Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 24



Felix begitu bahagia saat mendapati pernyataan Lina tentang dirinya lima belas tahun lalu, Felix segera memeluk Lina dengan erat seakan-akan ia mengucap syukur atas apa yang terjadi sekarang.


Lina begitu merasa nyaman berada dipelukan Felix. Mengapa rasa nyaman ini seperti pernah ia rasakan lima belas tahun lalu?


“Aku adalah pria yang pamit kepadamu saat ingin pergi, Lina.” kata Felix seraya sambil mengelus punggung wanita itu dengan lembut.


Lina menatap tak percaya. Akankah pria itu adalah lelaki yang pernah bersamanya waktu kecil?


.


.


.


Mereka kembali ke rumah utama milik Felix yang berada di Kota Jakarta. Felix akan membiarkan luka yang ada di tubuhnya sembuh dengan seiring berjalannya waktu, suatu saat nanti. Setelah luka itu sembuh mereka akan segera kembali ke Instanbul, Turki. Untuk meminta restu kepada Ayah Lina.


Seperti hari-hari biasa. Kedekatan Lei dan Aura semakin jelas terlihat walau terkadang Aura sering merajuk ketika Lei tidak berada di sisinya. Apakah sekarang perempuan itu telah jatuh cinta kepada Lei?


Sekarang waktunya mereka makan malam bersama. Lina dan Aura, mereka menyiapkan makanan di atas meja makan karena hendak makan malam bersama.


Setelah menyajikan semua makanan yang telah dihidangkan di atas meja. Lina beranjak dari duduknya pergi berjalan menuju kamar utama yang terdapat Felix di dalamnya.


Tentunya Lina sangat senang dan bahagia bisa bertemu kembali bersama pria kecil yang menjadi kesayangannya dahulu.


Ceklek...


Pintu kamar utama terbuka. Terlihatlah sosok gadis cantik berjalan masuk ke dalam kamar utama. Ia berjalan mendekati Felix yang kini tengah sibuk dengan laptop di hadapannya.


Lina sangat tidak suka jika pria itu terus-terusan bekerja sampai lupa waktu untuk mengurus dirinya sendiri. Apakah pria itu gila bekerja?


“Waktunya kita makan malam bersama di meja makan bersama Lei dan juga Anthoni, sahabatmu, Mas.” ucap Lina dengan nada lembut, bahkan kelembutannya hampir sama dengan kain sutra.


“Baiklah, ayo kita makan, Honey.” jawab Felix tersenyum ke arah Lina.


Felix menggendong tubuh langsing itu berjalan keluar dari dalam kamar utama menuju meja makan yang berada di lantai satu. Sedangkan Lei dan Anthoni, mereka membawa pasangan mereka masing-masing.


Akankah ketika Lei menceritakan yang sebenarnya Aura akan sakit hati? Untuk apa jika perempuan itu sakit hati? ‘Kan memang faktanya ia membuat gadis itu jatuh cinta karena hukuman yang diberikan oleh Felix untuk dirinya.


Sesampainya di meja makan, Felix menarik kursi untuk pujaan hatinya duduk. Ia duduk tepat di sebelah kekasihnya itu. Sedangkan Aura ia memilih duduk di samping dengan Lei. Hanya Clarisa yang menjauhkan dirinya dari keramaian. Ia masih kecewa, marah serta takut terhadap Anthoni. Perasaan takut yang mendalam karena hukuman yang diberikan oleh Anthoni rasanya begitu kejam.


Ia di tahan selama bertahun-tahun tanpa dilihat dan diberikan kesempatan untuk berbicara tentang kenyataan yang sebenarnya. Begitu sakit, bukan?


Anthoni yang melihat Clarisa yang selalu menjauhkan dirinya pun merasa hatinya terluka. Ia sangat menyayangi wanita itu. Tetapi tentunya pria itu sadar, kesalahan apa yang dilakukannya sehingga wanita yang dicintainya telah membenci dirinya.


Lina mengambilkan makanan untuk Felix. Begitu mesranya Lina sekarang untuk Felix. Pria itu sangat bersyukur akan hal itu. Anugerah terindah yang diberikan Yang Maha Kuasa untuknya setelah kepergiaan kedua orangtua yang dicintanya.


Kehilangan kedua orangtua membuat semua duninya menjadi tidak ada arti, semuanya telah direnggut atas kematian orang yang begitu dicintainya. Tetapi, hadirnya gadis kecil itu membuat hari-harinya berwarna kembali.


Masa depan yang selalu ia impikan telah hancur seketika karena, kematian kedua orangtuanya yang begitu sangat sadis. Apakah pantas, seorang anak yang berusia dua belas tahun harus menyaksikan kematian kedua orangtuanya dengan cara disiksa dan dimutilasi di hadapan mata kepalanya sendiri?


Permainan takdir semacam apa ini?


Hadirnya gadis kecil itu membuat hidupnya kembali berwarna. Senyumannya, suara lembutnya, membuat hati yang telah mati menjadi hidup kembali.


Bisa dikatakan Lina adalah orang yang bisa mengendalikan sosok Felix yang kejam tanpa ampun jika terhadap musuh. Karena apa yang dilihatnya bertahun-tahun lalu membuat pria itu tidak memiliki belas kasih terhadap siapapun yang mengganggunya.


.


.


.


Mata pria itu masih menatapnya dengan kagum, “Boleh, makanlah! Habis itu kita akan berenang bersama,”


Aura yang mendengar percakapan itu pun ingin rasanya ia juga ikut lalu, ia mengajak pria yang sekarang menjadi cinta pertamanya berenang bersama, “Aku juga boleh ikut ‘kan?”


Lina memajukan bibirnya yang bearti bahwa ia kurang setuju, “Kenapa kau ingin ikut? Kau pergi saja dengan gunung ess itu berkencan!”


Aura mendesis, “Siapa yang kau katakan gunung es, Lina?”


“Siapa lagi kalau bukan orang yang menjadi cinta pertamamu!”


Glek.


Lei mendengar ucapan Lina pun tertegun. Ia menjadi cinta pertama dari gadis yang bersifat seperti Anak-anak ini? Ah, yang benar saja.


Aura melihat seri wajah lelaki itu pun merasa heran. Mengapa raut wajah Lei berubah seketika mendengar ucapan dari sahabatnya itu?


Aura merasakan pipinya memanas sekarang. Ia malu, bahkan pipi wanita itu telah berubah menjadi merah padam.


“Apa-apan sih! Mana ada dia cinta pertama gue!” ketus Aura mengarang. Karena ia tidak ingin terlihat murahan yang mencintai lelaki dingin seperti Lei.


“Ngaku aja napa!”


“Idih, ogah banget!”


“Makanlah, tidak usah berdebat lagi!”


Suara berat yang sangat dikenal dengan ciri khasnya membuat Lina dan Aura menjadi diam seketika. Pria itu benci jika sedang menghadap makanan ada orang yang bertengkar di hadapan makanan mereka.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka berenam. Hanya terdengar jelas suara sendok dan piring yang kini saling beradu. Suara itu pun terdengar dengan sangat nyaring di telinga mereka masing-masing.


.


.


.


Setelah selesai menyantap semua makanan di atas meja. Felix dan kedua pria yang tidak lain adalah Lei dan juga Anthoni pergi masuk ke dalam ruang kerja. Sedangkan, Clarisa ia pergi berjalan menelusuri anak tangga untuk masuk ke dalam kamar dia dan Anthoni.


Mereka memang satu kamar, tetapi tidak ada yang namanya berbagi ranjang. Anthoni selalu tidur di atas sofa sedangkan Clarisa di atas tempat tidur.


Lina dan Aura membereskan semua makanan yang tersisa di atas meja makan dengan cepat. Sesudah membereskan semua sisa-sisa makanan tersebut. Kedua perempuan itu berjalan menelusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah utama.


Mereka penasaran, kemana semua para lelaki itu pergi?


Apakah mereka pergi untuk menemui pujaan hati mereka masing-masing?


🌷🌷🌷


Like n komen dan jangan lupa vote poin/koin seiklashnya saja sebagai bentuk kalian mendukung karya saya. Terima kasih🙏


Maaf yah lama update, dan juga saya belum ketemu End tapi sudah ada bacaan End.


Sama sekali belum tamat novel ini, karena saya sibuk dengan karya saya yang judulnya "LOVE A MAFIA KING"


Genre : Action, Romantis, Komedi


Mampir di sana juga ya, kakak-kakak sekalian, Terima kasih🙏.