
Lina menyetujui ucapan dari laki-laki itu bahwa dirinya akan membersihkan dirinya. Namun, setelah melihat bahwa laki-laki itu telah pergi ia kembali berfikir pakaian apa yang akan dipakainya?
Gadis itu lama termenung karena memikirkan baju apa yang harus dipakainya? Sedangkan dirinya tidak membawa satu helai pakaian sedikitpun.
Lina berjalan keluar dari kamar utama mencari keberadaan sosok laki-laki tersebut.
Begitu banyak ruangan di sana. Gadis itu sangat bingung harus mencari keberadaan laki-laki itu di mana.
Sedangkan Felix yang berada di dalam kamar Lei pun melihat Lina yang sedang berjalan seperti kebingungan pun tersenyum. Ia segera bangkit lalu mendekati gadis itu.
"Hei...." sapa Felix sambil menepuk bahu Lina dari belakang.
"Ah, kau mengejutkan aku saja." jawab Lina terkejut.
Felix tersenyum saat Lina sudah bisa diajak mengobrol secara normal.
"Ada apa? Bukankah aku menyuruhmu untuk membersihkan diri?"
"Ya. Tapi aku tidak membawa baju ganti. Bisakah kau membawakan aku baju ganti?"
"Apapun yang kau minta akan aku beri, bahkan jika sekalipun engkau menginginkan nyawaku. Aku akan memberikannya untukmu."
Dia akan memberikan nyawanya untukku jika aku memintanya? Ah, apakah dia sudah gila. Batin Lina.
"Tolong bawakan aku baju, aku ingin mandi."
"Baiklah, aku akan membawakannya untukmu."
Felix pergi meninggalkan gadis itu lalu ia pergi berjalan menuju kamar Lei untuk meminta bantuan kepada Asistennya.
"Lei...." panggil Felix.
"Ya, Boss? Ada apa?"
"Belikan pakaian untuk Lina dan gadis itu, sekarang juga!"
"Baiklah, aku akan membelikannya."
Lei segera mengambil kunci mobilnya lalu ia bergegas menuju garasi untuk mengambil mobilnya. Lei segera pergi membelikan pakaian untuk Lina dan gadis itu di sebuah boutique yang ada di Jakarta.
Sedangkan Felix ia pergi keruang gym untuk olahraga sore. Laki-laki itu memang sering olahraga setiap pagi dan sore hari untuk menjaga kesehatan serta kebugaran tubuh.
***
Di sisi lain...
Lei tidak tahu pakaian seperti apa yang akan dibelinya. Dia memesankan semua pakaian yang di boutique itu lalu ia segera pulang kerumah utama.
Lei melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi sehingga tidak butuh waktu yang lama untuk Lei sampai di kediaman Felix Chandra.
Laki-laki itu dengan cepat melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah utama. Lalu ia bergegas mencari keberadaan Bossnya. Lei mencari keberadaan laki-laki itu. Ya, rupanya laki-laki yang sedang dicari oleh Lei sedang berada di ruangan gym.
"Aku telah membeli semua pakaian yang ada di boutique itu, Boss." ucap Lei jujur.
"Kenapa kau membeli semuanya, Lei?!"
"Aku tidak tahu pakaian apa yang harus aku beli."
"Bodoh! Sangat bodoh!"
"Hmmm, maafkan aku, Boss."
Felix mengambil barang belanjaan yang dipegang oleh Lei. Ia bergegas menuju kamar utama untuk melihat sang pujaan hatinya.
"Lina...."
Lina yang sendari dari tadi menatap indahnya pemandangan dari dalam jendela pun tersadar bahwa ada seseorang yang memanggil.
"Eh, iya, ada apa? Apakah kau telah selesai membelikan aku baju?"
"Ambillah ini, lalu bersihkan dirimu secepatnya. Kita akan makan sore bersama nanti di meja makan."
"Baiklah, terimakasih banyak yah!"
Lina mengambil semua barang belanjaan yang terbungkus rapi di dalam kantong plastik itu lalu ia bergegas menuju kamar mandi hendak membersihkan dirinya.
Sedangkan Felix ia menatap punggung gadis itu sampai masuk kedalam kamar mandi. Ia memilih untuk menunggu Lina di dalam kamar.
Felix yang melihat bahwa wanita itu telah selesai membersihkan dirinya pun hanya bisa tersenyum melihat bahwa wanita itu telah sedikit terbiasa. Tidak ada lagi rasa takut jika berhadapan dengan laki-laki yang tidak ia kenali.
"Kemarilah, aku akan menyisir rambutmu!"
"Kau akan menyisir rambutku?"
"Iya. Aku akan menyisir rambutmu!"
Laki-laki itu ingin menyisir rambutku? Aku takut jika ia akan melakukan hal yang aneh denganku. Batin Lina.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Lina? Aku tidak akan membuat hal yang diluar kendaliku!"
Dia bisa baca pikiranku? Cih, yang benar saja. Batin Lina.
"Kemarilah!"
"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan membuat hal yang diluar batas!"
"Aku berjanji padamu."
Lina mendekatkan dirinya kearah Felix. Ia duduk di tepi ranjang yang berukuran king size itu. Felix mengambil sisir yang berada di dekatnya lalu ia memulai menyisiri rambut wanita itu dengan lembut dan hati-hati.
Aku selalu ingin menyisiri rambutmu setiap hari, bahkan jika telah berubah menjadi putih sekalipun aku tetap ingin. Batin Felix.
Setelah selesai menyisiri rambut wanita itu Felix mengajak Lina untuk makan sore bersama di meja makan. Wanita itu pun hanya menyetujui saja karena ia sangat lapar.
"Kita akan makan dahulu, aku tahu pasti kau sangat lapar."
Lina hanya diam tidak menjawab perkataan laki-laki itu. Ia hanya mengikuti langkah kaki kemana pria itu berjalan. Mereka berjalan menelusuri anak tangga untuk sampai kemeja makan.
Sesampainya di meja makan, Felix hanya melihat Anthoni yang sedang sibuk menyiapkan hidangan makan sore atas perintah dari Felix.
"Apakah belum selesai dihidangkan, Anthoni?"
"Sedikit lagi akan selesai, Felix!"
"Baiklah, aku akan menunggunya."
Felix menarik kursi untuk gadis itu duduk. Sedangkan Felix ia menarik kursinya untuk duduk tepat di samping Lina. Ia tidak ingin merasa jauh dari wanita itu.
"Apakah Lei akan turun makan sore bersama dengan kita, Anthoni?"
"Aku tidak tahu itu, Felix! Tugasku dari tadi hanya memasak dan menyiapkan hidangan makanan ini!"
"Setelah selesai menghidangkan makanan ini, cepatlah tolong panggilkan Lei dan gadis itu untuk makan!"
"Aku tahu itu, Felix!"
Sedangkan Lina hanya diam dan mendengarkan apa yang dibicarakan oleh dua laki-laki yang sedang berada di hadapannya.
Selesai menghidangkan makanan di atas meja. Anthoni pun pamit ingin pergi kelantai dua untuk memanggilkan Lei dan juga gadis itu beserta Clarissa.
"Makanlah, Sayang." ucap Felix sambil memberikan piring kosong kepada Lina.
"Bolehkah aku bertanya padamu?" tanya Lina penasaran.
"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?" jawab Felix santai.
"Aku ingin bertanya padamu, tetapi kau harus jujur padaku!" pinta Lina sedikit serius.
"Selagi aku bisa menjawab, aku akan menjawab sebisaku." jawab Felix.
"Apakah kau mengenali aku?" tanya Lina penasaran. "Sejak kapan kau mengenali aku? Sedangkan aku saja tidak mengenalmu."
"Tentu aku mengenalmu. Aku mengenalmu sudah sejak lama." jawab Felix jujur. Karena ia ingin Lina cepat untuk mengingat siapa dirinya.
"Sejak lama? Kapan itu?" tanya Lina semakin penasaran.
"Sejak...."
\=\=>Bersambung....
Jangan lupa klik Like & Vote beserta klik Favorite yah....