
Keesokan harinya, seperti biasanya, cahaya mentari pagi dan udara pagi yang sejuk membuat siapa saja menikmati suasana pagi yang indah.
Hari ini, telah diputuskan oleh Felix bahwa mereka akan kembali ke, Instanbul, Turki. Waktu yang telah ditentukannya untuk berada di Indonesia telah datang. Lina telah mengetahui siapa dirinya.
Felix juga harus mengurus kantornya yang di sana. Dan memantau perkembangan kantor itu, saat ditinggal pergi selama ini.
"Apakah semuanya telah siap, Lina?" Felix bertanya kepada Lina, yang sedang sibuk merias dirinya di depan meja rias.
"Tunggu sebentar lagi, Felix. Aku sedang berusaha mempercantik diriku," Lina berkata sambil memoles wajahnya dengan sebuah bedak.
"Hei, dirimu tidak berdandan juga tetap anggun di mataku, kecantikanmu tidak akan pernah luntur di mataku. Karena dirimu adalah sebuah Bidadari yang tak bersayap yang dikirimkan untukku," Felix berkata dengan tersenyum menatap wajah wanita itu, dari pantulan cermin.
"Omong kosong seperti apa itu? Bukankah banyak mantan kekasihmu yang lebih cantik darikku," Lina berkata dengan cemberut. Felix yang melihat raut wajah wanita itu telah berubah pun, tersenyum manis.
"Sayang, aku tidak pernah menjalin kasih bersama wanita manapun. Karena aku telah berjanji akan setia hanya padamu, sampai aku mati sekalipun, aku tetap ingin dirimu. Tidak ingin wanita lain, dan tidak akan pernah ada wanita yang bisa menggantikan posisimu di hatiku." Felix berkata dengan serius. Sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Lina.
Felix berdiri di belakang Lina, sambil memainkan rambut wanita itu, "Kamu lihat? Kamu sangat cantik, aku menyukainya. Percayalah padaku, tidak ada satupun wanita yang bisa menggantikanmu di hatiku, Lina."
"Jadi kamu menyukaiku hanya karena wajahku? Andai kata, jika wajahku mengalami kecacatan fisik yang membuatmu merasa jijik. Apakah kamu masih ingin bersama denganku, Felix?" Lina bertanya sambil menatap wajah Felix dari pantulan cermin dengan serius.
"Aku menyukai semua yang ada padamu. Jika memang kamu tak cantik lagi, aku akan tetap bersama denganmu, aku tidak akan bisa meninggalkanmu sendirian. Aku sungguh mencintaimu dengan banyak, Lina. Hidup tanpamu, bagaikan hidup, tapi tak bisa bernafas. Dan itu sangat menyiksa diriku." Felix berucap dengan serius. Ia masih memainkan rambut Lina dengan lembut.
Mendengar ucapan dari Felix, entah mengapa hati Lina seperti tenang. Dan sejujurnya ia bahagia saat mendengar ungkapan dari sudut bibir pria itu. Ternyata Felix tidak pernah membuka hatinya untuk wanita manapun selain dirinya. Begitu beruntungnya ia mendapatkan sosok lelaki setia, seperti Felix.
Lina memoleskan sebuah lipblam ke bibir tipisnya itu. Sehingga bibir indah miliknya lebih terkesan glossy. Terlebih terlihat natural.
"Semua barang-barangnya sudah dikemaskan, Felix?" Lina bertanya untuk kembali memastikan.
"Sudah, tetapi tidak semua pakaian di sini akan kita bawa kembali ke Turki, Lina. Biarkan pakaian di sini akan menjadi kenangan untuk di rumah ini. Kita bisa membelinya lagi saat sudah sampai di Turki." ungkap Felix dengan tersenyum menatap Lina, lalu Felix meraih dua koper yang berisi pakaiannya dan Lina.
Pria itu mengunci pintu kamar pribadinya. Setelah itu, mereka berjalan menuju lantai bawah untuk menemui Lei dan Anthoni. Apakah mereka telah selesai? Sepertinya sudah, karena pintu kamar tamu, sudah terkunci dengan rapi.
Sesampainya di bawah, ternyata benar dugaan Felix, bahwa kedua pria itu telah selesai berkemas hendak pulang ke Turki.
"Bagaimana? Apakah semua telah dipastikan tidak ada yang tinggal?" kali ini, Anthoni bertanya dengan serius. Untuk memastikan tidak akan ada yang tinggal.
"Tidak ada, bagaimana dengan kalian berempat? Apakah barang-barang kalian tidak ada yang tinggal?" Felix kembali bertanya kepada mereka yang berdiri di hadapannya.
"Tidak ada, Boss," Lei menyahut omongan dari Felix.
"Bagaimana denganmu, Clarissa? Apakah dirimu tidak ingin ikut ke Turki bersama Anthoni dan yang lainnya?" tanya Felix dengan serius. Ia menatap tajam ke arah Clarissa.
"Tentu aku ikut bersama Anthoni, Felix. Hanya saja, aku belum bisa menerima kenyataan ini." Clarrissa menjawab dengan menunduk. Ia tak ingin menatap wajah Anthoni.