
Lei dan Anthoni berhenti di depan pintu kamar bersama dengan Felix. Ketiga pria itu sama terkejutnya, bagaimana ini? Felix sangat takut jika Lina akan pergi menjauh dari dirinya.
"Ini semua ulahmu, Felix. Kau lihat sekarang? Mereka telah mendengar semuanya!" ketus Anthoni kesal sambil menatap Felix yang kini tengah berwajah cemas.
"Maafkan aku, Lei. Ini semua salahku, bicaralah baik-baik padanya. Untuk hasil akhir, kita serahkan kepada mereka," ucap Felix dengan sedikit cemas menatap Lei yang kebingungan di samping Anthoni.
"Tapi, bagaimana jika dia membenciku, Boss?" tanya Lei bingung.
"Bicaralah dahulu, urusan akhir biar kita urus setelah ini, aku tidak ingin Lina pergi dari hidupku. Kau tentu mengerti bagaimana aku tanpa dirinya, ibaratkan hidup tanpa bernafas, akan terasa sangat sakit bila hidup tanpa dirinya." ujar Felix pelan sambil mendorong Lei masuk ke dalam kamar tamu.
Lei menghirup nafasnya dengan panjang lalu menghembuskannya dengan pelan. Ia menatap kedua gadis yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan marah. Mata pria itu menangkap wajah seorang gadis cantik yang kini tengah menangis sesegukan di atas tempat tidur.
"Aura, ayo kita berbicara sebentar!" pinta Lei dengan datar.
"Untuk apa lagi kita berbicara, Lei? Ini semua salahku yang telah memberikan hatiku pada pria yang salah!" bentak Aura sambil menghapus air mata yang turun dari pipinya.
"Lei, tidak seharusnya kau memainkan hati temanku, kau tahu? Kalian adalah pria yang brengsek! Memainkan hati perempuan sesuka hati kalian, apa kali pikir, hati wanita adalah bahan lelucon yang lucu bagi kalian?!" pekik Lina sambil berdiri berjalan mendekati Lei.
Plakkkk!
Karena tak kuasa melihat Lei yang ditampar oleh Lina. Felix bergegas berjalan masuk ke dalam kamar tamu. Pria itu langsung memeluk Lina dari belakang. Ia sangat takut jika Lina akan marah besar padanya.
Ia begitu menyayangi Lina dari apapun. Pria itu sangat mencintai Lina. Ia tidak ingin Lina pergi menjauh darinya hanya karena ini. Hidupnya telah terlalu pahit lalu jika Lina pergi meninggalkannya, tanpa ia bisa bayangin bagaimana dirinya bisa bertahan tanpa kehadiran Lina di sisinya.
"Sayang, maafkan aku ...." bisik Felix di telinga Lina.
Hembusan nafas pria itu bisa didengar oleh Lina. Lina tak kuasa menahan amarah yang ada di dalam dirinya. Ia membalikan badannya dan melepaskan tangan kekar pria itu dari tubuhnya. Ia menatap binik mata sendu milik pria itu dengan dalam. Lina bisa melihat banyak kesedihan di balik binik mata indah milik Felix.
Meskipun begitu, Lina tidak tahu persis seperti apa masa lalu Felix. Ia tidak ingin bertanya langsung kepada pria itu. Ia berjanji akan mencari tahu rahasia apa yang disimpan oleh Pria itu.
"Ikut aku, Mas!" perintah Lina dengan penakanan.
"Baiklah, Baby." balas Felix mengikuti Lina dari belakang.
Anthoni melihat Bossnya yang kini tengah keluar dari kamar tamu dengan Lina bersamanya. Anthoni memilih untuk pergi ke dalam kamar tamu yang terdapat Clarisa di dalam sana. Ia ingin melihat wajah cantik Clarisa untuk sekarang.
Sedangkan Lei, mulai berjalan mendekati Aura yang membuang wajahnya. Ia tidak ingin menatap pria yang ada di dalam kamar itu. Perasaan kecewa yang begitu dalam pada dirinya begitu terasa sangat sakit.