
Mereka penasaran, kemana semua para lelaki itu pergi?
Apakah mereka pergi untuk menemui pujaan hati mereka masing-masing?
Lina berjalan diiringi oleh Aura di sampingnya. Ke mana pergi ketiga pria itu?
Sesampainya di depan sebuah ruangan yang terlalu besar, Lina dan Aura berhenti di depan ambang pintu yang cukup besar. Terdengar suara samar-samar dari dalam sana.
Lina meminta Aura untuk mendengarkan apa yang dibicarakan seseorang dari dalam sana.
Aura mendekati telinganya ke dinding pintu yang besar itu dengan sangat hati-hati.
“Aku rasa permainan ini telah berakhir. Aku telah bisa membuat wanita itu jatuh hati padaku, Boss.” ucap Lei serius sambil menatap kedua pria di hadapannya.
“Kau yakin bahwa dia mencintaimu, Lei?” tanya Anthoni sambil menaikan satu alisnya menatap serius.
“Aku yakin itu, Anthoni.” ucap Lei tersenyum menatap kedua sahabatnya.
“Jika kau yakin dengan semua ini, mari buktikan di hadapanku Lei. Bahwa kau tidak mencintai wanita itu,” ucap Felix datar sambil memainkan jari-jari tangannya.
“Aku tidak menaruh hati padanya sedikitpun, Boss. Aku hanya mengikuti hukuman yang kau berikan padaku saja, tidak pernah lebih.” ucap Lei dengan serius.
Deg.
Jantung Aura seakan ingin lepas dari tempatnya. Ia sangat terkejut akan pernyataan ini semua, ternyata Lei hanya bermain-main dengannya? Setelah dirinya jatuh cinta kepada pria itu, pria itu malah seenaknya bermain seperti ini?
Aura merasa hatinya begitu perih dan sakit. Butiran-butiran bening lolos dari kedua bola matanya. Ia mengusap air mata itu dengan cepat agar Lina tidak melihatnya. Ia memilih untuk segera pergi ke kamar tamu yang biasa di tempatinya.
“Aura! Jangan pergi! Tunggu!” pekik Lina sambil berjalan mengejar Aura yang telah pergi.
Felix mendengar suara pujaan hatinya dari luar ruangan, ia mengerutkan dahinya heran. Atau jangan-jangan perempuan itu mendengar semua ucapan mereka?
Tanpa aba-aba, Felix segera keluar dari dalam ruangan. Segera mencari keberadaan Lina. Anthoni dan Lei segera menyusul Felix yang tiba-tiba keluar dari ruangan.
.
.
.
Di kamar tamu
Aura duduk termenung menatap dirinya dari pantulan kaca rias. Ia duduk di atas meja rias di dalam kamar itu.
Wajah yang indah yang selalu dipenuhi keceriaan kini berubah menjadi sembab dan kusam. Lina masuk ke dalam kamar itu dengan sangat pelan.
“Aura ....” panggil Lina lembut sambil merapatkan pintu kamar.
Lina berjalan mendekati Aura yang sedang duduk menatap dirinya di meja rias. Perempuan itu mengembangkan senyumannya agar sahabatnya itu tidak bersedih lagi.
“Kenapa?” tanya Lina tersenyum sambil mengelus punggung Aura dengan lembut.
“Aku kecewa sama pria brengsek itu, Lin! Dia mendekatiku hanya karena sebuah tantangan dari pria yang dekat denganmu! Hikss ... hikss.” jawab Aura menangis.
Langkah kaki Felix terhenti di depan kamar tamu yang di tempati oleh Aura dan Lei. Felix mendengar pembicaraan kedua perempuan itu.
Felix terkejut, mengapa bisa kedua wanita itu mendengar semua percakpaan mereka tadi?
Bagimana dengan Lina? Apakah Lina akan pergi menjauh dari dirinya, jika tahu bahwa dirinya yang mengusulkan untuk membuat Aura jatuh cinta kepada Lei?
Felix tidak ingin Lina pergi lagi dari kehidupannya. Begitu sangat redup, jika hidup tanpa Lina. Percuma saja jika hidup dikelilingi oleh harta. Tetapi tidak bisa hidup bersama orang yang dicinta.
Setiap waktu beharga, maka setiap detik sekalipun aku menghargainya walaupun satu detik saja bersamamu itu terasa sangat bearti. ~ Liska30_