Mafia Love Story

Mafia Love Story
Married With Big Bos : Episode 28



"Apakah diriku tidak berhak tahu atas apa yang terjadi pada dirimu, Felix?" Lina berkata sambil melepaskan pelukkannya dan menatap pria itu dengan dalam.


"Bukan seperti itu, Lina. Aku hanya ingin memendamnya sendirian, aku tak ingin, orang lain mengetahui bebanku. Aku bisa memikulnya dengan sendiri, percayalah itu," Felix berkata dengan jujur, ia tidak ingin, Lina mengetahui semua beban yang telah lama dikubur dalam dirinya itu.


"Ya sudah, baiklah, aku tidak akan pernah memaksa untuk menceritakannya. Tapi, perlu dirimu ketahui bahwa aku, tidak akan membiarkanmu dalam keterpurukan. Aku akan selalu ada di sisimu," Lina berkata dengan serius sambil menggenggam tangan pria itu.


"Terima kasih, Cinta." Felix berucap sambil menciumi kening Lina dengan mesra.


Pria itu beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu ia menggendong Lina dengan mesra. Pria itu berputar-putar sambil menggendong pujaan hatinya. Ini adalah sebuah takdir terindah sepanjang hidupnya, dapat hidup bersama seorang yang dicintainya. Ia begitu bahagia dan bersyukur karena Lina telah mengingat siapa dirinya.


Ia tidak ingin Lina pergi dari hidupnya, sangat tidak ingin.


Dengan perasaan yang begitu bahagia dan bersyukur, Felix berjalan masuk ke dalam rumah utama untuk mengajak wanita itu beristirahat. Karena hari, telah larut malam seperti ini, tidak bagus untuk kesehatan Lina jika ia, terus-terusan tidur larut malam.


Felix begitu menyayangi dan mencintai Lina dengan setulus hatinya. Ia tidak menginginkan jika wanita itu sakit ataupun terluka, biarlah semua sakit dan luka itu menjadi bagian dari hidupnya saja.


♾♾♾


Di kamar tamu.


"Hei, berhentilah menangis. Maafkan aku," Lei berucap meminta maaf sambil berjongkok di depan Aura yang kini masih menangis.


"Kamu jahat! Sangat jahat padaku, Kak! Kamu kira hati aku terbuat dari apa? Sehingga seenak itu dirimu mempermainkan hatiku!" Aura protes karena Lei begitu mempermainkan hatinya. Wanita mana yang tidak sakit hati, ketika hatinya dijadikan bahan permainan dari lelaki yang dicintainya.


"Maafkan aku. Aku yang telah bersalah padamu, sekarang aku ingin bertanya padamu, apakah kamu begitu tulus mencintaiku, Aura?" Lei bertanya dengan serius sambil memegangi tangan Aura yang ada di atas paha wanita itu.


"Tentu aku sangat mencintaimu. Tapi, dirimu yang hanya mempermainkan hal gila itu padaku, aku benci dirimu, Lei!" Aura berdiri sambil memukul-mukul dada bidang pria itu.


Tentunya, Lei hanya bisa membiarkan gadis itu memukulnya dengan sekuat tenaga yang dimiliki oleh wanita itu. Lei tidak marah sama sekali, karena ialah yang bersalah atas ini semua. Ia menyetujui apa yang dikatakan oleh Felix tanpa memikirkan hati gadis itu.


Aura masih menangis sesegukan sambil memukuli dada bidang pria itu. Karena tak kuasa melihat Aura seperti itu, Lei berinisiatif untuk membuat wanita itu diam dan tenang.


Pria itu menarik Aura dalam pelukkannya. Ia memeluk erat gadis itu agar diam dan tenang berada di dalam pelukkannya. Lei bisa mencium wangi tubuh Aura begitu wangi. Sedangkan Aura, ia menangis di dalam pelukkan pria itu. Setiap embusan nafas pria itu, bisa jelas didengarnya. Ia merasa hangat berada di dalam pelukkan itu.


Sangat ingin rasanya selalu berada di dalam sana.


"Maafkan diriku yang telah mempermainkanmu, percayalah padaku, aku akan belajar untuk membalas cintamu padaku. Aku berjanji padamu, akan mencintaimu dengan tulus tanpa adanya rasa paksaan di dalam diriku ini." Lei bekata dengan serius sambil mengelus punggung Aura, agar gadis yang ada di dalam pelukkan itu merasa tenang.