Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 23



Namun, tiba-tiba saat Lina hendak berjalan mendekati Felix ia terjatuh dan tergeletak di atas lantai karena pingsan. Felix yang melihat itu pun segera menggendong tubuh Lina ke atas tempat tidur dan meletakkannya di sana.


Felix memerintahkan Lei untuk memanggilkan Dokter Agra agar memeriksa keadaan Lina. Pria itu tentunya panik, mengapa wanitanya tiba-tiba tergeletak tidak sadarkan diri. Pria itu duduk di tepi ranjang sambil membenarkan anak rambut yang menutupi wajah cantik milik wanitanya.


Setelah beberapa saat, Dokter Agra kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Felix dengan cepat agar tidak terkena imbas dari kemarahan Felix. Amarah yang tadinya memuncak kini telah berganti menjadi kekhawatiran yang teramat mendalam.


“Periksalah segera, Agra!”


“Jangan panik, tenangkanlah dirimu terlebih dahulu, Felix, aku akan memeriksanya.”


Agra dengan cepat memeriksa keadaan Lina. Wanita itu? Baik-baik saja tidak ada apa-apa. Suhu tubuhnya normal, detak jantungnya juga normal, tidak ada yang salah.


“Semuanya normal, mungkinkah ingatan Lina telah kembali sehingga membuatnya tiba-tiba tak sadarkan diri.”


“Lina sudah pulih? Dia bisa mengingat siapa aku, Agra?”


Felix menatap Agra dengan tatapan yang tidak percaya. Seakan-akan inilah yang akan menjadi hari yang paling membahagiakan di dalam hidupnya semenjak kepergian kedua orangtuanya tidak ada lagi yang namanya bahagia di dalam diri Felix. Cahaya terang yang menerangkan kehidupan sudah tidak ada lagi, akankah cahaya yang pernah redup selama puluhan tahun akan kembali terang karena kembalinya ingatan wanita yang dicintainya?


Jika memang seperti itu, maka inilah hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya karena sekarang wanita itu telah bisa mengingat siapa dirinya.


“Kita hanya bisa berdo'a akan hal itu, teruslah membuatnya bisa mengingat siapa dirimu perlahan, suatu saat ingatan yang pernah hilang akan kembali kepada dirinya.”


“Baiklah, terimakasih, kau memang yang terbaik untukku, Agra.”


“Memang sudah seharusnya aku melakukan ini semua, karena tugasku adalah menyelamatkanmu dan orang-orang yang dekat denganmu. Aku permisi dahulu.”


“Pergilah ....”


Agra tersenyum lalu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar rawat itu menuju ruangan pribadinya sendiri. Sedangkan Felix ia kembali duduk di tepi ranjang memperhatikan wajah cantik Lina, ia ingin sekali ketika wanitanya membuka mata. Dialah orang yang pertama dilihat oleh Lina.


Felix meraih tangan Lina lalu menggenggam tangan itu dengan hangat serta penuh cinta yang sangat tulus kepada Lina. Apapun akan dilakukannya agar wanitanya selamat dan bahagia terkecuali, jika wanita itu meminta untuk dilepaskan itu tidak akan pernah terjadi. Felix tidak akan melepaskan wanita itu lagi di dalam hidupnya, sudah cukup lima belas tahun yang lalu ia berada jauh dari Lina.


Anthoni dan Lei hanya menatap Felix yang begitu peduli pada wanita itu, mereka duduk di atas sofa yang berada di dalam ruangan. Karena Anthoni mengetahui jika mereka belum ada yang makan pun segera keluar dari ruangan hendak pergi membeli makanan yang bisa untuk menganjal perutnya sampai beberapa waktu kedepan.


Dua puluh menit kemudian...


Anthoni telah selesai membeli empat nasi bungkus di depan rumah sakit pribadi milik Keluarga Chandra. Pria itu dengan cepat melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan VIP, tempat di mana Felix berada.


Pria itu berjalan mendekati Felix yang kini tengah duduk di tepi ranjang, “Makanlah terlebih dahulu, aku tahu kau pasti lapar!” Anthoni memberikan satu nasi bungkus itu kepada Felix, “Makanlah!”


Felix memalingkan wajahnya menatap Anthoni dengan lekat, “Aku tidak berniat untuk makan, jika Lina belum bisa membuka matanya,” pria itu kembali menatap Lina, “Diriku tidak terlalu berharga, yang paling berharga di hidupku hanya Lina.”


Anthoni menghela nafasnya dengan panjang lalu menghembuskannya perlahan, “Apa kau ingin membuat Lina sedih ketika ia sadar nanti?” Anthoni mentap tajam pria yang keras kepala di hadapannya, “Jika kau memang menyayanginya, makanlah terlebih dahulu, jangan membuat dia merasa terbebankan karena melihat dirimu seperti ini.”


Pria itu hanya bisa pasrah dan berdo'a agar ingatan wanitanya cepat pulih, tidak ada beban yang lebih berat selain ia tidak bisa melihat wanita itu menyayanginya dengan tulus.


Menyesal, kecewa? Tentu, karena menjadi seorang Anak ia gagal tidak bisa melindungi kedua orangtuanya dari kekerasaan di dunia ini. Begitu sakit, jika mengingat semua kepedihan, penderitaan, saat melihat kedua orangtuanya dimutilasi secara hidup-hidup di depan mata kepalanya sendiri. Apakah ada seorang Anak lelaki yang masih berumur dua belas tahun, sanggup menyaksikan itu semua?


Felix meraih satu bungkus nasi yang diberikan oleh Anthoni, ia membukanya dan memulai untuk melahap makanan itu. Anthoni tersenyum bahagia saat Felix ingin memakan, makanan yang dibelinya. Tentu Anthoni memberikan peran sebagai Ayah dan Ibu untuk Lei dan juga Felix dikarenakan Anthoni yang paling dewasa dari pada mereka. Anthoni selalu menganggap bahwa Lei dan Felix sebagai adiknya sendiri. Sebagai kakak yang paling tertua, Anthoni harus siap menggantikan peran Ayah dan Ibu untuk mereka.


🍬🍬🍬


Dua jam kemudian...


Lina mengerjapkan matanya, ia mendapati seorang lelaki tampan yang sedang memegangi tangannya dengan lembut. Ia heran siapa lelaki itu? Apakah ia mengenal lelaki itu? Sepertinya tidak.


Felix yang kini telah melihat bahwa Lina telah sadar dari tidurnya pun tersenyum bahagia, lalu ia menciumi kening Lina dengan penuh kebahagiaan.


“Lina ....”


“Maaf, siapa dirimu?”


“Coba kau lihat, siapa aku.”


Lina mengerutkan dahinya, heran. Siapa lelaki itu? Mengapa setelah diperhatikan wajah laki-laki itu sangat mirip dengan seseorang, tetapi siapa seseorang tersebut? Itulah yang membuat Lina menjadi bingung tidak karuan.


“Wajahmu sangat familiar, tidak beda dari wajah seseorang, tetapi siapa seseorang itu? Aku sangat tidak mengingatnya.”


“Apakah kau mempunyai kakak laki-laki?”


“Tentu, aku mempunyai kakak lelaki, bernama Sean.”


“Kau mengenal Sean sebagai kakakmu, apakah kau bisa mengingat kejadian lima belas tahun yang lalu?”


“Sebentar, aku akan mencoba mengingatnya.”


Lina kembali berfikir kejadian apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu, mencoba berfikir dengan sangat keras. Yap! Lina mengingat bahwa kejadian lima belas tahun lalu adalah di mana ada seorang anak lelaki yang tinggal bersama Ibunya selama satu bulan lamanya. Lina kerap kali bermain bersama anak lelaki itu bahkan, pria kecil itu selalu menemaninya tidur.


“Kejadian lima belas tahun lalu, ada seorang anak lelaki yang menginap bersamaku di rumah selama satu bulan saja. Pria kecil itu sering kali menemaniku tidur ketika aku tidak bisa tertidur, lalu setelah satu bulan lamanya tinggal bersamaku, dia memilih untuk pergi, bahkan pria kecil itu memintaku untuk menunggunya kembali. Dia telah berjanji akan menikahiku, suatu saat nanti. Hanya itu yang dapat aku ingat.”


Felix begitu bahagia saat mendapati pernyataan Lina tentang dirinya lima belas tahun lalu, Felix segera memeluk Lina dengan erat seakan-akan ia mengucap syukur atas apa yang terjadi sekarang.


Lina begitu merasa nyaman berada dipelukan Felix. Mengapa rasa nyaman ini seperti pernah ia rasakan lima belas tahun lalu?


🍭🍭🍭


JANGAN LUPA TAP JEMPOL SESUDAH MEMBACA!! 🔥