MADINA

MADINA
MADINA ~09~



...~MADINA~...


{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}


.......


.......


.......


Malam harinya, setelah Madina sampai rumah, ia langsung menunaikan sholat isya'. Karena, tadi Madina sudah mandi di rumah Annisa dan sholat maghrib berjamaah disana.


tok tok tok


"Mbak Madinaaaa" panggil Syila di depan pintu Madina


"Ada apa syil?" ucap Madina saat berhadapan dengan Syila


"Mbak, aku mau ngomong sama mbak!" ucap Syila dengan nada menekan


"Kamu mau bicara apa?" tanya Madina ketika mendengar ucapan sang sepupu


"Mbak tadi habis darimana kok pulang malam?" tanya Syila serius


"Tadi ban motor mbak bocor, jadi mbak harus benerin motor di bengkel. Tapi, mbak bingung tadi mau minta tolong sama siapa, alhamdulillah nya tadi ada kak Umar yang lagi lewat" ucap Madina jujur


"Hah! Mbak ketemu kak Umar?" tanya Syila dengan muka terkejut


"Iya" jawab Madina


"Kenapa mbak nggak ngasih tahu aku sih!" ucap Syila kesal


"Buat apa syil mbak kasih tahu kamu?" ucap Madina bingung


"Mbak kan tahu kalau aku tu suka sama kak Umar"


"Ohh atau jangan-jangan mbak nggak mau kesaing ya sama aku!?" ucap Syila dengan nada sombong


"Astaghfirullah, mbak nggak ada niatan begitu syil" jelas Madina


"Kalau gitu, sekarang aku minta nomornya kak Umar!" ucap Syila


""Maaf syil, mbak nggak punya nomornya kak Umar" ucap Madina jujur


"Mbak bohong ya! masa mbak nggak punya nomornya kak Umar, mbak kan sering ketemu sama dia!"


"Mbak nggak bohong syil, mbak emang nggak punya nomornya kak Umar"


"Lagipula kak Umar itu orang yang nggak gampang buat di dekati, kak Umar selalu menjunjung tinggi agamanya, jadi kak Umar nggak akan sembarangan ngasih nomor handphone ke orang yang baru dikenalnya" ucap Madina menjelaskan


"Awas aja kalau mbak sampai bohongin aku!" sarkas Syila dan langsung pergi ke kamarnya


Keesokan paginya, Madina bergegas menuju tempatnya bekerja, hari ini Madina mengayuh sepedanya lumayan jauh, dikarenakan tetangga rumahnya sedang melangsungkan sebuah acara pernikahan, jadi otomatis jalan yang biasa dilewati Madina harus ditutup.


Oleh karena itu, Madina mau tidak mau harus mutar lewat jalan lain agar bisa menuju tempat kerjanya.


Di perjalanan...


"Ya Allah, capek banget, mana masih jauh lagi" keluh Madina ketika sudah merasa lelah dalam perjalanannya


tin tin tin


tiba-tiba dari arah belakang...


"Astaghfirullah, mobil siapa si! ngagetin aja" ucap Madina sambil agak kepinggir jalan


"Madina!" ucap seseorang dari dalam mobil, ketika mobil berada di samping sepeda Madina.


"Umi?" ucap Annisa ketika melihat umi Laila memanggilnya


"Berhenti dulu nak!" titah umi Laila, dan seketika itu juga Madina menghentikan laju sepedanya


Melihat itu, umi Laila bergegas turun dari mobil dan segera menuju ke arah Madina.


"Madina mau kemana?" tanya umi Laila kepada Madina


"Assalamu'alaikum umi" ucap Madina sambil mencium tangan umi Laila


"Wa'alaikumussalam" jawab umi Laila ketika Madina mencium tangannya


"Madina mau berangkat kerja umi" jawab Madina


"Kok lewat sini?" tanya umi Laila bingung


"Tadi jalan yang biasa Madina lewati sedang ditutup, jadi Madina lewat sini deh umi" ucap Madina


"Ohh gitu, kamu bareng umi aja biar umi anterin" ucap umi Laila kasihan, melihat Madina yang sepertinya kecapekan


"Tidak usah umi, Madina bisa sendiri kok, lagipula ini juga udah dekat" ucap Madina tidak ingin merepotkan umi Laila


"Udah ayo bareng umi aja, nanti biar cepat sampainya, supaya kamu juga nggak telat" ucap umi Laila kekeh


"Tapi sepedanya gimana umi?" ucap Madina memikirkan sepedanya


" Sepeda kamu kan bisa dilipat, jadi nanti kan bisa dimasukkan ke bagasi" ucap umi Laila


"Baiklah kalau begitu, Madina ikut umi" ucap Madina


"Alhamdulillah, sebentar umi panggil Umar dulu" ucap umi Laila


Setelah itu, Umar langsung memasukkan sepedanya Madina ke dalam bagasi. Umi duduk di bagian jok belakang bersama Madina, alhasil sekarang Umar seperti sopir untuk kedua wanita tersebut.


Sesampainya di tempat kerja...


"Umi, terima kasih udah repot-repot nganterin Madina kesini" ucap Madina setelah turun dari mobil


"Iya, sama-sama nak, umi malah seneng bisa nganterin kamu, kalau gitu umi langsung pamit ya, soalnya umi harus buru-buru" ucap umi Laila berpamitan


"Iya umi, hati-hati dijalan" pesan Madina


"Kak Umar terima kasih ya, hati-hati bawa mobilnya!" ucap Madina


"Iya, sama-sama" jawab Umar dari dalam mobil


"Kalau gitu umi pamit dulu, assalamu'alaikum" ucap umi Laila sambil beranjak pergi


"Wa'alaikumussalam" ucap Madina dan segera masuk ke dalam ketika melihat mobil yang ditumpangi Umar dan umi Laila sudah pergi


Di dalam mobil...


"Nak, apa kamu nggak tertarik sama sekali dengan Madina?" tanya umi Laila kepada sang putra


"Umar belum tahu umi, Umar juga bingung setiap ketemu sama Madina bawaannya hati Umar deg-degan" jawab Umar jujur dari hati yang paling dalam


"Mungkin itu salah satu tanda dari Allah supaya kamu cepat-cepat ngekhitbah Madina" ucap umi Laila meyakinkan


"Masa sih umi? Umar masih ragu sebenarnya, harus gimana kedepannya" keluh Umar kepada sang umi


"Nak, coba kamu sholat istikharah dulu, minta petunjuk sama Allah, apa arti dari perasaan kamu ini" saran umi Laila kepada sang putra


"Baik umi, InsyaAllah nanti Umar akan lakukan nasihat dari umi, syukron umi" ucap terima kasih Umar kepada umi Laila


"Iya sama-sama nak, kamu kan anak umi, jadi umi harus bisa memberikan nasihat yang baik untuk anak umi" jawab umi Laila sambil tersenyum


"Iya umi" ucap Umar sambil tersenyum


Di tempat laundry...


"Tadi siapa din?" tanya Farah kepada Madina


"Gimana mbak?" tanya Madina memastikan


"Itu lho yang nganterin kamu tadi" ucap Farah kembali


"Ohh, tadi itu umi Laila mbak bibinya temanku" jawab Madina


"Kok bisa kamu bareng sama beliau?" tanya Farah sekali lagi


"Tadi ketemu di jalan mbak, beliau menawarkan saya untuk ikut beliau, awalnya saya nolak takut ngerepotin"


"Tapi beliau tetap nyuruh saya untuk ikut beliau, jadi akhirnya saya ikut, nggak enak juga kalau saya tolak mbak" jawab Madina menjelaskan


"Ohh begitu, yaudah kamu lanjutkan pekerjaanmu, saya ke depan dulu" ucap Farah sambil beranjak pergi


"Iya, mbak" jawab Madina sambil melanjutkan pekerjaannya