MADINA

MADINA
MADINA ~05~



...~MADINA~...


{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}


.......


.......


.......


Hari ini hari Minggu, jadi otomatis hari ini Madina juga libur. Pagi harinya setelah melaksanakan sholat subuh, Madina bergegas menuju ke dapur untuk membantu bi Mumun memasak sarapan.


Sesampainya di dapur...


"Assalamu'alaikum bi Mumun" ucap Madina dari arah belakang


"Wa'alaikumussalam, eh neng Madina. Ada apa neng?" ucap bi Mumun sambil menoleh ke arah belakang


"Pagi ini bi Mumun masak apa?" tanya Madina saat sudah berdiri disamping bi Mumun


"Ini neng, bibi lagi masak cah kangkung sama tempe tahu sama sambal terasi juga" jawab bi Mumun sambil tetap melanjutkan masakannya


"Aku boleh bantu nggk bi?" pinta Madina


"Nggk usah neng, nanti neng jadi bau badannya" jawab bi Mumun tidak enak


"Gapapa bi, lagipula hari ini saya lagi libur kerja daripada diam di kamar mending kesini bantuin bi Mumun masak sarapan" ucap Madina kepada bi Mumun


"Yaudah kalau gitu, neng Madina bantu buat motongin bawang merah, bawang putih sama cabai aja ya, yang lainnya biar bibi yang ngerjain" pinta bi Mumun


"Cuma itu aja bi? nggk ada lagi?" tanya Madina kembali


"Itu aja neng, lagipula kasihan nanti neng Madina kecapean" ucap bi Mumun sambil tersenyum tipis


"Nggk capek kok bi, justru malah Madina senang, jadi bisa bantuin bibi masak disini, juga menambah pengalaman bi sekalian belajar masak juga, hehe" ucap Madina sambil terkekeh kecil


"Emang neng mau ngapain kok pakai belajar masak segala?" tanya bi Mumun penasaran


"Ya buat belajar aja si bi, nambah ilmu juga kan" jawab Madina sambil duduk di kursi


"Atau neng Madina mau nikah ya, makanya belajar masak?" tanya bi Mumun sambil senyum-senyum ke arah Madina


"Astaghfirullah, nggk lah bi. Madina sekarang mau fokus kerja dulu aja, soalnya masih banyak hal yang pengen Madina capai" ucap Madina sambil memotong bawang-bawangan


"Ya siapa tau kan neng, neng Madina belajar masak supaya nanti kalau udah nikah bisa masakin suaminya" ucap bi Mumun sambil tetap melanjutkan masakannya


"Bi Mumun bisa aja, nanti dulu aja deh bi kalau urusan nikah. Madina masih ingin fokus sama keluarga dan Madina juga mau balas budi sama keluarga paman Amar, karena kan mereka yang udah ngerawat Madina dari kecil" ucap Madina kembali


"Ohh gitu ya neng, keinginan neng Madina mulia sekali, semoga semuanya dilancarkan ya neng" ucap bi Mumun


"Aamiin, makasih doanya ya bi" ucap Madina sambil menatap ke arah bi Mumun


"Saya juga doain semoga neng secepatnya ketemu sama jodohnya, supaya neng Madina ada yang jagain, dan ibu nyonya nggk akan sembarangan lagi marahin neng Madina" ucap bi Mumun lirih


"Aamiin, doain yang terbaik aja ya bi. Jodoh kan udah ada yang ngatur" ucap Madina


Dalam surat Ar-Rum Ayat 21 diterangkan bahwa Allah telah mengatur jodoh bagi setiap manusia :


"Diantara tanda-tanda kebesaran Allah dia telah menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kalian cenderung serta merasa tentram kepadanya. Allah menjadikan diantara kalian rasa kasih sayang. Sungguh dalam hal ini, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang mau berfikir.(Ar-Rum:21).


"Udah selesai neng motongnya?" tanya bi Mumun kepada Madina


"Ini sudah bi, ada yang bisa Madina bantu lagi bi?" tanya Madina sambil memberikan bawang dan cabai yang sudah dipotong


"Udah ini aja neng, ini tinggal dikit kok" jawab bi Mumun


"Kalau gitu biar Madina aja ya yang nata meja makan" pinta Madina kepada bi Mumun


"Kalau neng Madina mau silahkan, yang penting nggak ngerepotin neng aja" ucap bi Mumun


"Nggk ngerepotin kok bi, kalau gitu Madina ke meja makan dulu ya bi" ucap Madina sambil beranjak pergi


"Iya neng" jawab bi Mumun


"Huh, cari uang dimana ya supaya bisa dapat 2 juta. Upah laundry cuma 100 ribu, itupun nanti 50% buat bibi Risma. Ya Allah tolong bantu hambamu ini" ucap Madina dalam hati sambil menata meja makan


"Madina!" panggil seseorang dari arah depan


"Eh, bibi Risma" jawab Madina terkejut


"Kamu ngapain ngelamun aja!?" sarkas bibi Risma


"Maaf bi, ini aku lagi beresin tempat makan buat nanti sarapan" jawab Madina kepada sang bibi


"Terus ngapain sambil ngelamun? mikirin apa kamu!?" tanya bi Risma dengan nada yang tidak pernah ramah


"Dina nggk mikirin apa-apa kok bi" jawab Madina kembali


"Upah kamu yang kemarin mana?" tanya bibi Risma


"Hmm, bi kalau boleh untuk beberapa hari ke depan Madina nggk kasih upah laundry dulu ke bibi" ucap Madina lirih sambil menunduk


"Maksud kamu!?" sarkas bibi Risma dengan nada lumayan tinggi


"Madina ada keperluan yang membutuhkan uang lumayan banyak bi, jadi kalau boleh beberapa hari ke depan Madina nggak kasih upah laundry dulu ke bibi" ucap Madina menjelaskan kepada sang bibi


"Nggak bisa gitu! mau kamu ada keperluan, mau ada acara apapun itu, kamu tetap harus kasih upah laundry kamu ke saya!" ucap bibi Risma dengan nada marah


"Tapi bi..." belum sampai Madina melanjutkan bicaranya


"Saya nggk mau tahu, pokoknya kamu harus tetap kasih upah laundry kamu ke saya! kalau nggk kamu angkat kaki dari rumah ini! kamu tuh disini cuma numpang! ngerti nggk kamu!" bentak bibi Risma, hingga mengagetkan semua orang yang ada di dalam rumah


"Ada apasi Risma? kok kamu teriak-teriak?" tanya paman Amar, yang saat itu masih di kamar dan langsung turun ketika mendengar istrinya membentak seseorang


"Ini nih, akibatnya kalau kamu sering manjain keponakan kamu yang satu ini!" sarkas bibi Risma sambil menghadap ke arah suaminya dan menunjuk ke arah Madina


"Ada apa Madina?" tanya paman Amar dengan nada rendah


"Maaf paman, Madina nggk bermaksud buat bikin keributan. Madina cuma minta sama bibi buat..." lagi-lagi belum selesai Madina berbicara, sang bibi sudah memotong pembicaraannya


"Halah! bilang aja kamu pelit! dasar anak nggak tahu diuntung!" sarkas bibi Risma


"Sudah Risma, kamu jangan begitu! kan bisa dibicarakan baik-baik" ucap paman Amar menengahi


"Percuma! emang ya anak sama ibu sama aja, sama-sama ngerepotin!" sarkas bibi Risma kembali


Awalnya Madina berusaha untuk kuat dan tidak menangis, tetapi ketika nama ibunya disebut air mata yang sedari tadi ia tahan, akhirnya jatuh juga.


"Cukup Risma! kamu nggk lihat Madina sampai nangis begitu!" ucap paman Amar dengan nada tinggi


"Kamu belain dia!?" ucap bibi Risma marah


"Aku nggk belain Madina, cuma kamu lihat sendiri Madina sampai nangis kamu bentak begitu" ucap paman Amar menjelaskan


"Udahlah mas! kamu keterlaluan! bukannya belain istrinya malah belain orang lain!" sarkas bibi Risma marah


"Madina bukan orang lain! dia keponakan aku, keponakan kita" ucap paman Amar


"Terserah kamu!" ucap bibi Risma sambil beranjak pergi


Setelah kepergian bibi Risma, air mata Madina semakin mengalir deras. Ia merasa, bahwa dirinya selalu jadi beban di keluarga sang paman.


"Maafin Madina paman, Madina nggak bermaksud buat bibi Risma marah" ucap Madina lirih sambil terisak


"Gapapa, sekarang kamu sarapan dulu aja, nanti biar paman yang bilang ke bibi kamu" ucap paman Amar


"Iya paman, terima kasih" ucap Madina sambil menghapus air matanya


"Paman ke atas dulu" ucap paman Amar sambil beranjak pergi


"Iya paman" jawab Madina


Setelah paman Amar pergi, Madina segera duduk di kursi dan sekarang pikiran Madina sudah tidak fokus lagi, mau makan saja sudah tidak mood.


"Ya Allah bagaimana ini? Astaghfirullah, bantu hamba ya Allah, maafkan hamba jika sikap hamba pagi ini keterlaluan ya Allah" ucap Madina dalam hati, yang sudah bingung harus bagaimana ia menjalani hidup kedepannya