Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 31



Turki


Helikopter yang membawa mereka telah sampai di Kota Asal, Instanbul, Turki.


Dua buah helikopter mendarat dengan tepat di sebuah lapangan di dekat rumah Lina. Perempuan itu tersenyum bahagia, saat melihat bahwa dirinya telah kembali ke Negara asal.


Melepas kerinduannya bersama Ayahnya dan Kakaknya, Sean.


Ia turun dari helikopter itu dan berjalan menuju rumahnya diikuti oleh Felix dan yang lainnya.


Tok-tok-tok!


Lina mengetuk pintu rumah sederhana itu, ia tidak sabar untuk melihat wajah Ayahnya, pria yang selama ini ia rindukan. Begitu rindunya ia kepada pria itu.


Pintu terbuka, terlihat sosok pria bertubuh kekar di ambang pintu. Lelaki tampan, hidung mancung, netra mata berwarna cokelat, dagunya sedikit runcing, serta bulu mata lentik, menghiasi wajahnya.


"Kakak!" seru Lina berhambur masuk ke dalam pelukkan Sean.


Pria itu menatap aneh, ia marah karena adik perempuannya menghilang dengan lama, ia menahan Lina agar tidak memeluknya. Ia menatap tajam ke arah Felix dan lainnya.


"Dari mana saja kamu baru pulang sekarang? Apakah kamu tidak tahu bahwa selama ini, Ayah mencarimu, Lina!" bentak Sean marah, raut wajahnya menampakkan dengan jelas bahwa pria itu sedang marah besar.


"Jangan membentaknya seperti itu, Sean. Aku yang membawanya pergi dari Negara ini, dan sekarang, aku mengembalikannya. Di mana Ayah?" sela Felix membela Lina, ia tidak ingin Sean meluapkan kemarahannya kepada Lina. Biarlah ia sendiri yang menjadi sasaran kemarahan Sean, Kakaknya Lina.


Brugh!


Sean melayangkan tangannya ke wajah Felix. Pria itu terjatuh, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Ia memegangi bibirnya yang berdarah itu.


"Boss, Anda tidak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Lei cemas, melihat kejadian itu di depan matanya.


"Lina, pria brengsek itu, tidak perlu kamu berikan belas kasih, dia telah menculik Anak gadis orang lain dan membawanya ke Negara berbeda! Lina, kamu tahu? Kakak tidak akan membiarkan satu pun lelaki yang berani berbuat macam-macam padamu. Aku, Kakakmu! Yang akan menjaga dan melindungimu, selama aku masih bisa bernafas di Dunia ini!" oceh Sean marah, selama ini ia terus mencari keberadaan Adik perempuannya.


Fahri merasa sedikit ada keributan di luar rumahnya. Ia segera berjalan keluar untuk melihat apa yang kini tengah terjadi.


"Lina, kamu dari mana saja, Nak?" tanya Fahri tiba-tiba datang dari dalam rumah.


Lina berhambur mendekati Fahri dan memeluknya, "Lina kangen Ayah. Ayah bagaimana kabarnya? Maafiin Lina, yah, Ayah."


"Siapa mereka, Lina?" tanya pria paruh baya itu tiba-tiba saat mendapati beberapa wanita dan pria di depan rumah mereka.


"Ayah masih mengingat tentang seorang pria kecil yang bernama Felix pada waktu itu?" tanya Lina memancing ingatan Ayahnya. Apakah Fahri masih mengingat tentang Anak 12 tahun yang pernah menjadi Anak angkatnya?


"Tentu Ayah mengingatnya, Lina. Ada apa? Apa dia Felix? Felix kecil?" tanya Fahri dengan mata bebinar, akankah itu Anak angkat yang selama ini dia rindukan?


"Ya, dia Felix Marta Dinata, Anak angkat yang pernah Ayah asuh bersama Ibu," ungkap Lina sambil memeluk erat Ayahnya, melepas kerinduannya.


"A ... Apa? Dia Felix? Kenapa wajahnya sangat berubah, dia tidak seperti Felix kecil dahulu," cela Sean tiba-tiba merasa tak percaya bahwa pria itu adalah Felix.


"Ya, aku Felix, Sean. Maafkan aku, aku hanya ingin membuat Lina mengingat siapa diriku, Lina mengalami Amnesia. Maka dari itu, aku ingin membuatnya mengingat siapa diriku," ungkap Felix jujur kepada Sean dan Fahri, Ayah angkatnya.


"Felix kemarilah, Nak. Ayah merindukanmu dengan banyak." pinta Fahri sambil membuka lebar tangannya. Felix menatap dengan mata berkaca-kaca. Ia berjalan dan memeluk Fahri dengan erat.


Air mata bahagia menetes begitu saja, Felix sudah lama tidak merasakan hangatnya pelukan dari seorang Ayah, meski yang memeluknya sekarang adalah Ayah angkatnya, setidaknya pelukan ini, menghangatkan hatinya.