
Setelah selesai memeriksa keadaan gadis itu Agra membuka suaranya untuk berbicara kepada Lei bahwa gadis itu baik-baik saja.
"Gadis ini baik-baik saja. Hanya saja...." ucap Agra terbata-bata.
"Hanya saja apa? Bisakah kau tidak berbicara setengah!" ketus Lei kesal.
"Hanya saja gadis ini sedikit mengalami rasa takut yang berlebihan, Lei."
"Aku tahu itu, Agra!" Lei mendengus kesal. "Lalu apa yang harus aku lakukan agar dirinya tidak mengalami rasa takut yang berlebihan!"
"Kau bisa menjaga jarak dengannya. Biarkan dia beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya terlebih dahulu,"
"Baiklah, terimakasih!"
"Sama-sama. Aku pamit dulu, bye!"
"Bye."
Agra pamit lalu ia segera kembali kerumahnya. Sedangkan Lei keluar dari kamar tamu dan berjalan masuk kedalam kamarnya sendiri. Lei memilih untuk istirahat.
***
Siang Hari pukul 13.00 Wib, Jakarta, Indonesia.
Lina mengerjapkan matanya. Ia menatap sekelilingnya dengan perasaan aneh, banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Di mana ini? Aku di mana? Apakah aku bermimpi? Batin Lina bingung.
Matanya membulat sempurna saat melihat sosok laki-laki yang tengah tertidur di sampingnya dengan keadaan tidak memakai baju. Karena merasa terkejut Lina berteriak dengan sangat kuat, hal itu membuat laki-laki yang tertidur di sebelahnya ikut terbangun.
"Argkhh....!" teriak Lina. "Siapa kau!"
Felix terbangun dari tidurnya mendapati Lina yang berteriak seperti singa.
"Lina...." panggil Felix tersenyum manis.
"Siapa kau!" ketus Lina.
"Hei, tenanglah," ucap Felix lembut. "Aku tidak akan melukaimu, Lina."
Lina merasa tubuhnya lemas dan kepalanya terasa sangat pusing. Ia memegangi kepalanya yang merasa pusing, tidak lama kemudian kesadaran Lina pun hilang. Ia terjatuh dan pingsan. Felix yang melihatnya pun segera menangkap tubuh Lina agar tidak membentur lantai.
Felix meletakkan Lina di atas kasur lalu menyelimuti gadis itu dengan pelan. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Agra.
Panggilan terhubung.
"Halo, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki dari arah sebrang sana.
"Kerumahku sekarang juga!" perintah Felix.
"Baiklah, saya akan tiba di sana dalam waktu sepuluh menit lagi." ucap laki-laki dari arah sebrang sana.
Tut!...
Panggilan terputus.
Felix duduk di tepi ranjang sambil mengelus kepala Lina dengan lembut. Ada perasaan bahagia dan juga khawatir akan wanita itu. Entah apa yang membuat laki-laki seperti gunung es itu setia dengan gadis tersebut.
"Maafkan aku telah memisahkan dirimu dengan Ayahmu. Maaf jika aku sedikit egois." lirih Felix.
Felix menarik nafasnya dengan dalam lalu membuang dengan kasar. Ia memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama untuk Felix selesai membersihkan dirinya.
Sepuluh menit kemudian....
Agra telah berada di kediaman rumah utama Felix Chandra. Ia bergegas menuju lantai dua untuk menuju kamar utama yang di tempati oleh Felix.
Pintu kamar itu diketuk oleh Agra. Felix yang mendengar ada ketukan dari luar pun segera membuka pintu kamarnya untuk melihat siapa yang datang.
"Selamat siang, Tuan." sapa Agra sopan sambil membungkukan badannya seperti ala orang jepang.
"Siang juga, silakan masuk!" ujar Felix. "Periksa wanita ini dengan baik, jika tidak kau tentu tahu konsekuensi apa yang akan aku berikan padamu."
Agra yang mendengar ucapan Felix pun bergidik ngeri. Ia tentu tahu dengan siapa dirinya berhadapan. Agra memulai memeriksa wanita yang terbaring lemah di atas ranjang itu. Sedangkan Felix matanya terus mengawasi gerak gerik laki-laki yang sedang memeriksa pujaan hatinya. Ia tidak ingin ada satupun laki-laki yang berani menyentuh gadisnya secara sembarangan.
"Kenapa kau begitu lama memeriksa gadis itu, Agra?" tanya Felix mulai kesal. "Apakah kau mengagumi kecantikan wanitaku?"
Eh, dia salah mengira. Aku kan hanya memeriksa saja, kenapa dia bisa posesive banget yah? Batin Agra.
"Saya hanya memeriksa saja, Tuan." ucap Agra sedikit kaku.
Setelah beberapa saat akhirnya Agra telah selesai memeriksa keadaan gadis tersebut. Ia memberi tahu jika Lina mengalami sedikit tekanan. Ya, Felix tentu tahu tidak mudah untuk membuat seorang yang amnesia mengingat siapa dirinya.
Selesai menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan Agra memilih untuk cepat-cepat pergi dari sana karena bisa saja keselamatannya terancam jika berada lama-lama di sana.
Felix memilih baju di dalam lemarinya. Sebab hari ini ia akan pergi ke kantornya yang berpusat di Jakarta untuk menghadiri rapat penting. Felix memilih untuk memakai celana dasar lalu memakai kaos polos yang berbalut texudo yang berpaduan hitam elegan yang membuatnya semakin arogan dan menawan.
Felix tidak lupa memakai wristwatch miliknya yang membuat dirinya semakin tampan dan mempesona. Setelah bersiap Felix memilih untuk menemui Anthoni dan Lei terlebih dahulu.
Felix berjalan keluar dari kamarnya lalu pergi mencari keberadaan Anthoni dan Lei. Setelah lama mencari keberadaan sahabatnya akhirnya Felix menemukan sahabatnya di meja makan.
"Mau pergi kemana, Felix?" tanya Anthoni yang sembari melahap makanannya.
"Ada rapat penting dengan klien di kantor hari ini," jawab Felix sambil menarik kursi meja makan lalu duduk di sebelah Anthoni. "Aku akan pergi sendirian, tolong jaga Lina untukku."
"Apa kau yakin akan pergi sendirian, Felix?"
"Apakah dirimu meragukan aku, Anthoni?"
"Aku tidak meragukanmu, hanya saja aku tidak yakin jika kau pulang dalam keadaan baik-baik saja,"
"Apa maksudmu, Anthoni?"
"Ya, kau tentu tahu jika musuhmu tak kasat mata, Felix. Mereka bisa menyerangmu kapan saja dan di mana saja."
"Aku tahu itu. Aku bukan orang bodoh yang bisa dilabuhi, Anthoni."
Glek.
Anthoni menelan salivanya dengan susah. Begitu keras kepala laki-laki yang bernama Felix Chandra itu. Felix juga bukan orang bodoh yang bisa ditipu oleh musuh. Laki-laki itu cukup pintar jika masalah bisnis
"Kau cukup menjaga Lina untukku saja. Aku bisa melindungi diriku sendiri, Anthoni, percayalah itu." ucap Felix percaya diri.
"Aku hanya takut kejadian sebelumnya akan terulang kembali, Felix," jawab Anthoni pelan.
"Kejadian itu tidak akan terulang lagi, aku percaya itu, Anthoni."
"Kenapa dirimu begitu percaya diri, Felix?" tanya Anthoni mulai kesal. "Apa kau tidak tahu jika orang di luar sana begitu banyak menginginkan nyawamu? Tidak bisakah dirimu mengajakku untuk pergi bersamamu? Aku tidak ingin kau terluka untuk kesekian kalinya,"
"Aku tahu kau peduli kepadaku, kawan. Tapi percayalah padaku, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bukan anak kecil yang tidak bisa menjaga diriku."
"Aku tidak ingin dirimu terluka kesekian kalinya, Felix. Begitu banyak luka yang tertanam di dalam dirimu itu, Felix!" ucap Anthoni kesal.
"Cukup! Aku bukan anak kecil Anthoni. Aku tahu kau begitu peduli padaku, biarkan luka yang aku terima menjadi masa lalu, hidupku telah berwarna kembali semenjak kehadiran Lina di sisiku."
\=\=\=> Bersambung.....
Jangan lupa klik like dan vote yah👣