
...~MADINA~...
{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}
.......
.......
.......
Keesokan harinya Madina yang baru bangun dari tidurnya segera beranjak untuk mandi dan melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai Madina segera bersiap agar nantinya dia bisa berangkat kerja lebih awal.
"Bi Mumun?" panggil Madina saat sampai di dapur
"Eh neng Dina, ada apa ya neng?" jawab bi Mumun sambil membalikkan badannya
"Bi Mumun lagi masak apa?" tanya Madina kembali
"Ini bibi lagi masak nasi goreng, neng Dina mau bibi ambilin?" tanya bi Mumun
"Nggk usah bi, ini Dina mau nungguin yang lain aja, supaya bisa makan bareng" jawab Madina
"Ohh gitu, yaudah kalau begitu bibi lanjut masak lagi ya, neng Dina duduk aja dulu" ucap bi Mumun
Madina pun akhirnya duduk di kursi yang biasanya ia duduki. Sembari menunggu Madina mengabari salah satu temannya untuk membahas suatu hal yang sudah direncanakan mereka dari beberapa hari yang lalu.
Dalam chat ......
Annisa | my bestie
^^^"Assalamu'alaikum nis?"^^^
"Wa'alaikumussalam, ada apa ya din?"
^^^"Nis, gimana sama rencana kita yang kemarin?"^^^
"Hmm, gini din rencananya hari ini aku mau ngajakin kamu buat ketemu untuk bahas hal ini, kamu bisa nggk?"
^^^"Hari ini aku bisanya pulang kerja, itupun sekitar sorean, gimana?"^^^
"Yaudah gapapa, nanti aku tungguin kamu dirumah ya"
^^^"Okeyy, nanti sebelum berangkat kerja aku ijin dulu sama paman dan bibi supaya nanti nggk dicariin"^^^
"Siap, aku tunggu nanti sore ya dirumah, wassalamu'alaikum"
^^^"Iya nis, wa'alaikumussalam"^^^
Hampir 10 menit Madina menunggu sampai paman dan bibinya datang, mereka segera memakan sarapan pagi yang sudah dibuatkan bi Mumun. Selesai makan, Madina meminta ijin untuk pulang terlambat dikarenakan akan pergi kerumah salah satu temannya.
"Paman, bibi, Madina mau minta ijin kalau hari ini mungkin Madina akan pulang terlambat" ucap Madina
"Mau kemana kamu!?" sarkas bibi Risma
"Hari ini Madina mau kerumah teman, mau bahas sesuatu bi" jawab Madina
"Teman yang mana mbak?" tanya Syila sambil menyantap makanan
"Namanya Annisa syil" jawab Madina
"Emangnya kenapa syil? kan udah dari dulu mbak temenan sama mbak Annisa" jawab Madina
"Mending mbak jauh-jauh deh dari dia, dia itu kan anaknya seorang narapidana. Nanti kalau mbak deket sama dia nanti mbak ketularan jahatnya lho!" ucap Syila dengan nada kurang enak
"Kamu nggk boleh begitu syil, walaupun ayahnya seorang narapidana bukan berarti anaknya juga jahat syil" ucap Madina
"Kamu tu kalau dibilangin bukannya terima kasih malah begitu!" sarkas bibi Risma
"Maaf bi, bukan begitu maksudnya. Cuma kan disini Syila seakan-akan menyebut kalau Annisa juga jahat sama seperti ayahnya" ucap Madina
"Ya kan emang bener kalau ayahnya seorang penjahat anaknya juga pasti sama, karena buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya" ucap Syila kembali
"Syila, mbak mohon kamu jangan bicara seperti itu, meskipun Annisa anak dari seorang narapidana, bukan berarti dia nggk boleh punya teman kan?" ucap Madina
"Ya terserah mbak aja, aku hanya ngasih tau aja kok, mau mbak percaya atau nggk aku nggk peduli" ucap Syila
"Udah selesai debatnya?" tanya paman Amar
"Maaf paman" ucap Madina
"Madina, kamu boleh pergi ke rumah temen kamu, tapi sebelum isya' kamu harus sudah sampai rumah" ucap paman Amar
"Baik paman, terima kasih atas ijinnya" ucap Madina dengan senang
"Inget! jangan pulang malam-malam!" ucap bibi Risma
"Iya bi, Madina usahain sebelum isya' udah nyampe rumah" ucap Madina
"Ini uang untuk kamu nanti Madina" ucap paman Amar sambil menyodorkan sejumlah uang
Belum sampai uang itu sampai di tangan Madina, Syila dengan seenaknya langsung mengambil uang tersebut dari tangan ayahnya.
"Syila! kembalikan uang itu! itu uang untuk mbakmu!" ucap paman Amar dengan nada lumayan tinggi
"Mas! kamu apa-apaansi malah marahin Syila!" sarkas bibi Risma yang tidak terima anaknya dibentak
"Aku bukannya marahin Syila, aku ngasih itu supaya Madina punya pegangan uang" ucap paman Amar menjelaskan
"Daripada kamu ngasih uang ke dia, lebih baik kamu kasih uang ke Syila! Syila itu anak kamu, sedangkan Madina cuma keponakan kamu!" sarkas bibi Risma sambil menunjuk ke arah Madina
"Paman bibi udah! jangan berantem lagi!" lerai Madina
"Ini semua gara-gara mbak! kalau aja mbak nggak disini mungkin keluarga ini nggk akan kaya gini!" ucap Syila dengan nada tinggi
"Cukup! Madina sekarang mending kamu berangkat sekarang! paman akan tetap kasih kamu uang!" ucap paman Amar
"Baik paman, Madina berangkat dulu, assalamu'alaikum" ucap Madina sambil menyalami paman dan bibinya, namun ditepis oleh sang bibi
"Wa'alaikumussalam, hati-hati" ucap paman Amar
"Iya paman" jawab Madina
Madina segera melangkah keluar rumah dan segera menuju tempat laundry menggunakan sepeda nya yang ia dapat dari pamannya 5 bulan yang lalu.
Sang paman membelikan sepeda, karena paman Amar merasa kasihan kepada Madina setiap kali berangkat kerja harus berjalan kaki, akhirnya tanpa sepengetahuan istrinya paman Amar membelikan sepeda untuk Madina.
Madina sangat berterima kasih kepada paman Amar, karena tanpa paman Amar, Madina tidak akan seperti sekarang.