
...~MADINA~...
{seperti halnya mawar, terlihat indah tetapi tidak sembarang orang bisa menyentuhnya}
.......
.......
.......
Malam harinya ketika Madina selesai menunaikan sholat isya'...
tok tok tok
"Mbak Dinaa!" teriak Syila sambil menggedor pintu kamar Madina
"Iya, bentar" jawab Madina dari arah dalam
"Mbak Madina disuruh turun buat makan malam!" ucap Syila
"Iya, bentar lagi mbak turun" jawab Madina
"Cepetan mbak!" ucap Syila ketus
"Iya" jawab Madina sambil beranjak dari kamarnya
Sesampainya di meja makan...
"Ngapain aja sih kamu!? lama banget!" hardik bibi Risma
"Maaf bi, tadi aku sholat dulu. Madina kira bibi sama yang lain udah makan duluan" ucap Madina jujur
"Yaudah sekarang kita makan dulu, jangan berdebat di depan makanan, nggk baik" ucap paman Amar menengahi
Mereka segera memakan makanan yang sudah tersedia di meja makan, disela makan bibi Risma tiba-tiba berbicara...
"Madina, bibi mau kamu menikah!" ucap bibi Risma langsung, yang membuat Madina terkejut
"Maksudnya bi?" tanya Madina memastikan
"Bibi ingin kamu menikah dengan juragan Sapar!" ucap bibi Risma
"Maaf bi, tapi Madina nggak mau menikah sekarang, Madina juga belum siap" ucap Madina
"Saya nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tetap menikah dengan juragan Sapar!" ucap bibi Risma kekeh
"Apa alasan kamu ingin menikahkan Madina dengan Sapar, Risma?" tanya paman Amar yang juga terkejut dengan penuturan istrinya itu
"Aku punya hutang dengan juragan Sapar, dan supaya hutangku bisa lunas Madina harus menikah dengan juragan Sapar!" ucap bibi Risma
"Kenapa harus dengan menikah bi, kan bisa dengan cara lain?" ucap Madina menyanggah
"Bibi dan paman kamu uangnya sudah menipis, dan itu juga karena membiayai hidup kamu!"
"Cara lainnya, juragan Sapar maunya menikah dengan kamu! dan menurut bibi juga malah lebih baik kamu menikah dengan juragan Sapar"
"Juragan Sapar itu orang kaya, jadi otomatis jika kamu menikah dengan dia, kamu akan ikut kebagian hartanya, dan kamu bisa kasih harta itu ke kami dan hutang-hutang bibi bisa lunas" sarkas bibi Risma
"Tapi Madina nggak mau menikah dengan juragan Sapar bi, juragan Sapar itu sudah punya istri bi" ucap Madina dengan nada kecewa
"Terserah kamu! kalau kamu nggak mau menikah dengan juragan Sapar, kamu harus bisa lunasin hutang-hutang saya!" ucap bibi Risma
"Memang berapa banyak hutangmu Risma?" tanya paman Amar kepada sang istri
"30 juta" jawab bibi Risma dengan nada santai
"30 juta!? buat apa uang segitu Risma!?" ucap paman Amar terlihat marah
"Ya buat kebutuhanku sehari-hari lah, nyalon, skincare, tas dan baju, sama yang lainnya" jawab bibi Risma tenang
"Ya Allah Risma! Setiap hari kan mas udah kasih kamu uang!" ucap paman Amar
"Uang dari mas itu kurang! nggak akan cukup buat aku!" ucap bibi Risma kembali
"Tapi kan nggak harus ngutang juga Ris! sekarang susah kan bayarnya!" ucap paman Amar dengan nada lumayan tinggi
"Kan ada Madina, jadi dia juga harus ikut tanggung jawab!" ucap bibi Risma sambil menghadap ke arah Madina
"Ya kalau dia bisa lunasin hutang aku, dia nggak akan jadi nikah sama juragan Sapar"
"Tapi kalau dia nggak bisa lunasin hutangnya ya dia yang harus menikah dengan juragan Sapar!" sarkas bibi Risma
"InsyaAllah Madina akan bantu lunasin hutang bibi" ucap Madina
"Oke kalau gitu, kamu harus bisa dapetin uang itu dalam waktu seminggu!" ucap bibi Risma melunjak
"Seminggu? itu terlalu cepat bi, Madina mana bisa dapetin uang segitu dalam waktu seminggu?" ucap Madina
"Ya itu urusan kamu, kalau kamu nggak bisa ya tinggal kamu nikah aja sama juragan Sapar!" ucap bibi Risma dengan santainya
"InsyaAllah Madina akan usahain dapat uang itu dalam waktu seminggu" ucap Madina
"Baguslah kalau begitu, aku mau ke kamar dulu" ucap bibi Risma sambil beranjak pergi
Kejadiam malam itu membuat Madina merasa tidak tenang, mendapatkan uang 30 juta dalam waktu 1 minggu itu cukup sulit untuknya, disatu sisi dia juga tidak mau jika harus menikah dengan juragan Sapar.
Juragan Sapar adalah orang tersohor dan terkaya (katanya) di daerah tempat tinggal Madina. Tetapi juragan Sapar terkenal sebagai laki-laki yang beristri banyak, entah jika Madina menikah dengan juragan Sapar ia akan jadi istri yang kesekian kalinya.
Membayangkannya saja membuat Madina bergidik ngeri, apalagi menjalaninya, naudzubillah.
Di dalam kamar...
"Ya Allah, aku harus gimana? uang 30 juta itu bukan uang yang sedikit, dapat darimana uang segitu ya Allah" keluh Madina lirih
"Apa aku cari kerja sampingan aja ya, tapi kerja apa?" tanya Madina pada dirinya sendiri
"Kalau pinjam uang dari laundry takutnya nanti nggak dibolehin sama mbak Farah" ucap Madina kembali
"Huh, mending tidur dulu deh, semoga besok bisa ada jalan keluarnya, aamiin" ucap Madina bergegas tidur setelahnya
Keesokan paginya, setelah sarapan Madina segera berangkat menuju tempat laundry agar tidak telat dan mungkin bisa ada waktu untuk bicara dengan mbak Farah tentang niat ingin meminjam uang, ya itupun kalau dikasih pinjam
Kalau tidak ya mungkin Madina akan mencari di tempat lain
Di tempat laundry...
"Assalamu'alaikum, mbak Farah" salam Madina ketika masuk ke dalam sebuah ruangan
"Wa'alaikumussalam, tumben pagi-pagi udah nyampe din?" heran mbak Farah terhadap Madina
"Hmm, sengaja si mbak, karena saya juga mau bicara sama mbak" jawab Madina
"Mau bicara apa?" tanya mbak Farah kembali
"Hmm begini mbak, saya sekarang lagi butuh uang yang cukup banyak, niatnya saya mau pinjam uang sama mbak"
"Nanti mbak bisa potong uang gaji saya buat nyicil bayar hutangnya" ucap Madina hati-hati
"Memang kamu butuh berapa din?" tanya mbak Farah
"Saya butuhnya 30 juta mbak, tapi seadanya mbak Farah saja" jawab Madina
"Kalau 30 juta saya belum punya din, tapi kalau 10 juta saya ada, gimana?" jawab mbak Farah
"Gapapa mbak, nanti sisanya biar saya cari sendiri aja, terima kasih mbak" jawab Madina dengan nada senang
"Yaudah kalau gitu, nanti sore kamu bisa ambil uangnya saat pulang ya" ucap mbak Farah
"Baik mbak, sekali lagi terima kasih banyak" ucap Madina kembali
"Iya sama-sama, laundryan udah numpuk segera kamu selesaikan sana!" titah mbak Farah
"Baik mbak, kalau begitu saya ke belakang dulu" ucap Madina
"Iya" jawab mbak Farah
Madina segera meninggalkan ruangan mbak Farah dan bergegas menuju ke belakang untuk segera mencuci laundryan yang sudah menumpuk.
Madina merasa senang karena sudah mendapatkan pinjaman uang, walaupun belum bisa dapat 30 juta, setidaknya Madina sudah mendapatkan 10 juta dari mbak Farah.
Sisanya biar Madina cari di tempat lain atau mungkin dengan cara kerja sampingan seperti yang dipikirkannya semalam.