
...~MADINA~...
{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}
.......
.......
.......
"Ekhemm" deham seseorang yang tidak lain adalah Umar
Mendengar itu Madina dan Annisa sontak melepaskan pelukannya
"Bang Umar maaf ya kita berdua jadi lupa kalau ada abang" ucap Annisa sambil tersenyum kikuk
"Iya gapapa, mau pulang kapan?" tanya Umar kepada adik sepupunya itu
"Annisa kalau kamu mau pulang sekarang gapapa kok" ucap Madina kepada Annisa
"Kamu gapapa aku tinggalin?" tanya Annisa memastikan
"Iya gapapa, pulang gih nanti dicariin umi kalau lama-lama disini" jawab Madina sambil tersenyum
"Yaudah aku pulang dulu ya, kamu hati-hati ya kalau ada apa-apa langsung kabarin aku ya" titah Annisa yang masih khawatir dengan kondisi sahabatnya
"Iya, siap bos" ucap Madina
"Yaudah aku pulang dulu, assalamu'alaikum" pamit Annisa
"Wa'alaikumussalam, hati-hati ya nis" ucap Madina
"Iya din" jawab Annisa sambil beranjak pergi diikuti oleh Umar sang sepupu
***
Di rumah Annisa...
"Assalamu'alaikum" ucap Annisa dan Umar saat memasuki rumah
"Wa'alaikumussalam, kok baru pulang nis?" tanya umi Laila
"Maaf umi tadi ada hal yang nggak bisa Annisa tinggal, jadi Annisa pulang agak telat deh" jawab Annisa jujur
"Memangnya hal penting apa nak?" tanya umi Laila penasaran
"Itu umi, umi tahu kalau ternyata uang yang Madina pinjam kemarin ke umi itu buat lunasi hutangnya bu Risma, bibinya Madina" ucap Annisa
"Dan asal umi tahu ya, tadi orang yang dihutangin sama bu Risma datang dan nagih hutang itu, untung aja Madina sudah ada uangnya, kalau nggak ada mungkin Madina udah dinikahin sama penagih hutang itu" ucap Annisa kesal
"Astaghfirullah, kasihan sekali Madina, semoga Allah menguatkan hatinya" doa umi Laila
"Aamiin" ucap Annisa dan Umar lirih
"Yaudah mending sekarang kita makan ya, umi tadi sudah masak banyak takut nanti keburu dingin makanannya" ucap umi Laila
"Iya umi" ucap Annisa sambil beranjak menuju ruang makan
***
Di rumah Madina...
"Risma, apa kamu nggak kasihan sama Madina, kamu selalu saja minta uang sama dia dan sekarang kamu nyuruh dia untuk melunasi hutang kamu" ucap paman Amar saat di dalam kamar bersama sang istri
"Ya itu kan kemauan dia sendiri, dia yang bilang mau lunasin hutang aku" ucap bibi Risma santai
"Itu karena kamu mengancamnya akan menikahkan dia dengan juragan Sapar" ucap paman Amar
Bibi Risma menoleh ke arah sang suami, "Kenapa si kamu selalu aja belain si Madina!"
"Aku bukannya belain Madina, tapi sikap kamu ini udah keterlaluan" ucap paman Amar
"Keterlaluan gimana, orang aku nggak ngapa-ngapain kok" ucap bibi Risma
"Seenggaknya kamu berterima kasih sama Madina, mau bagaimanapun dia keponakan kamu juga dan dia juga sudah melunasi hutang kamu" ucap paman Amar mengingatkan
"Terima kasih? ogah aku berterima kasih sama anak itu, lagian juga dia itu numpang disini dan anggap aja itu sebagai imbalan selama dia hidup di rumah ini" ucap bibi Risma dengan wajah sinisnya
Paman Amar menggeleng, "Kapan kamu berubah Ris?"
"Kamu tanya kapan aku berubah? saat kamu sudah bisa ngasih aku segalanya!" sarkas bibi Risma sambil menuju ke kamar
"Astaghfirullah, maafkan kelakuan istri hamba ya Allah" ucap paman Amar
***
Di dalam kamar Madina...
"Ya Allah, kenapa engkau memberi cobaan seberat ini, hamba tidak sanggup ya Allah" keluh Madina kepada sang pencipta
"Kapan cobaan ini selesai, hamba sudah tidak sanggup lagi ya Allah, hamba lelah"
Tiba-tiba terdengar dering dari handphone Madina, mendengar itu Madina segera bangkit dari duduknya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari Annisa
Di dalam telfon...
"Assalamu'alaikum, Din"
^^^"Wa'alaikumussalam Nis, ada apa kok nelfon malam-malam?"^^^
^^^"Hehehe, aku baik-baik aja kok, kamu nggak perlu khawatir"^^^
"Alhamdulillah kalau begitu, kamu yang kuat ya din"
^^^"Kalau aku nyerah gimana nis?"^^^
"Kamu nggak boleh nyerah din, kamu harus kuat, tunjukkan sama bibi kamu kalau kamu bisa sukses nantinya"
^^^"Tapi aku capek din, aku capek selalu disalahin, dibentak, dicaci entah apalagi yang akan bibi lakukan sama aku"^^^
"Aku tahu pasti berat din buat ngejalaninnya, tapi satu yang harus kamu tahu, ada Allah yang selalu ada buat kamu, ada aku dan keluarga aku yang akan selalu ada buat kamu"
^^^"Terima kasih nis, aku nggak tahu kalau nggak ada kamu aku harus gimana lagi"^^^
"Din, kita ini udah sahabatan lama, jadi kalau kamu ada masalah kamu bisa cerita sama aku, kalau aku bisa bantu aku akan bantu semampu aku din"
^^^"Iya nis, makasih banyak ya atas semua yang udah kamu lakuin buat aku, terima kasih sudah selalu mendukung aku, menguatkan aku, aku berdoa semoga kita bisa menjadi sahabat sampai di surga Allah nanti"^^^
"Aamiin ya Allah"
^^^"Nis, sudah dulu ya, aku mau tidur kamu juga tidur ini sudah malam"^^^
"Iya din, yaudah aku tutup ya, Wassalamu'alaikum"
^^^"Wa'alaikumussalam"^^^
Setelah menutup panggilan dari Annisa, Madina segera beranjak untuk bergegas tidur agar esok hari ia tidak terlambat bangun.
***
Esok harinya setelah sholat subuh, Madina segera Mandi untuk bergegas berangkat kerja.
Setelah selesai bersiap, Madina segera turun dan berpamitan kepada paman Amar dan bibi Risma.
"Paman, Madina mau berangkat kerja dulu ya" pamit Madina
"Kamu nggak sarapan dulu din?" tanya paman Amar kepada sang keponakan
"Madina lagi puasa paman" jawab Madina
"Puasa?" ucap paman Amar memastikan
"Iya paman, Madina lagi puasa sunnah Senin Kamis" jawab Madina kembali
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ"
Artinya, “Amal-amal manusia diperiksa pada setip hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR At-Tirmidzi dan lainnya)
"Alahh, sok-sokan puasa" ucap bibi Risma
"Paling nanti juga mbak Madina nggak kuat, iya kan ma" ucap Syila dengan nada mengejek
"Maaf bibi paman, Madina berangkat sekarang ya, Assalamu'alaikum" pamit Madina
"Wa'alaikumussalam, hati-hati dijalan din" pesan paman Amar
Mencium tangan paman Amar, "Iya paman" ucap Madina
"Langsung pergi sana!" sarkas bibi Risma yang tidak mau disalami oleh keponakannya
Madina segera beranjak pergi agar tidak telat sampai di tempat kerjanya nanti
***
Masih di rumah Madina...
"Assalamu'alaikum" ucap salam seseorang
"Wa'alaikumussalam, bibi tolong bukain pintu ada tamu" titah paman Amar
"Iya tuan" jawab bi Mumun segera menuju ke pintu depan
...
"Dengan siapa ya bu?" tanya bi Mumun saat sudah membukakan pintu
"Assalamu'alaikum, bu saya Laila" jawab seseorang itu yang ternyata adalah umi Laila
"Maaf, cari siapa ya bu?" tanya bi Mumun
"Madinanya ada bu?" tanya umi Laila
"Ohh, neng Madinanya baru saja berangkat kerja bu, ada perlu apa sama neng Madina, nanti biar saya sampaikan" ucap bi Mumun
"Ohh begitu, tidak perlu bu, nanti biar saya datang kesini lagi kalau Madinanya sudah pulang" jawan umi Laila sambil tersenyum
"Ohh baik bu, neng Madina biasanya pulangnya sore bu" ucap bi Mumun memberi tahu
"Iya bu, Kalau begitu saya pamit dulu ya bu, Wassalamu'alaikum" pamit umi Laila sambil beranjak pergi
"Wa'alaikumussalam" jawab bi Mumun
Bi Mumun segera masuk ke dalam rumah setelah umi Laila menghilang dari pandangannya
"Siapa yang datang bi?" .....