memasuki penthouse tersebut. Lagi – lagi matanya melotot dan bibirnya terbuka lebar melihat apa yang ada dihadapannya sekarang.
Brian yang melihat tingkah Alicia menggelengkan kepalanya sambal tersenyum manis. Lucu sekali kesayangannya ini, eh?
“Berhentilah menganga, akan ku tunjukkan dapurnya. Kau bisa mulai memasak, aku ingin mandi terlebih dahulu,” ucap Brian.
Alicia yang mendengar teguran Brian untuk berhenti menganga itupun segera menutup mulutnya dan mengangguk mengikuti Brian kea rah dapur.
“Kau bisa memasak bukan?”
“Tentu, aku bisa memasak.”
“Baiklah, silahkan gunakan dapurku sesukamu. Anggap saja ini rumahmu sendiri, aku ingin mandi sebelum makan,” ucap Brian yang dibalas oleh anggukan Alicia.
20 menit kemudian, Brian turun menuju dapur. Ia melihat beberapa menu makan malam sudah tersaji dimeja makannya. Ia melirik Alicia yang sedang melepaskan apronnya, gadis itu berjalan ke meja makan dan menarik kursi dihadapan Brian.
“Aku tidak tau kesukaanmu, apa kau masih bisa memakan ini?” tanya ragu Alicia. Tentu saja, ia merasa Brian terbiasa memakan makanan koki bintang 5. Bukan masakan rumahan yang biasa Alicia masak dan makan.
“Aku menyukainya, aku menyukai apapun yang kau masak untukku,” jawab Brian. Lalu pria itu mulai mengambil beberpa menu dan mulai memakannya. Jantung Alicia berdetak tak karuan ia takut dengan rasa makanannya yang mungkin saja tidak cocok dengan lidah Brian.
“Ini enak, aku menyukainya,” ucap Brian. Alicia bernapas lega mendengar ucapan Brian. Dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya ia mulai melahap makanannya dengan tenang. Tak ada yang bersuara ketika mereka masih sibuk berkutat dengan makanan yang tersaji, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Tak berapa lama makan malam itupun selesai, Alicia membersihkan meja makan dan mencuci piring dengan hati – hati. Ia yakin piring Brian harganya sangat mahal, maka dari itu ia harus berhari – hati.
Setelah selesai dengan tugasnya mencuci piring, Alicia berjalan keruang keluarga. Disana ia melihat Brian yang kini tengah menonton tv dengan duduk bersandar dengan nyaman. Gadis itu mulai mendekat pada Brian.
“Sir, sepertinya kau harus pulang. Ini sudah pukul 07.00 pm. Jam kerjaku sudah habis,” ucap Alicia.
Brian mengalihkan pandangannya menatap Alicia, lalu ia beranjak dari duduknya.
“Ya, kau boleh pulang. James ada di bawah, ia akan mengantarmu pulang. Istirahatlah, dan jangan lupa besok datang kemari,” ucap Brian.
“Baik Sir,” jawab Alicia.
Brian mengantar Alicia menuju pintu penthouse nya. Sebelum Alicia membuka pintu, tangan Brian lebih dulu menariknya. Membuat Alicia menghadap Brian.
“Kau melupakan sesuatu,” ucap Brian dengan senyum diwajahnya.
“Apa itu?” tanya Alicia.
“Pelukan selamat malam,” ucap Brian. Pipi Alicia merona dan ia dengan ragu memeluk tubuh kekar Brian.
“Ya, selamat malam Sir,” ucap Alicia sembari ia memeluk Brian erat.
“Selamat malam sayang, hati – hati dijalan,” ucap Brian sembari membalas pelukan Alicia.
Mereka melepaskan pelukan tersebut dan saling tatap sesaat sebelum Alicia pamit dan menghilang dibalik pintu penthouse Brian.
“Pelukan selamat malam, huh?” ucap Brian tersenyum Bahagia.
Yeyyy ini part Panjang banget ya. Aku buat 1800words+ semoga suka yaa.. maaf kalo suka ngilang hehe..
Jangan lupa comment biar aku semangat buat update, jadwal update tiap hari Selasa, Kamis, Sabtu yaa..
See you next chapter////