Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 22



Lei melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Felix menuju ruang keamanan untuk menyalin rekaman cctv yang sedang berlangsung tadi. Pria itu hanya menatap kosong kedepan sambil berjalan menuju ruang keamanan. Apakah setelah ini hukuman mati yang akan diterimanya? Ataukah dipecat? Atau harus siap gajinya dipotong selama 1 bulan lebih? Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Lei hanya bisa berdo'a agar ia tidak dipecat oleh Felix.


Setelah beberapa saat salinan rekaman cctv yang diminta oleh Felix kini telah siap, Lei menyiapkan dirinya untuk menjadi bahan luapan pria itu nantinya. Ya, Lei harus siap ketika Felix meluapkan semua emosi yang terpendam di dalam dirinya.


Pria itu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar VIP yang di mana tempat Felix dirawat.


“Ini salinan cctv yang kau pinta, Boss.”


“Minta laptop pada Agra!”


“Baiklah, Boss, aku akan membawakannya.”


Lei kembali ke luar dari kamar menuju ruang pribadi Dokter Agra untuk meminjam laptop Agra. Sesudah meminjam laptop Agra kini Lei kembali ke dalam ruangan Felix dengan jantung yang berdebar-debar tidak karuan.


“Ini, Boss.”


“Thank you,”


“Sama-sama, Boss.”


Felix membenarkan duduknya lalu ia meraih salinan cctv yang dibawakan oleh Lei tadi. Ia menyalakan laptop lalu memasukan salinan cctv tersebut. Felix memperhatikan cctv yang dilihatnya melalui laptop yang ada di hadapannya.


Setelah selesai memperhatikan semua cctv itu, terlihatlah sebuah tangan kekar milik pria itu telah mengepal dengan sangat emosi yang memuncak ketika melihat hasil rekaman tersebut sungguh membuat dirinya sangat kecewa terhadap Anthoni dan Lei.


Brakkk!


Felix menghempaskan laptop milik Agra ke lantai dengan sangat keras sehingga Anthoni dan Lei saling tatap, pasti mereka tahu setelah ini akan terjadi sesuatu yang sangat tidak diinginkan, sedangkan Lina ia hanya duduk di atas sofa sambil melihat pria yang kini tengah emosi.


Felix melepaskan jarum infus yang terpasang di punggung tangannya dengan sangat kasar, sehingga mengeluarkan banyak darah segar berceceran di atas lantai. Felix beranjak turun dari tempat tidur langsung melayangkan satu tangannya dengan sangat keras ke wajah Anthoni. Anthoni terdiam membisu saat mendapati Felix yang kini tengah emosi saat mengetahui bahwa wanitanya terluka.


“Siapa yang menyuruh kalian melukai wanitaku?!”


Tidak ada yang menjawab pertanyaan dari Felix, kedua pria yang menyakiti Lina tidak bisa menjawab pertanyaan yang terlontar dari mulut Felix.


Plakk!


Felix kembali melayangkan satu tangannya ke wajah Anthoni dengan sangat keras. Anthoni masih terdiam tidak menjawab pertanyaan itu, ia membiarkan Felix melepaskan semua kekesalan pria itu pada dirinya.


“Jawab apa yang aku katakan!”


“Maafkan aku, Boss ....”


“Apakah kata maaf bisa membuat luka lebam di wajah wanitaku menghilang, Lei?!”


“Aku tahu bahwa kata maaf tidak bisa menghilangkan luka di wajahnya, tetapi seiring berjalannya waktu luka itu akan menghilang sendirinya, Boss.”


“Kalian tentu tahu bahwa aku saja tidak akan menyakitinya, tidak akan pernah! Tetapi, kenapa kalian menyakiti wanitaku?!”


“Maafkan aku, Felix ... Aku telah bersalah karena melukainya, apapun hukuman yang kau berikan padaku, aku terima itu bahkan jika mati di tanganmu aku akan siap untuk hal itu.”


“Maafkan kami berdua, Boss ....”


“Jika kata maafmu bisa membuat luka di wajahnya menghilang sekarang juga aku siap memaafkan kalian!”


“Maaf jika aku mengecewakanmu, Felix.”


Felix mengacak rambutnya frustasi, tidak terasa air mata pria itu menetes karena ia merasa sangat bersalah tidak dapat melindungi wanitanya sekarang, ia sangat merasakan kekesalan terhadap sahabatnya karena telah berani melukai sosok wanita yang teramat ia cintai.


Sesak di dadanya seakan menembus ke dalam jantungnya yang kini telah terluka akibat peluru yang menembus dadanya itu.


“Jangan pernah menunjukan wajah kalian ke hadapanku mulai sekarang!”


“Kau sungguh tidak ingin melihatku? Apakah kau telah buta karena cintamu, Felix?!”


“Omong kosong apa ini?! Aku tidak buta karena cinta, tetapi aku salah jika aku telah merasa percaya pada kalian!”


“Kau lebih mementingkan wanitamu yang sekarang mengalami amnesia?!”


“Jangan pernah mulutmu berani membicarakan wanitaku atau ka—”


“Atau apa Felix? Atau apa? Kau mau menghukumku? Membunuhku? Memenjarakan aku?! Aku tidak akan pernah takut sama sekali Felix, mau sampai kapan kau menunggu ingatan wanita itu kembali? Kau terlalu bodoh untuk urusan cinta, Kawan!”


“Aku tidak bodoh untuk urusan cinta! Berhenti mulutmu berbicara seperti itu padaku!”


Felix sekarang merasa sangat kesal terhadap Anthoni, ia tidak lupa bahwa masih ada senjata api dari dalam saku celananya. Ia mengangkat senjata api itu ke kepala Anthoni dengan sangat emosi.


“Kau bosan untuk hidup, Anthoni?!”


“Silahkan jika kau ingin membunuhku! Apa kau tidak ingat akan kenangan kita? Apakah hanya karena kesalahanku yang tidak fatal kau ingin melenyapkan aku? Aku tidak dendam jika aku pergi nantinya, seharusnya kau harus ingat akan kenangan kita suatu hari nanti, aku telah siap untuk mati, ayo lakukan!”


“Turunkan senjatamu, Boss!”


“Kau mau mati juga, Lei?!”


“Jangan hanya karena satu kesalahan kau akan melupakan seribu kebaikan yang pernah terukir di antara kita, Boss! Kita tumbuh dan besar bersama-sama, suka duka telah kita lalui bersama. Apakah kau semudah itu melupakan kenangan kita? Bukankah luka batin yang kita dapatkan sama? Kita sama-sama anak yang tumbuh tanpa kehadiran kedua orangtua di sisi kita!”


“Jangan pernah mengungkit luka yang telah aku tanam sedalam mungkin, Lei, kau tentu tahu jika aku telah menguburkan luka itu dengan dalam, lalu kenapa kau mengingatkan aku tentang luka itu?!”


“Aku tidak berniat untuk mengungkit semuanya, kau perlu tahu saja bahwa kenangan dan hari-hari yang kita lewati bersama, bahkan Anthoni sekalipun menjadikan dirinya sebagai pengganti peran Ayah dan Ibu untuk kita, Apakah semudah itu kau ingin melenyapkan sosok orang yang menggantikan peran kedua orangtua untukmu, Apakah kau lupa?”


“Cukup! Jika kau ingin melenyapkan aku, aku tidak akan pernah melarang itu, Felix! Aku telah menganggapmu sebagai adik kandungku sendiri, kau tentu tahu bahwa nyawamu, bahagiamu, lukamu, sedihmu, itu menjadi bagian diriku juga, jika dirimu bahagia maka aku akan ikut bahagia, jika dirimu merasa terluka maka aku sendiri ikut terluka.”


Lina yang sedari duduk menatapi Felix yang tak henti-hentinya mengeluarkan air matanya pun merasa ikut bersalah. Kenapa dirinya mencoba untuk kabur? Tentu yang menjadi korbannya adalah laki-laki yang dianggapnya sebagai penjahat.


Namun, tiba-tiba saat Lina hendak berjalan mendekati Felix ia terjatuh dan tergeletak di atas lantai karena pingsan. Felix yang melihat itu pun segera menggendong tubuh Lina ke atas tempat tidur dan meletakkannya di sana.


🍁🍁🍁