MADINA

MADINA
MADINA ~11~



...~MADINA~...


{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}


.......


.......


.......


"Uangnya baru dapat 15 juta, kurang setengahnya lagi, ya Allah dapat uang darimana lagi?" keluh Madina sambil menghitung uang pinjaman dari mbak Farah dan tabungannya


"Mau pinjam siapa lagi? 15 juta bukan uang yang sedikit" keluh Madina kembali


Tiba-tiba muncul notif dari hp Madina, ia pun segera mengeceknya


Annisa | my bestie


"Assalamu'alaikum, din?"


^^^"Wa'alaikumussalam, ada apa nis?"^^^


"Gini din, tadi umi minta kamu untuk datang ke rumah besok, kamu bisa nggak?"


^^^"InsyaAllah aku usahain besok^^^


^^^dateng nis"^^^


"Alhamdulillah, kalau gitu nanti aku bilang sama umi ya"


^^^"Iya, tapi aku datengnya habis^^^


^^^pulang kerja ya"^^^


"Iya gapapa, yaudah aku tutup dulu ya, Wassalamu'alaikum"


^^^"Iya nis, Wa'alaikumussalam"^^^


***


Besoknya setelah pulang dari kerja, Madina bergegas menuju ke tempat Annisa. Madina sudah ijin kepada paman Amar dan alhamdulillah beliau mengijinkan asalkan jangan pulang malam-malam.


Sesampainya di rumah Annisa...


tok tok tok


"Assalamu'alaikum" ucap Madina sambil mengetuk pintu


"Wa'alaikumussalam" jawab seseorang sambil membuka pintu


"Madina" ucap seseorang itu yang ternyata Annisa


"Ayo masuk din" ucap Annisa


Annisa mempersilakan Madina untuk duduk sembari ia akan memanggil umi Laila yang berada di dalam kamar


"Madina" panggil seseorang yaitu umi Laila


"Assalamu'alaikum, umi" ucap Madina sambil mencium tangan umi Laila


"Wa'alaikumussalam, ayo duduk nak" ucap umi Laila


"Iya umi" ucap Madina dan bergegas duduk bersama umi Laila dan Annisa


"Gimana kabarnya nak?" tanya umi Laila


"Alhamdulillah baik umi" jawab Madina


"Umi nyuruh kamu kesini karena ada yang mau umi bicarain nak" ucap umi Laila


"Mau bicara apa umi?" tanya Madina setelah mendengar pernyataan umi Laila


"Nak, apa kamu sudah punya calon suami?" tanya umi Laila serius


"Hmm, belum umi, memangnya ada apa umi?" ucap Madina jujur


"Nak, apa kamu mau jika berta'aruf dengan anak umi?" tanya umi Madina yang membuat Madina kaget


"Maksud umi?" tanya Madina memastikan


"Iya nak, umi bertanya dengan kamu apa kamu mau berta'aruf dengan anak umi?" tanya umi Laila kembali


"Maaf umi, dengan anak umi?" ucap Madina


"Iya anak umi, terus siapa lagi nak" ucap umi Laila sambil tersenyum


"Bang Umar din, siapa lagi selain dia" ucap Annisa yang gregetan dengan Madina


"Mau nak?" tanya umi Laila sekali lagi


"Maaf umi, Madina nggak bisa langsung jawab sekarang, Madina butuh waktu" ucap Madina


"Iya nak gapapa, umi ngerti kok" ucap umi Laila sambil tersenyum


"Kamu kenapa sih din, kayak lagi ada masalah" ucap Annisa yang melihat sahabatnya agak berbeda dari biasanya


"Gapapa kok nis, aku baik-baik aja" jawab Madina gugup


"Tuh, kamu jawab aja gugup, kamu kenapa cerita aja sama aku?" tanya Annisa


"Nggak nis, aku gapapa kok" jawab Madina kembali


"Nak, kamu itu udah umi anggap sebagai anak umi jadi jangan sungkan-sungkan" ucap umi Laila


"Nggak umi, Madina gapapa kok" ucap Madina


"Aku nggak kenapa-kenapa nis, aku baik-baik aja kok" ucap Madina kekeh


"Kamu ada masalah apa nak? jujur sama umi" tanya umi Laila


"Hmm, sebenarnya Madina lagi butuh uang, tapi bingung mau cari pinjaman kemana" ucap Madina lirih


"Kamu butuh berapa nak?" tanya umi Laila


"15 juta umi" jawab Madina jujur


"Yaudah biar umi yang pinjami kamu uang" ucap umi Laila sambil tersenyum


"Jangan umi, nanti biar Madina cari sendiri aja" ucap Madina


"Nggak papa nak, alhamdulillah umi lagi ada rezeki jadi bisa buat kamu dulu" ucap umi Laila


"Nggak perlu umi, nanti takut ngerepotin" ucap Madina


"Nggak nak, mungkin ini bantuan dari Allah SWT buat kamu melalui umi" ucap umi Laila tersenyum


"Tapi umi..." belum sempat Madina selesai bicara


"Udahlah din terima aja, lagian kamu juga pasti butuh banget kan" ucap Annisa


"Iya nak, nanti uangnya biar umi titipin ke Annisa supaya bisa dikasih kamu ke rumah kamu langsung nanti" ucap umi Laila


"Terima kasih umi, maaf Madina jadi ngerepotin, umi udah baik banget sama Madina" ucap Madina sambil memeluk umi Laila


"Iya nak, kan InsyaAllah sebentar lagi bakal jadi menantunya umi" ucap umi Laila sambil tersenyum


"InsyaAllah umi, untuk itu akan Madina jawab secepatnya" ucap Madina


"Iya nak, umi tunggu ya jawabannya, semoga sesuai dengan harapan umi" ucap umi Laila sambil mengelus kepala Madina


"Iya umi" ucap Madina


***


Esok harinya sesuai dengan perkataan umi, Annisa mengantarkan uang yang umi pinjamkan untuk Madina. Di rumah hanya ada Annisa dan bi Mumun, karena bibi Risma dan paman Amar sedang ada urusan di luar dan Syila juga sedang kuliah.


"Din, sebenarnya buat apa uang sebanyak ini?" tanya Annisa


"Hmm, aku nggak bisa cerita din sama kamu soal ini, maaf ya" ucap Madina


"Yaudah gapapa din" ucap Annisa mengerti


Tiba-tiba...


"Rismaaaa!!" teriak seorang laki-laki dari arah luar


"Astaghfirullah, siapa si itu din main teriak-teriak aja di rumah orang" ucap Annisa dengan nada kesal


"Nggak tau nis, tunggu bentar ya biar aku yang ke depan" ucap Madina


"Iya din, hati-hati" ucap Annisa


Sesampainya di depan pintu...


"Juragan Sapar?" ucap Madina ketika melihat laki-laki yang berada di depan rumahnya


"Wahh, kebetulan sekali bisa bertemu denganmu Madina" ucap juragan Sapar sambil mendekat ke arah Madina


Melihat juragan Sapar yang mendekatinya membuat Madina beranjak menjauh dan memanggil Annisa


"Annisa!!" panggil Madina sedikit berteriak


"Manggil siapa cantik, kok takut banget si" ucap juragan Sapar sambil mendekat ke arah Madina


"Jangan mendekat! jangan berani anda mendekati saya" ucap Madina tegas


"Ada apa din?" ucap Annisa saat sampai di depan pintu


"Siapa dia din?" tanya Annisa


"Dia juraga Sapar nis" jawab Madina


"Mau apa anda mendekati sahabat saya?" ucap Annisa berani


"Siapa kamu? jangan ikut campur urusan saya!" ucap juragan Sapar dengan nada tinggi


"Saya sahabatnya Madina, jadi saya berhak tau tentang sahabat saya, dan anda tidak bisa seenaknya mendekatinya" ucap Annisa tegas


"Heh! Risma itu punya hutang sama saya dan Risma janji kalau dia tidak bisa membayar hutangnya maka Madina akan menikah dengan saya!" ucap juragan Sapar


"Jangan harap anda bisa menikahi sahabat saya! saya yang akan menggagalkan semuanya!" tegas Annisa


"Ya silakan, yang penting kalau Risma nggak bisa ngelunasin hutangnya sama saya, maka kamu harus menikah dengan saya!" ucap juragan Sapar sambil menunjuk ke arah Madina


"Saya akan lunasi hutang bibi saya! tunggu saya ambilkan uangnya" ucap Madina


Madina bergegas mengambil uang yang sudah disiapkannya


"Ini uangnya! pas 30 juta!" ucap Madina sambil menyerahkan uang yang ditaruhnya didalam kantong kepada juragan Sapar


"Okey, makasih cantik, mungkin kali ini kamu nggak jadi menikah dengan saya, tapi lain kali mungkin kamu akan menikah dengan saya" ucap juragan Sapar


"Sekarang anda pergi dari sini!" ucap Annisa yang sudah kesal dengan juragan Sapar


"Daa cantik" ucap juragan Sapar sambil beranjak pergi dari rumah Madina


"Jadi untuk ini uangnya din?" tanya Annisa sambil menatap ke arah Madina yang tatapannya kosong


"Maaf nis" ucap Madina lirih dengan pikiran kosong menatap ke arah depan