Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 30



Mereka masuk ke dalam Helikopter bersamaan, Felix menggendong tubuh kecil wanita itu masuk ke dalam pelukkannya. Ia membawa Lina duduk di sampingnya, sedangkan Lei dan Aura ada di hadapan mereka.


Setelah semua bersiap, mereka segera melepas landas ke udara, dua Helikopter itu meninggalkan rumah utama dan pergi menuju langit Instanbul, Turki.


Tujuan kembalinya Felix ke Turki agar cepat bertemu dengan calon Ayah mertua, ia ingin di hari ulang tahun Lina, ia akan melamar wanita itu untuk menjadi Istrinya.


Harapannya adalah hidup bersama wanita yang dicintai dan mencintainya dalam satu atap terikat dengan hubungan suci pernikahan.


"Jika kamu lelah, tidurlah di pangkuanku, Sayang," tawar Felix saat melihat Lina tampak seperti mengantuk.


"Yakin gak ngerepotin, nih?" tanya Lina tak enak hati pada pria yang ada di sampingnya itu.


"Tidurlah di pangkuanku, aku akan menjagamu selama kamu tidur." imbuh Felix dengan serius menatap binik mata indah yang menjadi favoritenya itu.


Lina tersenyum manis lalu ia merebahkan kepalanya di atas pangkuan paha Felix. Ia menatap sahabatnya itu juga seperti mengantuk, namun lelaki seperti gunung es itu tidak peka terhadap hal semacamnya.


Wanita itu memilih untuk memejamkan matanya perlahan, tak lama kemudian, Lina telah masuk ke dalam alam mimpi. Felix mengusap lembut rambut Lina dengan penuh cinta. Di lihatnya wajah cantik perempuan itu, menghangatkan hatinya.


Ia tidak sabar untuk memiliki Lina sepenuhnya. Lelaki itu tersenyum saat melihat wajah Lina yang begitu cantik dipandang matanya.


Felix sedikit merasa lelah, ia mencoba memejamkan matanya juga, tidak lama kemudian, Felix ikut menyusul pujaan hatinya masuk ke dalam alam mimpi.


Sedangkan Lei menatap Aura yang ada di sampingnya, sibuk menatap awan biru yang terlihat di luar kaca jendela. Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah ataupun dua patah dari sudut bibirnya, ataukah Aura masih marah padanya?


Lei memberanikan dirinya menyentuh tangan Aura yang ada di dekatnya. Ia langsung menganggam tangan gadis itu dengan erat dan menciumnya.


Wanita itu, refleks segera menatap Lei. Ia menelan saliva dengan berat, saat melihat kenyataan yang begitu manis ini baginya. Sungguh ini adalah momen terindah baginya.


"Maafkan aku. Maukah kamu jadi pendampingku?" tanya Lei tersenyum menatap Aura sambil mencium punggung tangan wanita itu.


"A ... Apa yang kamu katakan, Kak? Apakah aku tidak salah mendengar ini semua? Ataukah ini hanya mimpi bagiku, jika ini mimpi, tolong sadarkan aku dari mimpi ini," usul Aura sedikit merasa aneh dengan kenyataan yang ada. Ia takut jika ini hanyalah sebuah mimpi dan sebuah taruhan seperti kemarin-kemarin.


"Tentu tidak, aku ingin kamu menjadi pendampingku, Aura." kekeh Lei tertawa kecil saat melihat tingkah Aura yang menggemaskan baginya.


Aura terdiam sesaat, fikirannya teringat akan taruhan pria itu dengan Felix. Ia takut jika ini semua hanyalah taruhan. Raut wajah wanita itu berubah seketika. Lei bisa melihat dengan jelas.


"Ada apa?" tanya Lei dengan lembut sambil mengangkat wajah wanita itu untuk menatap dirinya.


"Jika kamu hanya ingin membuatku terbang setinggi-tingginya lalu kamu menjatuhkan aku ke dasar jurang, mending kamu gak usah deh, aku gak mau. Sudah cukup rasanya aku sakit hati," kilah Aura dengan serius. Wajahnya menatap Lei dengan tatapan yang tidak main-main.


"Maksud kamu apa? Aku gak ngerti apa yang kamu katakan," tutur Lei mengerutkan dahinya heran dengan apa yang dikatakan oleh Aura.


"Aku takut jika apa yang kamu katakan itu hanyalah taruhan seperti kemarin-kemarin," jelas Aura menundukkan wajahnya.


"No, Baby. Aku serius padamu, kamu mau jadi pendamping hidupku, Aura?" Lei bertanya dengan serius, menatap mata wanita itu.