MADINA

MADINA
MADINA ~14~



...~MADINA~...


{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}


.......


.......


.......


"Siapa yang datang bi?" tanya paman Amar ketika melihat bi Mumun masuk ke dalam rumah


"Itu tuan, tadi ada ibu-ibu nyari neng Madina, tapi karena neng Madinanya lagi kerja si ibunya langsung pamit pulang tuan" kata bi Mumun


"Ohh gitu, yaudah kalau gitu bibi kembali bekerja sana" titah paman Amar


"Baik tuan" jawab bi Mumun


***


"Madina" panggil Mbak Farah


Madina menoleh, "Iya mbak?"


"Hari ini gajimu setengah dari gaji kamu sebelumnya, setengahnya untuk nyicil uang yang kamu pinjam kemarin" ucap Mbak Farah


"Iya mbak, terima kasih ya mbak sudah ngasih Madina keringanan untuk melunasi uang yang kemarin" ucap Madina


"Kalau gitu semangat kerjanya, mbak tinggal dulu" ucap Mbak Farah sambil beranjak pergi


"Iya mbak" ucap Madina langsung melanjutkan pekerjaannya


***


"Umar, umi ingin bicara serius dengan kamu" ucap umi Laila


Mendengar itu Umar langsung menoleh, "Ingin bicara apa umi?"


"Nak, umi merasa sudah saatnya kamu menikah, umurmu juga sudah mencukupi untuk berumah tangga nak" ucap umi Laila


"Menikah itu kan tidak hanya melihat umur umi, tapi juga harus ada kesiapan lahir batin dalam diri kita" ucap Umar


"Iya nak, cuma umi ingin sebelum umi dipanggil sama Allah, umi bisa menggendong cucu dari kamu" ucap umi Laila lirih


"Umi bicara apa, insyaAllah umi nanti bisa gendong cucu umi kok, umi harus sehat terus kalau ingin menggendong anak Umar nanti" ucap Umar melihat ke arah umi Laila


"Nak, umur itu kita nggak ada yang tahu, jadi sebisa mungkin kita mempersiapkannya" ucap umi Laila kepada sang putra


"Iya umi, insyaAllah kalau sudah ada jodohnya Umar akan segera menikah" ucap Umar


"Tapi kapan nak? umi sudah sabar menunggu, sudah banyak perempuan yang umi kenalkan kepadamu, tapi tidak ada satupun yang kamu lirik" ucap umi Laila


"Umar hanya ingin fokus dengan pendidikan umi, dan juga tahun depan Umar ingin melanjutkan study Umar di Kairo" ucap Umar


"Kan kalau kamu menikah tahun depan ada yang nemenin ke Kairo nak, jadi kamu nggak sendirian" ucap umi Laila


"Umar ingin mencari perempuan yang sholehah umi, seperti kata umi carilah perempuan yang baik karena kelak madrasah pertama seorang anak itu ibunya" ucap Umar


“Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”


Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Demikian bunyi hadist. Dalam konteks inilah Rasulullaah menyerukan kepada keluarga khususnya para Ibu untuk menjadi sekolah bagi anak-anaknya.


"Umi sudah menemukan perempuan itu nak" ucap umi Laila


"Maksud umi?" tanya Umar memastikan


"Umi sudah menemukan perempuan yang kamu inginkan nak" jelas umi Laila


"Siapa perempuan itu umi?" tanya Umar penasaran


"Madina" jawab umi Laila sambil tersenyum


"Madina? kenapa harus ia umi?" tanya Umar kembali


"Karena umi yakin, Madina adalah sosok perempuan yang luar biasa, kesabarannya dan kerja kerasnya dalam menghadapi kehidupan inilah yang menjadi penilaian umi terhadapnya"


Umi Laila menatap Umar dalam, "Dan yang paling penting, Madina adalah perempuan sholehah nak, Madina adalah sosok perempuan yang insyaAllah bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya nanti" ucap umi Laila


"Kalau itu memang keinginan umi, Umar akan menerimanya" ucap Umar


"Serius nak?" tanya Umi Laila memastikan


"Iya umi, selama ini Umar sudah istikharah dan meminta petunjuk sama Allah dan alhamdulillah hasilnya baik umi" ucap Umar


"Alhamdulillah nak, kemarin umi juga sudah bertanya dengan Madina, katanya belum punya calon dan saat umi mengatakan agar ia berta'aruf denganmu ia bilang meminta waktu untuk menjawabnya"


Umar tersenyum sembari berucap, "Aamiin"


Setelah mendengar jawaban dari sang putra tercinta, umi Laila merasa lega dan sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari Madina.


"Jika keduanya setuju, tidak perlu ta'aruf, langsung khitbah saja" pikir umi Laila sambil tersenyum


***


Sore harinya Madina bergegas untuk pulang ke rumah, sebelum itu Madina menyempatkan membeli makanan untuk berbuka puasa nanti.


"Mang bungkus nasi goreng 1 ya" ucap Annisa kepada penjual nasi goreng


"Mau pedas apa nggak neng?" tanya penjual nasi goreng tersebut


"Sedang aja mang, jangan terlalu pedas" jawab Madina


"Siap neng, kalu gitu duduk dulu neng" ucap penjual nasi goreng sembari memasak pesanan Madina


Sembari menunggu Madina membuka handphone yang ternyata terdapat notif chat dari Annisa, melihat itu Madina segera membukanya


Dalam chat...


Annisa | my bestie


"Assalamu'alaikum din?"


^^^"Wa'alaikumussalam, ada apa nis? maaf baru bisa balas, soalnya baru pulang kerja"^^^


"Iya din gapapa, ini tadi umi bilang ke aku buat nyuruh kamu ke rumah"


"Bisa nggak?"


^^^"Harus sekarang nis?"^^^


"Kata umi si iya din, cuma kalau kamu nggak bisa gapapa, nanti biar aku yang bilang sama umi"


^^^"Yaudah nis, nanti aku kesana tapi agak sorean ya"^^^


"Iya gapapa din, nanti biar aku bilang sama umi"


^^^"Iya nis, kalau gitu udah dulu ya aku mau pulang dulu"^^^


"Iya din, hati-hati"


^^^"Wassalamu'alaikum"^^^


"Wa'alaikumussalam"


Setelah nasi goreng pesanannya jadi, Madina segera bergegas pulang agar bisa bersiap untuk pergi ke rumah Annisa.


Berhubung paman Amar dan bibi Risma sedang pergi, jadi Madina hanya ijin kepada bi Mumun. Tapi, Madina tetap ijin kepada sang paman lewat chat wha***ap dan alhamdulillah paman Amar mengijinkan asalkan tidak pulang malam-malam.


***


"Assalamu'alaikum" ucap Madina saat sudah sampai di rumah Annisa


"Wa'alaikumussalam, masuk aja din" jawab Annisa dari arah dalam


"Nis, ada apa kok umi minta aku kesini?" tanya Madina


"Umi mau ngajakin kamu makan bareng" jawab Annisa santai sambil memakan camilannya


"Kamu belum makan kan?" tanya Annisa


"Hari ini aku lagi puasa nis, dan aku juga sudah beli makanan untuk buka" jawab Annisa jujur


"Yaudah nanti makan bareng waktu udah buka, jadi sekalian kamu buka" ucap Annisa


"Tapi nis, nggak enak sama yang lainnya nanti kalau harus nungguin aku" ucap Madina


"Ngapaiin nggak enak, orang bang Umar juga lagi puasa kok, jadi tenang aja" ucap Annisa sambil terus mengunyah makanannya


"Yaudah kalau gitu, aku duduk sini ya" ucap Madina sambil mendudukkan dirinya disamping Annisa


Menepuk sofa, "Sini duduk, sambil nonton sembari nungguin umi Laila turun" ucap Annisa


"Kamu nonton apa?" tanya Madina


"Lagi nonton kisahnya Sayyidatina Fatimah Az-zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib" jawab Annisa


"Aku juga suka kisah beliau, sama-sama mencintai dalam diam bahkan syaiton pun tidak mengetahuinya" ucap Madina


"Madina"...