Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 21



Dokter Agra memasangkan semua alat-alat di bagian dada Felix untuk membantu menaikan detak jantung pria itu. Agra terus memperhatikan monitor detak jantung yang semakin lama semakin menunjukan garis lurus tidak ada lengkungan. Atau bisa disebut detak jantung Felix semakin melemah.


Agra meraih sebuah alat medis untuk jantung yang tidak lain adalah Defribrillator stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan korban serangan jantung. Eksternal Defibrillator Otomatis (Automatic external defubrillator) dapat digunakan dengan cara diimplan atau ditanam dalam tubuh ataupun dapat juga digunakan sebagai alat eksternal biasa.


Defibrillator sekarang telah menjadi perangkat integral dalam komunitas medis dan masyarakat. 


Alat lainnya, pacemarker atau alat pacu jantung juga memungkinkan dokter untuk mempertahankan stimulasi listrik ke jantung untuk memulihkan dan menstabilkan ritme normal jantung. Sama seperti defibrilator, mereka dapat diimplan atau digunakan secara eksternal. Gangguan pada irama jantung normal dapat muncul dari berbagai sumber seperti penuaan, cacat keturunan, blok jantung dan bahkan efek samping dari obat jantung.



Dokter Agra langsung saja menekankan alat itu kebagian dada Felix sambil melihat monitor detak jantung yang berada di samping kiri tempat tidur pasien. Semakin melemah dengan cepat Agra terus menekankan alat itu berulang kali namun, hasilnya nothing tidak ada perubahan dan akhirnya mungkin inilah sebuah takdir yang harus terjadi pada Felix. Mungkin dengan kepergiaan Felix ia bisa mendapati kebahagiaan yang seharusnya ia dapatkan.


Agra tidak mempunyai pilihan yang lain selain melepaskan semua alat medis yang terpasang di tubuh Felix.


‘Jika memang ini adalah takdirmu aku relakan dirimu pergi dan tenanglah di atas sana. Semua kepedihan, penderitaanmu telah tergantikan oleh kebahagiaan, selamat jalan, Felix Marta Dinata.’ Batin Agra berdo'a.


Namun, saat Agra telah melepaskan semua alat medis yang terpasang di bagian dada Felix. Layar monitor detak jantung kembali memberikan garis lengkungan yang bearti jantung Felix masih berdetak.



Agra menitikan air mata yang sedari dari tadi ia bendung berharap sebuah keajaiban datang untuk memberikan pertolongan kepada pria yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien tersebut. Dengan cepat Agra langsung memeriksa semua detak jantung Felix untuk membuktikan bahwa pria itu masih bernafas.


Sebuah keajaiban datang membuat pria yang terbaring itu telah selesai melewati masa kritis yang berada di antara hidup dan mati. Agra benar-benar bersyukur atas keajaiban ini.


Dengan cepat tim medis segera memasangkan alat bantu pernafasan lalu memindahkan Felix kedalam kamar pibadi atau bisa disebut dengan ruangan VIP yang akan di tempati pria itu.


Setelah di pindahkan keruangan VIP. Kini Lina duduk di tepi ranjang melihat pria yang kini tengah terbaring lemah tidak sadarkan diri. Wanita itu harus mengingat siapa pria yang kini tengah menyelamatkan dirinya, jika tidak ada pria itu entah bagaimana nasibnya, tentu begitu bukan?


Sedangkan kedua pria itu menunggu di dalam ruangan pribadi Felix, mereka medudukan dirinya di atas sofa yang berada di dalam ruangan tersebut.


“Lina ....”


“Ya, ada apa?”


“Apakah kau ingin merubah keputusanmu? Kau sungguh ingin pulang ke Turki?”


“Keputusanku sudah bulat, bahwa aku akan kembali ke Turki, Anthoni.”


“Baiklah, aku harap kau tidak akan mengganggu Felix ketika ingatanmu kembali pulih nantinya.”


“Aku tidak ingin menyakitinya, Anthoni. Walaupun aku tidak bisa mengingat siapa dia. Dari cerita yang aku dengar oleh Lei bahwa dia begitu tulus padaku.”


“Kau wanita yang sangat beruntung karena telah bisa menguasai hatinya. Tetapi kau tidak akan pernah sadar akan hal itu. Kau tentu tahu bahwa pria yang terbaring lemah di hadapanmu itu begitu menyayangimu dengan tulus,”


“Maafkan aku, Anthoni. Aku akan mengobati luka yang ada di wajahku, lalu setelah itu antarkan aku pulang sekarang juga!”


Anthoni menggeram frustasi, bagaimana sekarang? Wanita itu menagih janjinya akan menghantarkan Lina pulang ke Turki jika Felix selamat. Lalu apakah setelah membebaskan Lina, Felix akan baik-baik saja?


Lina beranjak dari duduknya untuk pergi kedalam kamar mandi hendak membersihkan bekas bercak darah segar yang masih terlihat di wajahnya. Namun, sebelum sempat beranjak tangan kekar milik pria itu menahannya untuk pergi. Felix mengerjapkan matanya perlahan berharap akan ada wanitanya berada di sampingnya. Pria itu menoleh kesamping kiri ternyata benar, wanitanya kini tengah menunggu ia untuk sadar.


Felix mencoba untuk duduk, agar ia bisa menatap wajah cantik milik wanitanya.


Anthoni yang melihat Felix banyak bergerak pun menjadi kesal. “Jangan banyak bergerak, Felix!”


Felix menatap Anthoni dengan tatapan yang mematikan. “Kenapa aku tidak boleh banyak bergerak? Luka kecil ini tidak ada arti apa-apa bagiku.”


Anthoni menggeram marah, ia mengepalkan tangannya karena kesal serta rasa peduli yang begitu besar terhadap Felix. “Luka kecil katamu? Kau hampir saja mati karena menyalamati wanitamu, kau bilang itu luka kecil dan tidak ada arti apa-apa? Apa dirimu sudah gila mengatakan luka yang sangat serius padamu kau anggap itu luka kecil sangat hebat sekali!”


Felix menggembangkan senyuman hangatnya kearah Lina. “Sudah berapa lama aku tertidur, Lei? Lina kemarilah, Sayang.” Pria itu meminta wanitanya untuk mendekat. “Kenapa wajahmu lebam seperti ini, Sayang?”


Lei menatap dalam kearah Anthoni seakan-akan mereka berkomunikasi melalui mata dan hati. Anthoni hanya mengangguk memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Lei hanya tersenyum karena sudah mendapatkan jawaban dari Anthoni.


Sedangkan wanita itu menatap Lei dan Anthoni secara bergantian dengan penuh emosi yang membara saat mengingat kemarahan kedua pria yang ada di dalam ruangan itu. Ingin sekali rasanya Lina memberitahukan kepada pria itu bahwa luka lebam itu didapatkannya karena tangan dari kedua sahabat pria itu.


“Katakan, siapa yang memberikanmu luka lebam ini, Lina?”


‘Apa aku beritahu saja jika luka lebam ini datang dari tangan kedua pria itu?’ batin Lina bertanya-tanya.


“Bukan siapa-siapa, aku tidak sengaja menabrak pembatas dinding rumah sakit ini.”


Pria itu menatap lekat binik mata wanitanya, apakah wanita yang ada di hadapannya mencoba berbohong? Ternyata benar Lina sedang berbohong padanya.


“Cek semua cctv rumah sakit ini sekarang juga, Lei!”


“A...Apa?”


“Aku tidak suka berbicara dua kali, Lei!”


“Baiklah, aku akan membawakan salinan cctv untukmu, Boss.”


“Pergilah cepat! Jangan ada yang menyulap salinan cctv yang sebenarnya!”


Lei melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Felix menuju ruang keamanan untuk menyalin rekaman cctv yang sedang berlangsung tadi. Pria itu hanya menatap kosong kedepan sambil berjalan menuju ruang keamanan. Apakah setelah ini hukuman mati yang akan diterimanya? Ataukah dipecat? Atau harus siap gajinya dipotong selama 1 bulan lebih? Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Lei hanya bisa berdo'a agar ia tidak dipecat oleh Felix.


🍁🍁🍁


jangan lupa like n vote poin/koin sebagai bentuk dukungan pada karya ini, Terimakasih....