MADINA

MADINA
MADINA ~04~



...~MADINA~...


{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}


.......


.......


.......


"Assalamu'alaikum" salam seorang laki-laki dari arah depan


"Wa'alaikumussalam" jawab ketiga perempuan itu serentak


"Abahhh!!" pekik Annisa langsung menghampiri seseorang yang tidak lain adalah suami dari umi Laila


"MasyaAllah, udah besar sekarang kamu ya nis" ucap Abah sambil mengelus kepala Annisa


"Hihi, iya abah sekarang Nisa udah gede, nggk kaya dulu waktu masih kecil cuma seperut abah, hehe" jawab Annisa yang membuat semuanya tertawa kecil


"Assalamu'alaikum abang Umar" salam Anissa kepada seorang laki-laki yang berdiri di sebelah abah


Siapa lagi kalau bukan anaknya umi Laila dan abah Yasir yaitu Umar


"Wa'alaikumussalam, apa kabar Nisa?" ucap Umar sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada


"Alhamdulillah baik bang, abang sendiri gimana?" ucap Annisa sambil menangkupkan kedua tangannya


Disini Annisa dan Umar sepupuan ya, jadi mereka tetap bukan mahram.


"Alhamdulillah abang juga baik" jawab Umar


"Ayo abah, abang kita masuk" ajak Annisa kepada dua orang laki-laki di depannya


Annisa mengajak semuanya untuk masuk ke dalam rumah, agar lebih enak bicaranya.


Di dalam rumah...


"Annisa, kamu disini tinggal sendirian?" tanya umi Laila kepada Annisa


"Iya umi, Nisa sendirian disini" jawab Annisa yang sedang duduk disamping umi Laila


"Hmm, semuanya maaf mengganggu obrolannya. Nisa aku mau ijin pulang dulu aja ya, supaya kamu lebih enak ngobrolnya" ucap Madina tidak enak


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Annisa kepada Madina


"Hmm iya Nis, aku ngerasa nggk enak disini. Lagipula juga ini udah mau malam, jadi mending aku pulang aja" jawab Madina sambil menghadap Annisa


"Yaudah kalau begitu, kamu bisa kan pulang sendiri?" ucap Annisa


"Aku bisa sendiri kok nis, tadi kan aku kesini juga sendiri" jawab Madina sambil tersenyum kecil


"Kalau gitu kamu hati-hati ya" ucap Annisa


"Iya nis. Umi dan semuanya Madina mau pamit pulang dulu ya" pamit Madina kepada semua yang ada di ruangan tersebut


"Iya nak, kamu hati-hati aja ya dijalan" pesan umi Laila saat Madina akan mencium tangan umi Laila


"Iya umi" jawab Madina


"Pak kyai, Madina pamit pulang dulu" ucap Madina sambil menangkupkan kedua tangannya di depan abah Yasir


"Panggil saja abah nak, seperti lainnya. Kamu hati-hati di jalan ya" ucap abah Yasir


"Iya abah" jawab Madina, yang langsung beranjak ke samping abah untuk berpamitan kepada Umar


"Saya ijin pamit pulang dulu kak" ucap Madina di depan Umar sambil menangkupkan kedua tangannya


"Kalau begitu Madina pamit dulu, assalamu'alaikum" ucap Madina sambil beranjak dari tempatnya


"Wa'alaikumussalam" jawab semuanya


Madina segera beranjak untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Madina segera bergegas untuk bersih-bersih badan.


Malam harinya, setelah sholat isya' Madina bergegas turun ke bawah untuk makan malam bersama yang lainnya.


Sesampainya di tempat makan...


"Mbak Madina lama banget si, aku udah laper tau daritadi!" sarkas Syila sambil cemberut


"Maaf syil, tadi mbak sholat dulu. Lain kali kalau kamu udah laper, kamu makan aja duluan" ucap Madina sambil duduk di kursinya


"Kamu tu udah ditungguin, malah begitu. Lain kali kita nggk usah nungguin dia lagi deh!" sarkas bibi Risma ketus


"Maaf bi, lain kali Madina akan lebih cepat lagi" jawab Madina lirih


"Udah, sekarang makan semuanya. Nggk baik berdebat di depan makanan!" ucap paman Amar melerai


Akhirnya mereka pun segera menyelesaikan makan malam yang sudah tersedia di meja makan. Selesai makan, mereka segera beranjak ke kamarnya masing-masing.


Di rumah Annisa...


"Abang Umar lagi nggk ada niatan buat nikah mi?" tanya Annisa penasaran


"Nggak tau tuh, udah banyak banget perempuan yang umi kenalin ke abang kamu tapi nggak ada satupun yang abang kamu lirik" jawab umi dengan muka yang dibuat sedih


"Abang mau nggk aku kenalin sama teman aku?" tanya Annisa sambil melirik ke arah Umar


Umar melirik Annisa dengan tatapan tajamnya, seolah-olah bilang jangan ngomongin soal itu di depan umi.


"Emang siapa teman kamu nak?" tanya umi menghadap ke arah Annisa


"Yang tadi main kesini umi" jawab Annisa


"Ohh, yang namanya Madina itu ya?" tanya umi kembali


"Iya umi, gimana umi setuju nggk?" tanya Annisa balik


"Umi sih setuju-setuju aja yang penting anaknya baik dan sholehah" jawab umi


"Tenang aja umi, teman aku itu anaknya baik banget, sholehah lagi dan yang penting dia berbakti sama orang tuanya" ucap Annisa


"Udah Annisa! kamu jangan racunin pikiran umi ya!" ucap Umar


"Umar! kamu jangan begitu. Siapa tau emang jadi kalau kamu kenal sama Madina" ucap umi Laila


"Umi, sekarang Umar mau fokus kuliah dulu. Tahun depan insyaAllah Umar mau ke Kairo" ucap Umar kepada sang Umi


"Abang mau kuliah lagi?" tanya Annisa


"Memang kenapa?" ucap bang Umar, bukannya dijawab malah balik nanya


"Ya gapapa si, cuma nanya aja" ucap Annisa dengan wajah santainya


"Sudah selesai belum debatnya?" tanya abah Yasir yang sedari tadi diam mendengar perdebatan keluarganya tersebut


"Sudah abah" jawab Annisa dan umi Laila


"Abah laper, daritadi cuma denger debat kalian tentang jodoh Umar" ucap Abah


"Maaf abah, kalau gitu kita makan sekarang, tadi bibi juga udah masak" ucap Annisa


Akhirnya Annisa dan yang lain beranjak menuju tempat makan untuk makan malam bersama. Annisa merasa senang karena kali ini dia tidak makan sendirian, tidak seperti sebelumnya yang di tempat makan hanya ada dia sendiri saja.