
Hallo, Sebelumnya aku pengen minta maaf ya. Buat yang udah nunggu cerita ini. Maaf jika selama 1 tahun sudah menggantungkan cerita ini. Semoga masih ada yang mau baca ya..
Aku usahain buat bakal lebih sering buat update. Tolong beri dukungan yaa..
Selamat membaca..
Alicia kembali menuju meja kerja dengan rasa kesal sekaligus marah yang memuncak. Ia tidak tau lagi harus berkata apa. Ya, ia kesal dengan Andre yang membiarkan ia dijadikan sekretaris CEO dan ia marah dengan sang CEO. Siapa lagi jika bukan Brian Felix Hamilton. Pria mesum yang menggodanya sejak beberapa hari yang lalu.
Alicia duduk dikursinya dengan wajah yang ditekuk. Irene yang melihat hal tersebut segera menghampiri Alicia.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Irene.
"Tidak apa," jawab Alicia ketus.
"Hey, apakah ada sesuatu yang salah disini? Apa yang si Andre itu lakukan padamu?" cerca Irene.
"Ia tak melakukan apapun," lirih Alicia.
"Tidak mungkin, kau. Kau berbohong padaku, dari raut wajahmu saja sudah menunjukkan kesialan yang menghampirimu. Benarkah dugaanku?" tebak Irene sembari memicingkan kedua matanya.
Alicia menghembuskan napas beratnya.
"Kau tau? Hari ini adalah hari terakhirku berada di Divisi keuangan," lirih Alicia.
"Benarkah? Apa, apa Andre sialan itu memecatmu? Aku akan menggantungnya jika dia benar - benar memecatmu," geram Irene.
"Tidak, dia tidak memecatku," bela Alicia.
"Lalu? Apa maksudmu jika hari ini adalah hari terakhirmu bekerja sebagai karyawan Divisi keuangan?" tuntut Irene.
"Mulai besok aku akan menjadi sekretaris pribadi CEO," ucap Alicia tak bersemangat.
"Oh menjadi sekretaris CEO," beo Irene sembari mengangguk - anggukan kepalanya.
Alicia hanya mengangguk lemah.
"APA? APA AKU SALAH DENGAR? K-kau? Kau jadi sekretaris pribadi CEO??" teriak Irene.
"Bisakah kau menutup mulutmu itu, lihat mereka memperhatikan kita sekarang," ujar Alicia kesal.
Irene segera menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Dan mengedarkan pandangannya, benar saja apa yang dikatakan Alicia. Mereka sedang mendapat tatapan - tatapan tajam dari sesama rekan divisi.
"Kau becanda?" ucap Irene tak percaya.
"Apa aku terlihat sedang melucu?" tanya Alicia.
"Itu keberuntungan, kau sangat beruntung Al. Bisa menjadi sekretaris pribadi Mr. Hamilton, jika aku jadi kau aku akan mentraktir seluruh karyawan divisi kita," ucap Irene sembari tersenyum cerah.
"Entahlah, tapi aku merasa jika ini benar - benar kesialanku," ucap Alicia frustasi.
"Hey Al, bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Yang ada kau malah amat sangat beruntung. Kau bisa selalu dekat dengan Mr. Hamilton, pria terkaya dan termuda. Bukankah itu impian semua gadis di negara ini?" cerca Irene.
Alicia hanya mengangkat kedua bahunya.
"Irene? Apa yang sedang kau lakukan disana? Apa kau sedang bergosip lagi?" ucap Andre yang baru saja memasuki ruang divisi keuangan.
"Ah, aku, aku tentu saja tidak bergosip Sir. Aku hanya bertanya beberapa pekerjaan pada Al," jawab Irene gugup.
"Kembali ketempatmu sekarang, dan revisi laporan mingguan yang kau berikan padaku tadi," ucap tegas Andre.
Irene dengan berat hati meninggalkan Alicia dan melangkah mendekati Andre untuk mengambil berkas laporan mingguan yang harus ia revisi.
"Aku tunggu sebelum makan siang, laporan itu harus sudah siap. Apa kau mengerti?" tanya Andre.
"Yes Sir," jawab Irene.
Semua kembali bekerja seperti biasa, namun suasana hati Alicia tak berubah. Ia masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi. Sekretaris pribadi? Yang benar saja.
Pukul 12.00 siang
Siang ini Alicia ingin menyegarkan pikirannya dengan meminum kopi kesukaannya. Gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari perusahaan dan berjalan menuju cafe favoritnya yang berada didekat area perusahaan.
Gadis itu memilih tempat duduk dipojok ruang yang menghadap pemandangan jalan raya yang cukup ramai siang ini.
Seorang gadis muda berjalan menghampirinya, sambil membawa buku catatan dan memakai seragam ciri khas karyawan cafe.
Alicia tersenyum melihat gadis muda dihadapannya ini. Ia yakin, gadis itu masih bersekolah dan sedang melakukan kerja part time.
"1 cup moccacino dan waffle please," ucap Alicia.
Gadis muda itu segera mencatat pesanan Alicia dibuku kecilnya. Lalu gadis itu mengangguk.
"Baik Miss, silahkan tunggu sebentar," ucap gadis itu dan berjalan meninggalkan Alicia.
Alicia membuka ponselnya, dan ia menemukan satu pesan yang asing menurutnya.
From : +1 646xxxxxxx
Sayang, kau dimana? Jangan menjauhiku aku bisa mati jika kau tak disampingku.
From : +1 646xxxxxxx
Katakan padaku dimana kau? Aku mencarimu. Ah kau ingin aku mencarimu? Kau sangat menggemaskan seperti kucing imut yang sedang bermain petak umpet.
From : +1 646xxxxxxx
Tunggu aku, aku akan segera menemukanmu♥️.
Alicia bergidik ngeri membaca pesan - pesan itu. Orang gila macam apa yang mengirimi pesan seperti ini? Pikirnya.
Alicia tak memperdulikan pesan tersebut. Gadis dengan wajah canti khas asia itu mengalihkan pandangannya ke arah jalanan untuk menghilangkan semua pikiran yang menganggunya hari ini.
Tak berapa lama gadis pelayan itu mengantarkan pesanan Alicia. Alicia dengan wajah cantik dan manisnya tersenyum menerima pesanannya. Setelah mengantar pesanan Alicia pelayan muda itu pergi meninggalkan pelanggannya menikmati makan siang dengan damai.
Tak berapa lama bahu Alicia ditepuk pelan, mengalihkan atensi gadis itu kearah kirinya untuk melihat siapa orang yang mengganggu waktu berharganya.
Kerutan didahinya muncul, raut takpun ia tampilkan dengan gamblang.
"Sayang, aku mencarimu jika kau tau," ucap lembut pria itu sembari menarik kursi dan duduk didepan Alicia.
"Maaf sebelumnya, saya tidak pernah meminta anda untuk mencari saya. Saya sedang menikmati makan siang saya dengan damai sebelum orang menyebalkan mengacaukan segalanya," gerutu Alicia.
Brian, ya pria itu Brian. CEO diperusahaannya.
"Aku ingin makan siang bersama calon istriku. Apa itu salah?" tanyanya lembut.
"Tentu. Tentu itu salah. Dan perlu anda ingat, saya tidak akan menjadi istri anda sampai kapanpun," ucap Alicia kesal.
Brian tersenyum manis mendengar jawaban pujaan hatinya.
"Ya, benar. Hanya untuk saat ini, mungkin kau bisa mengatakan seperti itu. Tapi kita tahu masa depan sayang? Mungkin kita akan menjadi keluarga bahagia dengan adanya satu atau dua buah hati?" jawab Brian santai.
Alicia yang merasa sudah muak itupun bangkit dari kursinya. Lalu memberi tatapan tajam ke arah Brian.
"Dalam mimpimu Sir. Saya permisi," Alicia pergi setelah mengucapkan kata itu. Ia terlalu kesal menghadapi atasannya yang sialnya tampan namun sangat menyebalkan.
"Sungguh sangat menarik, aku sangat ingin menjadikanmu milikku Al," ucap Brian sembari memperhatikan Alicia yang mulai menghilang dari pandangannya.
Alicia kembali melangkahkan kakinya memasuki ruang kerjanya. Ia berjalan menuju mejanya, ia merasa hidupnya sangat sial akhir - akhir ini karena pria gila yang sialnya atasannya sendiri, yang menggaji dirinya.
"Sial, kenapa aku sesial ini. Rasanya aku ingin mecakar wajahnya huh," gerutu Alicia sembari menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.
"Siapa yang ingin kau cakar?" tanya Irene dengan rasa ingin tahunya.
Alicia mengangkat wajahnya dan melihat wajah Irene yang sangat dekat dengannya.
"Sejak kapan kau ada disini?" tanyanya. Irene hanya mengangkat kedua bahunya, tak perduli.
"Kau tau? Rasanya aku ingin mencakar wajah CEO brengsek itu yang sayangnya terlihat tampan," ucap Alicia dengan geram.
Irene hanya menaikkan satu alisnya menatap Alicia dengan tatapan menggoda.
"Huh? Kau ingin mencakar atau mencium wajah tampannya em?" goda Irene. Alicia hanya mendelik mendengar ucapan temennya itu.
"Kau?! Kenapa kau sangat menyebalkan! Kenapa semua orang menyebalkan!" teriak Alicia kesal. Lalu menyembunyikan wajahnya kembali dengan gerutuan yang belum selesai. Sedangkan Irene? Wanita cantik itu hanya menghendikan bahunya dan berlalu ke meja kerjanya untuk menyelesaikan revisi yang harus ia selesaikan.
Jangan lupa buat komen dan vote yaa.. makasih💚