
...~MADINA~...
{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}
.......
.......
.......
Annisa menuntun Madina untuk masuk ke dalam rumah, karena melihat kondisi Madina yang kurang baik
Di dalam rumah...
"Jadi untuk ini din uang itu?" tanya Annisa setelah mereka mendudukkan diri di kursi
"Maaf nis, aku nggak tau kalau juragan Sapar akan datang secepat ini" ucap Madina
"Bukan maaf yang aku butuhin din, aku cuma butuh penjelasan kamu" ucap Annisa
"Kamu udah tahu kan semuanya? buat apa aku jelasin lagi" ucap Madina lirih
"Kamu kenapa si din selalu aja nurutin kemauan bibi kamu!" ucap Annisa sedikit kesal
"Harusnya kamu tu ngelawan! jangan mau ditindas terus! kamu hutang sana-sini cuma buat lunasi hutang bibi kamu!" ucap Annisa kesal
"Aku harus gimana lagi nis, aku sebenarnya capek, aku lelah nis" keluh Madina sambil terisak lirih
"Sabar ya din, aku tahu gimana perasaan kamu saat ini tapi aku nggak bisa bantu apa-apa" ucap Annisa merasa bersalah
Madina menggeleng,
"Nggak nis, kamu selama ini udah banyak bantu aku, makasih ya nis aku nggak tau kalau nggak ada kamu aku harus gimana lagi" ucap Madina sambil memeluk Annisa
Kedua sahabat yang sedang berpelukan itu dikagetkan dengan teriakan seseorang dari arah luar
"Kamu nggak bisa nyalahin aku terus mas!" teriak seorang perempuan yang tak lain adalah bibi Risma
"Ada apa bibi paman?" tanya Madina saat keduanya memasuki rumah
"Gara-gara kamu! suami saya harus ngeluarin uang banyak buat biaya hidup kamu!" marah bibi Risma di depan Madina dan Annisa
"Maksud bibi apa?" tanya Madina heran dengan sang bibi yang datang-datang langsung marah kepadanya
*flashback on*
Di dalam mobil...
"Risma, aku mau bicara sesuatu sama kamu" ucap paman Amar sambil melihat ke arah depan
"Mau ngomong apa mas?" tanya bibi Risma yang sibuk dengan handphonenya
"Aku sudah daftarin Madina buat kuliah dan rencananya minggu depan Madina akan kuliah bersama Syila" ucap paman Amar
"Apa! Maksud kamu apa si mas pake daftarin Madina segala! kamu tau kan kalau keuangan kita itu udah menipis!" sarkas bibi Risma kepada sang suami
"Apa salahnya aku kuliahin Madina, lagipula juga Madina kan anak yang pintar" ucap paman Amar sambil memakirkan mobil di depan rumah
"Pokoknya aku nggak setuju! lagipula kita harus bayar hutang sama juragan Sapar! dapat darimana uangnya!?" sarkas bibi Risma sambil keluar mobil
"Lagian kamu juga hutang sampai 30 juta buat apaan ris?" ucap paman Amar menyusul sang istri keluar mobil
"Memangnya kenapa!? ada yang salah!?" sarkas bibi Risma
"Jelas kamu salah! sudah tahu keuangan kita seperti ini, tapi kamu malah hutang sebanyak itu" tegas paman Amar
"Kamu nggak bisa nyalahin aku terus mas!" teriak seorang perempuan yang tak lain adalah bibi Risma
*flashback off*
"Kamu itu memang anak pembawa sial! saya menyesal nampung kamu di rumah ini!" sarkas bibi Risma
"Kamu masih tanya salah kamu apa!? kamu nyadar nggak sih kamu tu bikin saya dan suami saya hampir bertengkar setiap hari!" sarkas bibi Risma kembali
"Cukup!" ucap Annisa dengan nada tinggi
"Anda itu bibi yang tidak tau terima kasih!" ucap Annisa kembali dengan nada kesal
"Kamu jangan ikut campur ya! dasar anak napi!" sarkas bibi Risma
"Jaga ucapan anda!" ucap Annisa
"Memang benar kan, buah itu nggak akan jatuh jauh dari pohonnya, ternyata benar kan bapaknya napi anaknya kaya begini bentukannya!" ucap bibi Risma dengan nada mengejek
"Cukup bi! jangan pernah hina sahabat aku!" tegas Madina
"Ohh, kamu berani ngelawan saya demi dia!?" sarkas bibi Risma
"Maaf bi bukan maksud Madina melawan bibi, tapi tolong jangan hina Annisa, kalau bibi mau marah, marahin aja aku bi jangan Annisa" ucap Madina
"Halah! kamu sama dia tu sama aja! sama-sama pembawa sial!" sarkas bibi Risma
"Anda memang orang yang tidak tau terima kasih!" ucap Annisa kepada bibi Risma
"Apa kamu bilang!" ucap bibi Risma sambil melayangkan tangannya ke arah Annisa
Belum sampai tangan itu mendarat di wajah Annisa, tangan bibi Risma dicekal oleh seseorang
"Jangan sampai anda menyakiti adik saya!" ucap seorang laki-laki yang tak lain adalah Umar
"Lepas!" ucap bibi Risma sambil melepas tangannya yang dicekal oleh Umar
"Siapa kamu? apa urusan kamu dengan saya!" ucap bibi Risma
"Bang Umar, perempuan ini jahat banget! dia nyuruh Madina buat bayarin hutangnya dan abang tahu hutangnya itu nggak sedikit tapi 30 juta!" ucap Annisa yang membuat Umar kaget
"Dan abang tahu, tadi orang yang dihutangin sama perempuan ini datang kesini dan asalkan kalian semua tahu, Madinalah yang sudah ngelunasi hutang bibinya! hutang anda nyonya!" ucap Annisa sambil melihat ke arah bibi Risma
"Maksud kamu?" tanya bibi Risma
"Iya! Madina sudah melunasi hutang anda nyonya! belum puas anda menghina sahabat saya!?" sarkas Annisa sambil berkaca-kaca
"Anda tidak tahu seberapa susah sahabat saya mencari uang untuk melunasi hutang-hutang anda! dan anda masih menyalahkannya!" ucap Annisa dengan nada lumayan tinggi
"Itu urusan dia! kalau memang sudah dibayar hutang saya ya syukur, jadi saya tenang sekarang, makasih ya keponakanku yang cantik" ucap bibi Risma dengan nada mengejek sambil beranjak pergi
"Risma!" panggil paman Amar saat melihat istrinya beranjak pergi
"Maafkan bibimu ya din, paman akan coba bicara dengannya" ucap paman Amar
"Iya paman" ucap Madina ketika melihat paman Amar beranjak pergi untuk menemui istrinya
Madina menangis sejadi-jadinya dalam dekapan Annisa. Entah bagaimana perasaan Madina sekarang, yang jelas hatinya sakit ketika melihat keluarganya sendiri tidak pernah menghargai usahanya sama sekali.
Mungkin jika Madina saja yang dihina ia akan diam, tetapi ketika orang lain terlibat dalam masalahnya Madina tidak akan tinggal diam apalagi jika sahabatnya yang disakiti.
Annisa mengelus punggung Madina,
"Madina, kamu yang sabar ya, aku yakin dibalik ini semua Allah sudah menyiapkan takdir yang indah untukmu" ucap Annisa sambil memeluk erat sahabatnya
"Iya nis, terima kasih banyak ya kamu sudah banyak membantu aku, aku nggak tau harus ngebalas apa sama kamu atas semua kebaikan kamu selama ini" ucap Madina
Annisa tersenyum dan menggeleng kecil, "Aku hanya mau kamu selalu tersenyum dan ceria seperti Madina yang aku kenal"
Mendengar itu Madina pun tersenyum sembari berkata,
"Aku janji"
Keduanya berpelukan tanpa menghiraukan seorang laki-laki yang sedari tadi berdiri melihat mereka berdua. Entah apa yang ada dalam pikiran laki-laki itu sekarang.